***
Sebulan setelah menjadi CEO resmi menggantikan posisi Ethan di Vincent Company. Nama Nathaniel Vincent sudah tersebar ke segala penjuru dunia bisnis. Nathan dikenal sebagai sosok malaikat penolong bagi partner kerjanya dan berubah menjadi malaikat pencabut nyawa ketika melawan pesaingnya.
Perusahaan Nathan berkembang pesat di minggu pertama pria itu memimpinnya. Segala bentuk peraturan yang menurutnya cukup renggang dan berpotensi menimbulkan masalah diganti dengan peraturan yang ia bentuk sendiri dengan bantuan para direksi sehingga menghasilkan peraturan yang begitu ketat meminimalkan jumlah permasalahan kerja nantinya. Banyak dari kalangan pengusaha lainnya memberikan apresiasi yang begitu kagum dengan kepemimpinan seorang Nathan.
Dan di minggu kedua, Nathan berhasil meraih penghargaan sebagai pengusaha termuda dengan perusahaan yang menempati nomor urut kedua perusahaan terbesar dan terbaik di dunia. Semua pengusaha seniornya menjadi ketar-ketir melihat semangat juang Nathan membangkitkan perusahaan milik ayahnya itu. Anak muda yang berhasil membuat dunia bisnis geger karena pencapaian nya.
Nathan berhasil membawa nama perusahaan ayahnya berada di puncak kejayaan pada minggu ketiga. Tentu saja ha itu membuat Ethan dan Evelyn sangat bangga pada anak mereka. Pengusaha lain berebut untuk bekerja sama dengan Nathan, menjalin ikatan persahabatan bahkan tak segan-segan mereka dengan khusus mengundang Nathan untuk bertemu meeting sejenak.
Nathan menjadi begitu terkenal dikalangan dunia bisnis maupun dikalangan para wanita. Dengan ketampanan, kekayaan, dan kecerdasannya itu membuat Nathan menjadi incaran para gadis dan wanita berkarir. Bahkan Evelyn pernah mendapat dua surat lamaran, bukan surat lamaran kerja tetapi untuk menjadi menantunya. Bukan pula untuk putrinya melainkan putranya. Tentu saja saat itu Evelyn syok dan kaget. Mereka para gadis itu melamar putranya? Dan alhasil Evelyn memilih untuk tidak mengungkapkannya pada Nathan. Wanita itu memilih mengabaikan surat lamaran itu begitu saja. Toh, mungkin mereka semua hanya bercanda.
“Huh!” Nathan terus saja menghembuskan napas kasar saat melihat berita yang begitu menggelikan menurutnya. Dan ditambah dengan hatinya yang merasa kerinduan sangat dalam untuk gadisnya.
“Sudah dua puluh enam kali, kau terus-terusan menghembuskan napas kasar. Kau ada masalah atau memang mengidap penyakit asma?” ketus Alysia yang merasa risih dengan suara helaan kasar Nathan.
“Tidak,” balas Nathan malas. Pria itu terlihat uring-uringan sejak pagi tadi.
“Katakan padaku, apa kau ada masalah?” Alysia menatap Nathan dengan tatapan khawatirnya.
“Hm, aku lost kontak dengannya. Dia tiba-tiba tidak bisa dihubungi sejak pengangkatanku menjadi CEO. Apa kau tau kenapa?” jujur Nathan dengan raut kusutnya.
Alysia mengangguk paham. Kakaknya ini ternyata sedang khawatir dengan calon kakak iparnya. Dan ditambah kerinduan kakaknya yang pasti begitu besar sehingga membuatnya uring-uringan tak jelas seperti ini.
“Wow, ternyata efek dari kakak ipar begitu kuat. Hm, aku semakin penasaran dibuatnya.” Alysia bahkan sibuk sendiri tanpa sadar lupa menjawab pertanyaan yang sejak tadi ditanyakan oleh kakaknya itu.
“Apa menurutmu dia menghindar dariku? Apa sekarang dia sudah tahu jika dirinya sudah aku awasi sejak lama? Apa dia marah karena itu dan menjauhiku? Oh Tuhan, bodohnya aku!” Nathan memukul kepalanya berkali-kali hingga membuat kepalanya sedikit nyeri.
“Hey sadar, Kak! Jangan jatuh dengan ekspektasimu sendiri. Mungkin saja, apa yang kau bayangkan belum tentu apa yang terjadi pada gadismu. Bisa saja jika ia memang sedang sibuk, atau ponselnya yang hilang sehingga Mom tidak bisa menghubungi gadismu lagi. Atau bisa saja para pengawal penguntit mu itu memiliki penyakit rabun jauh dan tak berhasil menemukan gadismu di tengah keramaian. Intinya jangan berpikiran negatif dulu, positif saja selagi gadismu masih di bumi yang sama denganmu.” Alysia membeberkan pendapatnya dengan panjang lebar. Namun tetap saja Nathan menjadi uring-uringan. Bahkan untuk berdiri saja sepertinya Nathan begitu malas. Pria itu hidup tapi seolah tak hidup.
Alysia ikut menghembuskan napas kasar. Ia sangat geram dengan tingkah laku kakaknya itu. Begitu jelas kelihatan sangat kehilangan. Ada apa dengan CEO sukses ini? Alysia yakin jika para fans Nathan melihat tingkah laku kakaknya sekarang, pasti mereka akan terkejut dan menganggap Nathan gila. Pikir Alysia.
“Lalu, setelah kau tau gadismu menghilang, apa kau akan diam saja seperti ini, Kak?” ketus Alysia yang jengah.
Nathan mendongak menatap wajah Alysia yang cemberut. Tatapan adiknya itu menembus retinanya hingga ke jantung, seolah apa yang dikatakan adiknya itu adalah sebuah penghantar listrik untuk membuatnya bangkit kembali.
“Jika kau diam saja dan terus seperti ini, apa kau yakin gadis tercintamu itu akan datang? Jika dia menghilang, seharusnya kau mencarinya, bodoh! Bagaimana kau hanya bisa duduk diam menangisi gadismu yang tidak ada kabar? Kau terlihat sangat i***t asal kau tau,” ucap Alysia membakar semangat juang Nathan, akan tetapi diucapannya sering kali terselip hinaan untuk sang kakak.
Nathan mengebrak meja dengan rahang mengeras. Pria itu menatap Alysia dengan kobaran api menyala dalam matanya. Dan saat melihat itu, sungguh Alysia terkejut dan dibuat takut dengan tatapan tajam kakaknya. Nathan sangat mengerikan jika dilihat seperti itu.
“KAU BENAR! Aku seharusnya mencarinya, aku seharusnya bisa menemukannya, aku seharusnya berusaha untuk itu! Dasar bodoh, i***t, tak berguna!” Nathan memukul kepalanya dengan sangat geram.
Alysia ingin menghampiri dan menghentikan perbuatan bodoh Nathan yang satu itu, akan tetapi ia lebih sayang nyawanya. Mendekati orang yang tengah dilanda kabut kesedihan sangat rentan untuk menyakiti orang sekitar. Alysia bergidik karena itu. Ia menjadi sangat was-was menatap kakaknya.
Nathan berjalan mendekati Alysia, adiknya yang kini sedikit terlihat ketakutan. Nathan menarik lengan kecil itu dan memeluknya erat. Nathan butuh pelukan sekarang. Sangat butuh. Alysia yang sempat terkejut beberapa saat segera membalas pelukan kakaknya itu. Ia mengelus punggung Nathan yang bergetar. Dan saat merasakan suatu tetesan air yang jatuh di bahunya, Alysia menegang. Kakaknya yang begitu menyebalkan kini menangis? Menangisi gadis yang tidak ia tahu rupanya bagaimana? Hanya berbekal foto di masa kecil saja? Alysia berdecak kagum dengan gadis itu yang berhasil membuat kakaknya tak berdaya.
‘Apa gadis itu memakai guna-guna untuk memikat kakaknya?’ batin Alysia.
Alysia terkejut dan dengan cepat melepas pelukannya. Melihat wajah Nathan yang tampak kusut dengan jejak air mata di pipinya.
Alysia menghapus air mata itu dan menatap kakaknya. “Kak, apa kau di guna-guna olehnya? Kenapa kau begini?” Nathan menggeleng tegas menjawab pertanyaan yang dilontarkan Alysia padanya. Mata yang memerah sehabis menangis membuktikan dengan sangat jelas jika sekarang Nathan mengalami keterpurukan karena cintanya.
Nathan mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Mom, apa sudah ada kabar dari gadisku?” tanya Nathan yang sudah tak sanggup lagi dengan keadaannya yang uring-uringan.
“Maaf, son. Belum ada sampai sekarang, bahkan para mata-mata yang aku perintahkan kan untuk mengawasinya menjadi kehilangan jejak gadis itu. Tak pernah ada kabar lagi selain hanya kedua orang tua gadis itu yang sering terlihat keluar masuk rumah mereka. Dan untuk gadismu, dia tak—”
Nathan mematikan sambungan ponsel segera. Tangannya yang kekar terlihat gemetar ketakutan.
“Apa kau dengar?” Alysia mengangguk sedih. “Dia tidak ada kabar sebulanan ini, Al.” Alysia kembali mendekati kakaknya yang begitu tenggelam dalam kekalutan.
“Tenang, Kak. Mungkin saja dia ti—”
“Bagaimana bisa aku berubah tenang? Beritahu aku caranya menjadi tenang saat orang yang kau cintai menghilang? Semua usahaku untuk menjadi CEO terpandang itu hanya karena dirinya asal kau tau. Aku berusaha mati-matian untuk menjadi sukses dengan jabatan ini karena dia. Hanya dia, dan untuk dia. Jika saja dia menghilang dari hidupku, lalu apa gunanya jabatan bodoh ini? Tidak ada,” ucap Nathan dengan segala emosi yang bergejolak di dalam dirinya.
“Tunggu seminggu lagi, Kak. Jika setelah seminggu ini tak juga ada kabar dari gadismu, maka aku sarankan untukmu datang menemui. Walau negaranya jauh dari negara yang kau pijaki sekarang, tetapi cinta memang perlu perjuangan.” Alysia menatap kakaknya dengan raut sendu seolah tahu bagaimana rasa yang terbenam dalam diri pria itu.
Nathan sedikit menaikkan pandangan matanya. Dan saat melihat senyum menenangkan milik Alysia, hatinya menghangat. Nathan tersenyum.
“Ya, cinta butuh diperjuangkan. Terima kasih, terima kasih.”
***
Nathan dengan aura gelapnya terus menatap berbagai jumlah kertas yang ada di atas meja sekarang ini. Pria itu terlihat sangat fokus dan berusaha untuk tidak terganggu dengan obrolan sahabatnya itu. Ketiga sahabatnya berkunjung ke tempat kerjanya dan alhasil mereka kini tengah berkumpul di ruang CEO milik Nathan.
Nathan yang menurut Aaron, Gabriel dan Anya menjadi banyak murung dan bermuka masam menjadi sangat risih dengan itu. Mereka menyemangati Nathan agar pria itu tak larut dalam kesedihan, akan tetapi mereka malah terkena amukan Nathan.
Dan ketiga orang itu kini duduk jengah mengawasi Nathan yang setia menekuni tugasnya. Bahkan Anya merasa pusing saat melihat tumpukan kertas itu berada dalam jangkauan matanya.
“Huh,” suaranya dengusan Gabriel kembali terdengar.
“Apa kita akan tetap seperti ini? Hanya duduk diam tak melakukan apa-apa?” Semua mata tertuju pada Nathan, namun pria itu memilih untuk diam dan tak menanggapi.
“Oh, ayolah Nath. Aku juga seorang CEO tapi aku tak sepertimu yang workaholic. Kau sangat serius sekali. Kenapa tidak keluar sejenak untuk mengistirahatkan dirimu dengan bersantai sebentar di cafe depan sana?” ucap Gabriel yang kepalang jengah dengan sikap sahabatnya yang satu itu.
“Aku sibuk, lebih baik kau pergi bersama mereka.” Ucapan Nathan yang dingin membuat ketiga sahabatnya bertanya-tanya.
“Apa ada yang sedang terjadi padamu, Dude? Kau terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.” Aaron berucap dengan mengerutkan keningnya. Pria itu sangat terlihat jelas bahwa ia bingung.
“Tidak.”
“Oh ayolah,” ucap Aaron dan Gabriel bersamaan.
“Ck! Percuma kalian seperti itu. Dia sedang patah hati, jadi jangan diganggu. Mengerti?” ucap Anya menengahi.
Aaron dan Gabriel terkejut. Benarkah yang dikatakan Anya pada mereka? Dan saat pandangan mereka beralih pada Nathan, ternyata Nathan mendengus mendengar penuturan itu.
“Wow, seorang Nathan yang ku tahu tak pernah memiliki pacar, ternyata bisa patah hati karena seorang gadis. Impresif!” Aaron terkekeh.
Pria itu mendekati Nathan dan duduk di hadapan pria itu.
“Bagaimana rupa gadis mu itu? Apa mengalahkan bentukan model seperti Anya?” goda Aaron.
“Pergilah, aku sibuk. Jangan ganggu aku, mengerti?” ucap Nathan yang berusaha mengontrol dirinya.
“Ayolah, Nath. Kami ke sini itu karena ingin menghiburmu yang KATANYA uring-uringan dan TERNYATA kau mulai gila. Apa kau pantas dibilang waras karena alasanmu yang uring-uringan seperti itu? Banyak gadis diluar—”
“Banyak gadis yang lebih darinya tapi dia berbeda dari gadis-gadis itu. Lagipula jika aku menginginkan gadis karena rupanya, semua bisa saja ku dapatkan dengan bantuan uang ini, tapi apa kau tak mengerti juga jika ku katakan hanya mencintainya?!” Balas Nathan yang sudah tidak tahan dengan ucapan sahabatnya itu.
“Huh, terserah kau sajalah. Jelas-jelas disini ada yang lebih cantik dari gadismu tapi kau malah—”
“Tidak ada yang lebih cantik dari gadisku,” ucap Nathan saat memotong ucapan Aaron itu.
Aaron menoleh menatap pada Anya dan ada sedikit surat sendu dalam manik mata itu. Aaron sedikit geram. Di satu sisi ia kasihan melihat Nathan, namun di sisi lain ia juga begitu kasihan melihat Anya. Gadis itu pasti merasa sedih kala Nathan memikirkan gadis lain.
Aaron bangkit dari duduknya dan tertawa mengejek.
“CEO yang katanya ditakuti para pengusaha ternyata adalah orang yang lemah.” Nathan tak suka dengan apa yang Aaron ucapkan. Pria itu berdiri dari duduknya dan mencengkram kerah kemeja yang digunakan Aaron.
“Jaga mulutmu!” desis Nathan tak suka.
Gabriel dan Anya yang menyaksikan itu segera berdiri dan menjadi penengah antara Aaron dan Nathan. Anya yang menjauhkan Aaron dari jangkauan Nathan dan Gabriel yang menghadang Nathan agar tak melampiaskan emosinya pada Aaron.
“Pergi sekarang dari hadapan ku! Jangan datang kemari jika hanya ingin mengurusi urusanku yang bisa aku selesaikan sendiri dengan caraku,” perintah Nathan mutlak. Dan kali ini mereka memilih untuk meninggalkan Nathan.
Anya bahkan yang awalnya ingin menemani Nathan, namun terhenti saat pria itu mengusirnya dengan tegas.
Dan di sinilah sekarang Nathan berada. Di ruang kerjanya dengan banyak berkas di atas mejanya. Pria itu menyugar rambutnya frustasi. Nathan menatap tak minat pada sejumlah berkas yang tergeletak di hadapannya. Nathan bahkan memilih diam saja daripada beranjak untuk menyegarkan kembali tubuhnya dengan bersantai.
Sudah lima hari berlalu saat Alysia memberikan saran itu padanya. Natha tak bisa lagi menunggu untuk menggenapkan hari menjadi seminggu. Nathan tak tahan terus dihantui rasa rindu. Pria itu akhirnya berdiri dari duduknya dan menelepon sekretaris miliknya.
“Siapkan pesawat pribadi, dalam satu jam kita akan melakukan perjalanan menuju Singapura.”
Nathan mematikan ponselnya dan menatap indahnya ibukota New York dari atas bangunan tinggi miliknya.
“Maaf, aku tidak bisa menunggu lagi, Ann.”
***
“Semua sudah siap?” tanya Nathan menatap arlojinya. Lima belas menit lebih cepat dari waktu perkiraan nya sampai.
“Sudah, Tuan.”
“Baiklah, mari kita mulai perjalanan ini.” Nathan memasuki pesawat pribadinya dengan dilayani begitu mewah oleh para awak pesawat. Nathan menatap arlojinya yang menunjukkan pukul dua siang yang berarti besok paling lambat ia sampai di Singapore.
“Apa sudah bisa dijalankan, Pak?” Nathan bergegas mematikan daya ponselnya dan duduk tegap menikmati pemandangan di luar kaca pesawat.
“Ya, silahkan.” Setelah beberapa saat Nathan mengucapkan itu, pesawatnya perlahan naik dan terbang menembus awan menuju negara yang dituju.
***
Berbeda dengan Nathan yang mungkin sedang duduk santai menikmati suasana pesawat. Keluarga pria itu malah sibuk mencarinya. Pria itu pergi sejak siang tadi dan menghilang sampai tengah malam seperti ini. Mereka berusaha mencari keberadaan pria itu dan belum juga ditemukan. Evelyn sudah begitu khawatir dengan keadaan putra sulungnya. Ethan yang telah mengerahkan seluruh bodyguard nya untuk mencari Nathan di semua kota New York.
Dan dengan tak di sangka, Alysia mulai curiga jika kakaknya itu nekat pergi ke Singapura sendiri.
“Dad dan Mom tenang saja, okay? Kakak itu sudah dewasa pasti dia bisa untuk menjaga dirinya sendiri. Dan ku rasa aku tahu dia ada di mana,” ucap Alysia dengan sedikit senyumnya.
“Kemana?” tanya Evelyn dan Ethan cepat.
“Mungkin dia nekat menemui gadisnya,“ balas Alysia sembarangan.
Evelyn terkejut dan Ethan menyeringai senang.
“Itu baru anakku, dia sangat sama sepertiku.” Bangga Ethan sedangkan Evelyn menatap pria itu dengan kesal.
“Bodoh! Bukannya panik, kau malah bangga dengan yang dilakukan putramu. Dasar gila!” kesal Evelyn.
“Hey, sayang. Aku pria dan anakku itu juga pria. Aku tau rasanya hampir gila karena cinta dan dia juga sepertinya mengalaminya lebih cepat dariku. Dan biarkan dia meraih gadis itu sendiri, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya. Segala keputusan kita biarkan Nathan yang mengambilnya. Istirahatlah, ini sudah hampir jam dua belas malam. Okay?” Ethan menuntun Evelyn menuju kamar mereka, dan tidak lupa memerintahkan Alysia untuk istirahat.
“Awas saja jika terjadi sesuatu pada gadisku, maka kau yang akan bertanggung jawab. Paham?” ancam Evelyn sebelum memasuki kamar.
“Iya, sayang. Tenangkan dirimu dan istirahatlah. Atau kau mau kita berolahraga terlebih dahulu sebelum tidur?” Ethan menaik turunkan alisnya menggoda Evelyn dan berhasil. Wajah istrinya itu tidak lagi penuh rasa kekhawatiran melainkan berubah menjadi kesal dan cemberut.
“Tidak ada jatah malam ini, enak saja!” Ethan tertawa terbahak-bahak saat melihat tingkah menggemaskan istri kesayangannya.
“Baiklah, baiklah. Ayo istirahat, aku lelah.” Ethan menuntun Evelyn memasuki kamar mereka dan segera menuju ranjang untuk tidur.
‘Daddy percaya padamu, son.’ batin Ethan sebelum dirinya jatuh masuk ke dalam alam mimpi.
***