***
Suara bising kendaraan menyambut kedatangan Nathan di negara yang dijuluki sebagai Negara Singa itu. Pria dengan pakaian casual itu diikuti sejumlah pria berseragam hitam dengan bentuk siaga yang mengelilingi tuan mereka.
“Zack,” panggil Nathan pada bodyguard kepercayaan keluarganya.
“Saya di sini, Tuan Muda.” Zack menghadap pada Nathan dengan kepala tertunduk patuh. Pria itu terlihat sangat gagah dengan pakaian hitam yang ia gunakan, mata elangnya tak henti mengamati sekitar untuk melihat ada atau tidaknya orang-orang mencurigakan yang mampu membahayakan pemimpin mereka.
“Hubungi pengawal Mom yang menjaga gadisku, dan suruh dia melapor lalu menghadap padaku segera. Aku tunggu lima belas menit dari sekarang,” ucap Nathan.
Pria yang biasanya selalu bersikap ramah tamah pada orang sekitar dan tersenyum hangat itu tergantikan dengan tatapan datar dan matanya yang menusuk tajam. Aura gelap yang Nathan keluarkan membuat orang di sekitarnya menjadi sedikit merinding.
“Sudah, Tuan Muda.”
“Bagus,” balas Nathan singkat. Pria itu duduk di sebuah kursi dengan tangan yang terus mengelus layar ponselnya. Entah yang ia rasakan sekarang adalah obsesi atau cinta, tapi satu intinya. Anna tetaplah akan jadi Anna nya. Gadisnya. Cinta pertama dan terakhirnya.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit kurang. Orang suruhan Mom nya baru saja datang dengan napas tersengal-sengal. Pria itu tampak berkeringat dan wajahnya yang terlihat sedikit kusut. Nathan tak merasa kasihan, ia mencengkram kuat ponselnya dan segera bertanya tentang perihal keberadaan gadisnya.
“Di mana gadisku?” tanya Nathan geram.
“Maaf, Tuan Muda. Tapi kami sudah bersiaga selama dua puluh empat jam akan tetapi Nona Anna tak pernah lagi kami lihat keluar dari rumah itu.”
Nathan mengepalkan tangannya dan dengan sekuat tenaga memukul pengawal suruhan Mom nya itu.
“DASAR BODOH! KENAPA TIDAK KALIAN GELEDAH RUMAHNYA?! s****n KAU!” Dengan membabi-buta, Nathan terus saja memukuli orang itu hingga beberapa bodyguard miliknya menarik paksa tubuh itu dari jangkauan tangannya.
“Tenangkan dirimu, Tuan Muda!” ucap Zack dengan berusaha keras menahan pergelangan tangan Nathan agar tidak memukul salah seorang teman seprofesinya itu.
“Lepas!” Nathan menepis kasar pegangan para bodyguard nya dan beranjak menuju mobil yang terparkir di dekatnya. Pria itu memerintahkan sopir yang sudah disiapkan anak buahnya untuk mengantarkannya pada rumah Anna.
“Pergi ke rumah Anna, sekarang!” desak Nathan tak menghiraukan para anak buahnya yang mengejar mobil ini.
Rombongan mobil hitam dengan mobil Nathan sebagai pemimpin kini memimpin jalanan di sore hari itu. Kendaraan yang mereka lewati menatap takjub dengan gerombolan mobil mewah yang melewati mereka. Sedangkan Nathan, pria itu jengah karena laju mobil yang menurutnya sangat lambat.
“Apa tidak bisa lebih lambat dari siput?” sarkas Nathan pada sopir di depannya.
Sopir itu menatap pada kaca spion mobil dan menambah laju kecepatan mobil mereka. Nathan sangat gatal ingin menginjak gas mobil itu hingga habis. Mobilnya tetap saja berjalan begitu lambat, menurutnya.
Setelah sepuluh menit perjalanan dengan kecepatan yang bisa dianggap di atas rata-rata, akhirnya Nathan sampai di depan rumah Anna. Nathan bergegas turun tanpa menunggu pintu mobilnya di buka. Pria itu terlihat begitu bahagia, akan tetapi berbeda dengan sopir yang masih berada di dalam mobil itu. Tangannya gemetar karena baru pertama kali melaju cepat di jalan raya. Untung saja jalan yang mereka lewati itu tidak terlalu ramai kendaraan dan tidak macet.
‘Terima kasih, Tuhan. Nyawaku masih utuh.” Batin sang sopir.
Nathan berjalan dengan para bodyguard yang berbaris panjang menyambutnya untuk mendekat pada pintu utama. Nathan sedikit menggeser gerbang itu dan ternyata tidak di kunci. Nathan tersenyum cerah. Senyum yang sempat tak pernah muncul lagi selama satu bulan terakhir ini.
Nathan dengan sepuluh bodyguard nya berjalan menuju pintu utama. Sedangkan sisanya berjaga di luar. Nathan senang sekali saat membayangkan akan segera bertemu dengan gadisnya. Jantungnya berdebar menggila. Bahkan pria itu kini tengah memegang jantungnya yang berdetak lebih dari batas wajar.
Hal itu tak luput dari pengawasan para bodyguard Nathan, bahkan Zack menatap kakak dari orang yang ia cintai itu merasa sedikit lega saat senyum manis Nathan timbul.
Nathan tak mengetuk pintu. Ia menekan bel khusus di sisi kanannya.
Satu kali...
Dua kali...
Tiga kali...
Tetap tak ada sambutan dari dalam sana. Nathan yang awalnya sudah bersikap sangat senang menjadi terdiam dan menjadi was-was kembali.
Nathan melirik bodyguard nya untuk memberikan kode. Dan dengan sigap para bodyguard nya itu mendobrak pintu besar di sana. Bahkan setelah pintu berhasil di dobrak, Nathan tercengang saat melihat isi rumah ini. Sangat berantakan dan lebih anehnya lagi ialah ada bekas darah yang mengering di lantai. Ada apa ini? Nathan bertanya-tanya dalam hatinya, namun karena ia yang tidak bisa lagi menahan sikap tidak sabarannya, Nathan segera berjalan masuk sembari menyerukan nama Anna.
“Anna!” panggil Nathan. Suara yang dihasilkan pun menggema. Tak ada balasan. Suasana tetap sunyi.
“Anna, kau dengar aku? Di mana kau?” teriak Nathan lagi terus memanggil-manggil Anna.
Suasana hening menambah atmosfer semakin mencekam. Bukan rasa takut pada rumah berantakan ini, tapi lebih ke rasa khawatir karena tak bisa menemukan Evelyn. Nathan berlari cepat menuju tangga untuk berjalan menuju lantai atas.
“Lihat apa kalian, hah? CEPAT CARI GADISKU!” teriak Nathan geram.
Dengan sikap sigap, para pengawal Nathan segera bergegas untuk mencari Anna di segala sudut ruangan rumah itu. Tak ada hasil dari mereka dan pada akhirnya mereka hanya berharap bahwa Nathan menemukan Anna di dalam kamar gadis itu sendiri.
Saat Nathan telah berada di lantai atas kamar itu, pria itu mengedarkan pandangannya. Kamar yang berada di hadapannya ini tertulis nama gadisnya.
“Apa ini kamar Anna?” gumam Nathan pada dirinya sendiri. Gagang pintu sudah ia pegang. Tangan Nathan sedikit bergetar saat akan membukanya, ditambah lagi degup jantung yang terus saja menggila.
“Anna...” panggil Nathan dengan suara lembutnya. Dan saat pintu berhasil terbuka, mata Nathan melebar saat melihat wajah Anna. Wajah putih bersih nan cantik yang terpajang di kepala ranjang itu menjadi objek pertamanya. Nathan mengedarkan pandangannya ke seisi kamar dan ia mengernyit.
“Di mana Anna?” ucap Nathan bermonolog.
“Anna... kau di dalam?” tanya Nathan yang menjadi gelisah karena tak menemukan Anna di dalam itu.
“Anna!” panggil Nathan sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi. matan memasuki kamar itu lebih dalam dan betapa terkejutnya ia saat tak menemukan Anna di segala sisi kamar itu. Nathan berjalan cepat menuju kamar mandi, bahkan ia tak menemukan gadisnya. Emosi Nathan kembali naik, pria itu berjalan cepat menuju walk on closed dan tetap saja tak menemukan Anna di sana.
“ANNA!”
“ANNA, KAU DI MANA?”
“INI AKU, NATHAN. ANNA KELUARLAH!” jerit Nathan yang kesetanan mencari sosok Anna.
“PENGAWAL!” panggil Nathan dengan suara membahana mengisi keheningan rumah itu.
Semua bodyguard dan orang suruhan Mom nya berkumpul menghadap Nathan. Wajah mereka pucat saat melihat kemarahan yang sangat jelas di mata Nathan saat ini.
“Maju kemari menghadapi yang menjadi orang suruhan Mom untuk mengawasi gadisku!” para orang suruhan itu segera maju dengan langkah takut-takut.
“CEPAT ATAU KU PATAHKAN KAKI KALIAN!” bentak Nathan kehilangan kesabaran.
Ada sekitar enam pria yang berdiri menghadap Nathan. Pria itu menatap setiap wajah mereka dengan tatapan lapar ingin melampiaskan hasrat amarahnya.
“Apa yang kalian lakukan hingga kalian tak menyadari jika Anna ku telah pergi dari tempat ini? Jadi, apa tugas kalian selama ini?” tanya Nathan yang menahan suara bentakannya.
“Jawab aku! Di mana kalian sampai-sampai tidak melihat kepergian Anna ku?!”
Tidak ada yang berani menjawab hingga salah satu dari mereka memberanikan diri. Nathan menatap pria itu dengan tajam.
“Maaf, Tuan Muda. Ka-kami benar-benar tidak melihat Nona Anna keluar dari rumah ini,” ucap pengawal itu dengan sangat gugup.
“Zack!” panggil Nathan. Zack berjalan mendekat dan membungkuk hormat.
“Saya di sini, Tuan Muda.”
“Cari keberadaan orang tua Anna dan temukan Anna ku secepatnya!” Zack mengangguk dan segera mengundurkan diri bersama dua pengawal yang akan membantunya.
Nathan melepas pakaian atasnya dan melempar itu sembarang. Kini tubuh bagian atas Nathan terekspos menunjukkan otot yang terbentuk sempurna di sana.
“Kemari, temani aku melampiaskan emosi s****n ini! Pukul, elak atau apapun itu. Dan jangan hanya diam ketika aku memukulmu!” Setelah pengawal itu mengangguk setuju, Nathan segera melayangkan tinjunya. Perkelahian sengit terjadi antara Nathan dan anak buah ibunya.
Para pengawal lainnya hanya terdiam saat menyaksikan perkelahian itu dan mereka meringis saat melihat Nathan memukul brutal teman mereka. Setelah satu pengawal itu tumbang, Nathan berdiri dengan menyeka darah di sudut bibirnya. Kobaran api dalam matinya belum juga padam. Dan Nathan kembali mengajak dua lawan satu. Dua pengawal yang ia tunjuk menyerangnya secara bersamaan. Nathan semakin menggila dibuatnya. Banyak pukulan yang berhasil melukai wajahnya. Keringat bercucuran tiada henti di kening dan tubuhnya. Dan saat Nathan berhasil mengalahkan semua pengawal ibunya. Pria itu duduk bersender di tembok sembari meremas rambutnya frustasi.
“Obati mereka,” perintah Nathan.
Saat salah seorang pengawal ingin membantu dan mengobati luka Nathan, pria itu menolaknya. Ia memilih masuk ke kamar Anna dan mengunci pintu itu.
Pria itu berjalan menuju ranjang milik Anna dan merebahkan tubuh kekarnya di sana. Nathan memejamkan mata sejenak sembari menghirup wangi ranjang yang begitu manis. Dan Nathan yakin jika itu adalah wangi tubuh gadisnya.
Nathan menatap foto yang terletak di sana sembari tersenyum tipis.
“Cantik, sangat cantik.” puji Nathan. Wajah yang terbingkai indah itu menunjukkan senyum manis seorang gadis remaja yang begitu mempesona. Terpaan angin membuat rambutnya terkibas indah.
“Kenapa kau pergi sebelum aku menjemputmu? Kenapa kau tak mendengarkan aku? Bukankah kita berjanji waktu itu?” ucap Nathan tersirat kepedihan.
Mata itu terpejam dan kembali membayangkan masa lalunya bersama gadis kecil bernama Anna.
•FLASHBACK
“Anna jangan lari-lari, kamu bisa jatuh!” pekik Nathan kecil.
Anna menatap ke belakang dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Nathan yang berlari mengejarnya.
“Kejar aku kalau bisa! Wlee...” ejek Anna dengan terkikik geli. Gadis itu sangat cantik dengan pipi chubby dan mata bulatnya.
“Anna jangan berlari kencang!” pekik Nathan yang khawatir dengan laju Anna yang cepat.
“Tidak akan, wlee...”
Bugh!
Anna menabrak sesuatu yang terasa begitu keras. Dan saat ia mendongak menatap siapa gerangan yang ia tabrak, Anna terkejut saat melihat wajah seram dengan penuh luka di wajah itu. Anna berangsur-angsur mundur karena ketakutan. Nathan yang berhasil menggapainya. Anak laki-laki itu menarik Anna ke belakang tubuhnya dan membungkuk meminta maaf pada pria tua itu.
“Maafkan kesalahan temanku, Paman.”
Pria yang Anna tabrak tadi hanya diam memasang senyum tipis dan mengelus sayang kepala Nathan.
“Tidak masalah, lagi pula itu tidak sengaja.” Setelah mengelus puncak kepala Nathan dan Anna secara bergantian. Pria itu menjauh dari mereka. Anna beralih berdiri di samping Nathan.
“Kan sudah ku bilang...”
“Maaf, Athan. Anna tidak tahu kalau tadi ada paman mengerikan itu.” Nathan menghentikan omelannya saat melihat wajah Anna yang memerah. Dari pipi hingga ke telinga, memerah merona akibat isak tangisnya.
“Tidak ada maaf untuk gadis nakal,” ucap Nathan.
Dengan cepat Anna mendongak menatap Nathan. Bibirnya semakin cemberut hingga isak tangisnya semakin kencang.
“Ma-maafkan Anna. Anna janji tidak akan lagi lari-lari! Athan jangan marah,” Anna meminta maaf dengan memegang tangan kanan Nathan yang menggantung.
”Athan jangan marah!” Anna berusaha membujuk Nathan yang nyatakan anak laki-laki itu hanya sedang bersandiwara.
Merasa tak mendapat tanggapan baik dari Nathan, Anna semakin menangis histeris. Hingga tak lama kemudian, tangan Nathan mengelus penuh sayang pada puncak kepala Anna.
“Makanya jangan nakal, mengerti cantik?” Anna mengangguk kecil dan Nathan tertawa kencang melihat wajah Anna yang terlihat kusut.
“Sayangnya Athan, cup cup jangan nangis. Peluk dulu, peluk sini.” Anna dengan langkah pelan mendekatkan tubuhnya lebih rapat pada tubuh Nathan.
Pelukan antara dua anak kecil itu pun tercipta. Nathan kecil mencium gemas pipi chubby Anna. “Jangan pernah berlari menjauhi Athan lagi, okay? Dan ingat, jangan pergi lagi.” Anna mengangguk.
“Mm, janji. Demi Athan, Anna berjanji tidak akan berlari atau pergi lagi. Apalagi jauh-jauh dari Athan nya Anna.” Nathan tersenyum senang dan menyambut tautan jari kelingking Anna. Jari kecil itu bertaut satu sama lain dan senyum mengembang di wajah keduanya.
“Janji.”
•FLASBACK END
“Tapi nyatanya kau ingkar janji padaku, Anna. Lagi-lagi kau nakal dengan pergi dariku begitu saja. Kau meninggalkanku tanpa alasan. Kenapa? Apa aku ada salah padamu, Anna? Maafkan aku jika iya. Tapi, tolong kembali lah padaku. Aku sangat merindukanmu.” Keadaan Nathan begitu menyesakkan.
“Bukankah aku sudah bilang, jika ada yang menyakitimu, kau harusnya bilang padaku. Bukan malah diam saja dan memilih jauh dariku.” Nathan memijat pangkal hidungnya. Pikiran pria itu hanya berpusat pada Anna.
Suara dering ponsel menyentak Nathan kembali pada dunia nyata nya. Pria itu mengambil ponselnya dan segera menerima panggilan dengan segera.”
“Lapor, Tuan Muda. Kami telah menemukan keberadaan orang tua Anna, namun belum untuk gadismu, Tuan.”
“Seret mereka kehadapan ku!” perintah Nathan.
Pria itu segera bangkit dan membersihkan tubuhnya. Nathan segera keluar dari kamarnya, ah maksudnya Anna.
Pria itu turun menuju lantai bawah dan menatap orang suruhan ibunya yang babak belur karena ia pukul. Nathan duduk di single sofa dengan aura kekuasaannya. Pria itu tak berhenti menatap arloji yang ada di pergelangan tangannya.
Sudah dua puluh menit berlalu dan barulah Zack beserta kedua pengawal lainnya datang sembari membawa paksa Xera dan Dave. Kedua orang itu mereka dorong hingga duduk berlutut di hadapan Nathan.
“Siapa kalian? Kenapa ada di rumahku?” ucap Xera dengan suara tercekat.
Wanita paruh baya itu meringis saat tali yang membelit tangannya berhasil menciptakan memar di sana.
“Berhenti memberontak dan jawab pertanyaan ku,” ucap Nathan dingin.
“Di mana gadisku?” tanya Nathan.
Tubuh kedua orang itu membeku saat Nathan menyebutkan itu. Mereka berdua saling melirik satu sama lain.
“Kutanya sekali lagi, di mana gadisku berada?!” kali ini Nathan berucap dengan intonasi yang lebih tinggi dari sebelumnya.
“Jawab pertanyakan ku sekarang atau ku potong lidah kalian?!” ancam Nathan yang mulai kehilangan kesabarannya.
“Di-dia sudah tidak ada di sini.”
Nathan menoleh pada pria paruh baya di depannya.
“Apa maksudmu?” Nathan mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti.
“ANNA, DIA SUDAH TIDAK ADA DI SINI! DIA SUDAH KAMI KIRIM KE LUAR NEGERI UNTUK—”
“b******k kau Pak Tua!”
Bugh!
BUGH!
BUGH!
Nathan meraih kerah seragam pria paruh baya itu dan menariknya kuat.
“APA YANG KAU KATAKAN, b******n?! APA MAKSUDMU?!”
“Dia sudah lebih dulu kami kirim ke luar negeri untuk menghadiri acara pelelangan...” kalimat Dave terhenti sejenak. Nathan menajamkan pendengarannya.
“Pelelangan untuk menjual tubuhnya,” ucap Dave diakhiri dengan kepala yang menunduk takut. Emosi Nathan bergejolak hebat saat mendengarnya. Pria itu memberikan pukulan berkali-kali pada Dave tapi amarahnya tak kunjung hilang.
Gadisnya, dijualkan dalam pelelangan? s**l! Hati Nathan semakin panas memikirkannya. Setelah cukup puas memukul wajah itu, Nathan segera beranjak berdiri.
“Di mana? Di mana kalian menjual gadisku?” desak Nathan.
“Kami menjualnya di pelelangan kapal dan kami tidak tahu di mana itu akan di lakukan.”
SIAL!
Nathan meraup mukanya kasar. Pria itu menendang kencang pada perut Dave. Ayah macam apa yang rela menjual anaknya sendiri? Dave bahkan lebih cocok dianggap sebagai monster daripada seorang ayah.
“Zack! Berikan hukuman pada mereka dan jangan lupa hancurkan bisnis kecil mereka! itu! Aku muak melihat ini! semua. Lakukan dengan cepat karena aku akan mencari gadisku.” Nathan menatap tajam saat Dave dan Xera meminta pengampunan padanya. Namun, Nathan memilih menulikan pendengarannya. Pria itu sibuk dengan ponselnya sembari menatap wajah gadisnya. Karena dihadapannya ini adalah kedua orang tua gadisnya, Nathan masih memberikan toleransi untuk kedua orang itu.
“Aku ingin besok sudah selesai dan kita bisa pergi secepatnya dari tempat ini.” Nathan berjalan pelan menuju kamar Anna. Meraba foto gadis itu di sana dan berucap lirih, “Orang tuamu membuat kita semakin terpisah jauh. Aku bingung antara ingin melenyapkan mereka atau membiarkannya begitu saja.” Nathan meraih satu foto di nakas dan membawa itu pergi bersamanya.
“Jaga dirimu, Princess. Aku akan segera menemukanmu dan melindungimu.” Nathan mengeluarkan foto itu dari wadahnya dan memasukkannya dalam saku celana bahan yang ia gunakan.
“Huh, mungkin Tuhan belum mengijinkan aku dan kau bertemu.”
Nathan kembali turun, menatap kembali pada semua anak buahnya.
“Ganti hukumannya, seret mereka ke polisi dan penjarakan hari ini juga! Aku tidak ingin membuang waktu berhargaku.” Nathan segera menyuruh semua pengawal bersamanya tadi untuk segera pulang ke tempat asal mereka, New York, di malam hari itu juga.
Zack dan kedua pengawal lainnya tetap berada di Singapore untuk melaksanakan perintah Nathan untuk menghukum kedua suami-istru itu.
Xera menahan kaki Nathan dan meminta maaf. Wanita itu menangis sejadi-jadinya karena tak ingin di penjarakan, tetapi Nathan tetaplah Nathan. Siapapun yang melukai gadisnya pantas untuk dihukum.
“Nyawa dibalas nyawa, luka dibalas luka. Semua adil dalam dunia bisnis. Karena putri kalian adalah bisnis yang mencakup masa depanku, maka jangan salahkan aku menghukum berat kalian karena telah menghilangkannya.”
***
Dengan rasa kecewa, akhirnya Nathan kembali ke negaranya dengan tangan hampa, tanpa membawa pulang gadisnya. Nathan bahkan sempat meneteskan air mata kala di pesawat tadi. Seolah duka begitu besar menyelimuti hatinya. Nathan telah kehilangan belahan jiwanya, penopang rasa semangatnya dan seluruh kekuatannya. Wajah suram dan sendu mengisi wajah tampannya.
Saat Nathan kembali memijak tanah tempat negara asalnya, sejak itu pula wajahnya tak pernah menunjukkan ekspresi lain selain datar. Tatapan kosong itu begitu kentara. Dan di sepanjang mobil menuju rumah pun pria itu tetap diam tak berkutik. Pikirannya berkelana menebak keberadaan Anna.
“Huh,” sudah kesekian kalinya Nathan menghembuskan napasnya kasar.
“Tuan, telah sampai.” Nathan sedikit terkejut saat ternyata mereka telah sampai pada tujuannya. Dan alhasil Nathan segera turun saat pintu dibukakan dari luar.
Kepulangan Nathan disambut oleh Ethan, Evelyn dan Alysia. Penampilan Nathan yang kacau membuat mereka menebak-nebak apa yang terjadi di sana.
Tubuh Nathan sedikit oleng dan ditahan oleh salah seorang pengawal agar tubuh tuan mudanya tidak jatuh menyentuh tanah.
Evelyn berlari mendekati Nathan dengan ekspresi heran dan cemas. “Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu pucat?” Nathan hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Evelyn. Ia tidak memiliki cukup tenaga untuk mengeluarkan suaranya.
Dan tepat saat kakinya hendak melangkah maju, tubuh Nathan ambruk tak sadarkan diri. Bahkan Alysia terpekik kencang. Gadis itu berlari sembari menangis melihat kondisi kakaknya. Para pengawal dengan sigap membopong tubuh itu untuk di bawa masuk ke dalam rumah.
“Kakak kenapa?” tanya Alysia pada salah seorang pengawal.
“Maaf, Nona. Sepertinya Tuan Muda syok saat mendengar kabar bahwa Nona Anna menghilang dan mendapat fakta bahwa kedua orang tua gadisnya lah yang menjual gadis itu.” Alysia menutup mulutnya tak percaya. Evelyn membulatkan matanya ikut syok dan Ethan yang menyanggah tubuh Evelyn yang terlihat ingin jatuh.
“Ba-bagaimana bisa?”
“Maaf, Nyonya. Kalau perkara itu saya tidak tahu, mungkin rekan saya bernama Zack bisa memberitahukannya lebih detail lagi.”
“Lalu, di mana Zack berada?” tanya Ethan sembari mengedarkan pandangan pada sekitar.
“Zack masih berada di Singapura bersama dua rekan saya yang lainnya, Tuan.”
“Ada orang yang berani membahayakan kondisi calon menantuku, maka orang itu tak pantas hidup tenang. Semoga Anna baik-baik saja,” harap Ethan. Pria itu merangkul bahu istrinya dan menenangkan Evelyn yang menangis. Dan saat dokter yang mereka panggil telah tiba, dengan cepat mereka membawa dokter itu ke tempat Nathan dibaringkan.
Beberapa menit setelah kondisi Nathan diperiksa, dokter itu mengatakan jika Nathan terkena syok dan kelelahan saja. Dokter itu memberi resep obat untuk mengurangi rasa sakit kepala Nathan nanti ketik bangun. Evelyn berterima kasih dan dengan setia menunggu di samping ranjang yang ditiduri Nathan. Wanita itu menatap sedih pada Nathan yang terbaring tak berdaya. Evelyn mengusap dahi Nathan yang berkerut.
Alysia bahkan berada di samping kakaknya sembari memegang erat telapak tangan dingin Nathan. Gadis itu meneteskan air matanya berkali-kali saat melihat kondisi Nathan yang sangat kacau.
‘Anna, siapapun dirimu, kuharap kau bisa menjaga dirimu sendiri sebelum Kak Nathan berhasil menemukanmu. Baik-baik, Kakak Ipar.’ Batin Alysia.
Jemari Nathan bergerak pelan dalam genggaman tangan Alysia dan Evelyn. Keduanya terkejut sekaligus senang saat melihat tanda-tanda Nathan akan sadar.
“Haus,” gumam Nathan. Alysia melepas genggaman tangannya dan segera meraih air minum di nakas dekatnya.
“Ini Kak, minumlah pelan-pelan.” Alysia menuntun gelas berisi air itu pada bibir Nathan dan meminumkannya secara perlahan-lahan.
Setelah meminum itu, Nathan terdiam sejenak sembari menatap ke arah Alysia dan ke Evelyn. Saat pandangan Nathan beralih pada Evelyn, saat itu juga ia merasakan sesak luar biasa. Pria itu memeluk Evelyn dengan erat dan terisak dalam dekapan hangat ibu dan anak itu. Alysia ikut sedih saat melihat kondisi kakaknya. Kakaknya tampak hancur.
“Bagaimana ada sosok ibu sejahat dia, Mom. Dia rela menjual Anna ku, gadis yang kucintai selama ini hanya karena uang. Ka-kalau saja aku datang lebih awal menjemput Anna, mungkin aku bisa memberikan banyak uang untuk mereka demi Anna ku. Mereka sangat jahat, Mom. Annaku, aku tidak tahu dia di mana. Mom bantu aku mencarinya,” ucap Nathan dengan isak tangis kecilnya.
Hati kecil Evelyn tercubit saat melihat Nathan yang memohon padanya. Wanita itu ikut menangis sembari mengusap punggung Nathan.
“Tenanglah, Nak. Gadismu akan ditemukan oleh orang-orang Daddy dan Mommy. Jangan sedih, apalagi menangis.”
Nathan melepas pelukannya sembari menghapus kasar air matanya. Melihat Nathan seperti ini mengingatkan Evelyn pada Ethan nya dulu. Mereka begitu sama persis.
“Tidurlah, istirahatkan tubuhmu. Biarkan Dad dan Mom yang mengerahkan pencarian pada gadismu. Okay?” ucap Evelyn menenangkan.
Nathan mengangguk patuh dan kembali membaringkan tubuhnya. Pria itu memejamkan mata dan tanpa menunggu lama akhirnya ia kembali tertidur lagi. Evelyn menyelimuti tubuh Nathan dan segera beranjak keluar dari kamar Nathan bersama Alysia.
‘Akan Mom usahakan, Son.’ batin Evelyn sedih.
***