8. Tak Kunjung Bertemu

3704 Words
*** Akhir-akhir ini Nathan semakin sering melamun sendiri di dalam kamarnya. Pria itu hidup tapi seolah hanya tinggal raga saja. Nathan bahkan tak lagi menanggapi candaan serta hinaan yang ayahnya layangkan untuknya. Nathan berubah menjadi pendiam dan entah sejak kapan ia mulai benci di keramaian. Nathan benci saat melihat sepasang kekasih yang saling menggenggam tangan dan tertawa bersama. Nathan benci ketika melihat pria bisa bersama wanita mereka. Nathan tidak suka dan entah kenapa ia muak melihatnya. Walau Nathan sedang terpuruk akibat pujaan hatinya, pria itu tetap saja fokus pada apa yang akan ia kerjakan sekarang. Proyek besar perusahaan nya itu tidak bisa ia abaikan terus menerus hanya karena kehilangan gadisnya. Nathan harus profesional. Pria itu menghilangkan Anna dari pikirannya sejenak dan mengerjakan segala tugasnya sebagai CEO. Nathan bahkan sengaja memaksa tubuhnya untuk bekerja dan terus bekerja agar bisa melupakan Anna sejenak saja. Dan berhasil. Nathan berhasil melupakan Anna jika ia sedang bekerja di kantor. Namun pada malam harinya, ia kembali mengingat gadis itu. Berbagai pertanyaan sempat terlintas dalam benaknya. Apa Anna sudah tidur? Apa gadisnya makan enak? Di mana gadisnya itu tinggal? Apa cukup layak? Nathan hampir gila karena terus menerus memikirkan hal-hal yang mungkin saja akan terjadi pada Anna nya. Namun dengan bantuan ibunya, Nathan menjadi sedikit lega. Ibunya telah membuat sebuah poster info tentang orang hilang dengan foto Anna di sana, bahkan ibunya memberikan imbalan besar bagi mereka yang berhasil menemukan gadisnya. Dan jangan lupakan ayahnya yang mengundang banyak wartawan untuk mengumumkan hilangnya Anna, calon menantunya. Hati Nathan menjadi hangat saat mengingat kedua orang tuanya mendukungnya bersama Anna. Alysia bahkan lebih perhatian padanya. Ketiga sahabatnya bahkan tidak lagi menertawakan sikapnya. “Nath,” panggil Anya yang baru saja memasuki ruang kerja Nathan, ruang CEO di Vincent Company. “Hm?” balas Nathan tanpa menolehkan kepalanya dari berkas penting yang ada di tangannya. “Bisakah kau temani aku—” “Aku sibuk,” balas Nathan cepat. Pria itu sibuk membolak-balik lembar berkas yang ia baca. “Tapi, aku ingin keluar jalan-jalan. Kita sudah sebulan lebih tidak menikmati jalan-jalan bersama,” bujuk Anya dengan wajah memelas dan berdiri di hadapan Nathan. “Tidak,” balas Nathan singkat. “Ayolah, aku bosan.” “Tidak!” ucap Nathan yang kali ini meningkatkan intonasi bicaranya. Pria itu menatap tajam pada Anya yang memelas di hadapannya. Tak ada rasa kasihan atau empati dalam dirinya melihat Anya yang hendak menangis. “Keluar dari ruanganku sekarang!” usir Nathan tegas. Ia benci dengan nada manja yang Anya ucapkan padanya. Ia benci itu. Ia akan membenci dirinya sendiri jika sampai mewujudkan keinginan Anya. Ia akan merasa bersalah pada Anna karena telah memanjakan gadis lain sedangkan gadisnya itu mungkin saja tak pernah merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh Anya. Anya berjalan keluar dengan menghentak-hentakkan kakinya. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan jika pria lain melihat mereka namun terlihat begitu menggelikan bagi Nathan yang telah kehilangan gadisnya. “Anya bukan Anna. Anna tetap Anna. Dia akan tetap jadi gadisku,” ucap Nathan sembari menatap punggung Anya yang menghilang di balik pintu. “Huh, kapan ini berakhir?” gumam Nathan sembari melanjutkan kembali tugasnya. *** “Mom, apa kau sudah dapat kabar tentang kakak ipar?” tanya Alysia sembari bergelayut manja di lengan kanan Evelyn. “Belum, Nak.” Evelyn menghembuskan napas kasar. Wanita paruh baya itu terlihat banyak pikiran, dan pikiran yang paling membebaninya adalah keadaan Nathan serta di mana beradanya gadis anaknya itu? Evelyn merasakan kepalanya berputar pusing. Saat tubuh itu akan jatuh linglung, Ethan lebih dulu datang menahan pinggang istrinya. Bahkan Alysia terpekik kecil saat melihat ibunya akan jatuh pingsan. “Kau tidak apa-apa?” tanya Ethan khawatir pada Evelyn yang berwajah pucat. “Bawakan obat serta minum untuk Mom-mu, Al. Dad akan membawa Mom ke kamarnya.” Alysia mengangguk cepat dan segera berlari menuju dapur sedangkan Ethan menggendong tubuh Evelyn ke dalam kamarnya. Di dapur, Alysia mencari-cari keberadaan obat yang biasanya diminum oleh ibunya itu akan tetapi tak kunjung ia jumpai. Alysia kesal. Gadis itu mengambil satu kursi di meja makan dan membantunya untuk melihat lebih jelas daerah tinggi yang tak bisa ia gapai sebelumnya. “Itu dia!” Alysia mengambil obatnya. Saat ia akan melompat turun, tiba-tiba kursi miliknya bergerak tak seimbang membuatnya hampir jatuh jika saja tidak ada tangan kekar yang menahan pinggangnya. Alysia yang sadar lebih dulu dengan posisi itu, segera turun dengan hati-hati. Ia melihat Zack yang menatapnya datar. Pria itu tak mengalihkan tatapannya dari wajah Alysia dan berhasil membuat Alysia malu dan risih. “Terima kasih, Kak Zack.” Alysia segera berjalan cepat menjauh menuju kamar ibunya sembari membawa obat. Tok... Tok... Tok... “Masuk, sayang.” Ucap Ethan dari dalam kamar. Alysia baru saja selangkah memasuki kamar sang ibu tetapi ia segera menepuk jidatnya karena lupa membawa gelas air minum. Saat Alysia ingin berbalik mengambil air minum, tiba-tiba ia dikejutkan dengan keberadaan d**a bidang dibalut kemeja hitam yang berada tepat di hadapannya. Dan lagi-lagi, Alysia hampir jatuh ke belakang. Hampir saja jika tangan Zack tak menahan pinggangnya erat. Zack menggeram. Alysia tersentak kaget. “Sepertinya Anda sering kali hampir terjatuh, Nona. Tolong jaga keseimbangan tubuh Anda.” Alysia terdiam sejenak dan mendengus kemudian. Bukankah ini karena sikap Zack yang sering kali muncul tiba-tiba layaknya hantu? Pantas bukan, jika Alysia sering kaget dibuatnya. “Ya, aku mengerti. Sekarang kemarikan gelas minumnya!” Alysia mengambil paksa gelas digenggaman Zack. Dan bergegas berjalan memasuki kamar kembali. “Dad, ini minumkanlah pada Mom.” ucap Alysia sembari memberikan gelas berisi air beserta obat untuk ibunya. “Terima kasih, sayang.” Ethan meraih obat itu dan memasukkan nya pada mulutnya sendiri dan meminum air yang ada. Alysia terkesiap, kenapa Daddy nya yang meminum itu? Namun saat bibirnya akan bertanya lebih jelas, Ethan meraih tengkuk Evelyn yang sepertinya masih tertidur dan pria itu menarik dagu istrinya pelan. Bola mata Alysia membulat seketika saat bibir ayah dan ibunya bersatu tepat di hadapannya. Ternyata ayahnya menyuapi obat untuk ibunya dengan cara mulut ke mulut. Astaga! Alysia mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar, dan matanya bertemu dengan mata tajam Zack. Pria itu menatap ke arah Ethan dan beralih pada Alysia yang kini pipinya bersemu sangat cantik. Zack menyeringai melihat pipi gadis itu yang memerah, sangat cantik. Alysia merasakan wajahnya memanas, tetapi ia tak tahu seberapa merah pipinya sekarang. Melihat seringaian Zack membuat Alysia mengernyitkan keningnya. Kenapa pengawalnya itu sering kali bersikap aneh? “Al,” panggil Ethan. Pria itu memberikan gelas kosong pada putrinya. “Bawa kembali ke dapur dan tolong tutup pintunya. Mommy mu sepertinya butuh istirahat,” sambung Ethan dengan tersenyum tulus. “Baiklah, Dad.” Alysia menutup pintu perlahan dan kembali dikejutkan oleh tarikan tangan pada pergelangannya. Orang itu menariknya menuju ke dalam ruang kamarnya. Alysia kebingungan dengan situasi, gadis itu menerka-nerka siapa gerangan yang berani menyeretnya seperti ini. Dasar tidak sopan. Saat tiba di dalam kamarnya, tubuh Alysia di dorong hingga bersender pada dinding. Gadis itu membulatkan matanya saat tahu jika ternyata orang yang menariknya paksa adalah Zack. Pria itu bahkan tidak memudarkan seringaian nya sama sekali. Alysia bergidik ngeri. Saat gadis itu ingin menjauh, kedua tangan Zack menahannya agar tetap berada di tempat. Zack memojokkan Alysia ke dinding dan wajah pria itu semakin mendekat pada wajahnya. “A-apa yang kau lakukan, Kak Zack?” ucap Alysia terlibat jelas jika ia sedang gugup. “Aku gemas.” Dua kata yang dilontarkan Zack tak mampu mengartikan ucapan pria itu. Apanya yang dia gemaskan? Alysia menatap Zack dengan tatapan ngeri. “Kau... mffph!” Bibir tipis milik Alysia terbungkam dalam lingkupan bibir penuh milik Zack. Pria itu meraih tengkuk Alysia untuk memperdalam lumatannya. Bahkan Alysia yang tadinya memberontak menjadi diam. Gadis itu masih syok dengan apa yang terjadi. Zack bahkan berkali-kali memutar kepalanya untuk memilih tempat yang nyaman untuk merasakan bibir manis milik Alysia. Alysia kehabisan oksigen, kakinya melemas dan tangannya memukul pelan d**a Zack di depannya. Saat Zack melepaskan tautan bibir itu, Alysia dengan rakus menghirup oksigen di sekitarnya. Zack sedikit terkekeh. Alysia menatap Zack dengan tatapan tajamnya dan hendak melarikan diri. Namun, tangan Zack kembali menahan pinggangnya. Alysia panik. Gadis itu bingung dengan apa yang terjadi pada bodyguard nya itu. “Tolong lepaskan,” pinta Alysia. Zack menatap gadis itu dengan intens. Dengan perlahan melepaskan pegangannya pada pinggang Alysia dan menatap gadis itu dengan tatapan sulit dibaca. “Kau melupakan ku, Bern?” Deg! Alysia terkesiap. Gadis itu menatap tak percaya pada Zack. Panggilan Bern hanya diucapkan oleh satu orang selama dua puluh tahun ia hidup di dunia. “Siapa sebenarnya kau?” tanya Alysia was-was. “Aku Zack,” balas Zack singkat seperti biasanya. “Maksudku, nama panjangmu.” “Zacky Viertya Qathar.” “Zacky! Ka-kau adalah Zacky?!” ucap Alysia tak percaya. Gadis itu bahkan membungkam mulutnya. “Benarkah kau orang itu? Ah maksudku pria yang aku selamatkan dari para gangster? Benarkah jika kau itu Zacky?” Zack mengangguk pelan yang berarti membenarkan ucapan Alysia. “WOW, ITS AMAZING! Bagaimana bisa kau di sini? Ah, maksudku bagaimana bisa kau menjadi salah satu bodyguard Daddy dan bahkan kau menjadi tangan kanan kepercayaan Daddy?” “Usaha,” Alysia berdecak saat mendengar penuturan singkat Zack. “Kau benar Zacky, kan?” tanya Alysia sekali lagi memastikannya. “Berhenti mempertanyakan hal yang telah berulang kali ditanyakan, Nona.” Alysia tersenyum senang, gadis itu memeluk Zacky dengan erat. “Aku merindukanmu,” aku Alysia. “Aku lebih merindukanmu.” *** Setelah diusir secara tegas oleh Nathan, akhirnya Anya bersama dengan Aaron dan Gabriel pergi bertiga menuju cafe yang gadis itu inginkan. Wajah Anya tertekuk sejak awal mereka bertiga kumpul. Aaron dan Gabriel bahkan bingung harus melakukan apa saat melihat wajah Anya yang cemberut. “Kau kenapa?” tanya Gabriel. Anya menatap sinis pada kedua orang itu dan melengos kembali. Ia mengaduk-aduk tak selera sendok es krimnya. “Aku bahkan hanya berniat mengajak Nathan agar pria itu tidak berlarut-larut dalam kesedihannya, eh dia malah mengusirku dengan paksa. Tentu saja aku kesal!” “Oh, karena Nathan.” Aaron dan Gabriel ber-oh ria. Mereka bahkan tak berniat mengganggu Nathan yang sedang berada dalam suasana hati buruk, dan Anya malah nekat mendekati pria itu. Tentu saja Anya akan kena semprot seperti itu. “Lagi pula tidak baik mengajaknya di saat suasana hati pria itu sedang tidak baik. Aku malah berniat menjauhinya sementara waktu, kau malah melemparkan dirimu dengan suka rela,” ucap Gabriel yang semakin membuat Anya kesal. Gadis itu mencubit perut Gabriel kencang. “Aku hanya berniat sedikit melupakan gadis itu! Padahal niatku itu baik, huh.” “Baik ya baik, tapi lain kali tidak perlu. Karena jika Nathan sedang badmood maka ku pastikan kau tak akan sanggup mendengar kalimat pedasnya. Hii, pria itu menyeramkan dengan mulut pedasnya asal kau tahu,” ucap Aaron sembari merinding. Gabriel pun sama. Kedua pria itu tiba-tiba merinding membayangkan kalimat pedas yang pernah Nathan lontarkan untuk mereka. Anya menatap Gabriel dan Aaron secara bergantian. Gadis itu merasa heran. Dan dengan kikuk ia bertanya, “Apa kalian sudah merasakan mulut... pedas, Nathan.” Ucap Anya dengan sedikit jeda. “Ya, dia ter—” PLETAK! “Tidak! Bukan mulut pedas, tapi kalimat pedasnya. Baik aku, Nathan maupun pria bodoh di sampingku ini, kami pria waras.” Aaron yang paham dengan pemikiran Anya yang sedikit belok segera memotong ucapan Gabriel. Bahkan melihat mimik muka tak percaya Anya membuat Aaron juga ikut membayangkan hal yang belok itu. Gila! Mana mungkin ia yang pria sejati merasakan bibirnya dan bibir Nathan bersatu. Gila saja! Perjaka tua lebih baik daripada perbuatan tak waras itu. “Oh, ku pikir kalian...” Anya menyatukan lima jemari kanan dan jemari kirinya lalu membentuk adegan kecil dengan kedua tangannya itu. Ciuman maksudnya. Gabriel yang baru mengerti melotot dan memukul pelan kepala Anya. “Kau ini bodoh sekali!” “Aish, sakit Biel! Kau bahkan tadi mengiyakan pertanyaanku. Berarti kau juga bodoh! Dasar gay!” Saat kata Gay diucapkan oleh mulut Anya, semua pengunjung menatap ke arahnya dengan tatapan tak bisa diartikan. Gabriel tersenyum canggung pada semua orang yang menatap ke arah mereka dan melotot tajam pada Anya. “Mulutmu itu sepertinya perlu di sekolahkan!” desis Gabriel malu. Pria itu melihat arlojinya dan seolah sok sibuk berkata dengan alasan, “A-ah, waktu jam istirahat kantor sebentar lagi habis. Aku pergi dulu. Kau nikmatilah minum-minum manjanya.” Anya ingin menahan Gabriel yang akan pergi meninggalkannya bersama Aaron berdua tetapi terlambat karena pria itu melangkah dengan cepat. Bahkan Anya tak sempat memanggil namanya. “Aish, tingkahnya masih seperti bocah. Cih!” gumam Anya kesal. “Bocah teriak bocah, saya sebagai orang dewasa di antara bocah seperti kalian berdua menjadi frustasi asal Anda tau.” Aaron terkekeh geli saat Anya menatapnya sengit. “Hush, hush! Sana pergi! Kau sepertinya sibuk! Sana-sana pergi,” usir Anya kesal. Aaron berdiri dari duduknya dan melenggang pergi. Sebelum keluar dari pintu cafe, ia menyempatkan diri untuk berbalik menatap Anya dan memberikan kedipan mata menggoda. Anya bergidik dan mengibaskan tangannya tanda mengusir. Setelah dirasa kedua sahabatnya telah pergi jauh dari lokasinya, Anya segera mendial nomor ponsel seseorang dan mengharapkan orang itu untuk datang menemuinya. Tatapan polos Anya ketika bersama kedua sahabatnya berubah menjadi datar dan penuh tak-tik licik dalam benaknya. Gadis itu bahkan duduk dengan angkuh menatap orang sekitar. Setelah sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya orang itu datang menemuinya. “Duduklah,” perintah Anya. Dan orang itu dengan patuh segera duduk di hadapan Anya. “Jadi apa ada kabar tentang seorang gadis bernama Anna di sekitaran New York?” tanya Anya langsung pada inti pembahasan. Orang berpakaian formal itu menggeleng pelan, “Sejauh pengawasan kami, tidak ada gadis bernama Anna.” Anya menyeringai senang. Wanita itu bertepuk tangan pelan dan memberikan apresiasi pada orang suruhannya. Gadis itu mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Jika kau menemukan gadis bernama Anna dengan ciri-ciri seperti foto yang aku kirimkan padamu kemarin, segera saja bunuh atau jika kau tidak tega, maka tinggal kau buang saja dia ke negara lain. Jangan sampai gadis i***t itu berada di kota yang sama dengan Nathan ku. Mengerti?” “Paham, Nona.” Anya mengangguk puas dan segera menyuruh orang itu pergi dari tempatnya segera. Kini tinggallah Anya sendiri. Gadis itu menatap mobil dan kendaraan lainnya yang berlalu-lalang di depan cafe ini. Seringaian nya tetap bertahan di sana, hingga seorang pelayan datang pada Anya dan memberikan nota harga. “Terima kasih sudah berkunjung, semoga hari indah.” Pelayan itu berucap riang sembari membungkukkan tubuhnya. Anya memberikan senyum terbaiknya. “Ya, semoga harimu juga baik.” *** Sering kali keberadaan Anya ditolak oleh Nathan, namun bukan berarti gadis itu berhenti untuk berjuang mendekati Nathan. Ia dengan gigih terus berusaha selalu ada untuk Nathan. Dan dengan perjuangan nya itu, kini Nathan tak lagi bersikap ketus padanya. Nathan yang awalnya risih, menjadi mulai terbiasa dengan keberadaan Anya di sekitarnya. Terbiasa bukan berarti ia akan menaruh perasaan pada gadis itu. Tidak. Anya tetaplah sahabatnya. Dan Anna yang akan selalu menjadi cintanya. Nathan membiarkan saja apa yang selalu Anya lakukan terhadapnya selagi itu masih dibatas wajar. Bahkan Anya dengan suka rela menawarkan diri menjadi sekretaris keduanya. Walau Nathan menolak, tetap saja Anya akan dengan keras kepala membuatnya merubah keputusan itu. Seperti saat ini, mereka baru saja bertemu klien sekaligus makan siang bersama. Tinggallah Nathan dan Anya. Anya terus bicara sedangkan Nathan hanya mendengarkan. Pria itu sebenarnya tak tertarik dengan topik yang akan dibahas oleh Anya, tetapi karena ibunya berpesan untuk menghargai perasaan wanita, jadi mau tidak mau ia akan mencoba menghargainya. Setelah satu bulan sejak kejadian Anna menghilang, tak ada kabar dari orang sekitar bahkan setelah menggunakan media massa pun tetap tak berhasil menemukan Anna. Nathan pasrah sekarang. Ia tak ingin tenggelam dalam keterpurukan itu lebih lama, jadi ia memilih memendamnya walau ia sangat rindu. “Bagaimana dengan rencana hangout kita berempat, Nath? Aku, kau, Aaron dan Gabriel. Kita akan pergi bersama menuju tempat pariwisata yang begitu indah. Kau tau, aku suka sekali melihat tempat itu dari balik layar ponselku. Aku ingin ke sana langsung dan kita bisa bersenang-senang,” ucap Anya dengan ceria. Saat melihat Nathan yang ingin menolak, Anya segera melanjutkan ucapannya. “Dan sebagai bonus, mungkin saja kita akan menemukan gadis mu di sana. Yah, walau persentase nya kecil, tapi setidaknya jika kalian berjodoh, kau dan dia bisa saja bertemu di tempat kita pergi. Mau, ya?” Nathan menghentikan acara makannya. Ia pikir apa yang diucapkan Anya ada benarnya. Mungkin saja ia akan bertemu dengan Anna nya di sana. Melihat masih ada sedikit keraguan dalam diri Nathan, Anya kembali melanjutkan perkataannya, “Daripada hanya berdiam diri menunggu orang-orang suruhan mu yang tak kunjung menemukan gadis itu, seharusnya kau melakukan ini. Kalau saja itu menjadi keberuntungan mu untuk bertemu gadis bernama Anna itu. Bukankah itu namanya, satu kali mendayung dua tiga pulau terlampaui?” Nathan menatap Anya dengan lamat. Pria itu sedikit terkekeh geli saat Anya menggunakan perumpamaan dengan hal seperti itu. Pria itu sedikit memberikan senyumnya pada Anya yang terlihat berharap dan kemudian mengangguk mengiyakan. “Baiklah, mari kita coba keberuntungan itu.” Anya bersorak senang, “Akhirnya liburan, yeay!” “Tapi berapa hari?” tanya Nathan. “Hm, sekitar dua hari saja. Bukankah Sabtu dan Minggu kita libur kerja?” Nathan mengangguk. “Aku sudah kenyang,” ucap Nathan dan segera berdiri. Pria itu tersenyum tipis menatap Anya dan mengusap kepala gadis itu. “Maaf atas sikapku waktu itu, kuharap kau tak ambil hati.” “Ya ya, lagi pula kau sudah biasa seperti itu.” Anya mendengus. “Aku pulang lebih dulu, kau bawa mobilkan?” Anya mengangguk. “Semua sudah kubayar jadi kau tinggal pulang saja. Ingat! Pulang bukan keluyuran tak tentu arah. Kau gadis dan harus jaga diri, paham?” Lagi-lagi Anya hanya mengangguk. Sikap Nathan yang seperti ini lah yang membuatnya jatuh hati. Nathan yang lemah lembut dan penyayang padanya. “Sampai jumpa besok,” ucap Anya sembari melambaikan tangannya pada Nathan dan dibalas anggukan oleh pria itu. ‘Dan sudah aku pastikan, kita tak akan menemukan gadismu dalam perjalanan nanti.’ Batin Anya. *** “Kakak!” pekik Alysia senang saat kakaknya baru saja pulang. Gadis itu memeluk erat tangan Nathan dan bertanya tentang apa yang sudah pria itu lakukan hari ini. Bukan karena Alysia ada maksud tersembunyi dalam perbuatannya. Ia hanya ingin menghibur kakaknya agar tidak merasa sendirian di dalam rumah dan berujung mengingat kembali sosok Anna. “Bagaimana harimu? Apa ada wanita-wanita gatal yang kembali mendekatimu? Katakan saja padaku, akan aku buat botak kepala mereka semua agar punya rasa malu.” Nathan tertawa kecil. Ia mengecup puncak kepala Alysia dan menggelengkan kepalanya. “Sepertinya tidak ada, tapi sekarang ada.” “Ha? Apa? Maksudnya?” Alysia mencuramkan alisnya pertanda bingung. “Kau, gadis nakal yang terus menggoda kakakmu yang tampan ini. Lalu, apa kau akan membotakkan kepala mu sendiri, gadis nakal?” goda Nathan sembari menatap rambut Alysia yang tergerai indah. Alysia melepaskan rangkulannya pada lengan Nathan dan mendelik sinis. “Aku adikmu, jadi pengecualian untukku.” Sanggah Alysia cepat. “Terserah kau saja gadis manis, Kakak ingin istirahat. Kau pergilah sana ke tempat asalmu berada. Jangan ganggu aku, aku sangat lelah. Mengerti cantik?” Alysia mengangguk mengiyakan. Perubahan sikap Nathan yang signifikan sudah cukup membuatnya bahagia. “Baik, Kak. Tidurlah hush hush!” Setelah Nathan tak terlihat oleh pandangan mata Alysia, gadis itu tetap menampilkan senyum manisnya. Ia berjalan girang menuju dapur untuk mengambil cokelat kesukaannya. Namun, saat melihat ke arah dapur. Ia dikejutkan dengan keberadaan Zack yang sedang memasak? “Kau memasak untuk siapa, Zacky?” tanya Alysia saat mendekati pria itu. “Kau,” balas Zack singkat. “Hah?” Otak Alysia menyerap terlebih dahulu atas perkataan yang dilontarkan Zack padanya, setelah beberapa saat barulah ia mengerti. “Oh untukku,” gumam Alysia tetapi masih bisa didengar oleh Zack. “Sepertu itu saja kau lambat berpikir, dasar gadis bodoh.” Alysia menatap Zack marah dan mencubit perut kotak-kotak pria itu. Namun, tak ada ringisan yang keluar dari mulut Zack. Pria itu bahkan masih bertahan di tempatnya tanpa berubah posisi seincipun. “Perutmu keras!” “Ya.” “Kau makan saja itu sendiri, aku hanya akan makan cokelat saja.” ucap Alysia sembari berjalan menuju kulkas dan mengambil satu bungkus cokelat batangan dengan mereka terkenal. Saat Alysia membuka bungkus cokelatnya, cokelat itu lebih dulu diambil oleh Zack dan digantikan dengan makanan yang pria itu buatkan untuknya. “Jangan terlalu sering makan makanan manis, tidak baik untuk kesehatan gigimu.” Zack menyodorkan makanannya untuk Alysia. Saat melihat di dalam makanan itu ada sayur, seketika Alysia menolaknya. “Aku tidak mau, ada sayur di sana.” “Mau tidak mau, harus kau makan.” Zack menatap tajam pada Alysia mengintimidasi gadis itu. “TIDAK. Aku majikan dan seharusnya kau yang tunduk padaku bukan malah aku, huh!” dengus Alysia sembari mendorong piring itu menjauh darinya. “Kau mau makan sendiri, atau aku akan menyuapimu seperti Tuan Besar meminumkan obat pada Nyonya?” ancam Zack dengan seringaian senangnya. “TIDAK! Baiklah, baiklah! Aku akan makan sekarang,” ucap Alysia dengan cepat. Gadis itu menarik kembali piringnya dan memakannya dengan sangat terpaksa. Setelah menunggu waktu cukup lama, akhirnya Alysia berhasil menghabiskan makanannya. Gadis itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi dengan perut yang sedikit buncit karena banyak minum air. “s****n,” gumam Alysia geram. Gadis itu bahkan menatap Zack dengan tatapan permusuhan dan bergegas meraih kembali cokelatnya yang ada digenggaman Zack. Gadis itu melengos melenggang meninggalkan Zack di dapur sendirian. “Bagaimana aku tidak jatuh cinta, jika sikapmu semenggemaskan itu?” gumam Zack dengan tatapan lurus mengamati pergerakan Alysia. *** Hari terus berganti dan kini tibalah saatnya hari liburan yang dinantikan Anya. Bahkan gadis itu mengajak adik Nathan untuk ikut berlibur bersama mereka. Ethan dan Evelyn sibuk berkeliling dunia entah apa tujuan mereka. Dan karena tak ingin meninggalkan Alysia sendirian di rumah besar mereka, akhirnya Alysia ikut bersama mereka. Nathan telah bersiap dengan pakaiannya tanpa membawa koper atau pun keperluan lainnya untuk berlibur. Pria itu tak ingin repot-repot membawa barang. Selagi bisa beli di sana, kenapa harus bawa dari sini? Pikir Nathan. “Sudah siap?” tanya Nathan pada Alysia. “Sudah,” Alysia bersorak senang sembari membawa koper kecil keperluannya. Saat mereka akan melewati pintu utama untuk keluar rumah, Alysia berpapasan dengan Zack. Pria itu menampilkan ekspresi ketiga yang pernah Alysia lihat selain datar dan menyeringai yaitu mencuramkan alisnya tajam. “Maaf, Tuan Muda. Kalian ingin pergi ke mana?” tanya Zack. “Aku dan Alysia akan berlibur dua hari. Ku harap kau bisa menjaga keamanan rumah selagi aku dan adikku pergi, bisa?” ucap Nathan. Ada perasaan tak suka saat mendengar itu. Zack menatap pada Alysia dan gadis itu mengalihkan tatapannya dengan cepat takut jika akan diintimidasi. Dan berujung ia yang tak jadi berlibur. “Baik, Tuan Muda. Semoga perjalanan kalian lancar dan liburannya menyenangkan.” Nathan hanya membalasnya dengan anggukan kecil sedangkan Alysia masih pada posisinya. Menganggap pria yang sedang bicarakan dengan kakaknya itu tidak ada. Dan setelah berhasil masuk ke dalam mobil, Alysia menghembuskan napas lega. Gadis itu bersorak gembira dalam hatinya karena lolos dari pria itu. “Jadi, kita akan berlibur bersama Kak Anya, Kak Gabriel dan Kak Aaron?” Nathan mengangguk. “Ah, baguslah. Setidaknya bukan hanya aku yang perempuan hehe.” “Walau hanya kau yang perempuan, Kakak akan menjagamu dari teman pria Kakak.” Alysia mengangguk saja mendengar itu. ‘Aish, Kakak tidak tahu saja jika pengawal kepercayaan Kakak itu adalah pria yang paling berbahaya. Bahkan dengan gamblang dia mengatakan menyukaiku. Ujian Tuhan begitu menggoda sekali! Andai saja Kakak tau itu.’ Batin Alysia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD