Alana mengangkat kepala, membungkuk dalam ketika Akira berjalan melewati mejanya. Pria itu melengos pergi tanpa menoleh atau sekadar membalas sapaan paginya. Rutinitas biasa yang acap kali sering Alana alami.
Helaan napasnya terdengar. Alana mengambil tablet di atas meja. Berjalan mendorong pintu ruangan Akira ketika pria itu menoleh, menatapnya dalam diam.
"Karena negara mengalami inflasi, pemasukan hotel sedikit menurun dari minggu kemarin sekitar dua persen. Aku sudah menulis beberapa pengurangan yang bisa membuat kita sedikit bernapas," kata Alana, memberikan tablet ke atas meja Akira. Dan tatapan pria itu turun, menatap tablet di atas meja.
Akira mengangguk pelan. Dia mengambil tablet itu dan Alana masih bergeming, menunggunya.
"Aku akan bicara dengan direktur di sana," balasnya. Dia mengembalikan tablet itu dan Alana mengangguk pelan kemudian berbalik.
"Alana,"
Alana terdiam. Dia kembali memutar tubuhnya, menunggu Akira bicara.
Tampak pria itu menarik napas panjang. Matanya lekat-lekat memaku Alana seolah ada sesuatu yang hendak dia lontarkan, tapi tertahan.
"Tentang semalam ..."
Alana tersenyum. "Aku tidak berpikir tentang pernikahan. Tidak dalam waktu dekat ini, atau waktu ke depan. Usiaku memang dua puluh tujuh, tapi pernikahan untukku masih terlalu jauh. Dan tolong, aku bukan Lay—Sara, di saat kau sendiri masih tersiksa karena dirinya, aku tidak mau berdiri menggantikan posisinya di hatimu. Kami berbeda, takdir kami berbeda."
Akira mengerjap. Tangannya meremas satu sama lain di atas meja. "Aku tidak pernah bilang kau dan Sara sama," bisiknya.
Alana mengangguk pelan. Senyum profesionalnya masih terbit. "Memang tidak. Tapi aku merasakannya, sekadar hanya firasat dan itu membuatku tak nyaman. Terlebih aku sudah tahu bagaimana rupa Sara. Kupikir kau melihatku hanya sebatas teman dan rekan kerja. Karena kau atasan dan aku sekretarismu, selebihnya tidak,"
Akira terpaku. Dia hanya diam dan tidak bisa mengelak ucapan Alana. Ketika gadis itu mengangguk, berpamitan padanya untuk kembali ke meja, Akira membiarkannya pergi.
Alana kembali ke kursinya. Dia menaruh tablet dan menghela napas. Maniknya mengintip Akira yang juga melakukan hal sama, terlihat lelah dan hanya mampu melamun menatap lukisan di dinding. Sorot matanya meredup, tidak hidup dan kosong.
Kepingan tentang kejadian semalam masih membekas di ingatan Alana. Masih segar. Akira yang pucat, bahkan ketika gadis malang itu bisa diselamatkan oleh Souma, Akira tidak bisa menahan diri untuk tidak menderita.
Kening Alana mengernyit. Mungkinkah Sara tewas karena bunuh diri? Melompat dari atap dan jatuh ke bawah? Jika benar dugaannya, Akira mungkin melihatnya dan itu membuatnya hancur, juga trauma berat.
"Tapi apa alasan dia ingin bunuh diri?" Alana bergumam pelan. Dia mendesis. Mengerjap beberapa kali saat layar ponselnya berkedip dan kepala bagian keuangan menghubunginya untuk turun ke lantai divisi.
"Aku kesana,"
***
Manata Haru berjalan, dengan dokumen yang sudah dia salin dan cetak, dia bersiap untuk kembali ke meja, tetapi di persimpangan koridor, dia bertemu sang bos, Wakil Pimpinan Shimura Steel, Hiro.
"Selamat pagi," Haru membungkuk dengan senyum. Hiro mengangguk, terdiam selama beberapa saat ketika dia berhenti, menatap Haru yang masih membaca dokumen di tangannya.
Hiro berdeham. "Haru,"
"Ya?" Dia menoleh, menunggu Hiro bicara.
"Tentang semalam, Hyuuga Nana dari bagian pemasaran. Dia anak magang?" Hiro bertanya, basa-basi.
Haru mengangguk dengan senyum. Dia memeluk dokumen di dadanya. "Ya, dia anak magang. Baru beberapa hari bekerja, aku kurang ingat rinciannya. Akan kucari tahu,"
Hiro mengangguk pelan. Tangannya terulur mengusap wajahnya dan Haru mengernyit, menatap Hiro cemas. "Apa terjadi sesuatu?"
Oniks pekat itu menatapnya. Hiro mengangguk pelan, mendesah panjang. "Beberapa wartawan tahu masalah ini, dan bisa membuat reputasi perusahaan kacau dengan opini yang mereka giring ke publik tentang buruknya jam kerja kita," katanya lirih.
Mata biru laut itu melebar. Hiro terdiam, menatap wajah cantik yang membuatnya jatuh cinta ketika dia mendapati pegawai yang berkompeten dan cekatan, ada di satu gedung yang sama dengannya. Pertemuan mereka memang tidak terlalu sering, tapi ada beberapa hal yang Hiro tahu tentang Haru, yang dia amati diam-diam tanpa gadis itu tahu.
Dan Hiro tidak ingin mencari tahu alasan Haru tidak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun, meski dia mencoba dan berusaha, Haru selalu menolaknya dengan sopan. Dengan alasan mereka adalah atasan dan bawahan, dengan alasan pekerjaan dan segala macamnya yang membuat Hiro menyerah dan membiarkan waktu yang bertindak.
Tapi dia tidak bisa menahan diri.
"Sejauh itu?" Haru menggeleng tak percaya.
Sedangkan, Hiro mengerjap. Dia terlalu banyak berpikir tentang gadis itu sampai tidak mendengar Haru bicara. Dia berdeham, mengangguk pelan. "Aku sudah menyuruh bagian umum untuk mengatasi ini. Ayah juga bertanya hal yang sama."
"Aku rasa aku bisa membantumu," ucap Haru tiba-tiba, dia tersenyum ramah.
"Benarkah?"
"Nana tidak masuk hari ini. Jika dia masuk, aku akan mendekatinya dan kami akan bicara antar teman dan wanita, setelah itu aku akan bicara alasannya ingin melompat dan membuat laporan agar media massa tidak menyebar opini yang buruk tentang kita," katanya, menjelaskan pada Hiro.
Pria itu tersenyum samar. Hiro menganggukkan kepala. "Idemu bagus. Aku akan pikirkan usulmu dan menahan para pegawai untuk tidak bicara buruk tentang kejadian semalam," balasnya.
Haru balas menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dia membunguk. Berlalu pergi dari hadapan Hiro yang masih bergeming di tempatnya, menatap kepergian gadis itu yang tengah berbicara dengan pegawai magang lainnya dan memberikan mereka arahan yang baik. Sebagai pegawai teladan yang disiplin dan punya kerja bagus, Haru pantas menjadi senior yang baik di sini.
Hiro membeku. Dia merasakan senyumnya semakin lebar dan mengembang tak tertahankan. Pria itu segera tersadar, sebelum dia dilihat bawahan lainnya, dia berbalik pergi dan meninggalkan tempat itu secepatnya.
***
Alana mencatat beberapa hal penting di catatannya. Dia berjalan di belakang Akira yang berbicara dalam bahasa inggris pada salah satu bos pemilik market di Jepang.
Bisnis 's Company sudah menyebar sampai seluruh bidang. Selama kepimpinan ada di bawah kendali Akira, beberapa hal yang belum dicoba dari pendahulunya, dia coba. Menerobos batasan untuk melebarkan sayap bisnisnya. Menjadikannya raksasa di antara puluhan perusahaan lainnya.
Tipe orang kaya lama yang tidak peduli dengan kehancuran perusahaan lain, karena bisnis selalu memakan korban. Mereka terus menanam benih-benih uang mereka dimana pun yang mereka bisa, mengeruk uangnya untuk kebutuhan pribadi dan gaya mahal mereka.
Alana mengangguk. Saat para petinggi itu menjabat tangannya dan berlalu. Meninggalkan dirinya dan Akira terjebak dalam market baru yang belum dibuka secara resmi.
"Produk ini belum legal di Jepang. Kami harus menahannya sekitar tiga sampai empat hari," kata Akira dan Alana di belakangnya mengangguk, menatap catatannya.
"Keuntungan dibagi enam puluh dan empat puluh," balas Alana ketika dia berjalan, berusaha menyamai langkah Akira yang berkeliling market tiga lantai yang menyediakan perabotan rumah tangga secara lengkap.
Alana berhenti. Dia menatap Akira yang terdiam memandang sebuah cangkir berbahan dasar kayu yang ada di rak.
"Aku menyukainya. Bentuk cangkirnya unik, dan bahannya bagus," ujar Alana. Akira terdiam, matanya melirik gadis itu dan berpaling, Akira berjalan kembali meninggalkan Alana yang menyusul di belakangnya.
"Aku sudah pesan tempat kalau kau ingin makan siang," kata Alana. Dia kembali berbicara dengan ponsel dan catatan di tangan.
"Bagaimana dengan perekrutan pegawai market yang baru?"
Alana mengangguk pelan. "Sudah kuurus. Aku sudah berkoordinasi dengan pihak divisi umum dan HRD. Mereka akan bekerjasama dibawah pengawasanku, untuk laporan akhirnya akan kuberikan nanti," jawab Alana.
Akira menatapnya sebentar dengan senyum samar. Alana ikut tersenyum, sampai Akira berlalu dan tidak lagi bicara. Alana terdiam di tempatnya. Dia hanya mengangkat alis, dan berlari mengejar Akira yang jauh lebih cepat darinya.
"Kau bisa pergi dengan mobil. Aku akan pergi ke suatu tempat," kata Akira ketika dia menuruni tangga dan berjalan ke mobil.
Mata Alana melebar. Dia menggeleng saat Akira menyerahkan kunci mobil padanya. "Tidak, Tuan . Aku akan kembali dengan taksi," Akira mengerutkan kening mendengar jawaban Alana. "Kalau begitu, kau bisa makan siang dan kembali ke kantor. Ada pekerjaan yang harus kuseleHirokan."
"Aku akan memanggil supir," Akira mengeluarkan ponselnya dan Alana lagi-lagi menggeleng. Dia menahan tangan pria itu, menggeleng tegas. "Tidak perlu, terima kasih. Aku akan panggil taksi sekarang." Setelah mengatakan kalimat itu, Alana membungkuk, dia berlalu dengan sepatu haknya menggema sampai ke telinga Akira. Gadis itu sedikit berlari ke tepi jalan, menunggu taksi kosong yang lewat.
Akira mendesah panjang. Dia membuka pintu mobil, duduk di kursi kemudi ketika dia terdiam. Menatap Alana dari spion mobilnya yang terbuka, helaan napasnya semakin berat.
Alana sudah pergi dengan taksi yang dia berhentikan. Gadis itu berlalu. Akira menekan pedal gas dan ikut berlalu. Pergi ke suatu tempat yang ingin dia datangi.
Dan di tempat lain, Haru menundukkan kepalanya. Tidak sanggup menatap bos dan sahabatnya yang meminta Haru untuk duduk bersama mereka dan menyantap makan siang di meja yang sama. Tidak tahukah mereka kalau ini sangat canggung? Haru berteriak dalam hatinya.
"Akira pergi ke makam," kata Souma, menutup ponselnya dan menaruhnya di atas meja. Dia membalik daging bakar di atas bakaran dan Hiro menegak sodanya. "Bagus. Dia ingat dengan kematian,"
Souma mendengus. Dia melempar Hiro dengan tatapan tajamnya dan pria itu hanya tertawa. Haru berdeham, dan Hiro mengambil potongan daging dan kulit sapi yang sudah matang, dipindahkan ke piring Haru.
"Makanlah," katanya lembut.
Haru semakin terbatuk. Dia mengambil gelas airnya dan menatap Hiro kikuk. "Ah, terima kasih,"
Souma yang melihat mereka hanya bisa terdiam. Dia menahan senyumnya, kembali melanjutkan membakar daging dan kulit. "Jangan khawatir, Yamanaka. Kami akan memanjakanmu sekarang. Kau sendirian di tempat ini, kami berpikir untuk menemanimu."
Haru menatap Souma. Warna mata mereka sama dan Haru tidak bisa menyembunyikan senyum malunya. "Terima kasih sekali lagi."
"Karena Alana tidak bisa menemaninya dia seperti ini," gumam Hiro. Dia mencomot satu irisan daging yang telah masak. "Alana sedang sibuk."
"Dia tidak ikut Akira ke makam," balas Souma. Menggunting kulit hingga menjadi potongan kecil dan kembali membakarnya. "Dia kembali dengan taksi dan Akira membawa mobil."
Hiro mendengus tajam. "Akira bukan pria sejati. Pria macam apa dia?"
Souma menyikut pinggang pria itu dan Hiro mendesis. Menatapnya tajam. Souma hanya acuh, dia kembali sibuk memindahkan daging ke atas piring.
"Ngomong-ngomong, aku dengar pegawai magang yang sempat ingin lompat kemarin tidak masuk, ya?"
Haru mengangguk. Dia memakan daging di dalam mulutnya. "Dia cuti sampai besok."
"Souma ingin berkenalan. Dia pahlawan gadis itu, tentu dia ingin menyombongkan diri," kata Hiro kalem dan Haru hanya tersenyum. Di saat Souma mendengus tajam, berwajah masam.
"Kalian beda divisi, kuharap kau bisa berteman dengannya," kata Souma. Dia menatap Haru. "Aku pikir dia kesepian," lanjutnya kemudian.
"Aku juga menduganya, Tuan ," ucap Haru. Dia tersenyum pada keduanya. "Aku akan mencoba berteman dengannya. Terlebih dia anak baru, mungkin dia kesulitan adaptasi dan tekanan dari dalam keluarga membuatnya tertekan."
Hiro mengerjap. Dia menyeringai mendengar jawaban gadis pirang di depannya. Tawanya meluncur bebas dan Haru yang mendengar hanya menunduk, menahan rona merah di pipi.
"Oh, astaga," Souma menepuk dahinya. Dia kembali menggeleng melihat percikan asmara di antara keduanya. Ini benar-benar kesempatan Hiro untuk mencuri perhatian Haru.
"Bukankah itu Ara?" Hiro menunjuk gadis yang duduk di dekat jendela seorang diri tengah sibuk memotong daging dan kulit di atas bakaran. Souma menyipit, dia menatap Ara dan mengangguk.
"Aku dulu satu sekolah dengannya," ujar Souma pada Haru yang terkejut. Hiro mengernyit, mendapati Haru yang membeku di tempatnya ketika gadis itu menoleh, menatap Ara dengan pandangan lain.
"Ah, benar," Hiro mendekatkan wajahnya agar bisikan mereka hanya terdengar pelan. "Kau kemarin memaki Rei, dan Rei adalah tunangan Ara."
Haru mengerjap. Dia tertangkap basah sekarang. Dia menunduk, mengambil gelas airnya yang kosong dan Hiro menahan tangannya, menuangkan air dalam teko ke gelas Haru.
"Serius?" Souma mulai tertarik. "Kau memaki pilot yang sedang naik daun itu?" Souma tiba-tiba mendesis. "Kudengar dia putra pemilik lahan kelapa sawit di Asia Tenggara. Dia anak orang kaya kalau begitu?"
Haru mendengus mendengar kalimat Souma. Dia tidak berkata apa pun, hanya diam. Tapi sejak tadi, kakinya bergerak gelisah. Jika Ara di sini, kemungkinan dia akan bertemu Rei semakin besar.
"Apa ... Rei mantan kekasihmu?"
"Bukan!"
Haru menipiskan bibirnya. Menatap kedua pasang mata yang menatapnya tajam. Souma melipat tangan di d**a, setelah dia seleHiro membakar daging dan kulit, fokus mereka kini mengarah padanya. Dan Hiro hanya diam, memangku dagu dengan tangannya.
"Lalu?"
Haru menggeleng pelan. Dia tertawa hambar. "Dia bukan siapa-siapa,"
Hiro mendengus pelan. Dia tersenyum tanpa arti pada Haru. "Aku bisa mencari tahu kalau kau tidak ingin bicara, Haru," bisiknya pelan.
Souma menghela napas. Dia tersenyum pada gadis pirang itu. "Kalau bukan dirimu, lalu siapa?"
"Rei dan aku berada di sekolah yang sama, SMA Hannan."
Alis Hiro terangkat. "SMA elite itu? Kau alumni di sana?"
Haru mengangguk. Souma mengernyit dalam. Dia menatap Haru dan mendesis dalam diam. "Itu SMA yang bergengsi. Sama seperti SMA Sina, kau dan Alana ada di tempat yang sama?"
Haru mengangguk pelan.
Hiro dan Souma saling berpandangan. "Apa Rei ada di kelas yang sama denganmu?"
Haru menatap Souma dan Hiro. "Ya, kami ada di kelas yang sama. Dan bahasa asing yang kami pilih juga sama,"
"Kau, Alana dan Rei?"
Haru mengangguk sekali lagi pada Hiro.
"Kalian tidak terlibat cinta segitiga, kan?" Tebak Hiro lagi dan Haru mengerucutkan bibirnya sebal.
"Tidak," katanya sinis.
Souma mengangguk. Dia tertawa pelan. "Aku tahu sekarang. Pria kaya itu rupanya bersekolah di sana," Souma menatao Ara yang sendirian. "Bagaimana mereka bisa saling mengenal, ya?"
Haru melempar tatapannya pada Ara yang melamun dan mata membengkak. Dia mengerjap, mendengus tajam ketika dia berbalik, memakan kulitnya dengan cepat.
"Kau bisa tersedak kalau tidak hati-hati,"
Haru hanya bergumam terima kasih dalam bisikan pelan. Kemudian tersenyum malu. Dia menebak-nebak kalau Rei juga menyakiti Ara. Hah, kasihan sekali.
"Kasihan dia," kata Haru, menatap Ara dan berpaling.
"Kenapa?"
Haru menatap keduanya dan menghela napas panjang. "Karena Rei bukan pria yang baik," sahutnya. Tanpa melanjutkan ucapannya, Haru berdiri, membungkuk pada keduanya dan membiarkan mereka yang membayar makan siangnya setelah dia berlalu pergi menjauh dari sana.
Meninggalkan tanya di benak Hiro dan Souma yang menatap Ara dengan pandangan bingung dan mengiba.
***
Akira berdiri di depan lemari bukunya. Dia menghela napas panjang, memilah-milah buku yang sekiranya pantas dia pertahankan atau direvisi untuk sampul yang lebih baik.
Seluruh buku di lemari rak kantor dan rumah sudah dia baca. Akira menyerah, dia mengambil buku lain dan duduk di sofa. Membacanya dalam diam ditemani teh tawar hangat di cangkir.
Alana mengetuk pintu dua kali, dia masuk ke dalam. Memberikan tablet pada Akira dengan senyum. "Sudah kuperiksa. Gaji dan tunjangan sesuai pemasukan. Lowongan ini akan dibuka mulai besok sebelum market benar-benar buka, kita harus menyeleksi secara rinci."
Akira mengangguk. Dia membaca beberapa inti yang tertulis dalam tablet dan tersenyum samar. "Kerja bagus," dia mengembalikan tablet itu ke Alana.
Gadis itu membawa tabletnya kembali dan mematikannya. Dia belum berlalu karena Akira menahan dirinya. "Kau sudah makan?"
Alana menipiskan bibir, menggeleng pelan. "Aku hanya makan camilan di meja. Selebihnya, kupikir sepulang kerja akan beli sesuatu,"
Akira terdiam. Dia mendesis pelan, menaruh bukunya di atas meja. "Kau boleh pulang cepat hari ini," dia memainkan tangan di atas pangkuan. "Kembalilah lebih cepat ke rumah."
Alana tersenyum tipis. "Aku rasa tidak. Aku akan pulang satu jam lagi sesuai jadwal yang berlaku di sini," dia mengangguk pelan dan pergi. Meninggalkan Akira seorang diri di dalam ruangan.
Manik kelamnya menyipit ketika dia melihat Souma dan Alana berbicara di depan meja gadis itu. Alana beberapa kali mengangguk dan Souma segera berlalu, masuk ke dalam ruangannya.
"Kau senggang?" Souma menghampiri sofa lain dan duduk di sana. Dia merapikan jas abu-abunya dan mengangkat alis menatap buku bacaan Akira. "Aku rasa otakmu mengelupas selalu membaca buku yang sama ratusan kali. Kau selalu belajar tentang ekonomi dan ekonomi, kau tidak ingin membaca novel romantis?"
Akira mendengus tajam. Dia mengabaikan Souma dan terus membaca.
"Akira," Souma berkata pelan. Dia menoleh, dan Alana kembali bekerja. "Kau ingin tahu sesuatu? Tentang Alana,"
Alis Akira menekuk. Dia mengintip Souma dan kembali ke bukunya. "Apa?"
"SMA Hannan, Alana dan Haru ada di kelas yang sama," bisik Souma.
Akira mendengus pendek. Dia menutup bukunya dengan ekspresi bosan. "Aku tahu."
"Kau tahu Rei Rei?"
Akira mengernyit. Souma semakin gencar melancarkan aksinya bercerita. "Mereka juga ada di satu sekolah yang sama."
Akira terdiam sebentar. Dia tersenyum dingin. "Alana menyukai Rei, atau Yamanaka yang jadi incaran Hiro menyukainya? Mereka terlibat cinta segitiga? Rei dan Ara akan menikah, buat apa kau membahasnya?"
Souma berdecak. Dia ingin melempar cangkir teh itu ke wajah sahabatnya yang kelewat datar. Tapi dia bisa menahan diri. "Bukan itu,"
"Lalu?"
"Aku rasa Rei dan Alana punya hubungan di masa lalu. Mantan kekasih, mungkin?" Alis pirangnya menekuk. "Aku sendiri tidak yakin, tapi entahlah. Aku ingin tahu. Manata Haru terlihat sangat membenci Rei dan terus memandang Ara di restauran dengan tatapan iba. Menurutmu bagaimana?"
Akira terdiam. Dia mendesis, menggelengkan kepalanya sekali. "Aku rasa tidak. Mungkin Alana menyukainya, tidak lebih,"
"Benarkah? Aku tidak yakin," dia menoleh ke belakang dan Alana menatapnya. Souma terkejut, dadanya berdegup kencang dan dia mengangguk pelan, tersenyum canggung pada gadis itu.
"Kupikir Alana sama terlukanya denganmu. Dia tidak punya masalah dengan orang tuanya, dia baik-baik saja. Dan kenapa dia pergi ke Osaka saat itu? Dia melarikan diri dari siapa? Tidakkah kau berpikir ke sana?"
Akira terdiam. Dia menatap Souma yang berdiri, mengangguk padanya. "Aku mampir untuk mengecek masalah pemasaran. Ada masalah, sebagai penasihat perusahaanmu, aku ingin tahu dimana letak masalahnya. Sekalian mampir ke ruanganmu," kata Souma, dia berbalik keluar ruangan dan Alana membungkuk padanya saat Souma berlalu.
Akira terdiam. Dia mengernyitkan keningnya. Tidak lagi tertarik dengan buku di meja. Dia mendesah, memijit kepalanya dan pergi ke kursinya.
***
"Kau belum kembali ke apartemenmu?"
Alana menatap pancake di piring dan menggeleng pelan. Dia melirik Haru yang mendesah, mengaduk jus jeruknya. "Kapan kau kembali?"
"Entah. Mungkin, lusa atau minggu depan, bulan depan ..."
Haru mendesis. Dia menutup mulut Alana dengan cubitan kecil. "Lupakan. Aku benar-benar tidak enak jika berkunjung ke rumah orang tuamu," bisik Haru pelan. Dia memotong pancake miliknya dan mulai makan.
Alana melipat tangan di atas meja. Dia mendesis pelan. "Kenapa tiba-tiba dia seperti itu," gumamnya, bermonolog pada dirinya sendiri.
Haru mengangkat alis. Dia menatap Alana heran. "Siapa?"
"Akira," balasnya. "Dia mengajakku menikah dan lari dari Tokyo,"
"Apa?" Haru ternganga, dia mengambil tisu dan mengelap permukaan meja yang kotor akibat sisa pancake yang jatuh dari sendok. Dia melotot pada Alana dan gadis itu hanya menunduk.
"Kau serius? Kapan dia melamarmu?"
Alana mengernyit. "Aku rasa itu bukan lamaran. Itu ajakan lari dari masalah," dia mendesis. "Kau dengar? Lari dari masalah. Akira lari dari kehidupannya, mengajak diriku, seleHiro." Dia mendorong piring pancake miliknya dan memejamkan mata.
Alunan musik yang berasal dari piano di sudut ruangan tidak bisa membuat suasana hatinya membaik sejak pagi. Alana harus tetap bersikap profesional di tempat kerja. Meski semalaman dia tidak bisa tidur. Kenangan akan ciuman itu dan perlakuan Rei membekas di kepalanya.
Haru menoleh, dia menggembungkan pipinya ketika sang pianis memainkan I Don't Love You milik Urban Zakapa. Dia tertawa pahit, air mukanya berubah masam.
"Aku akui lagu ini benar-benar cocok untuk kita, kan?"
Alana melamun, memangku dagunya menatap piano yang melantunkan instrumen musik yang menemaninya setiap malam.
"Untukmu, mungkin?" Dia menggoda Haru yang semakin cemberut.
"Aku sedang tidak jatuh cinta pada siapa pun, kurasa ini cocok untukmu yang tidak lagi mencintai pria b******k itu," kata Alana, menatap Haru yang membuang mukanya ke arah lain.
"Ini juga cocok untukmu. Kau bisa menyanyikan lagu ini di depan Rei, di hari pernikahannya," balas Haru.
Alana tersenyum lirih. Dia mengusap matanya, kembali pada piano cokelat itu dan tersenyum pedih. "Rasanya sangat sulit melupakan mimpi buruk itu," dia berbisik sendu. "Sekuat apa pun aku berusaha, mencoba untuk melenyapkan kenangan buruk itu. Aku gagal,"
"Alana,"
Alana tertawa pelan. "Aku bahkan harus melarikan diri ke Osaka karena ini. Aku benar-benar takut saat itu, aku mengecewakan banyak orang. Aku tidak sanggup melihat wajah ayah dan ibuku yang hancur," Alana menunduk, menghela napas panjang.
"Mereka sudah baik-baik saja. Karena kau mau berjuang untuk tetap melawan rasa sakit itu," Haru menyahut dengan senyum. Dia tertawa menatap ekspresi murung Alana. "Sudahlah. Aku keluar mengajakmu makan malam bukan untuk berduka seperti ini," dia memotong pancake untuk Alana, gadis itu mendengus pendek, tetapi membuka mulutnya. Menerima pancake milik Haru.
"Punyamu enak," Alana bergumam. Dia memotong pancake miliknya, memberikannya pada Haru agar gadis itu bisa merasakannya. Haru berdecak, menunjuk pancake itu dengan sendoknya. "Milikmu manis. Aku menyukainya," dia memekik girang dan akhirnya bertukar piring. Memakan pancake yang sudah berganti masing-masing.
Ponsel Alana bergetar di atas meja. Alisnya terangkat menerima panggilan dari seseorang.
"Alana,"
Alana berdeham pelan. Dia menyedot teh lemon dinginnya dari gelas dan mengerjap. "Ya?"
Haru menunggu dengan antisipasi. Masih sibuk memotong pancake milik Alana yang sudah dia klaim menjadi miliknya karena dia menyukai rasanya. Dia memakan habis pancake itu dan melirik pancake lain di piring Alana.
Alana menutup telepon. Haru mengangkat matanya, menatap Alana yang tampak pucat dan terburu-buru.
"Aku harus pergi," Alana mengambil tasnya, mengecek barang di dalamnya dan menutupnya. Dia mengeluarkan dompet, memberikan Haru kartu kreditnya. "Pakai ini untuk membayar makan malamnya."
"Ah, tapi—"
"Aku harus pergi," Alana berlari keluar restoran. Meninggalkan Haru yang menggerutu dan melirik kembali pancake yang masih tersisa. Dia tersenyum, menarik piring itu ke dekatnya untuk dia habiskan dan tertawa pelan.
Persetan dengan diet ketat. Dia ingin makan bebas malam ini.
Haru terbatuk agak keras. Dia menatap kartu kredit yang Alana tinggalkan. "Sialan, Alana. Dia meninggalkan Black Card miliknya. Bagaimana jika Nyonya Hayate menyemprotku karena ini?" Haru berdecak. Menatap kartu itu dengan pandangan lirih dan menyesal.
Ini bukan sekali dua kali Alana melakukannya. Haru mendengus tajam, menatap bosan pada kepingan kartu hitam yang mungkin membuat orang lain serangan jantung karena tahu fungsi luar biasa kartu ini, tapi entah mengapa ini malah membuatnya bosan. Bosan karena Alana menganggap kartu ini bukan apa-apa.
Alana berlari. Setelah menutup pintu mobilnya, dia melangkah mendorong pintu utama dan mendapati Akira duduk di sofa, menunduk dengan rambut berantakan dan pakaian yang kusut.
Pria itu memakai pakaian tidur, piyama sutera hitam-hitam. Melekat dari atas sampai bawah. Alana berjalan pelan, mendekati Akira yang merintih di bawahnya.
"Kau baik-baik saja?"
Alana melepas tasnya. Dia berlutut di hadapan pria itu. Mencoba menahan tangan Akira yang tidak berhenti menarik rambutnya sendiri.
"Akira," Alana memanggilnya perlahan. "Apa yang terjadi?" Dia berbisik pelan.
Alana terkejut mendapati luka cakaran dan pukulan yang membekas di pipi kanan dan dagu pria itu. Bibirnya menipis ketika Akira memejamkan mata, menghela napas kasar.
"Ibu datang,"
Berulang kali Alana mengerjap.
"Bagaimana bisa aku menikahi gadis yang bahkan sudah tidak lagi hidup di dunia ini," dia berbisik pelan, entah pada siapa.
"Ibumu menyuruhmu menikah dengan Sara?"
Akira terdiam. Tubuhnya membeku. "Ya,"
"Kalian saling mencintai, kan? Kenapa? Ibumu menyetujui hubungan kalian," kata Alana pelan.
"Tidak semudah itu," dia berbisik. "Tidak semudah itu."
"Apa Sara tidak mencintaimu?"
Akira menatapnya dalam-dalam. "Tidak setelah dia tahu kalau ibuku yang membunuh ibunya. Dia membenciku,"
"Kau bercanda?" Alana tertawa pahit. "Nyonya Kirei melakukan hal kotor seperti itu?"
Akira menggeleng. Matanya mulai menggenang. "Dia bisa lakukan apa pun untuk kepuasan pribadinya. Souma dan Hiro menyebutnya wanita psikopat karena mereka tahu segalanya," Akira mengerjap. Tangannya terkepal di atas paha. "Aku tidak akan bilang ibuku adalah malaikat. Dia iblis sesungguhnya,"
"Lalu, bagaimana dengan ayahmu? Tidakkah dia seharusnya—"
"Ayah pergi karena ibu. Dia meninggalkanku dan kakak karena ibuku," balas Akira parau.
Suaranya berubah serak dan dalam. Akira menatap Alana dengan mata berlinang. "Ibu berselingkuh dari ayah bertahun-tahun,"
Alana membelalak tak percaya. Dia menutup mulutnya dan Akira menggeleng, menjambak rambutnya sendiri. "Oki punya alasan untuk lari dari ibuku meski Tari selalu menjadi incarannya. Dia berusaha menghancurkan keluarga kakak. Lalu, bagaimana denganku? Tidak ada yang melindungiku selain diriku sendiri," dia menjerit dan Alana tersentak ketika Akira hampir kehilangan dirinya dan melempar pot bunga kaca di atas meja ke dinding.
Alana terlonjak. Dia menepis tangan Akira yang kembali ingin melukai dirinya sendiri. Dia mendorong pecahan kaca itu, menatap Akira tajam. "Jangan coba-coba," kata Alana, memperingati Akira yang tertegun. "Aku ingatkan padamu untuk tidak lakukan ini."
Akira mendengus tajam. Helaan napasnya memberat ketika dia melempar pecahan kaca itu ke lantai dan Alana kembali berlutut di depannya.
"Kalau begitu, tinggalkan semuanya, buat ibumu hancur dengan caramu sendiri. Kau yang memegang alih perusahaan ini, kau bisa menyakitinya dengan cara apa pun walau ini tidak dibenarkan karena dia ibumu sendiri,"
Akira menatapnya dingin. Dia terdiam, menatap iris hijau laut itu lekat-lekat.
"Aku bisa?"
Alana mendesah panjang. "Dengan resiko kau ikut hancur, ya. Ketika kau menghancurkan seseorang, kau harus siap dengan konsekuensinya. Kau ingin menghancurkan ibumu, itu artinya kau harus merelakan dirimu ikut menjadi korban sekali lagi," kata Alana, menggeleng pelan. Matanya ikut menggenang. "Kau sudah menderita selama ini, jangan buat ini semakin sulit. Kau tidak boleh begini,"
Perih yang Akira rasakan karena cakaran itu sirna seketika. Dia menatap Alana yang mencoba menahan tangisnya sendiri. Di antara orang lain, yang mampu mengertinya dirinya amat dalam tanpa perlu dia menjelaskan adalah dia, Alana, yang Akira kira berasal dari keluarga kaya yang manja dan bergelimang harta akan membuat dirinya sombong dan hobi pamer. Hanya cangkang luarnya saja yang terlihat seperti itu, nyatanya Alana tidak bersikap demikian.
"Tujuh tahun aku mengenalmu," bisik Alana lirih. "Tidakkah itu cukup mengenalkanku akan penderitaanmu?"
Akira mengerjap. Air matanya tumpah. Dia mengusapnya kasar dan menunduk. Tawanya terdengar pahit. "Dan aku tidak mengenal dirimu dengan baik," bisiknya.
"Kau tidak perlu melakukannya," Alana berdiri, hendak mengambil kotak obat yang ada di laci dekat dapur, Akira menahannya. Hingga Alana kembali terjatuh di depannya, membawa wajah yang memerah menahan tangis itu ke hadapannya.
Alana memejamkan mata mendapat ciuman ringan di bibirnya. Dia menahan napas, menahan debaran di dadanya yang terasa menyakitkan ketika usapan bibir Akira pada bibirnya semakin dalam dan terasa bebas.
Tangan Alana meremas lengan itu kuat-kuat. Ciuman Akira tidak menuntut, tetapi itu cukup membuat kepalanya terasa pening dan berat. Alana menarik napas, saat Akira menjauhkan wajahnya dan kembali menciumnya.
Jemari kuatnya yang bertengger di pipinya merambat mengusap permukaan kulit yang halus itu perlahan dan penuh kelembutan. Sampai Alana terbuai, memegang tangan Akira di pipinya dan memiringkan kepala, menerima ciuman itu dan mengikuti gerakan bibir dingin itu tertatih-tatih.
Dan Oki menahan langkahnya untuk masuk lebih dalam. Menatap pemandangan yang mengejutkan di depannya. Berulang kali matanya mengerjap, mencoba mempercayai apa yang dia lihat.
Dia tidak lagi berjalan masuk, menahan dirinya untuk kembali ke pintu keluar dan menatap sang adik sekali lagi sebelum pergi.