6

5326 Words
Alana tertawa pahit. Dia tidak menyangka. Rasa bingung bercampur terkejut yang amat sangat menghantamnya begitu hebat. Kepalanya terasa pening dan berputar, tetapi dia masih sanggup berdiri dan berjalan. Tangan yang memeluknya membuat dia tersentak. Dia menepis tangan itu, menjauh dari Akira dalam dua langkah ke depan, menoleh memandang pria itu. Kepala Akira tertunduk. Penyesalan bercampur sedih dan kecewa tidak bisa dilampiaskan dengan mudah. Akira tidak berkata apa pun selain diam, memejamkan mata dan kacau. "Apa ibumu tidak punya tata krama?" Alana mendengus tajam. "Dia menamparku. Apa salahku? Apa aku berbuat kesalahan padamu? Pada keluarga kalian?" Akira membuka mata, menatap Alana yang kecewa dan marah. Gadis itu boleh lakukan apa pun. Menamparnya balik atau memukulnya. Akira akan menerimanya atas kesalahpahaman yang dia dapatkan dari sang ibu. "Kau boleh melampiaskannya padaku, maafkan ibuku," dia berbisik rendah. Tapi Alana bisa mendengarnya. Alana tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia menatap Akira tajam. "Melampiaskan padamu? Apa yang harus kukatakan?" "Apa pun," Akira menjambak rambutnya sendiri. "Aku tidak bisa lakukan apa pun selain lari dan lari. Aku terlalu takut." Alana tidak bisa berkata-kata. Dia yang kini diam seribu bahasa. Akira bukan tipe anak penurut yang Alana kenal, tapi nyatanya cangkang itu bohong. Akira tidak bisa berbuat apa pun di bawah tekanan sang ibu. Sama seperti yang Oki katakan. Akira hancur. Luar dan dalam. Alana tidak mengerti maksud luar dan dalam. Kakaknya juga bilang dia tidak bisa melindungi Akira karena keluarganya di bawah ancaman. "Seambius apa  Kirei hingga dia membuatmu begini?" Akira menengadah, mendengar suara parau Alana. Kepedulian gadis itu membuatnya sakit dan dia bisa bertahan karena dia. Karena Alana, dan karena orang-orang terdekatnya. Akira tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepala. Semua perasaan kalut bercampur aduk di dalam dadanya dan siap meledak. Alana menghela napas, dia mengusap kedua matanya yang basah walau dia tidak sampai menangis. "Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Dan aku tidak mungkin berbuat lancang dengan mencari masa lalumu, tapi ibumu ... aku tidak akan memaafkannya kalau dia bersikap seperti ini lagi padaku," Akira lagi-lagi hanya diam. Dia menunduk, tidak sanggup menatap Alana di hadapannya. "Masuklah. Sebentar lagi hujan, aku harus pergi." Alana membungkuk, dan berbalik. Dia berlari menuju mobilnya dan berharap bekas tamparan dari  Kirei tidak ada lagi atau  Hayate akan mengamuk dan semua akan berbuntut panjang. Sebelum Alana menekan pedal gasnya, dia menurunkan kaca mobilnya. Menatap Akira yang berulang kali menghela napas berat, dan berbalik pergi masuk ke dalam rumah. Alana terdiam. Dia memegang setir kemudinya agak erat. Mengerjap dengan perasaan getir yang membuatnya tak nyaman. *** Makan malam kali ini agak berbeda. Karena biasanya Alana bercanda dan melempar godaan pada mereka, kali ini gadis dua puluh tujuh itu hanya diam. "Apa masakan ibu tidak enak?" "Apa? Tidak," Alana memakan nasi dengan ayam bumbu itu bersemangat. Dia tertawa, walau terasa hambar. "Ini yang terbaik." Kei menatap putrinya dengan tatapan bingung. Dan selera makan Hayate menguap entah kemana. Alana seperti berbeda. Dia sering melamun. "Kau baik-baik saja?" Alana menoleh pada ayahnya yang menunggunya bicara. "Ya, aku baik." "Apa aku bilang," Hayate mendesah panjang. "Pasti  itu menekanmu karena kau beberapa hari cuti, kan? Jujur saja," Alana tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya pada sang ibu. "Bosku hanya masuk setengah hari. Dia sedang tidak enak badan," dustanya. "Ah, begitukah," Hayate menipiskan bibirnya dan dia mendapat delikan tajam dari suaminya. Dia tersenyum malu. "Ibu salah bicara." Alana mengaduk nasinya dan mendadak pertanyaan itu melintas di dalam kepalanya. "Ayah, bagaimana reaksi ayah jika ada yang menamparku?" "Apa?" Alana menoleh pada Hayate yang tiba-tiba berwajah masam. "Menampar? Siapa yang berani menamparmu?" Alana tertawa pelan. Dia menggeleng pelan. "Tidak ada ibu, aku hanya bertanya," Kei menghela napas panjang. "Kami sebagai orang tuamu selama dua puluh tujuh tahun tidak pernah menamparmu, kami memperlakukanmu dengan baik. Bagaimana bisa aku memukul putriku sendiri tetapi orang lain bersikap seenaknya pada dia? Aku tidak akan menerimanya." Hayate mengangguk menyetujui suaminya. "Ayahmu benar. Ibu bahkan tidak bisa melihatmu tergores sedikit saja. Tapi orang lain menamparmu? Astaga, ibu yakin kau sempurna tanpa cela, kau tidak membuat orang lain marah atau kebakaran jenggot karena sikapmu terkadang diluar batas, tapi ibu yakin kau bersikap baik di luar sana," Hayate menghela napas. "Kami orang tuamu bersungguh-sungguh menjagamu, orang lain tidak pantas melakukan itu." Alana terdiam. Dia mengerjap berulang kali. Menatap ibu dan ayahnya bergantian, kemudian tertawa. "Ah, aku menyesal karena pernah lari dari kalian," dia menunduk, mengusap kedua matanya yang mulai basah. Hayate tersenyum lirih. Dia menatap Alana dengan sorot lembut. "Tidak, itu salahku, aku gagal sebagai ibu karena terlalu bersikap kekanakkan dan membuatmu tak nyaman. Tolong, jangan ingatkan aku pada hal menyakitkan itu. Aku hampir gila karena kehilanganmu," Kei berdeham. Dia mengulurkan tangan, memegang tangan putrinya yang bergetar di atas meja. "Masa lalu tetaplah masa lalu. Kau pergi untuk menyadarkan kami kalau anak bukan sebagai piala, kami mungkin terlalu keras saat itu, tapi kami benar-benar menyayangimu. Tidak hanya ibumu yang hampir gila, mungkin ayah juga akan mati karena mendapatimu hilang dari kami bertahun-tahun," Alana tersenyum. Dia menatap keduanya dan nendapati ibunya menatapnya terharu. Dia mengusap matanya, ingin memeluk keduanya tapi mereka ada di meja makan. "Sudah, sudah," Hayate mengakhiri obrolan mengharukan ini dengan senyum lega. "Alana mungkin ingin pergi untuk menonton film atau bermain? Masih jam delapan, kau boleh bersenang-senang sebelum tidur," kata Hayate. Alana menggeleng. Dia menghabiskan makan malamnya. "Untuk apa pergi ke bioskop? Kita punya fasilitas itu di lantai tiga. Aku baru saja meminta Lei membeli beberapa kaset baru untuk Alana," Alana memandang ayahnya. "Tidak perlu. Aku akan langsung tidur," "Begitukah, atau perlu ibu menghubungi Haru?" Alana menggeleng sekali lagi. "Tidak, kasihan dia. Dia pasti lelah." Hayate hanya mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi. *** "Begitukah? Yah, mau bagaimana lagi?" Haru tersenyum lebar. "Sampai nanti." Sambungan teleponnya terputus. Haru menghela napas. Dia akan makan siang sendiri kali ini. Tapi tidak apa, dia sudah terbiasa. Terlanjur basah karena dia sudah ada di kedai kari, dia tidak bisa kembali. Tidak apa sekali-kali dia pergi ke resto mahal walau ini hanya kedai kari biasa. Tapi porsi dan rasanya yang enak, benar-benar membuat harganya sedikit jauh lebih tinggi dari biasanya. Haru mengambil tempat di dekat jendela. Dia menatap lurus ke luar saat kilasan masa lalunya berkelibat di dalam kepalanya. Dia tersentak, napasnya terengah-engah dan dia tidak sanggup memikirkan hal lain. "Ini lemon hangatnya," kata pelayan itu membawakan minuman pesanan Haru. "Terima kasih," balasnya. Pelayan itu segera pergi dari hadapannya untuk membawakan pesanan pelanggan lain. Tangan Haru terkepal di atas meja. Dia menghembuskannya kasar, tertawa pahit saat dia tiba-tiba bermonolog. "Pria gila. Dia pasti menderita karena lancang menghamili gadis lain saat dia masih bersamaku," Haru tertawa pahit. Dia meminum lemon hangatnya dan menghela napas panjang. "Oh, kau," Haru menoleh waspada mendengar siapa suara yang tidak asing di telinganya. Dia berdiri, menatap terkejut pada Rei Rei yang memasang senyum angkuh dan tatapan mencibir itu terang-terangan untuk Haru. Gadis pirang itu mendengus. Ternyata sikap Rei sama sekali tidak berubah sejak dia menengah atas. "Kau di sini?" Tatapan Rei jatuh pada kursi yang kosong di depannya. "Menunggu seseorang?" Haru mendengus tajam. "Bukan urusanmu, kan?" Dia kembali duduk di kursinya. Mengabaikan Rei sepenuhnya. Walau mereka pernah memakai seragam yang sama, dia tidak akan mau bertemu pria menjijikan itu yang pernah membuat hidup Alana, sahabatnya hancur. "Bagaimana Alana? Apa dia masih berlindung di bawah keluarga kayanya?" Rei terkekeh pelan. "Anak manja itu masih saja berfoya-foya dengan kekayaan orang tuanya," Haru tersenyum sinis. Dia menatap Rei dengan pandangan jijik. "Kau seharusnya berkaca pada dirimu sendiri, Rei Rei," Haru menuding Rei dengan pandangan mencela. "Kau membohongi seluruh anak di sekolah kita dan bilang kau berasal dari keluarga pemilik kelapa sawit," Haru tertawa pahit. "Pintar sekali kau berbohong. Kau bahkan masuk ke sana melalui beasiswa dan uang dari badan amal. Pemuda miskin yang berlagak banyak mulut." Rei mendesis mendengar kalimat Haru. Ini di tempat umum, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa untuk membungkam mulut gadis ini. "Diam kau," Haru tersenyum. "Oh, dengarkan aku, Alana bisa saja menghancurkanmu. Dengan keluarganya atau tidak, dia bisa saja menghancurkanmu. Pekerjaan pilotmu bukan apa-apa. Kau seharusnya bersyukur karena aku dan Alana tidak pernah membocorkan identitasmu ke siapa pun, termasuk murid-murid di sekolah kita." Haru mendorong d**a Rei dengan senyum puas. "Tidakkah kau seharusnya tahu diri dengan siapa kau berhadapan? Kau mungkin bisa menghancurkanku, tapi kau tidak bisa menghancurkan Alana," bisiknya dingin dan Haru kembali duduk, kari pesanannya sudah datang dan dia tersenyum pada pelayan yang membawakan karinya. Rei mendesis, menatap Haru seolah ingin membakarnya hidup-hidup dan pergi. Haru hanya tersenyum lirih. Dia mengusap pangkal hidungnya dan menunduk, menghela napas panjang. "Hari yang buruk? Aku mendengarmu memaki seseorang tadi," Haru mengangkat kepalanya. Iris biru laut itu melebar kala dia melihat Shimura Hiro duduk di depannya, mengisi kekosongan kursi lain dan tersenyum. "Tidak apa jika aku duduk di sini?" Haru tidak bisa berkata apa-apa selain mengangguk kecil dan senyum Hiro perlahan semakin lebar. *** "Ini laporan dari divisi umum dan divisi perencaan tata letak dan ruang. Aku belum mendapatkan dokumen dari bagian keuangan, setelah menyalinnya, akan kuberikan," Akira hanya mengangguk. Dia membaca dokumen itu dan Alana membungkuk. "Kalau begitu, aku akan pamit untuk makan siang," Akira mengangkat kepala. Menatap punggung Alana yang mulai berjalan menjauh. "Kau punya janji?" Kepala merah muda itu menoleh. Dia mengangguk pelan. "Ya," ponselnya tiba-tiba bergetar. Panggilan dari Haru di jam makan siang, Alana menatap Akira dan pria itu seolah mengerti, membiarkan Alana pergi untuk makan siang lebih dulu. Setelah kepergian Alana, dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya. Menatap jauh ke langit-langit ruangan yang dingin. Sorot mata itu menajam, dan perlahan berubah menjadi sendu dan penuh luka. "Aku tidak bisa, Haru, maafkan aku. Lain kali, ya? Aku ada janji." Sambungan telepon mereka terputus. Alana mengambil tas di atas meja, bergegas pergi menuju janji temu mereka yang sejak pagi sudah ditetapkan. Di tempat ini mereka bertemu. Setelah Alana meminta pelayan membawakannya teh lemon dingin, dia duduk di hadapan pria yang sudah menunggunya. "Maaf menunggu lama," katanya.  Oki menggeleng dengan senyum. Dia datang sendiri tanpa ditemani istri dan putrinya. "Terima kasih karena kau datang tanpa memberitahu Akira. Istriku sedang ada rapat bersama di sekolah Hani, dia tidak datang," balas Oki menjawab rasa bingung di sorot mata Alana. "Sama-sama, bukan masalah," ucapnya. Oki menghembuskan napas panjang. "Akira menceritakan segalanya. Ibuku menamparmu dan aku akan meminta maaf atas nama dirinya," Alana menggeleng. Ekspresinya bisa terkontrol dengan baik. "Tidak perlu. Itu kesalahpahaman, aku yakin—" "Semua bisa saja kembali terulang. Ibuku akan terus menekanmu untuk alasan yang tidak jelas," sela Oki, dan Alana membeo tak percaya. "Apa maksudnya?" "Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi dia mungkin tidak menyukai dengan wanita-wanita di dekat putranya karena menganggap apa pun garis hidup kami, dia yang mengaturnya," jelas Oki. Alana membelalak tak percaya. "Dia melakukannya?" Oki mengangguk. "Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan ini. Tari menderita selama enam tahun pernikahan kami. Hidupnya dibayang-bayang ketakutan dan kecemasan. Hani bahkan dibawah ancaman ibuku sendiri. Kau bisa bayangkan? Aku harus lakukan apa untuk melindungi keluargaku dari ibuku," Alana tak percaya. Dia menghela napas panjang. Mengerjap berulang kali karena Oki menceritakan masalah keluarganya yang pelik. "Aku tidak percaya ada seorang ibu setega itu pada putranya sendiri," kata Alana. "Kenapa dia berniat sejauh itu untuk menghancurkan kalian berdua?" "Tari berasal dari keluarga biasa saja. Aku bertemu dengannya saat kami ada di kelas yang sama, akuntansi. Kami hanya teman pada awalnya, Tari membuatku tertarik dengan segala kisah hidupnya yang membuatku benar-benar jatuh hati padanya," ujar Oki tenang. Oki menunduk sedih. Saat Alana mengerjap dan tidak sanggup membasahi kerongkongannya dengan teh lemon yang dia pesan. "Akira pasti sangat ketakutan. Dulu mau pun sekarang, dia pasti ketakutan. Dia tertekan dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan ibuku," gumamnya. Alana teringat kejadian kemarin. Dimana Akira yang terus lari dan lari dari kejaran sang ibu, saat pria itu bergetar hebat mendengar suara ibunya dan berbagai macam reaksi lain yang coba Alana gali di dalam ingatannya. "Siapa ... Sara?" Oki mendadak pucat. Dia membeku di hadapan Alana. "Siapa ... Sara?" Alana mengulang pertanyaan dan Oki tahu, dia tidak bisa menghindari pertanyaan ini. "Nyonya Kirei menyebut Sara di depanku. Dia bilang, aku dan dirinya sama. Sama-sama menyedihkan," bisik Alana lirih. "Apa aku terlihat seperti itu?" "Dia marah karena aku membawa lari Akira. Aku tidak bersikap demikian, aku hanya melindunginya karena pertama kali aku bertemu dengannya, Akira begitu hancur. Aku berpikir aku orang paling hancur di muka bumi ini, ternyata Akira mengalami hal yang lebih dalam dariku," ujar Alana tertahan. Oki mengusap wajahnya. Ekspresi lelah dan bingung tergambar jelas di sana. Oki bukan tipe pria yang bisa menutupi perasaannya. Hanya dengan ekspresi wajah, Alana mengetahuinya. Berbeda dengan Akira, dia harus menatap manik pekat itu untuk tahu apa yang coba Akira rasakan dan sembunyikan darinya. "Sara adalah Layla," "Apa?" Oki mencoba menatap mata Alana. "Mereka orang yang sama, bukan kembar. Mereka orang yang sama," katanya, mengulang kalimatnya pada Alana yang membatu. "Apa maksudnya?" Alana mendengus tak percaya. "Kenapa dia merubah namanya menjadi Layla?" "Sara adalah nama aslinya. Dan Layla ... aku tidak tahu harus menceritakan itu darimana," bisiknya parau. "Mereka adalah orang yang sama?" Alana terdiam sebentar, menarik napas. "Kenapa Sara tewas bunuh diri?" "Sesuatu yang tidak terduga terjadi. Itu memukulnya telak, terlalu dalam, dan dia hancur," Alana diam layaknya patung di hadapan Oki. "Apa Akira melakukan kesalahan hingga dia bunuh diri?" Oki menggeleng. "Akira mencintainya. Aku mengenal adikku dengan baik, dia tidak melakukannya. Cinta tidak akan membuat Akira berubah menjadi pria tempramental dan kasar," Kini Alana yang seperti dihantam batu karang besar di atas kepalanya. Tempramental dan kasar. Semua sifat itu mengarah pada satu orang yang menari-nari di dalam kepalanya. Rei. "Aku ingin melindungi Akira dan bebas dari seluruhnya. Dia pantas mendapatkan kebebasan dan kebahagiaan," ucap Oki. Alana mengangguk pelan. Dia menghela napas, mengusap rambutnya yang terjepit oleh dua buah jepitan mawar. "Aku mengerti. Aku sedikit lega karena bukan Akira yang menyebab kematian Sara," dia masih canggung menyebutkan Sara karena yang dia tahu adalah Layla. Oki tersenyum pedih. "Aku membayangkan Akira masih ketakutan dan selalu melantur kalau dia bukan pembunuh gadis malang itu," Alana mengerjap. Oki sudah menangkap basah dirinya dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengangguk pelan. "Sudah kuduga," Oki tersenyum samar. "Aku harus pergi," Alana tidak sanggup duduk lebih lama lagi. Dia berdiri, membungkuk pada Oki dan berlalu pergi. Tatapan Oki masih mengikutinya. Saat pria itu kembali menoleh, menatap cangkir kopi yang sudah mendingin dengan pandangan kosong. "Sara dan Alana sama, mereka memiliki warna rambut mencolok," Oki menunduk, menjambak rambutnya sendiri. *** Alana terlonjak. Dia memegang dadanya yang berdebar hebat seolah jantungnya bisa saja melompat keluar dari sarangnya. Matanya mengerjap berulang kali dan dia membungkuk kala Akira menghentikan ketukan jemari di mejanya dan menatap tajam ke arahnya. "Kau melamun?" Alana menghela napas. Dia mengangguk pelan. "Yah, maafkan aku," Pria itu tidak merespon. "Kurasa kau perlu istirahat," katanya, dan Alana menggeleng cepat, menahan Akira untuk tidak segera pergi dari sana. Akira menatapnya agak lama. Alana mencoba menahan diri untuk balas menatapnya. Dia mampu merasakan pandangan Akira menyapunya, pria itu kemudian berdeham. "Kau tahu tentang perayaan hotel baru Hiro? Dia akan mengadakan pesta di rooftop nanti malam." Alana mengangguk. "Haru sudah mengatakannya," Kini giliran Akira yang mengangguk. "Kau punya acara nanti malam? Mau datang?" Alana mengangkat alis. Dia menatap Akira yang tersenyum samar padanya. "Hiro juga mengajakmu, coba kau cek pesan masuk di komputermu. Dia mengundangmu dengan resmi," "Hm, akan kuusahakan," Akira mengangguk. Suasana di sekitar mereka entah mengapa terasa canggung. Pria itu menatap Alana sebentar. "Aku akan menjemputmu jam tujuh," Alana terkejut. "Maaf?" Akira berdeham pelan. "Aku akan menjemputmu," dia menatap Alana tajam. "Kau tidur di apartemen atau rumah orang tuamu?" "Orang tuaku," jawabnya. Akira terdiam sebentar. Keningnya terlipat tampak berpikir keras. "Oke, bukan masalah. Aku akan datang ke sana," Setelah mengatakannya, Akira beranjak pergi dari mejanya dan kembali ke ruangannya. Sebelum dia masuk, dia berpaling pergi ke ruang divisi umum dan memperbolehkan mereka kembali ke rumah lebih cepat. Hingga sorak ramai dari para pegawai yang pulang lebih awal terdengar sampai ke mejanya. "Kau juga, Alana," kata Akira pelan, dan kali ini benar-benar masuk ke dalam ruangannya. *** Alana duduk gelisah di sofanya. Dia tidak pernah datang ke acara seperti ini hanya berdua oleh Akira. Biasanya akan ada supir yang bersama mereka. Karena Akira jarang mengemudi. "Astaga, putri ibu sangat cantik," Hayate memekik bangga karena dia menemukan Alana duduk dengan gaun selutut yang dia belikan. Putrinya menggulung rambut panjangnya hingga model ombak tergerai di bawahnya. Alana tampil sempurna malam ini. "Ibu," Alana memanggilnya, menyuruh Hayate untuk berhenti menggodanya. Sedangkan, Hayate hanya terkikik geli. Dia duduk di seberang sofa lain di depan putrinya. Karena sang suami belum kembali, dia tidak bisa melihat betapa sempurnanya putri mereka. "Apa Haru akan menjemputmu?" Alana belum menjawab pertanyaan sang ibu, dia mendengar klakson mobil berbunyi dari luar. Kening Hayate mengernyit, dia berdiri dan berjalan membuka pintu untuk Alana. "Akira?" Dia menutup mulutnya yang terbuka. Saat Akira membungkuk padanya dan menunggu di depan mobil, Alana hanya melambai, menatap ibunya untuk berpamitan. "Ya, silakan. Hati-hati," kata Hayate. Akira tersenyum tipis pada wanita paruh baya itu. Rumah Alana, sesuai dugaannya. Pastilah mewah dan berkelas. Akira menebak kalau Alana punya lift pribadi di dalam rumah.  Hayate hanya memakai daster rumahan bergambar bunga matahari. Dia masih berdiri di ambang pintu saat Alana masuk ke dalam mobil dan Akira lupa membukakan pintu mobil untuknya, sampai Alana harus melakukannya sendiri. "Tolong jaga putriku, ," bisik Hayate dan percuma saja karena Akira tidak akan mendengarnya. Dia tersenyum, melambai pada mobil Audi itu dan menutup pintu rumahnya saat petugas keamanan kembali menutup gerbang tinggi itu. Akira berdeham. Dia menyetel musik di mobilnya dan Alana menghela napas. Tiba-tiba rasa kantuk menyerangnya. Dia bersandar di kursi mobil Akira, dan pria itu tidak bisa berhenti melirik penampilan Alana yang sempurna malam ini. Mata Alana terpejam. Tetapi hidungnya mengkerut mendengar nada lagu yang tidak asing mengalun merdu di dalam mobil. Dia tersentak, menatap Akira yang tampak tenang dan tidak terpengaruh dengan lagu yang diputar. "Kau suka lagu ini?" "Hm?" Akira menoleh. Dia kembali fokus ke depan. "Lagunya bagus," Alana menahan napas. Dia mematikan musik itu dan menatap Akira tanpa rasa bersalah. "I Don't Love You milik Urban Zakapa akan merusak hariku malam ini," kata Alana, menjawab pertanyaan di benak Akira. Akira hanya mengangguk. Dan suasana mobil kembali senyap. Dia tidak suka dengan suasana canggung yang berbeda di antara mereka. Ini tidak seperti biasanya. Mereka sampai di tempat yang dituju. Alana keluar dari mobil tanpa perlu menunggu Akira membukakan pintu untuknya. Dia menghela napas saat tatapan matanya melihat Haru tampak sibuk mengatur tamu undangan yang hadir. Akira berjalan dan Alana ikut di belakangnya. Dia hampir tersandung kakinya sendiri ketika Akira mendadak menghentikan langkahnya. Dia memegang tangan Alana. "Kau datang bukan sebagai sekretarisku, Hiro mengundangmu sebagai teman," katanya, lalu melepas tangannya dari tangan Alana. "Ah," Alana tidak bisa berkata apa-apa lagi saat dia berjalan mendahului pria itu dan menoleh, tersenyum padanya dan kembali berjalan masuk. Memekik girang ketika dia memeluk Haru dari belakang. Akira hanya mendengus. Dia menggeleng kecil dan pukulan di bahunya membuat kepalanya tertoleh, Souma sudah hadir dan Hiro tampak menari bersama teman sejawatnya dengan anggur di tangan. "Sahabatmu menggila. Dia merasa berhasil karena bisa membeli satu hotel mewah untuk membuktikan kerjanya," kata Souma, berbisik di telinga Akira yang mendengus menahan tawa. "Dia akhirnya berguna," balas Akira dan Souma mengangguk setuju. Tatapan Akira terlempar pada Alana yang berdiri, berbicara bersama Haru di meja makanan manis. Dia mengerjap, menatap gadis itu dari samping dan tanpa sadar sudut bibirnya tertarik. Alana tampak lepas dan bebas di hadapan Haru. Satu hal yang membuatnya tahu tentang sisi lain gadis itu selain keprofesionalannya dalam bekerja, dia juga hanya gadis biasa. Terlepas dari siapa dirinya dan bagaimana keluarganya. "Sial," Souma terbatuk hebat. "Ibumu datang," Souma tak percaya dengan apa yang dia lihat. Akira menoleh, dan tubuhnya membeku saat  Kirei datang seorang diri dengan angkuh dan berjalan mendekati keluarga besar Hiro di depan sana. Hiro yang melihatnya segera mencari teman baiknya. Dia berjalan, mendekati mereka dengan ekspresi menyesal. "Aku tidak tahu, sungguh," katanya, menatap Akira bersalah. Pria itu menggeleng pelan dengan tundukkan kepala. "Tidak apa," saat Akira mengangkat kepala, dia melihat tatapan Alana kini mengarah padanya. Gadis itu terdiam, tidak katakan apa pun saat Alana kembali pada Haru, meminum anggurnya dan tidak lagi menatap dirinya. "Ayo, kita pindah ke aula di depan. Ada gedung yang sudah kusewa untuk kaum muda pesta rooftop," kata Hiro. Membawa Akira dan Souma ke sana. Aula itu hanya memiliki tiga tingkat. Akira menghela napas karena Hiro benar-benar ingin memanjakan tamu yang datang saat para orang tua membosankan akan menghibur diri di hotel yang baru. Haru menyusul Hiro yang pindah bersamaan dengan tamu lain. Sedangkan dia masih di sini, Alana menatap  Kirei yang berulang kali melemparkan ekspresi sinis padanya. Gadis itu tersenyum manis. Ketika langkah anggun Kirei mendekatinya, dia tidak akan lari. "Selamat malam, Nyonya ," sapa Alana ramah. Dia memegang gelas anggur di tangannya. "Menikmati pesta juga?" Kirei mencibir Alana, tetapi gadis itu tidak gentar. Dia tidak punya alasan untuk kalah di sini. Terutama di hadapan ibu Akira yang psikopat. "Kau punya keberanian untuk datang," dia tersenyum pada Alana dengan tangan lentiknya memegang gelas anggur. "Mau bagaimana lagi, Shimura Hiro mengundangku," bisik Alana. Masih tidak menghilangkan kesopanan di dalam dirinya. "Kebetulan Akira juga ikut, dan aku menumpang di mobilnya—" Tatapan Alana jatuh pada ekspresi Kirei yang mengetat sempurna menahan marah. Alana tersenyum, dia berdeham. "Nikmati manisan ini juga. Ini enak," katanya. Mengambil bolu cokelat di atas piring dan mengunyahnya. "Apa kau mengadukanku karena menamparmu kemarin pada orang tuamu?" Alana tersenyum, dia mengusap sudut bibirnya. "Walau aku ingin, aku tidak akan melakukannya," Alana mengerutkan hidungnya. "Ibuku sedikit berbahaya jika itu menyangkut diriku, putri semata wayangnya. Dia yang lemah lembut dan begitu penyayang bisa berubah kasar seperti serigala yang berburu mangsa," balas Alana dengan tawa pelan. Kirei mencengkram pinggiran gelas dengan kuat. Saat dia membanting gelas itu di atas meja, Alana tidak lagi terkejut. Kirei mendekatinya, menatap gadis itu dingin. "Kau tidak akan bisa mendapatkan putraku. Cukup Oki, tidak pada Akira." Alana tersenyum manis. "Aku bahkan tidak berniat mengambil putramu darimu, karena sejak awal kau tidak mampu mendapatkan Akira di tanganmu," sahutnya tajam. Kirei membelalak tak percaya. Dia bersiap menampar Alana, tapi gadis itu lebih cerdik dan gesit, dia melempar isi gelas anggurnya pada pakaian Kirei dan wanita itu memekik tak percaya. Alana menutup mulutnya, mengambil tisu dan berpura-pura terkejut. "Oh, maafkan aku," katanya, dengan kasar menghapus noda di gaun yang Kirei gunakan. Setelah itu melempar tisu ke atas meja. Dia membungkuk pada keluarga Shimura Hiro dan berbalik menyusul lainnya di aula depan hotel. Kirei mendesis marah dalam suaranya. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya, sorot matanya mendingin penuh perhitungan saat dia memutar, berjalan mencari toilet dibantu petugas hotel yang melihat kekacauan kecil itu terjadi. Alana terdiam, langkahnya membeku kala dia melihat sosok gadis berdiri di atap gedung. Dia terlalu dekat dengan tepian yang bisa membuatnya jatuh dari lantai tiga. Alana mengerjap, gadis itu hendak bunuh diri! Dia berlari cepat, masuk menuju aula yang sepi dan beramai-ramai pergi ke atap saat dia tidak menemukan Akira di mana pun dan dia sangat panik. Akira ada di sana, saat gadis itu hendak melompat. Hiro tampak bingung dan Haru mencoba menghubungi kepolisian. Di saat yang lain bergegas untuk membantunya turun, Akira beringsut mundur. Souma berdecak. Dia mencoba mendekati gadis malang itu, Hiro tidak bisa melakukan apa-apa karena gadis itu adalah pegawai magang di kantornya. "Tolong, Nona, jangan lakukan ini," Souma berteriak, mendekati gadis yang semakin rapat ke tepian itu. Hiro menoleh, mendapati Akira yang pucat pasi dan Haru berlari mendekatinya, dia mencoba mencari Alana dan tidak menemukan sahabatnya dimana pun. "Akira?" Hiro menepuk pipinya. "Sadarlah!" Dia mulai bingung. Souma di sisi lain mencoba menyelamati gadis itu agar tidak jadi melompat ke aspal. "Astaga, Sara. Jangan lakukan ini!" "Mau apa gadis itu? Tidakkah dia gila?" Akira membatu di tempatnya. Matanya melebar sempurna tatkala sosok Sara ada di tepi atap gedung sekolah mereka yang bertingkat lima. "Sara!" Akira berteriak, berlari menembus kerumunan ketika para guru berteriak histeris dari bawah, menyuruh gadis pintar itu untuk turun. Sara mengunci pintu masuk menuju atap. Dia benar-benar ingin menghabisi nyawanya sendiri. Akira bergetar hebat di bawah saat dia berlutut dan memohon agar gadis itu tidak melompat ke bawah. "Aku bukan Sara! Aku Layla!" Gadis itu berteriak histeris. Wali kelasnya hanya bisa tertunduk dengan air mata mengalir deras membasahi wajahnya. Di saat bisik-bisik lain bergaung menyakitkan di telinga Akira, dia mencoba menghambur masuk ke dalam, tapi Sara menahannya. "Berhenti, Akira," dia berteriak. Dan Akira tidak bisa lakukan apa pun selain diam, dan berdoa agar gadis itu tidak melompat. Sara menangis. Gadis itu histeris sebelum akhirnya dia kalah oleh rasa sakitnya sendiri. Akira mengerjap, mencoba menatap gadis yang dia cintai dengan segenap hati agar Sara mau turun dan bicara. Nyatanya, Sara tetap pada pendiriannya. "Kumohon," Akira berdiri. Menatap gadis itu dengan mata menggenang. Teriakan histeris dan pekikan dari murid-murid SMA Sina yang melihatnya membuat tubuh Akira seolah mati rasa. Dia tidak bisa merasakan apa pun selain darah yang menggenang hingga membasahi alas sepatunya dan para guru yang mundur dengan histeris dan beberapa dari mereka pingsan di tempat. Sara tewas di depan matanya. Beberapa bagian tubuhnya hancur dan Akira tidak bisa merasakan napasnya dengan baik lagi. Seakan oksigen tidak ada lagi di sekitarnya. "Akira!" Hiro menampar pria itu agak keras dan Akira limbung ke belakang. Haru menahan tangan sang bos, Hiro mencoba diam dan Alana menahan Akira di depannya, agar pria itu bisa berdiri dengan kedua kakinya. "Akira," bisiknya. Alana mengerjap merasakan matanya yang menggenang ketika Akira bernapas pendek dan berlutut di depannya. Pekikan histeris membuat Hiro dan Haru menoleh bersamaan. Mereka terkejut karena Souma berhasil menangkap gadis bermata perak yang kehilangan kewarasannya karena mencoba membunuh dirinya sendiri di keramaian. Hiro segera berlari, menarik tangan Souma yang memegang tangan gadis malang itu. Saat dia berhasil menariknya ke atas, para tamu yang berhamburan di halaman segera menghela napas lega. Haru membuka mantel yang dia bawa, dia mendekati gadis yang terduduk menahan tangis itu dan menyelimutinya. "Sudah, semua baik-baik saja. Jangan menangis," katanya menenangkan. Souma menghela napas panjang. Dia menatap gadis yang tengah menangis itu dengan dengusan. "Lain kali pikirkan masa depan dan keluargamu. Kau pikir siapa yang paling menderita jika kau mati konyol seperti ini?" Gadis itu semakin bergetar di pelukan Haru. Hiro menarik Souma untuk pergi dan mereka mendekati Akira yang masih diam layaknya patung. "Tidak apa, Nana. Namamu Nana, kan? Kau pegawai magang di divisi pemasaran," ucap Haru. Membantu Nana berdiri saat dia merangkul bahu gadis itu dan membawanya pergi, menjauh dari kerumunan. Gadis itu—Nana mengangguk pelan. Dia menunduk dalam saat dia merasakan seluruh pasang mata menatapnya, entah mencemooh atau mengejek, dia begitu takut. Haru mengusap tangannya, menenangkan Nana. "Tidak apa, semua akan membaik," membawanya ke lantai dasar dan meninggalkan pesta. Alana menatap Akira yang menunduk, gadis itu berulang kali mencoba menyadarkan Akira dan pria itu masih belum bisa berpijak di tempatnya berdiri. "Sial, ini pasti karena Layla," kata Souma. Dia memegang bahu Akira dan pria itu menepisnya. "Dia Sara, bukan Layla," bisik Akira tanpa sadar. Souma dan Hiro membeku bersamaan. Mereka melempar kontak mata dan beralih pada Alana yang tidak lagi terkejut. "Ayo, kubantu kau bangun," Alana merangkulkan tangannya di bahu Akira, membantu pria itu berdiri. Ketika Akira menepis tangan Souma, dia tidak menepis tangan Alana dari bahunya. Alana membawa pria itu turun dari pesta. Akira melepas rangkulan mereka dan berjalan tertatih ketika dia meninggalkan Alana di bibir tangga. Souma dan Hiro hanya bisa menatap mereka dengan hampa. Ketika Alana berbalik dan membungkuk meminta maaf dengan senyum, dia berlari menuruni tangga menyusul Akira. Souma berjalan, dia mengacak rambutnya dan ikut turun ketika suasana pesta yang seharusnya penuh suka cita berubah mencekam. Dia tersenyum dan menyuruh pelayan untuk kembali memulai pesta tanpa mempedulikan kejadian yang baru saja terjadi. Dia ikut berlari menyusul Akira ke bawah. Saat Haru membawa Nana entah kemana, dia melihat Akira ada di depan mobil dengan Alana yang turun dari mobil itu. "Biar aku yang mengemudi," kata Alana, tetapi Akira menggeleng dan Souma berdecak. "Dengarkan dia, Akira. Kau tidak akan bisa fokus menyetir kalau keadaanmu begini." Hiro menatap  Kirei yang memandang mereka dingin dari balik tepi pintu kaca. Dia berpaling, mendekati Akira dan Souma. "Aku akan menyuruh supir untuk mengantar kalian berdua." Alana menggeleng dan Akira segera masuk ke kursi kemudi tanpa bicara. Gadis merah muda itu membungkuk, meminta maaf pada keduanya dan Souma hanya bisa mendesah, melepas kepergian Alana dan Akira. "Jangan buat Alana menjemput kematiannya sendiri, ingat itu," kata Souma setelah dia menutup pintu Audi itu dan mobil hitam yang Akira kendarai melesat menembus jalan bebas. Alana termenung selama di perjalanan. Karena Akira sejak tadi tidak bicara, dia membenci keadaan seperti ini. Bertanya baik-baik saja juga tidak mungkin, pria itu sedang hancur. Dan Alana tidak tahu karena apa. "Oki membawa pergi Tari untuk menikah dan lari dari ibuku," Alana menatap Akira dari sisi wajahnya. Pria itu kembali tenang dan helaan napasnya tidak lagi berat, Akira fokus menatap tajam jalanan dengan tangan di kemudi. Mobil itu berhenti. Agak jauh dari gerbang kediaman  yang tegak dan kokoh. Akira mematikan mesin mobilnya dan Alana berulang kali mengerjap dengan napas berat. "Terima kasih," bisik Alana pelan. "Selamat malam." Alana keluar dari dalam mobil. Dia menutup pintunya dan mendengar kalau Akira ikut keluar dari mobilnya. Dia berdiri, menatap gadis itu. Alana terdiam di tempatnya. Dia mengusap kedua matanya. "Hati-hati di jalan," katanya, beranjak pergi. Akira berdeham, dia menundukkan kepala menatap sepatunya dan menarik napas panjang. "Alana," Gadis itu kembali berbalik. Alana merapatkan tas selempang yang melingkar di bahunya dan tersenyum tipis. "Ya?" Akira kembali menghitung dalam hatinya. Dia menarik napas, dan membuangnya perlahan. Tatapan mereka bertemu dan Alana tidak bisa mencari-cari arti tatapan Akira untuknya selain kosong dan gelap. "Kau mau pergi bersamaku? Menjauh dari sini untuk waktu yang lama? Seperti saat itu," dia berbisik dan Alana merasakan dirinya membeku. Ketika Akira berjalan mendekatinya, memangkas jarak di antara mereka. "Seperti yang Oki lakukan. Aku akan melepas segalanya dan pergi," Akira menunduk, tangannya terulur mengusap kedua pipi merona gadis itu dengan lembut. "Kita menikah dan hidup bebas." Alana mengerjap. Merasakan napas hangat Akira menerpa wajahnya. Dia meremas jas hitam pria itu hingga kusut. Akira bahkan tidak menyebut kata bahagia, karena pria itu masih tersiksa dan terbelenggu oleh masa lalunya. Ketika bibir mereka menempel. Alana merasakan separuh dari dirinya terbang, melalang bebas ke atas langit. Dia mengerjap, merasakan kedua matanya basah karena dia tidak bisa menerima ciuman Akira. "Tidak, Rei. Jangan lakukan ini." "Kau mencintaiku, kan? Kau harus lakukan ini untukku. Kau harus memberikanku segalanya. Uang, kehidupanmu, mahkotamu!" "Tidak!" Alana berteriak hebat dan dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi dengan kondisi tangan dan kaki terikat di ranjang. Dia berteriak, mencoba menggerakkan tubuhnya yang sia-sia dan percuma. Seragam sekolahnya sudah tersingkap hingga menyisakan dalaman dan kulitnya yang terekspos sempurna. Alana menjerit sekali lagi dan dia mendapat tamparan keras di pipinya. Alana menangis dalam diam, menahan agar tidak terisak. Pria itu mencengkram rahangnya. Alana merasakan sakit dimana-mana akibat pukulan dan cakaran. Dia menahan napas, saat pria itu menyusupkan lidahnya, memaksakan ciuman hingga bibirnya robek dan berdarah. Tangannya mencengkram seprai dengan erat. Saat ciuman itu turun ke pipinya, menggigit pipinya hingga berdarah dan menetes hingga ke bantal. Alana memejamkan mata. Dia berharap mati saat itu juga. Dia berharap dirinya tenggelam dalam lautan dan tidak kembali dengan selamat. Dia berdoa agar waktu berhenti saat itu juga. Saat pintu menjeblak terbuka. Alana mendapati Haru berlari, menerjang Rei dengan balok kayu di tangannya dan Rei membalas menjambak rambut gadis itu, membanting Haru ke lantai dan merintih menahan sakit. Saat tendangan demi tendangan Rei layangkan untuk Haru yang memeluk tubuhnya, melindungi dirinya sendiri. Alana tersentak. Dia mengerjap, menjauhkan bibirnya dari lumatan Akira dan mundur dengan tangan di rambutnya. Akira terkejut, dia menatap Alana yang pucat dan ketakutan. Saat Akira ingin meraihnya, Alana beringsut menjauh dan bergetar. Matanya menggenang siap tumpah. "Alana," Alana menunduk, dia menjerit pelan dan menjambak rambutnya sendiri hingga kusut. Akira mendekatinya dan Alana menepis tangan pria itu, dia berlari tertatih-tatih kembali ke rumahnya saat para penjaga gerbang membukakan gerbang itu untuknya, meninggalkan Akira seorang diri yang terpaku di tempatnya. Rasa bingung bercampur terkejut melanda dadanya dengan hebat. Untuk pertama kalinya, dia melihat Alana begitu hancur setelah tujuh tahun mereka saling mengenal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD