***
Di pagi hari dengan kicauan merdu para burung-burung yang berterbangan bebas di angkasa, membuat seorang gadis yang duduk melamun di teras rumahnya menjadi tersenyum seketika, akan tetapi tak sampai selang waktu berikutnya senyum itu tergantikan dengan raut sendu. Wajah gadis itu terlihat sangat pucat dan bibirnya yang biasanya merah muda merona kini berubah menjadi kering dan begitu pucat. Tak mampu berkata karena seolah bibirnya telah merekat sempurna. Gadis itu menatap burung yang hinggap di dekatnya dengan tatapan penuh rasa iri. Iri karena hewan saja bisa bebas, lalu kenapa tidak dengannya?
Dia adalah Quensya Anna Taheer. Anak dari pasangan Dave Alexander Taheer dan Xera Matreen Taheer. Gadis itu sering kali sendiri dalam rumah keluarganya. Ia bahkan dikurung layaknya burung dalam sangkar. Tak boleh menginjakkan kaki keluar gerbang rumahnya, kecuali akan ke sekolah saja. Anna bahkan tak bisa menghabiskan waktunya seperti teman sebayanya di luaran sana.
Gadis itu kesepian tanpa ada satu orang teman pun untuk menyemangatinya. Kedua orang tuanya melarangnya berteman dengan siapapun. Mungkin orang-orang luar sana akan berpikir jika kedua orang tua Anna itu sangat menjaganya ketat karena tak ingin membuat Anna terjerumus pada pergaulan bebas dan hal negatif lainnya. Namun, salah. Semua salah! Tak ada yang benar dari pemikiran mereka. Anna bahkan tak segan-segan untuk di siksa jika tak menurut. Gadis itu bahkan pernah diperlakukan layaknya binatang oleh kedua orang tuanya. Anna bahkan sempat ragu, benarkah mereka berdua adalah orang tuanya? Tapi kenapa sikap mereka berbeda dari orang tua yang seharusnya?
Anna menghapus titik air mata yang jatuh ke pipinya. Tubuh gadis itu bergetar hebat sembari menatap sekitar. Ia takut, sangat takut. Takut jika kedua orang tuanya melihatnya menangis dan kembali menghukumnya. Hukuman cambuk. Anna memeluk tubuhnya sendiri dengan begitu erat. Bayang-bayang p********n kedua orang tuanya membuat Anna trauma dan menjadi gelisah tak menentu. Gadis itu meringkuk dan kembali memasuki rumahnya. Rumah dengan aura gelap mencekam penuh kedinginan tanpa ada keharmonisan serta kehangatan di dalamnya. Anna bergegas menuju kamarnya dan mengunci pintu. Gadis itu meringkuk di sudut ruangan dengan hati yang tetap saja gelisah tak menentu.
“Tolong...” gumam gadis itu tak berdaya. Matanya terus saja mengeluarkan linangan air mata tanpa jeda sedikitpun.
Kejiwaan Anna terganggu. Gadis malang itu tampak sangat kacau. Barang-barang disekitarnya pun tampak mengerikan di matanya.
“Anna takut,” gumam gadis itu lagi.
“Tolong aku,” ucap Anna penuh pengharapan.
“Mama dan Papa jahat,” ucap Anna layaknya anak kecil yang mengadu pada orang dewasa.
Tapi, yang ada hanya suara sunyi. Tidak ada yang menenangkannya. Tidak ada yang bisa membuatnya lebih baik.
Tubuh Anna menegang saat mendengar derap langkah begitu samar dan suara deritan tangga yang berbunyi. Gadis itu menatap pintu kamarnya dengan hati was-was. Ia segera berdiri, membuka kunci pintunya dan segera bergerak menuju ranjangnya. Gadis itu bergegas untuk berpura-pura tidur.
Dan benar saja, tepat saat Anna sudah memposisikan tidurnya yang pas, pintu itu terbuka diiringi langkah kaki menujunya. Tubuh Anna gemetar di balik selimut tebal itu. Jantungnya berdegup sangat kencang.
“Anna...” panggilan bagai iringan irama malaikat maut memenuhi seisi kamarnya. Anna tetap bertahan pada posisinya, ia bahkan mencengkram erat selimut yang menutupi tubuhnya.
“Saya tau kamu tidak tidur, Anna.”
Deg!
Deg!
Deg!
“Bangun atau kau akan menyesal,” ancam suara berat itu. Anna tahu itu adalah suara siapa. Suara ayahnya.
Dengan perlahan, Anna bangun dari tidurnya dan duduk di atas ranjang sembari menundukkan dalam wajahnya.
Tiba-tiba tangan dingin menyelinap di belakang tengkuknya dan detik selanjutnya, rambutnya tertarik kencang ke belakang.
“Apa yang kau lakukan di teras tadi, sayang?” tanya seorang wanita yang terlihat begitu marah.
“A-Anna hanya ingin melihat-lihat, Ma.” Bukannya terlepas, tarikan pada rambut nya semakin kencang hingga membuatnya Anna kesakitan luar biasa pada kepalanya.
“Kau berusaha kabur, kan?” tanya Xera, ibu dari Anna. Wanita paruh baya itu terlihat menyeramkan dengan tatapan tajamnya. Anna terisak sedih. Ia melindungi kepalanya saat tangan Dave melayang ke arahnya.
Plak!
“Dengarkan kami, kau tak boleh menginjakkan kakimu keluar rumah. Kau tak perlu lagi melanjutkan kuliahmu! Kau tak perlu lagi, paham?” Xera mengapit kedua pipi Anna dengan kencang hingga membuat Anna merasakan sakit di kedua pipinya.
“Sa-sakit, Ma...” Anna mengadu sakit dengan suara pilunya. Dan hal itu bukannya membuat Xera semakin kesal. Wanita itu memukul kepala Anna dengan membabi buta. Terlihat seperti sedang kesetanan. Entah apa salah Anna di masa lalu hingga membuat mereka seperti itu.
“Papa... sakit Pa...” Anna terisak pedih saat kepalanya terasa berdenyut sakit akibat pukulan berkali-kali dari Xera.
Dave mendekati istrinya dan menahan perbuatan k**i wanita itu. Pergerakan itu membuat Xera berhenti menyiksa Anna dan menatap suaminya dengan napas memburu.
“Biarkan dia, sebentar lagi dia akan berada di tempat seharusnya. Jadi, jangan kotori tanganmu, okay?”
Sesuatu bak datang dengan cepat menusuk jantungnya dengan begitu dalam. Kalimat yang dilontarkan ayahnya itu membuat luka menganga di hatinya. Pria panutannya. Pria yang begitu ia harapkan kasih sayangnya. Pria yang menjadi harapannya. Anna bagai hilang arah. Perasaannya bergejolak hebat. Anna kembali menangis pilu bahkan lebih pilu dari sebelumnya.
“Apa salahku? Kenapa kalian begitu membenciku? Pa, Ma, kenapa aku begitu hina di mata kalian? Aku... aku juga ingin dipeluk oleh kalian. Bu-bukankah waktu itu kalian begitu menyayangi ku ta—”
“DIAM!” bentak Xera emosi. Wanita itu berdiri di hadapan Anna yang terisak.
“Semua berubah! Semua tak sama seperti dulu! ITU SEBAB KEDUA ORANG TUA BRENGSEKMU! Mereka menukarkan anak kami denganmu agar kau bisa hidup senang. Tapi, anak kandungku! ANAK KANDUNGKU MATI KARENA MEREKA! Kau dengar aku? KAU DENGAR, HAH!”
Deg!
Bukankah dengan kata lain bahwa ternyata Anna bukanlah anak kandung mereka? Benarkah itu? Lalu siapa orang tua kandungnya? Kenapa? Kenapa jadi begini?
Anna menggelengkan kepalanya, gadis itu berlutut di hadapan Dave sembari memeluk kaki pria itu. “Pa, katakan padaku jika apa yang Mama ucapkab barusan adalah sebuah kesalahan. Itu tidak benar, kan?”
“Menjauh dariku,” ucap Dave dengan sangat dingin dan penuh intimidasi.
“Tidak akan sebelum Papa katakan sebenarnya,” jerit pilu Anna tidak mau melepaskan pegangannya.
“Dasar anak s****n! Jauhkan tanganmu sekarang!”
BRUGH!
Tubuh Anna terdorong kasar menabrak lemari di sana hingga membuat lemari besar itu jatuh menimpanya. Pesahan beling menusuk kulit penuh lebam miliknya. Anna tertimpa lemari kaca hingga menyebabkan kepala serta seluruh tubuhnya penuh luka-luka serpihan kaca.
Anna mencoba menggapai kaki ibunya untuk meminta pertolongan, akan tetapi yang terjadi malah tangannya diinjak dengan tak berperasaan oleh sang ibu.
“Sshht...” desis Anna kesakitan. Tak ada tenaga lagi untuknya. Dan pada akhirnya, mata itu terpejam dengan kerutan samar di keningnya. Tetesan air mata tercetak jelas di wajah pucatnya.
‘Bawa aku pergi, Tuhan.’ batin Anna sebelum kegelapan berhasil menjemputnya.
***
Nathan disibukkan dengan kegiatannya selama ini. Hingga ia tak menanyakan lagi bagaimana kondisi gadisnya pada sang ibu. Nathan sibuk mempersiapkan pengangkatannya sebagai CEO semingguan ini dan kini lah saatnya. Hari di mana ulang tahunnya akan dirayakan secara besar-besaran dan ditambah lagi dengan pengangkatannya sebagai CEO baru Vincent Company.
Tok... Tok...
“Masuk,” perintah Nathan sembari membetulkan tuxedo hitam yang ia gunakan malam ini.
“Apa sudah siap, Nak?” tanya Evelyn dengan suara lembutnya. Wanita itu masuk ke dalam kamar Nathan dan membantu putra sulungnya itu memasangkan dasi yang terlihat berantakan.
“Selesai,” ucap Evelyn setelah berhasil mengikat dasi Nathan. Wanita itu menatap wajah Nathan yang terlihat bersinar. Ia memegang pipi kanan Nathan dengan penuh kasih.
“Turunlah, semua orang sedang menantimu.” Nathan tersenyum bahagia dan mengecup telapak tangan Evelyn dengan penuh sayang.
“Terima kasih, Mom.”
“Ayo cepatlah sedi—” ucapan Ethan terpotong saat melihat Nathan mengecup tangan Evelyn, istrinya. Pria itu bergegas mendekati Evelyn dan menepis kasar tangan anaknya.
“Jangan sentuh, ini milikku. Kau cari saja yang lain, dasar anak manja!” ketus Ethan sembari mengelap bagian tempat Nathan mencium tangan istrinya.
“Enak saja, ini ibuku. Berarti milikku juga!” balas Nathan tak kalah sengit. Anak dan ayah itu saling melemparkan tatapan tajamnya.
“Yasudah, kita batalkan saja pengangkatanmu,” ancam Ethan dengan seringai jahatnya.
“Aish, dasar curang!” Nathan melepaskan pegangannya pada lengan Evelyn dan cemberut seketika.
“Makanya, kau lebih baik cari sendiri wanitamu. Jangan malah usik wanitaku,” sinis Ethan merasa menang.
“Wanitamu itu ibuku, Pak Tua.”
“Ya ya ya, sana pergi.” Ethan mengibaskan tangannya mengusir Nathan segera.
Nathan mengernyitkan keningnya. Ini adalah kamarnya, lalu sopan kah jika pria itu mengusik pemilik kamar ini? “Yang seharusnya pergi itu kau, Dad! Ini kamarku kalau Dad lupa,” ucap Nathan jengah.
“Ah iya benar, kau benar. Ini rumahku kalau kau lupa. Jangan sampai ku buang kau ke jalanan karena durhaka padaku,” balas Ethan dengan jengah.
Evelyn yang sedikit kesal melihat kedua pria itu yang selalu saja meributkan sesuatu hal menjadi gemas seketika. Evelyn menjulurkan tangannya dan menarik telinga mereka.
“Aduh...”
“Aush...”
Keduanya mengaduh sakit. Namun, dengan kejam Evelyn semakin menguatkan tarikannya.
“Ampun Mom...” ucap mereka bersamaan.
“Bisa tidak jika kalian bertemu tak perlu mengadu mulut seperti tadi apalagi meributkan hal-hal sepele. Aku jadi pusing asal kalian tahu,” keluh Evelyn frustasi.
“Maaf, Mom...”
“Segera lakukan salam berbaikan!” perintah Evelyn mutlak tanpa mau diganggu gugat. Wanita itu melepaskan tarikannya di telinga mereka berdua dan bersedekap d**a menatap keduanya.
Anak dan ayah itu saling menatap satu sama lain dan merasakan gejolak hebat di perut mereka. Merasa mual saat membayangkan apa yang akan mereka lakukan.
“Cepat!” desak Evelyn.
“Dad dulu saja,” ucap Nathan.
“Tidak-tidak, kau dulu.”
“Dad dulu!”
“Kau dulu!”
“Da—”
“Stop! Kalian ingin melakukannya segera atau aku akan membuat kalian tak bertemu denganku,” ancam Evelyn.
“Ya tidak masalah, aku sering tak berjumpa dengan Mom karena terus dimonopoli Pak Tua. Jadi sepertinya hukuman ini tidak berat.” Nathan merasa ancaman Evelyn tak berpengaruh padanya, namun lebih berpengaruh ke sang ayah.
PLETAK!
“Enak saja mulutmu!” Ethan memukul tengkuk Nathan dengan sangat kesal.
“Oh begitu,” ucap Evelyn menatap Nathan dengan senyuman sinisnya. “Baiklah, sepertinya kabar gadismu itu tidak berguna lagi. Huh seba—”
“Tidak! Baiklah-baiklah, aku yang mulai.”
Nathan mendekati Ethan dan mencium kening pria yang merupakan ayahnya itu. “Aku mencintaimu, Dad.” Nathan merasa ingin muntah saat melontarkan kalimat itu dari bibirnya.
Dan belum sempat sadar dengan yang ia rasakan, Ethan juga mencium keningnya sembari berkata, “Aku lebih mencintaimu, son.” Berbeda dengan Nathan yang ogah-ogahan, Ethan tulus melakukannya. Pria itu tersenyum pada Nathan beberapa detik dan setelahnya berubah kembali menjadi tampang jijik.
“Turun ke pesta dan cepatlah! Gara-gara kau, kita sudah kehilangan lima belas menit berharga.”
Nathan ternganga. Baru saja ia melihat sinar ketulusan dan kasih sayang dari ayahnya itu, dan belum sampai beberapa menit sudah kembali berubah menyebalkan lagi.
Nathan akhirnya meninggalkan kedua orang tuanya dengan perasaan dongkol.
Setelah Nathan tak terlihat lagi oleh pandangan mata Ethan dan Evelyn. Keduanya terlihat saling melirik satu sama lain.
“Kalau sayang ya sayang, kenapa harus gengsi? Dasar Pak Tua,” Evelyn memutar bola mata malas melihat tingkah Ethan yang begitu mementingkan gengsi daripada perasaan.
“Tak apa, lagi pula aku suka saat wajahnya itu berubah kesal. Dan dia itu terlalu kaku padaku, jadi sedikit melakukan perdebatan sepertinya bisa mencairkan suasana itu.” Evelyn mencebikkan mulutnya untuk mengejek perkataan Ethan.
“Ayo turun,” ajak Evelyn.
“Hm,” balas Ethan sembari menyelipkan tangannya di pinggang ramping Evelyn.
Sedangkan di lantai bawah, Nathan sudah bersiap di hadapan sebuah kue ulang tahun besar yang elegan. Sangat indah dan disayangkan untuk dimakan. Dan ketika dua pasang suami-istri turun dari lantai satu, semua mata mengalihkan tatapan mereka pada sosok itu. Ethan dan Evelyn.
Ethan dengan tampang datar dan aura berwibawanya dan Evelyn dengan senyum tipis ditambah keanggunannya. Semua bersorak menyambut kedatangan pasangan itu. Saat berada di depan Nathan dan membelakangi para penonton, Ethan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Nathan.
Dan saat berbalik menuju para karyawan serta rekan bisnisnya, tampang Ethan berubah lagi menjadi datar.
‘Dasar bermuka seribu, huh!’ dengus Nathan yang masih kesal.
“Baiklah, tanpa berlama-lama lagi. Saya, Ethan Vincent, CEO dari Vincent Company menyambut kedatangan kalian semua. Pada malam ini, saya akan mengundurkan diri dan memberikan jabatan saya kepada putra sulung saya, Nathaniel Vincent, tepat diumurnya yang menginjak dua puluh lima tahun. Sekaligus hari ini, saya mengundang kalian semua untuk mengadakan pesta untuk ulang tahun anak saya beserta anak dari sahabat saya, Anya Gloria Rawnie. Nikmatilah acaranya,” ucap Ethan dengan lantang lalu disambut tepuk tangan meriah dari semua tamu undangan.
Pesta pun dilakukan dengan amat besar-besaran. Nathan ditemani Anya di sampingnya memotong kue besar itu secara bersamaan di kedua sisi kue yang berbeda. Dan saat Nathan berbincang dengan rekan bisnis ayahnya pun ditemani oleh Anya. Mereka terlihat seperti pasangan sekarang.
Di sudut berbeda dari tempat Nathan dan Anya. Ethan, Evelyn serta kedua orang tua Anya yaitu Mike dan Rose tengah berbincang ringan.
“Mereka terlihat sangat serasi, bukan?” tanya Rose yang tersenyum melihat kedekatan antara Nathan dan Anya, anaknya.
“Iya, lagi pula mereka sudah bersahabat selama bertahun-tahun, wajar jika mereka terlihat begitu dekat.” Balas Evelyn. Wanita itu sedikit peka dengan situasi yang akan dibahas oleh Rose.
“Bagaimana jika mereka kita jodohkan?” saran Rose. Dan benar saja, tebakan Evelyn benar.
“Jika saja Nathan menyukai Anya, tentu saja aku tidak akan keberatan dengan itu. Tapi sayang sekali, anakku sudah memiliki gadis pilihannya sendiri.” Balas Evelyn.
“Wah, benarkah? Siapa gadis beruntung itu?” tanya Rose yang begitu penasaran.
“Dia gadis sederhana, tetapi inner beauty miliknya lah yang memikat Nathan. Padahal aku juga sempat berpikir untuk menjodohkannya dengan anakmu, tapi bagaimana pun dia tak boleh dipaksa. Seseorang lebih dulu mengisi ruang hatinya. Maafkan aku,” ucap Evelyn yang merasa sedikit bersalah.
“Kenapa minta maaf? Lagi pula aku hanya menyarankan, dan tidak begitu memaksa mereka harus berjodoh. Ku doakan agar kau cepat menimang cucu nantinya. Dan jangan lupa beritahu aku jika calon menantu mu sudah datang, aku tidak sabar berkenalan dengan gadis hebat itu.” Rose terlihat sangat antusias, dan dibalas dengan tak kalah antusiasnya oleh Evelyn. Namun berbeda dengan Mike dan Ethan yang sudah sibuk membicarakan bisnis mereka.
Nathan bahkan sudah berpencar dengan Anya. Pria itu mengambil minuman wine yang tersedia dan meneguknya dalam sekali tegukan saja. Senyum manis tercetak indah di wajahnya.
“Anna, waktuku untuk menjemputmu semakin dekat. Ku harap kau menungguku untuk itu,” harap Nathan.
Berbeda dengan Alysia yang tanpa disadari oleh orang-orang tengah mabuk akibat kebanyakan meminum wine beralkohol tinggi. Alysia yang sejak tadi menahan kesal karena tak diperbolehkan bergerak bebas oleh para bodyguard nya melampiaskan hal itu dengan meminum banyak wine.
Gadis itu mengucapkan segala keluh kesahnya tanpa sadar. Dan hanya Zack yang berani menyentuh gadis itu. Pria itu melepas kemejanya dan menutupi wajah Alysia agar tak ada yang mengenali wajah gadis itu. Lalu dengan tangan kekarnya, ia menggendong Alysia seolah tengah memikul karung beras di pundaknya. Alysia meronta dalam keadaan mabuk, namun dengan acuh tak acuh Zack mengangkatnya menuju kamar gadis itu berada. Saat berhasil sampai di kamar itu, Zack menutup pintu agar tak ada seorang pun yang melihat keadaan berantakan Alysia.
“Kau! Dasar bodyguard s****n! Kenapa kalian selalu saja menghalangiku?” Alysia memukul d**a bidang Zack dengan lemah.
“Berhenti,” ucap Zack dengan raut datarnya.
“Apa pangkatmu memerintahkan ku seperti itu, huh!” dengus Alysia.
Zack kehilangan akal dan akhirnya membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Alysia terdiam dan begitu pula Zack. Pria itu menahan hasratnya dengan sekuat tenaga, namun saat ingin menjauhkan bibirnya dengan bibir Alysia. Tangan lentik gadis itu mengunci lehernya, menarik kepalanya kembali untuk memperdalam ciuman mereka. Zack terkejut namun ia sangat frustasi saat bibir kecil itu bergerak pelan membelai bibirnya seolah menggoda dirinya.
“s**t!” umpat Zack. Pria itu akhirnya meraih tengkuk Alysia untuk memperdalam ciuman mereka dan membuat gadis itu terengah-engah karena pasokan oksigen yang menipis.
Zack melepaskan tautan bibir mereka dan merambat mendekat pada telinga gadis itu. “Mulai hari ini dan seterusnya, kau akan menjadi milikku.” bisik Zack dan setelahnya Alysia jatuh tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol itu.
Zack mengangkat tubuh Alysia menuju ranjang dan menghubungi pelayan. Pria itu mengelus penuh sayang pada wajah Alysia yang tertidur.
“You are mine and only mine.”
***