5

4962 Words
Alana menghela napas panjang. Saat dokter menyuruhnya untuk istirahat selama satu hari di rumah sakit, dia tidak bisa menolak permintaan dokter itu. Karena dia kelelahan dan tubuhnya butuh istirahat, Alana tidak bisa memberontak dan bergegas kembali ke rumahnya. "Aku akan membawa Alana ke Berlin untuk berobat. Demi Tuhan, Kei, kau tidak lihat? Putri kita pingsan di parkiran! Dia pucat! Kau tidak akan tahu kalau dia memiliki penyakit mematikan atau—" "Ibu," Alana memanggilnya. Kepala Hayate tertoleh cemas pada putrinya ketika dia menghambur mendekati Alana, memegang tangannya yang tertancap jarum infus. "Jangan cemas. Aku hanya kelelahan. Aku baik-baik saja. Tidak merasa sakit atau apa pun." "Alana," "Dengarkan dia, Hayate. Dia baik-baik saja. Dia kelelahan dan butuh istirahat. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan," kata sang ayah, ikut duduk di samping istrinya. "Ibumu sangat cemas hingga dia panik dan meminta pesawat untuk stand by di bandara. Dia akan membawamu lari ke Berlin untuk berobat." "Aku hanya pingsan, bukan tersambar petir," balas Alana dingin dan Hayate cemberut. Dia memegang tangan putrinya semakin erat. "Ibu hanya cemas. Tolong, jangan seperti ini lagi. Kau tidak lihat, betapa paniknya ibu saat kau tidak sadarkan diri tadi," Hayate menahan suaranya saat dia mengusap rambut panjang putrinya. "Setelah keluar dari rumah sakit ini, kau mau tinggal bersama kami? Bersama ibu dan ayah? Hanya beberapa hari saja untuk istirahat?" Alana menghela napas. Dia menatap mata ibunya yang memohon dan ayahnya yang mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan tidur di rumah." "Oke," senyum Hayate kembali. Dia menatap mata teduh putrinya dan bergegas bangun ketika dia membuka mantel bulunya dan melipatnya. Mengupas buah segar di keranjang. Alana menatap kamarnya yang terlewat bagus. Karena ini rumah sakit swasta terbaik yang ada di Tokyo, Alana yakin harga kamar permalamnya bukan menjadi masalah selama dia mendapat perawatan terbaik dan merasa nyaman. Kamar ini terlihat seperti hotel, bukan bilik pada umumnya. Alana memakan apel yang dikupas ibunya sembari menonton kartun dari televisi berlayar 42 inch, di depannya. Kei duduk di sofa dengan tablet di atas meja dan kopi s**u di cangkir. Ditemani Hayate yang sibuk dengan ponselnya, mengabarkan anak buahnya untuk tidak melakukan penerbangan darurat karena Alana sudah membaik. "Ada tas keluaran terbaru dari Paris. Kau mau lihat?" Ibunya memecah lamunan Alana dari televisi dan tentang bosnya, Alana berdeham. Dia menatap tablet di tangan sang ibu. "Modelnya bagus. Harganya juga tidak terlalu mahal, seratus lima puluh juta untuk satu produk. Bagaimana, sayang?" Hayate bertanya pada Kei yang sibuk menatap laporan laba kotor di tabletnya. "Kalau Alana suka, belikan," Alana mengangkat alisnya. Dia mengambil tablet itu dari tangan sang ibu dengan lidah berdecak. "Modelnya tidak bagus. Ini cocok untuk ibu, bukan untukku." Hayate menghela napas. Dia kembali menatap tabletnya. "Bagaimana dengan sepatu ini? Kau mau sepatu atau tas?" "Dua-duanya?" Kei tertawa. "Baik, baik, belikan dia apa yang dia mau," katanya pada sang istri yang tengah tersenyum. "Teman ibu ada di Paris sekarang. Kalau kau mau, aku bisa mentransfer uangnya sekarang. Pilihlah model yang kau suka," ucapnya sembari berdiri, mengambil botol jus jeruk kemasan di dalam kulkas. "Apa ibu tidak beli?" "Untukku?" Hayate tertawa. "Aku sudah pesan. Tenang saja. Sekarang giliranmu." *** Alana menghela napas. Saat dia memotong daging steak panggang yang dimasak matang dengan kentang rebus dan potongan sayur segar. Dia sudah kembali ke rumah. Tetapi rumah orang tuanya. Dia belum kembali ke apartemen sampai keadaannya membaik dan ibunya bisa melepasnya kembali ke alam bebas. Begitu Alana suka menyebut kehidupannya. Hayate menatap putrinya yang sibuk mengunyah kentang dan sayuran. "Bagaimana pekerjaanmu? Ibu belum bilang pada bosmu untuk cuti. Apakah ibu harus meneleponnya?" Alana menggeleng. Masih mengunyah potongan kentang di dalam mulutnya. "Tidak perlu. Biar aku yang mengabarinya." Kepala Hayate terangguk pelan. Dia menatap piringnya sendiri dan mulai menyantap makan malamnya dalam diam. "Alana, ayah melihat teman terdekatmu hanyalah Manata Haru itu sejak kau duduk di menengah atas. Apa dia sangat baik?" Alana mengangguk dengan senyum. Tatapan mata Hayate jatuh padanya. "Tentu. Tidak ada orang sebaik Haru yang mengerti diriku, ayah." "Bagaimana dengan teman yang lain?" "Kebanyakan dari mereka adalah orang kaya baru. Dan aku alergi dengan orang macam itu. Memamerkan kekayaan mereka yang mudah habis jika kita menjetikkan jari, dan aku muak dengan semuanya." Hayate menatap Kei kemudian menghela napas panjang. "Kau benar. Orang tua mereka juga sama sombongnya. Kau tahu, Alana bahkan pernah diejek karena memakai kardigan hasil lelang dari badan amal. Aku sangat marah dan ingin menampar mulut wanita itu." Alana hanya tersenyum. Dia menatap ibunya dengan kekehan kecil kemudian kembali menyantap makan malamnya. Pegangan pada pisaunya mengendur. Alana menatap ibunya yang sedang menuang air hangat ke dalam gelasnya dan gelas ayahnya. "Ibu, apa kau mengenal keluarga ?" Hayate mengerjap menatap Alana. Dia menggeleng kecil sebagai respon. "Tidak terlalu. Aku dan ayahmu hanya datang saat  Kun meninggal dan memberikan karangan bunga. Ada apa?" Alana menggeleng. Dia menatap sang ayah yang ikut penasaran. "Aku mengenal bosku cukup lama. Dan aku tidak tahu apa pun tentang keluarganya. Ini aneh, kan?" "Apa dia tahu tentang dirimu?" "Sangat tahu, ayah. Dia bilang aku diberkati karena hidup bahagia. Memiliki cinta dari orang tuaku. Aku berpikir, dia punya masalah serius," kata Alana. Hayate mendesis. Dia menaruh garpu dan pisaunya di atas piring makan. Menatap Alana. "Ibu juga tidak yakin. Tapi Kirei ... dia terkenal agak menyeramkan. Di kalangan kami, Kirei sering menjadi bahan pembicaraan. Ibu tidak pernah bergabung karena takut menyinggung perasaanmu yang bekerja dengannya." "Menyeramkan?" Hayate menatap suaminya. "Kejam dan sangat keras. Mungkin dia memiliki masalah di keluarganya." Kei mengangguk. Dia kembali pada Alana. "Jangan terlalu ikut campur, Alana. Mengerti? Ayah tidak mau kau terluka karena keluarga itu." Alana menatap keduanya dan mengangguk pelan. Kembali diam dan melanjutkan makannya. *** Akira menghela napas. Dia menatap pintu bernomor seratus enam puluh itu dengan tatapan bingung. Berulang kali dia menekan bel sampai pada cara paling kuno, mengetuk pintu itu, tetapi tidak ada jawaban. Akira menarik napas, menatap pintu itu sekali lagi dan menekan bel. Saat dia mencoba menghubungi seseorang, tidak ada jawaban. Bahkan ponselnya tidak aktif setelah dia memanggil untuk yang kelima kalinya. "Sial, Alana," Akira mendesah panjang. Menatap pintu itu seolah dia bisa membakarnya hidup-hidup. Dia tidak punya pilihan selain menghubungi dua rekannya untuk bertemu dan bergegas turun ke bawah untuk pergi ke mobilnya. "Astaga, selamat malam Tuan ," Akira tersentak. Dia menoleh dan mendapati Manata Haru membungkuk dengan sekantung plastik buah dan makanan ringan. "Oh, kau," katanya. Akira mengusap pangkal hidungnya saat Haru tersenyum ramah padanya. Khas pegawai pada umumnya. "Menemui Alana?" "Alana tidak dirumah," balasnya. Akira mengangkat alis. "Kau tahu?" Haru mengangguk dengan senyum. Saat melihat ekspresi Akira, dia baru tersadar. Dia berpaling, berdeham untuk merutuki kebodohannya karena Alana sudah menceritakan segalanya siang tadi di telepon. "Ah, ibu Alana menyuruhku untuk datang dan mengisi kulkas putrinya yang kosong. Aku datang untuk menunaikan tugas itu," ucapnya formal. Akira menatap gedung bertingkat itu dan kembali pada Haru. "Hanya itu? Kau tidak tahu Alana dimana?" Haru menggeleng. "Aku juga bertanya dimana dia, tapi ibunya tidak bilang. Alana baru keluar dari rumah sakit karena tidak sadarkan diri, dia—" "Astaga," Haru menutup mulutnya kembali. Dia menatap Akira yang kebingungan dan beralih pergi saat mundur dan masuk ke dalam lobi. "Dia masuk rumah sakit?" Akira bergumam pelan pada diri sendiri dan berlalu. Membawa mobilnya pergi ke sebuah tempat dimana dua sahabatnya sudah menunggu. *** "Hubungi dia lagi. Katakan maaf dan bilang kalau kau ingin dia kembali. Sesulit itukah, untukmu?" Hiro menegak anggurnya dan mendengus. Saat Souma menatapnya dengan alis terangkat. "Itu mudah bagimu, tapi tidak untuknya," Souma membuka bir kaleng berisi alkohol dan menegaknya. Dia menatap Akira yang menunduk. "Kau menyesal?" "Aku terbawa emosi tadi. Aku terkejut karena dokumen tentang Layla ada di dalam laporan itu," ucapnya. "Layla?" Hiro menatap Souma. "Alana mencari tahu tentang dirinya?" "Aku rasa itu ketidaksengajaan," kata Souma. "Dia mungkin merasa simpati akan lukamu di masa lalu. Terlebih dia yang menyelamatkanmu dari insiden itu. Seharusnya, kau tidak bicara kasar padanya. Kau tidak lihat dia ketakutan?" Akira menghela napas panjang. Dia memangku dagunya dengan kepalan tangan, menatap Souma nanar. Dia tidak bicara, hanya diam. Souma mendengus pendek dan menatap Hiro yang melemparkan isyarat padanya. Akira meraih ponsel di meja. Setelah meneguk anggurnya, dia menoleh, memandang lampu yang redup. Mereka ada di ruangan VVIP sebuah bar ternama. Bersama barista pribadi yang siap melayani mereka sesuai kebutuhan. Souma yang memiliki tempat ini, dia bisa lakukan apa saja. "Alana," Souma dan Hiro menoleh bersamaan. Akira melirik mereka, menatap kembali ke depan. "Jangan ditutup teleponnya," "Apa?" "Kau ... cuti?" "Cuti?" Akira mendengar kekehan. "Kau gila? Aku keluar dari pekerjaanku. Kau lupa kalau kau sudah memintaku mundur tanpa tanda tangan." Akira menghela napas. "Kau mabuk?" Akira menggeleng. Dia baru menegak dua gelas anggur. Dia belum mabuk. Masih berada di alam sadar. "Tidak," "Kembalilah bekerja. Untuk masalah siang tadi, aku—" Sambungan terputus. "Halo?" Akira mendengus tajam. Dia menaruh ponselnya di atas meja dengan kasar. Hiro tersentak. Souma mengangkat matanya dari bibir gelas. "Dia menolakmu?" Souma tertawa. "Sudah kuduga." Hiro tertawa pendek. "Ini hukumanmu. Kau sendiri tahu kalau Alana bisa saja menginjak harga dirimu kapan pun dia mau," kata Hiro. "Dia bisa melepehmu, membuangmu ke sungai nil, melemparmu dari pesawat pribadinya. Tapi dia tidak melakukannya. Dia punya banyak uang, dia sangat pintar dan mandiri. Kau menyia-nyiakan berlian." Souma menahan tawa, tetapi dia bisa menahannya. Dia memandang Akira yang kalut dan mendesah. "Mau bagaimana lagi? Jalan satu-satunya adalah mencari sekretaris baru." Akira memejamkan mata. "Dia tidak seharusnya mencari tahu tentang masa laluku." Souma mendengus. "Dia melihat ibumu menampar dirimu. Dia pasti bertanya-tanya karena dia mencemaskanmu!" "Dasar i***t," maki Hiro. Akira melotot padanya dan Hiro hanya cuek, mengangkat bahu dan tersenyum. "Aku dengar dia masuk rumah sakit. Aku bertemu dengan Yamanaka itu di halaman parkir apartemen Alana tinggal," "Dia mungkin kelelahan dan setres," Hiro berdecak. Kepalanya menggeleng pelan. "Kasihan sekali. Orang tuanya mungkin akan mencincangmu untuk dijadikan umpan burung pemakan bangkai. Kau menyakiti putrinya." "Benarkah?" Souma memejamkan mata. "Mereka bisa saja meludahimu. Kau benar-benar keterlaluan untuk yang satu ini." Akira tidak mendengarkan Souma dengan baik saat dia menegak anggurnya dan mengabaikan pria itu seutuhnya. Ponsel Souma dan Hiro bergetar bersamaan. Mereka membukanya. Mendapat pesan dari  Oki yang mengundang pesta barbeque di taman rumah baru mereka. "Siapa?" "Oki," kata Souma. "Dia tidak mengirimkan pesan?" Akira mengernyit. Dia meraih ponselnya dan tidak menemukan apa pun di dalam ponselnya. "Tidak ada pesan masuk," katanya, menunjuk layar ponsel mahalnya yang bersih dari notifikasi. Akira mendengus. Dia segera mencari kontak sang kakak dan meneleponnya. Menyemprot pria itu dengan kalimat kurang ajar dan Oki merespon dengan kekehan geli. *** Alana meniup-niup produk kecantikan kulit yang baru saja dia coba di kulitnya. Terasa hangat dan lembut, dia tersenyum. "Berikan aku dua krim malamnya," kata Alana setelah dia mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang ke meja kasir. Setelah dibungkus, Alana membawa bungkusan itu ke tangannya. Berjalan kembali memutari isi pusat perbelanjaan setelah dia berhasil kabur dari orang tuanya dan memanjakan diri untuk berjalan-jalan menikmati hari yang cerah. "Alana?" Alana menoleh. Dia terkejut melihat Tari bersama putri cantiknya, Hani, berjalan-jalan memutari pusat perbelanjaan dengan troli berisi mainan Hani. "Oh, selamat siang," Alana menyapa mereka dengan ramah. Dia terkesiap, khas sekretarisnya masih melekat pada dirinya. Dia tersenyum dan Tari tertawa geli. "Kau sedang libur?" "Ah," dia bingung menjawabnya. "Aku mengundurkan diri." "Apa?" Tari terbatuk pelan. Alana menunduk, menatap Hani yang tersenyum polos padanya. Dia menyukai gadis pintar ini. Hani baru berusia empat tahun, tapi dia sangat cantik dan cerdas. Kepintaran  Oki menurun pada putrinya. "Bibi Alana, terima kasih untuk boneka sapinya," katanya polos. "Oh, sama-sama. Aku juga membeli satu untukku karena boneka itu menggemaskan," ucap Alana dan Hani tersenyum semakin lebar. "Bagaimana kalau kita duduk di dekat sini? Mengobrol sebentar?" Tari menawarkan diri saat Alana mengangguk pelan, mengikuti mereka mencari tempat duduk yang kosong terlebih tempat ini sepi. Karena jam kerja, orang-orang akan fokus pada pekerjaan mereka. "Kau berbelanja?" Tari menatap sepatu dan tas baru Alana yang terbungkus brand mahal. Alana tersenyum malu. "Aku membeli sesuatu karena sebentar lagi sahabatku ulang tahun, kupikir barang ini bagus untuknya," balas Alana. "Ah, untuk sahabatmu ternyata," Tari merasa malu. Dia menunduk, mengusap rambut legam putrinya. "Kupikir itu untukmu." Alana menggeleng. "Aku hanya membeli krim malam. Untukku dan ibu," kata Alana, menunjuk bungkusan krim malam yang dia beli. "Tidak heran dengan orang sepertimu bisa berbelanja hingga menghabiskan milyaran dalam satu malam," ucap Tari. "Gaji setahun sekretarismu bisa habis dalam satu malam. Tapi kau bisa melakukan lebih," godanya. Alana tertawa pelan. Dia memesan coffee latte pada kedai yang buka di pinggir dan kentang goreng. "Jika aku mau, mungkin aku bisa bersantai dan menghabiskan uang orang tuaku. Aku akan berpikir lagi," katanya. Tari tersenyum. "Hani meminta mainan baru. Setelah dia pulang dari sekolah, aku mengajaknya makan siang dan berkeliling." Alana menatap mata pekat gadis itu. Dia terdiam, mengingatkannya pada Akira. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau?" Hani mengangguk. "Sudah!" Dia terlihat riang. Berulang kali dia duduk, memainkan kakinya dan memakan es krim yang Tari buka untuknya. "Alana," "Ya?" Alana berpaling dari Hani pada Tari. "Kau mengundurkan diri?" Alana mengangguk pelan. "Hm, aku ingin menikmati menjadi diriku sendiri. Aku kurang memperhatikan diri sendiri, jadi ..." "Aku mengerti," potong Tari. Dia menunduk, menatap Alana bersalah. "Aku terlalu mendesakmu untuk bicara, ya? Maafkan aku." Alana menggeleng. "Tidak, tidak apa. Mungkin kau berpikir aku akan mengambil alih perusahaan ayahku, tapi belum terpikir sampai sana." Tari mengangguk pelan. "Apa kau akan memimpin perusahaan di masa depan?" "Entahlah," Alana tertawa pelan. Dia memberikan beberapa lembar uang pada pegawai yang mengantar kopi dan kentang gorengnya. "Perusahaannya terlalu besar. Aku takut kewalahan," Tari tertawa sebentar. "Aku tahu kau tidak akan kesulitan. Kau pintar, semua mampu teratasi dengan mudah." "Ibu dimana ayah?" Alana menoleh pada Hani yang menatap mata ibunya dengan sorot ingin tahu. "Ayah bekerja. Kita akan pulang sebentar lagi. Tunggu supir menjemput. Oke?" Hani tersenyum. "Oke," dia menatap Alana. "Aku ingin menemui paman Akira," katanya. Alana terdiam. Tari mencoba membujuk Hani dengan lembut. "Paman Akira sedang sibuk. Nanti, ya?" Hani mengangguk sekali lagi. Dia kembali pada es krim di tangan. Sedangkan Tari menatap Alana dengan sorot lelah. "Dia beberapa hari ini bertanya tentang Akira. Aku tahu anak itu sangat sibuk sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk bertemu kami." Alana hanya mengangguk pelan. "Alana, aku membeli rumah baru. Nanti malam akan ada pesta rumahan biasa. Aku mengundangmu, apa kau mau datang?" "Aku?" Alana tertawa pendek. "Entahlah. Jam berapa?" "Jam tujuh, tidak apa jika kau datang terlambat. Aku berharap kau mau datang. Kau sudah kenal dekat dengan suamiku. Aku tidak enak jika tidak mengajakmu bergabung," kata Tari sembari mengusap sisa es krim yang menempel di pipi dan bibir putrinya. "Akan kuusahakan," kata Alana. Dia berdiri setelah ponselnya berbunyi dan Haru memekik dari seberang sana. "Aku harus pergi," ucap Alana dengan ekspresi menyesal. Dia menatap Hani, mengedip pada gadis manis itu dan Hani tertawa. "Sampai nanti, manis." Hani melambai pada Alana dengan tangan mungilnya di udara. Alana juga ikut melambai setelah berpamitan pada Tari dan pergi menuju eskalator. *** "Akira datang," Souma menaruh piring berisi sosis bakar di meja kayu panjang. Dia mengunyah daging asam manis di mulutnya dan Hiro memakan apel segar yang baru dicuci oleh Tari. Tari menoleh. Mendapati Akira datang dengan pakaian santai. Hanya kaus hitam dan mantel berwarna abu-abu, juga celana jins hitam yang membalut tubuh sempurna. Oki menepuk bahu adiknya. Dia sedang sibuk membakar daging dan sosis, tapi tidak ada diantara mereka yang membantu. Akira menatap dua rekannya sinis. "Apa kalian hanya bisa makan? Oki sedang kesulitan," kata Akira. Souma segera mengunyah dagingnya dan berlari melesat menuju Oki saat dia membantu pria itu menaruh daging baru dan membalik daging yang sudah matang. "Apa semua sudah lengkap?" Tari datang dari dapur rumah mereka. Hani berlari bersama Hiro yang mengejarnya. Tari menepuk tangannya, menatap Akira yang berdiri mengambil jus nanas. "Kau datang," kata Tari saat dia melepas celemeknya dan menatap Akira. Pria itu hanya mendengus pendek. "Oki memberikan undangan eksklusif padaku," sedangkan yang disebut hanya tertawa. "Semua sudah lengkap. Hanya tinggal Alana," ucap Oki setelah dia menaruh daging dan sosis di meja kayu panjang yang ditaruh di taman depan. Akira terbatuk agak keras mendengar nama Alana disebut. Hani yang berada di dekatnya menatap Akira dengan pandangan berbinar. "Paman Akira tersedak," dia tertawa. "Aku hampir mati dan ini tidak lucu karena kau tertawa," balas Akira sinis dan Hani tetap tertawa. Tari melotot padanya. Dia mendengar Akira memarahi putrinya dan dia tidak terima. "Jaga bicaramu," Akira tidak peduli. Dia hanya terkejut karena Alana juga akan datang kemari. Oki mengundangnya? Wah, luar biasa. "Ibu bilang paman Akira akan sendiri selamanya dan membusuk di kamar apartemen. Kenapa pamanku sangat menyedihkan?" Kening Akira mengernyit. Hiro yang mendengar kalimat Hani segera melompat, membawa gadis itu menjauh dari sekitar Akira yang memunculkan aura hitam pekat. "Usianya baru empat tahun, tapi dia bicara seolah sudah berumur sepuluh tahun. Hani tumbuh lebih cepat dari anak seusianya," kata Akira. Bergabung diantara dua teman dan kakaknya. Souma tertawa pelan. Dia menatap Tari dan Hani dengan pandangan menggoda. "Apa mungkin kau masih memberikannya ASI di usianya yang empat tahun?" "Kau bercanda?" Tari berteriak pada Souma. Hani hanya terkekeh. Dia duduk di pangkuan Oki yang tersenyum menatap ketiganya. "Mungkin Alana terlambat," Akira menggeleng dengan senyum kemenangan. "Aku yakin dia tidak akan datang." Belum ada satu menit Akira bicara, dia mendengar klakson berbunyi dari arah gerbang depan. Souma tersedak air putihnya dan Hiro menyeringai. "Sialan, Bugatti Veyron," umpat Hiro. Souma membelalak tak percaya. "Sudah kubilang dia sekretaris mahal. Bagaimana bisa dia membawa mobil mewah itu kemari?" Souma bertanya pada Oki dan Tari bergantian. "Apa kau pernah melihat seseorang yang berkelas tinggi seperti Alana?" Mereka menggeleng dengan senyum bersamaan. "Alana tampil sempurna," Oki melempar tatapan jahilnya pada Akira yang membatu di tempatnya. "Apa aku terlambat?" Dia menyapa mereka dengan senyum manis. Alana berdiri, membungkuk pada semuanya dan Tari berdiri, memeluk untuk menyambutnya. "Tidak, Alana. Kau tidak terlambat," kata Tari. Membawa Alana ke kursi kosong di sebelahnya. Alana hampir melupakan sesuatu. Dia berlari kembali ke mobilnya dan semua pasang mata menunggu dengan antisipasi saat dia berjalan, membawa bungkusan baru di tangan. "Untuk Hani," gumam Alana. Hani melompat dari pangkuan Oki dan membawa bungkusan itu ke pelukannya. "Kau suka?" "Ini apa?" Hani bertanya sembari menggoyangkan bungkusan itu. "Hm, aku yakin kau menyukainya," Tari menghampiri keduanya dengan senyum. "Alana sungguh, tidak perlu sejauh ini," ucapnya. Dia membantu Hani membuka kadonya dan Alana berdiri, melirik Akira yang mendengus tajam hingga Hiro dan Souma mendengarnya. Alana tidak peduli. Dia duduk di kursi. Akira mengintip dari matanya. Alana tampil dengan mantel cokelat dan kaus tanpa lengan berwarna putih juga rok hitam selutut. Ditambah sepatu sandal. Yang Akira taksir tidak berharga murah. Alana adalah toko baju mahal berjalan. "Astaga, sepatu," Souma memekik saat Hani mengangkat sepatu barunya ke udara. Dia tersenyum ketika Hani mencoba sepatu barunya dan Tari membelalak. "Alana, sepatu ini bahkan baru rilis kemarin. Kau membelikannya?" "Bukan masalah," balas Alana, menepuk bahu Tari saat Hani mencoba sepatu barunya dan berlari memutari rumah barunya dengan riang. Alana menatap rumah minimalis tingkat dua itu dengan senyum. "Rumah kalian bagus, aku menyukainya," Oki menatap Alana dengan senyum. "Terima kasih. Kami memilih hunian yang nyaman untuk Hani juga." Alana mengangguk. "Yang terpenting adalah anak, bukan?" Tari tertawa. "Kau benar." Akira sejak tadi diam. Dia hanya mengunyah sosis bakarnya dan tak bicara apa pun. Saat Souma menyinggung tentang apartemen baru Alana, gadis itu tersenyum. "Lima belas apartemen atas namaku." "Gila," kata Hiro. "Aku membeli apartemen dengan uangku sendiri dan ayahku tidak peduli," dia melanjutkan kalimatnya. Souma tertawa hambar. "Astaga, ayahku sangat kaya. Dia mampu membeli apa pun dalam waktu satu malam. Tapi saat aku meminta apartemen baru, dia akan berpikir sepuluh kali," katanya. Alana tertawa mendengarnya. "Bagaimana dengan mobilnya? Ayahmu mengoleksi mobil mewah?" Alana menatap mobil mewahnya dan mengangkat bahu acuh. "Ayah bilang, mobil itu akan dia lelang. Kalau tidak laku, dia berniat membuangnya." "Astaga, mobil itu tidak berharga seperti sampah," kata Souma. Hiro mendesah panjang. Dia menatap langit malam yang cerah dengan pandangan nanar. "Kenapa ayahku tidak sebaik  Kei, Ya Tuhan," Souma mengiyakan dan Oki mendengus pendek. "Alana berbeda dari kalian yang menyusahkan," sahut Oki dan mereka tertawa bersama kecuali Akira. "Kau benar-benar akan pergi dari perusahaan?" Pertanyaan mendadak itu membuat suasana berubah canggung. Hiro berdeham, Souma mencoba menyikut Akira di lengannya. Tapi pria itu tetap kekeh, tidak peduli. "Yah," Alana menatap sekelilingnya. "Yah, mau bagaimana lagi. Kau menyetujuinya, kan?" Akira menghela napas. Dia berpaling, menusuk sosis dengan garpu. "Lupakan kejadian yang lalu. Kau bisa bekerja lagi besok," Alis Alana terangkat. Ekspresinya datar. "Maaf?" Tari melempar tatapannya pada Oki dan berdeham. Adik iparnya benar-benar tidak tahu sopan santun. "Nanti saja dibicarakan, oke? Sekarang, mari kita makan." Saat Akira dan yang lainnya bermain bilyard di dalam, Alana tinggal di kursinya bersama Tari dan Oki yang duduk berseberangan, menatap lirih padanya. "Alana, Tari sudah menceritakan tentang kau yang mengundurkan diri. Souma juga bercerita padaku. Semua semakin jelas," Alana menatap keduanya dengan sorot bersalah. "Aku seharusnya tidak menyinggung Akira sejauh ini. Aku seharusnya tahu batasanku, maafkan aku." Oki menggeleng. Tari hanya diam. "Tidk, jangan begitu. Akira sangat sensitif dengan masa lalunya." Alana menatapnya dan mengangguk pelan. "Ibuku mungkin akan terus begitu sampai entah kapan. Aku sendiri mengakuinya. Kami berdua tidak punya hubungan yang baik dengan ibu kami," kata Oki. "Begitu juga dengan istriku. Ibu membenci Tari, aku tahu itu. Aku hanya bisa membawa pergi keluargaku dari kekacauan ini. Dan tidak mampu melindungi Akira," Alana memandangnya bingung. Dia menatap Tari yang menundukkan kepala, tidak sanggup menatap mata Alana. "Aku percaya Souma dan Hiro selalu ada di samping Akira. Tapi aku juga percaya padamu, kau bersamanya hampir tujuh tahun. Aku tahu segalanya, tapi aku tidak bisa lakukan apa pun, keluargaku dibawah ancaman." Alana mengerjap. Dia meremas tangannya dan menunduk. Tari mengusap kedua matanya. "Maafkan aku, Alana. Kau ada di posisi sulit," Alana menatap Tari dan menggeleng pelan. Dia mengerti kemana arah pembicaraan ini. "Tidak, akan kupikirkan lagi." Oki tersenyum padanya. "Tolong, aku hanya bisa mengawasi Akira lewat dirimu." "Akira sangat terpukul karena kejadian itu. Dia tidak membunuh gadis malang itu, tapi rasa bersalah dan tekanan dari ibuku yang membuatnya ketakutan dan sengsara selama hidupnya," ucap Oki, meneruskan kalimatnya. "Maaf, tapi boleh kutahu kenapa ... dia pergi?" Tari menatap Oki yang menunduk. Kemudian pria itu tersenyum pada Alana setelah menguatkan dirinya. "Dia tewas karena bunuh diri." Alana tidak bisa menutup mulutnya. "Bunuh diri?" Oki mengangguk pelan. "Kepergian Akira ke Osaka juga berkaitan dengan ini, dengan kejadian menyakitkan itu." "Layla gadis yang baik. Dia sangat manis dan lugu," kata Tari, menceritakan siapa Layla pada Alana. "Layla mirip seperti ibunya." Alana hanya mengangguk pelan. Dia tidak bisa menerima ini lebih jauh lagi walau dia ingin. Ketika dia menolehkan kepalanya, dia menatap Akira yang bersandar di ambang pintu, bersedekap dan tatapan segelap malam itu memakunya. Tepat di matanya. Alana bahkan tidak bisa berpaling untuk sekedar menghindar. Rasa simpatik itu mengembang di dadanya, membuat dia sekali lagi mengiba pada  Akira dengan kepeduliannya. *** "Kau serius akan kembali bekerja?" Alana mengintip ibunya yang duduk di depannya dengan mangkuk bubur kepiting yang masih hangat. Di sampingnya, sang ayah sama menatapnya. Ingin tahu. "Yah, mau bagaimana lagi?" Hayate mendesah panjang. "Ibu akan meminta seseorang menghubungi bosmu, kau perlu istirahat, Alana. Semalam kau pulang larut," tegur Hayate. Alana cemberut. Dia menatap mata ayahnya. Berharap kepala keluarga itu mau membantunya membujuk ibunya. Kei menghela napas. Dia menatap Hayate lekat-lekat. Ibu beranak satu itu tidak bisa lakukan apa pun selain menyerah. "Tapi berjanjilah satu hal pada ibu," "Apa itu?" Hayate tersenyum lirih menatap putrinya. "Kau harus tinggal di sini. Sampai ibu membolehkanmu kembali ke apartemen. Bagaimana?" Alana cemberut sekali lagi. Hayate tertawa pelan. Ketika dia memainkan sendoknya dan Alana mengangguk pelan. "Aku akan kembali minggu depan," "Nah! Baik, ibu membolehkanmu bekerja," dia menatap mangkuk Alana. "Habiskan sarapanmu." Alana berangkat bekerja sebelum ayahnya. Dia pergi dengan jaguar merah miliknya dan berlalu saat dia bergabung bersama puluhan kendaraan lainnya di jalanan bebas. Setibanya Alana di kantor, dia tersenyum melihat Souma yang nongkrong di depan kedai kopi. Pria itu menyapanya sebentar sebelum pergi dan Alana membeli beberapa cokelat karamel untuk dirinya. Ketika dia sampai di meja, dia melihat Akira belum tiba. Lima menit dia kembali membereskan barangnya, Alana menghela napas. Dia belum membuang semua berkasnya karena Akira menyuruhnya pergi beberapa hari yang lalu. Saat Akira tiba, Alana berdiri. Dia membungkuk pada pria itu dan kembali mengangkat kepalanya. Tatapan Akira masih mengarah padanya. Mereka bertatapan dan Akira berpaling, memutuskan kontak mata mereka. Alana menghela napas. Dia duduk kembali di kursinya. Meremas dokumen yang seharusnya dia buang. Termasuk salinan dan foto milik Layla, yang membuat Akira marah. Setelah seleHiro mencetak agenda untuk minggu depan, Alana berlalu menuju ruangan Akira, dan pria itu sedang duduk di kursinya dengan dokumen di atas meja. "Ini agenda untuk minggu depan," kata Alana, memberikan laporan mingguan pada Akira yang menerimanya tanpa bicara. "Ada lagi yang dibutuhkan?" Akira menggeleng pelan. Dia menatap Alana sesaat setelah menutup map itu. "Kau kembali?" "Anggap saja untuk sementara," katanya pelan. "Kakakmu yang meminta, aku tidak bisa menolaknya," balas Alana jujur. Kepala itu terangguk pelan. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena rasa lega menyelimutinya lebih jauh dari apa pun. "Maafkan aku, atas kelancanganku kemarin. Kau tahu, aku tidak seharusnya—" "Lupakan. Kembalilah bekerja," Alana mendengar perintah itu hanya bisa mengangguk pelan, membungkuk sekali lagi dan berbalik. "Jika kau lelah, istirahatlah. Jangan dipaksa." Dia kembali berbalik. Menatap Akira sebentar yang kemudian beralih pada tablet di atas meja dan membiarkan Alana kembali berjalan keluar dari ruangannya. Jam makan siang sudah berakhir. Alana kembali ke meja dan mendapati Akira yang terburu-buru. Saat Akira keluar, dia berhenti di hadapannya. Menatap Alana lekat-lekat. "Jika ada dokumen yang harus k****a, kau bisa kerumahku? Aku ada di rumah." Alana mengernyit. Dia menatap wajah pria itu. "Kau sakit?" Akira menggeleng pelan. "Aku harus pergi," dia berjalan kembali melewati Alana yang kebingungan. Gadis itu hanya menoleh, menatap Akira yang menghilang dibalik pintu lift. Alana berlari ke mejanya. Memeriksa dokumen dan dia masuk ke ruangan Akira. Mencoba mencari sesuatu dan pria itu tidak meninggalkan apa pun di meja. Hana datang, membawakan dua dokumen di tangan. "Divisi perencanaan meminta ini untuk diberikan pada direktur utama," kata Hana, menjelaskan catatan yang dia ketik dengan rapi pada Alana. "Akan kutungggu sampai besok pagi. Terima kasih, Alana." Alana mengangguk setelah menerima dokumen itu dan Hana berlalu pergi. Kembali ke ruangan divisi lain. Dia melihat jam di atas mejanya. Dia akan ke rumah Akira setengah jam lagi untuk mengantar dokumen karena salinan ini harus dia tulis di rumah. Alana mengecek barangnya dan agenda untuk besok pagi sebelum dia merapikan tas dan mejanya, kemudian pergi. Alana mampir ke kedai kopi. Membeli dua kopi untuk dia bawa ke rumah sang atasan. Ibunya mengirim pesan kalau dia di rumah dan sedang memasak makan malam untuknya, Alana meminta sang ibu untuk menunggu sampai dia kembali dan dia tidak lembur hari ini. Langkahnya terpaku pada rumah mewah dua lantai yang Akira tempati seorang diri. Selama Alana menjadi sekretarisnya, dia hanya tahu rumah pribadi Akira dan satu apartemen yang sering pria itu singgahi. Dia bahkan tidak tahu dimana rumah masa kecil Akira bersama orang tuanya. Tipe minimalis bergaya elegan adalah selera Akira. Cat tembok monokrom yang mencolok mata menjadi daya tarik sendiri. Alana menarik napas panjang. Dia terbiasa berkunjung kemari saat ada keperluan mendesak, tidak seharusnya dia merasa tak nyaman saat melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah. Akira ada di dalam. Duduk di sofanya dan melamun. Saat Alana mengetuk pintu dan masuk, pria itu tidak terkejut. Karena Alana sudah mengirimkan pesan akan datang. "Aku bawakan kopi," dia mendorong satu kopi untuk Akira yang bergumam tidak jelas dan membiarkan Alana menunggu. Akira membaca dokumen itu. Menyamakan isinya dengan laporan yang diberikan divisi perencanaan melalui tabletnya. "Kau mungkin bertanya alasanku pulang lebih awal," ucap Akira tiba-tiba. Semendadak itu hingga Alana tersentak. "Ya?" "Aku menghindari ibuku," balasnya. Tanpa mengalihkan matanya dari tablet dan kertas. "Aku tidak ingin kekacauan itu terjadi di kantor." "Aku mengerti," Alana menatapnya dan menghembuskan napas. Dia kembali menatap objek lain dan berpaling saat mendengar suara mesin mobil menderu ada di depan rumah. "Ada yang datang," Alana bangun dari tempatnya. Menatap pintu yang terbuka dan  Kirei ada di sana. Kepalanya menoleh dan mendapati Akira membeku hebat di tempatnya. Tangan pria itu bergetar dan Alana tidak banyak berpikir saat dia melesat dan memegang tangannya. "Biar aku yang urus, kau tetap di sini." Akira tidak mengerti. Dia hanya diam mematuhi ucapan Alana ketika gadis itu berlari pergi dan menutup pintu, menahan  Kirei tetap di depan teras. "Minggir, kau menghalangiku," katanya dingin. "Tuan  tidak ada di rumah," ucap Alana. "Dia bahkan tidak mengunci rumah ini. Aku datang untuk menemuinya." Kirei mendengus dingin padanya dan Alana tidak gentar. Dia menatap Alana dari atas hingga ke bawah. "Sekretaris sombong macam dirimu, bisa apa? Kau selalu berlindung dibalik marga  yang besar." Tangan Kirei mencengkram pipinya. Alana meringis merasakan kuku tajam wanita itu menggores pipinya. Dia memikirkan apa yang ibunya katakan jika dia mendapat luka. "Kau sama saja dengan gadis menyedihkan itu," Alis Alana menekuk. "Sara dan dirimu sama saja!" Suaranya melengking tinggi dan Alana tersentak saat Kirei menamparnya tanpa sebab. Dia membeku selama beberapa saat. "Adukan aku pada keluargamu. Cepat! Kau pikir aku takut?" Alana tidak mengerti. Saat Kirei kembali mendekatinya, dia mundur beberapa langkah. "Kau membawa kabur Akira dariku. Kau lari bersamanya. Kau menyembunyikannya dariku!" Alana semakin dibuat bingung. Saat Kirei mendesis dan menatapnya dingin. Dia melempar tatapannya pada pintu rumah yang tertutup. "Jangan kira kau bisa membohongi aku, Akira!" Kirei berjalan kembali masuk ke mobil mewahnya. Dia menutup pintu, meninggalkan Alana yang membatu di halaman dengan tubuh bergetar. Tidak peduli dengan rasa panas di pipinya karena Kirei menamparnya. Mata Alana menggenang. Dia tidak tahu dimana letak kesalahannya. Mengapa ibu Akira membencinya? "Sara?" Alana menyebut nama itu berulang kali di dalam kepalanya. Dia menunduk, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Saat dia berjalan pergi, seseorang menahan tubuhnya. Memeluknya dari belakang. "Maaf," Alana tahu aroma yang menyakitkan ini. Tetapi dia tidak bisa lakukan apa pun. Penghinaan luar biasa yang  Kirei lakukan menggores hatinya. "Maaf," Alana tidak tahu kenapa dia menangis. Dia hanya ingin menangis, tidak lebih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD