bc

Beban di Pundak Anak Tengah

book_age12+
6
FOLLOW
1K
READ
family
kickass heroine
drama
city
like
intro-logo
Blurb

Bagi Elara, menjadi anak tengah bukan sekadar posisi di kartu keluarga, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Kakaknya, Adrian, adalah "si Sulung Kebanggaan" yang selalu diagungkan. Adiknya, Tiara, adalah "si Bungsu yang Rapuh" yang selalu dilindungi. Elara? Ia adalah "si Pengertian" sosok yang diharapkan selalu waras saat rumah kacau, selalu mandiri saat orang tua sibuk, dan selalu mengalah demi kedamaian. Namun, di balik senyum "pengertiannya", Elara menyimpan kelelahan yang luar biasa. Ia adalah jembatan yang dipijak oleh semua anggota keluarganya untuk menyeberang, tanpa ada yang bertanya apakah jembatan itu mulai retak. Ketika krisis finansial menghantam keluarga dan rahasia besar ayahnya terbongkar, Elara dipaksa memikul beban yang seharusnya bukan miliknya. Novel ini mengikuti perjalanan Elara dalam mencari suaranya sendiri, belajar bahwa mengatakan "tidak" bukan berarti durhaka, dan menyadari bahwa pundaknya tidak diciptakan hanya untuk menopang beban orang lain.

chap-preview
Free preview
Jembatan yang Tak Terlihat
Suara piring pecah di ruang makan bukan lagi alarm bagi Elara. Itu adalah melodi latar belakang yang sudah ia hafal sejak usianya baru menginjak sepuluh tahun. Di kamarnya yang sempit terjepit tepat di antara kamar Adrian yang luas di sisi kanan dan kamar Tiara yang selalu wangi semerbak di sisi kiri , Elara tetap bergeming di depan laptopnya. Jari-jemarinya bergerak ritmis di atas papan tik, memasukkan angka demi angka ke dalam tabel audit kantor. Hari ini hari Sabtu. Hari di mana orang-orang di luar sana menikmati akhir pekan, namun bagi Elara, libur adalah mitos yang tidak pernah tertulis dalam kamus hidupnya. "Elara! Coba lihat kakakmu ini! Keluar kamu sekarang!" Suara Ibu melengking tinggi, menembus dinding kayu kamarnya yang tipis. Elara menghentikan gerakan jarinya. Ia menghela napas panjang, membiarkan dadanya yang sesak terisi udara dingin dari kipas angin tua yang berdecit di langit-langit. Tanpa mengintip pun, ia sudah tahu skenarionya. Adrian pasti pulang pagi lagi dalam keadaan mabuk atau kalah judi, dan Ibu akan menangis histeris sementara Ayah hanya akan diam di balik koran, berpura-pura tidak terjadi apa-apa demi menjaga sisa-sisa harga dirinya yang sudah lama runtuh. Seperti biasa, Elara adalah wasit yang tidak pernah meminta peluit, namun selalu dipaksa memimpin pertandingan yang curang di rumah ini. Dengan langkah kaki yang berat, Elara membuka pintu kamarnya. Pemandangan di ruang tamu persis seperti dugaan buruknya. Di atas sofa kain yang mulai menipis busanya, Adrian terkapar dengan kemeja kusut yang setengah terbuka. Bau alkohol bercampur asap rokok murahan langsung menyengat indra penciuman Elara, membuatnya mual. Ibu berdiri di samping sofa, memegangi kedua tangan Adrian sambil menangis sesenggukan. Wajah Ibu terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya, dipenuhi garis-garis kerutan akibat kecemasan yang dipelihara bertahun-tahun. "El, bantu Ibu bawa Adrian ke kamarnya. Cepat, Nak," ujar Ibu begitu melihat Elara. Suaranya gemetar dipenuhi kepanikan. "Ayahmu sedang di kamar mandi, tekanan darah tingginya baru saja kambuh tadi pagi. Jangan sampai dia lihat kakaknya pulang dengan kondisi menjijikkan seperti ini. Ibu mohon." Selalu begitu. Kalimat-kalimat itu seperti rekaman usang yang diputar berulang-ulang di kepala Elara. Bantu Ibu. Jangan buat Ayah marah. Jagalah perasaan mereka. Mengalah demi kedamaian rumah. Elara mendekati sofa tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia memosisikan tubuhnya di sisi kanan Adrian, meraih lengan kokoh kakaknya yang terkulai lemas, lalu mengalungkannya ke lehernya sendiri. Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa dari tubuhnya yang lelah setelah seminggu penuh bekerja lembur, Elara mencoba mengangkat tubuh pria itu. Pundak Elara seketika terasa nyeri, seolah-olah beban fisik Adrian saat ini adalah representasi nyata dari semua beban mental yang selama ini ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya. "Kenapa Ibu tidak minta tolong Tiara saja untuk memegangi pintu atau membantu memapah?" tanya Elara pelan saat mereka mulai menyeret langkah Adrian yang limbung menuju kamarnya. Suara Elara tidak mengandung kemarahan, hanya ada nada datar yang melelahkan. Ibu menatap Elara sekilas dengan tatapan mata yang tidak nyaman, sebelum kembali mengalihkan fokusnya pada Adrian. "Adikmu itu sedang belajar di kamarnya, El. Dia sedang mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas negeri bulan depan. Jangan diganggu, dia itu gampang stres kalau pikirannya terpecah. Kamu kan tahu sendiri bagaimana rapuhnya fisik adikmu kalau sudah tertekan." Dia gampang stres. Kalimat itu menghantam d**a Elara seperti palu gada yang berat. Elara terdiam, menelan kembali semua kata-kata yang sempat mengumpul di ujung lidahnya. Kalimat dari mulut Ibu seolah-olah menyiratkan sebuah dogma mutlak di rumah ini: bahwa Elara adalah sebatang baja yang tidak bisa berkarat, atau sebongkah batu karang di tengah laut yang tidak akan pernah hancur dihantam ombak setinggi apa pun. Mereka semua selalu mengasumsikan bahwa Elara baik-baik saja, bahwa Elara kuat, bahwa Elara tidak memiliki emosi atau rasa lelah yang bisa memuncak. Padahal, Elara juga manusia darah daging yang memiliki batas retak. Setelah berhasil merebahkan tubuh Adrian ke atas ranjangnya, Ibu segera menyelimuti anak sulung kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang. Ibu mengusap rambut Adrian yang berantakan dengan tatapan mata yang penuh dengan kekhawatiran dan cinta mendalam , jenis tatapan mata yang tidak pernah Elara dapatkan, bahkan ketika tiga tahun lalu ia pulang ke rumah membawa piagam penghargaan sebagai lulusan terbaik dengan predikat c*m laude dari universitasnya. Saat itu, Ibu hanya melirik piagamnya sekilas lalu berkata, "Baguslah, cepat cari kerja supaya bisa bantu biaya sekolah Tiara dan bayar hutang kakakmu." Elara mundur teratur dari kamar Adrian, menutup pintu kayu itu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara berisik. Ia kembali ke kamarnya sendiri, namun layar laptop yang menampilkan angka-angka audit kini terasa begitu kabur di matanya. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, mengais kembali memori-memori masa kecil yang membentuk dirinya menjadi sosok "si Pengertian" yang menyedihkan ini. Sejak kecil, posisi anak tengah telah memenjarakannya dalam peran yang tidak pernah ia pilih. Adrian, sebagai anak laki-laki pertama dan si sulung, selalu menjadi tumpuan harapan sekaligus pusat perhatian. Segala kesalahannya selalu dimaafkan dengan dalih "dia masih muda, nanti juga berubah kalau sudah dewasa". Jika Adrian mendapat nilai buruk di sekolah, Ibu dan Ayah akan panik lalu mendaftarkannya ke tempat les paling mahal demi mendongkrak nilainya. Di sisi lain, Tiara sebagai si bungsu adalah permata rapuh keluarga. Setiap kali Tiara menangis karena mainannya rusak atau menginginkan baju baru, Ayah akan segera membelikannya tanpa berpikir panjang, bahkan jika harus menguras tabungan darurat. Lalu, di mana posisi Elara? Elara adalah anak yang tumbuh di daerah abu-abu yang terlupakan. Jika Elara jatuh dari sepeda hingga lututnya berdarah, Ibu hanya akan melempar sebotol obat merah dan segulung perban sambil berkata, "Kamu kuat kan, El? Ayo obati sendiri, jangan manja seperti adikmu. Ibu sedang sibuk memasak makanan kesukaan kakakmu." Kekuatan yang selama ini diagung-agungkan oleh orang tuanya sebenarnya bukanlah sebuah bakat alami yang patut dibanggakan. Kekuatan itu adalah hasil dari pengabaian yang terstruktur dan berlangsung selama bertahun-tahun. Elara terpaksa menjadi mandiri bukan karena ia menginginkannya, melainkan karena ia sadar betul bahwa jika ia tidak berdiri dengan kakinya sendiri, tidak akan pernah ada satu pun tangan di rumah ini yang bersedia mengulurkan bantuan untuk menariknya bangkit dari lantai. Malam harinya, suasana rumah terasa begitu mencekam setelah makan malam yang sunyi. Ayah hanya duduk di kursi goyangnya sambil mengisap rokok dalam-dalam, sementara wajahnya tampak kusut memikirkan tagihan yang kian menumpuk. Ibu sibuk di dapur, mencuci piring dengan gerakan yang sengaja dikeras-keraskan untuk meluapkan emosi yang terpendam. Adrian belum juga terbangun dari tidurnya, sementara Tiara mengunci diri di kamar dengan alasan fokus belajar. Elara berjalan menuju balkon kecil yang terletak di bagian belakang lantai dua rumah mereka. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang tampak sibuk dan tidak peduli. Ia menatap bayangan dirinya sendiri pada permukaan kaca pintu geser. Di dalam bias kaca yang buram itu, ia memperhatikan pundaknya sendiri. Pundak itu tidak lebar, bahkan cenderung mungil dan kurus untuk ukuran seorang wanita dewasa yang bekerja di bawah tekanan korporat. Namun entah bagaimana caranya, seluruh anggota keluarganya telah bersepakat secara tidak tertulis bahwa pundak mungil itulah yang paling kokoh untuk menampung segala jenis keluhan, kesedihan, dan krisis yang melanda mereka. Ia mengambil ponsel dari saku celananya, lalu membuka aplikasi perbankan digital. Dengan ibu jari yang sedikit gemetar, ia memeriksa saldo rekening bank tempat gajinya masuk setiap bulan. Angka yang tertera di sana membuat dadanya kembali berneon perih. Hampir setengah dari gajinya bulan ini sudah lenyap, ditransfer ke rekening Ibu semenjak awal minggu lalu. Uang itu digunakan untuk membayar cicilan bulanan rumah yang mereka tinggali saat ini, sebuah cicilan yang membengkak karena sertifikat rumah tersebut pernah digadaikan oleh Ayah demi melunasi hutang judi online dan taruhan balap liar yang dilakukan oleh Adrian dua tahun lalu. Elara ingin sekali berteriak sekencang-encangnya ke arah langit malam yang pekat. Ia ingin sekali egois, mengemas seluruh pakaiannya ke dalam koper, lalu melangkah pergi dari rumah ini tanpa pernah menoleh ke belakang lagi. Ia ingin berhenti menjadi jembatan yang terus-menerus diinjak dan dilewati oleh semua orang demi menyelamatkan diri mereka sendiri, tanpa pernah ada satu pun dari mereka yang peduli untuk memeriksa apakah fondasi jembatan itu sudah mulai retak dan keropos di bagian bawahnya. Namun, setiap kali niat untuk pergi itu muncul dan membakar keberaniannya, wajah lelah Ibu dan tatapan mata Ayah yang kian meredup selalu hadir sebagai hantu yang menakut-nakuti langkahnya. Rasa bersalah yang tidak seharusnya ada tiba-tiba tumbuh subur di dalam dadanya seperti duri beracun yang menusuk tenggorokannya, membuatnya kembali lumpuh dan menerima kenyataan pahit ini dengan kepala tertunduk. "Sampai kapan kamu mau hidup seperti ini, El?" bisik Elara pada kegelapan malam yang sunyi. Pertanyaan itu menguap begitu saja bersama angin malam yang berembus dingin, tanpa pernah menemukan jawaban yang pasti. Angin malam kembali berembus, membelai tengkuknya yang tegang. Namun, rasa dingin dari cuaca malam itu sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perasaan di dalam d**a Elara yang perlahan-lahan mulai mati rasa. Ia menatap langit tanpa bintang, tidak pernah menyadari bahwa dalam hitungan minggu ke depan, beban di atas pundak kecilnya akan bertambah berkali-kali lipat hingga ke titik di mana ia harus membuat pilihan paling kejam dalam hidupnya: tetap bertahan demi menyelamatkan keluarga yang selalu mengabaikannya, atau melangkah pergi demi menyelamatkan sisa-sisa jiwanya sendiri yang sudah hampir tenggelam ke dasar jurang keputusasaan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

NIKAH??? BOHONGAN???!!!

read
3.3K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
19.7K
bc

Orang Ketiga

read
36.9K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.6K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
6.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.5K
bc

Babysitter Canduku

read
20.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook