Steve.. Pria yang sering kali dihindari oleh Liana, tampaknya telah memutuskan untuk kembali ke negaranya dan menikah dengan Linda. Setidaknya 1 gangguan bagi Liana telah berkurang dengan hengkangnya Steve dari Indonesia walaupun secara bisnis Steve masih ada di dalamnya tapi secara keberadaan setidaknya Steve sudah tidak semudah sebelumnya mengganggu Liana. Miguel dan Liana masih seperti biasanya menjalin hubungan intens. Rian lelaki yang menjadi suami dari Liana mulai sukses dengan goalnya sebuah proyek di Bali, Maka Rian harus tinggal di Bali untuk beberapa bulan dan hanya pulang ke Jakarta 2 minggu sekali. Liana sendiri sedang sibuk menjaga bentuk badan dengan rajin datang ke gym.
Sore Liana mulai memasuki ruangan gym di tempat biasa. Dengan handuk kecil melingkar di lehernya dengan setelan ketat walaupun iya tetap konsisten dengan hijabnya.
Mata beberapa lelaki yang ia lewati tampak memandang buas pada p****t Liana yang berisi. Tapi karena tidak semua Liana kenal maka Liana hanya mengabaikannya. Wulan adalah wanita yang menjadi teman yang Liana kenal di tempat Gym itu. Liana sengaja mengambil tempat di dekat Wulan supaya tidak merasa sendirian.
" Hey.. Li.. baru datang?" Tanya Wulan sambil melakukan sit up.
" Iya Lan.. kantor lagi sibuk sekali" Jawab Liana sambil mulai melakukan treadmill.
" Ngomong-ngomong di kantor kamu butuh vendor packing produk tidak Li..? " Tanya Wulan yang profesinya adalah seorang wanita pengusaha pabrik kardus dan percetakan.
" Ya butuh sih tapi konsumsi kita sudah tidak terlalu banyak karena sekarang proyek baru saja beres" Jawab Liana.
" Boleh dong Li.. saya daftar jadi vendor" Kata Wulan.
" Nanti Aku berikan kontak bagian purchasing saja ya, soalnya Aku tidak mengurus bagian itu" Jawab Liana.
" Oke deh sip.. makasih ya Li.., sebagai tanda ucapan terima kasih setelah gym bolehlah aku traktir" Kata Wulan.
" Serius?? " Tanya Liana sambil tersenyum.
" Iya serius, mau makan dimana? " Jawab Wulan.
" Gimana nanti saja deh, terserah yang traktir" Kata Liana sambil mengusap wajahnya dengan handuk karena mulai berkeringat.
Dan waktu menunjukkan pukul 8 malam Liana dan Wulan beranjak meninggalkan tempat Gym itu.
Dengan mengendarai mobil masing-masing Liana memacu mobilnya mengikuti Mobil Wulan yag berada di depannya tanpa tau tujuan yang akan dituju oleh Wulan.
Sampailah mereka di sebuah Kafe. Tampaknya Liana masih sedikit asing dengan tempat itu. Tapi Liana tampak antusias karena tempat itu cukup menarik dan menyenangkan, setidaknya untuk mengusir rasa bosannya karena suaminya sedang jauh di Bali. Musik bertema romantis mengalun mengisi setiap sudut Kafe itu. Ternyata Wulan telah memesan meja di tempat itu, dan akhirnya mereka berduapun duduk berhadapan di sebuah meja yang telah dipesan. Seorang pelayan Kafe datang menghampiri mereka berdua dengan membawa selembar daftar Menu. Liana dan Wulan pun akhirnya memesan makanan dan minuman. Tidak lama setelah pelayan Kafe meninggalkan meja mereka, mulailah mereka berbincang-bincang.
" Memang jabatan kamu di kantor sebagai apa Li? " Tanya Wulan.
" Yah.. cuman kacung mbak.. hahahaha" Jawab Liana dengan candaan.
" Hmmm.. kamu ini Li.. bercanda melulu" Kata Wulan.
" Sekretaris mbak.. kan kacung kan disuruh suruh hahahaha" Jawab Liana masih tetap dengan candaannya.
" Wah.. berarti kamu deket dong dengan bos bos disitu?" Tanya Wulan.
" Iya lah mbak aku sekretaris founder disitu" Jawab Liana.
" Wah pas sekali kalau begitu Li.. bantu aku ding buka relasi baru Li.." Pinta Wulan.
" Iya.. aku bantu semampuku saja ya mbak tanpa janji" Jawab Liana.
" iya aku paham Li.. nanti aku berikan company profile perusahaanku" Kata Wulan.
" Ok.., Kalau mbak masih single apa sudah keluarga sih mbak?" Tanya Liana.
" Aku sudah tua Li.. sudah anak 3" Jawab Wulan.
" Hehehe anak 3 tapi body masih kayak gitar spanyol" sahut Liana.
" Hahaha bisa saja kamu Li.. biar gitar spanyol juga percuma saja tidak ada yang memainkan hahahaha" Jawab Wulan sambil tertawa lepas.
" Maksudnya tidak ada yang memainkan? memangnya suami tidak main gitar mbak? Main drum ya? hahaha" Komentar Liana dengan candaan.
" Hahaha bener banget say.. main drum.. gebukin melulu hahaha" Jawab Wulan.
Akhirnya Wulan pun menceritakan bahwa Ia adalah seorang wanita single fighter yang menafkahi anak-anaknya sendiri, walaupun ia masih berstatus istri, Namun suaminya entah kemana meninggalkannya karena terlibat affair dengan seorang wanita. Wulan adalah sosok wanita berkulit putih, berpawakan langsing dengan tinggi yang hampir sama dengan Liana. Wajahnya cukup cantik dengan hidung mancung dan rambut lurus.
" Kok mbak tidak menuntut cerai saja mbak?" Tanya Liana.
" Aku sudah malas berurusan apapun yang menyangkut dia Li.. jadi aku biarkan saja" Jawab Wulan sambil meneguk orange juice yang badu saja datang.
" Kalau kamu Li.. udah keluarga? " Tanya Wulan.
" Sudah mbak anak 1 umur 5 tahun" Jawab Liana.
" Wih.. kayaknya keluarga bahagia ya" Sahut Wulan.
" biasa saja mbak namanya rumah tangga" jawab Liana.
" Suami kerja apa Li?" Tanya Wulan.
" Suami sih dagang aja mbak kecil-kecilan ini juga lagi di bali ada urusan dia" Jawab Liana menjelaskan.
" Bilang saja pengusaha Li.. merendah sekali kamu ini" Kata Wulan.
" Ya begitulah mbak hehehe.." Kata Liana sambil tertawa.
" Kok kamu masih kerja sih? kalau aku jadi kamu mending aku duduk manis dirumah Li..." Kata Wulan.
" Aku sih kerja itu hobby mbak, suntuk dirumah terus" Kata Liana.
" Suami berapa lama di Bali? " Tanya Wulan.
" Ya belum tau mbak, mungkin beberapa bulan, tapi nanti tiap 2 minggu sekali juga pulang" Jawab Liana.
" Ya iyalah... nanti siapa yang ngelus-elus kamu? Hahahaha" Canda Wulan.
" Hahaha.. nah mbak sendiri apa tidak kangen dielus-elus? " Kata Liana sembari bercanda.
" Hahaha cari yang elus-elus mah gampang Li.. mau diajarin? " Jawab Wulan sambil tertawa.
Tanpa terasa mereka berdua telah berbincang-bincang selama 2 jam, dan tampaknya sudah Larut akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.
Sejak malam itu Wulan menjadi lebih dekat dengan Liana layaknya seorang sahabat, Setiap hari tidak lepas sedikitpun mereka berkomunikasi, Baik itu via chat ataupun telepon. Sampai di siang itu Wulan datang ke kantor Liana karena sudah membuat janji dengan bagian Purchasing untuk mempresentasikan produknya.
" Li.. Aku lagi otw kantor kamu nih" Chat dari Wulan.
" Oh.. ada acara apa mbak? " Tanya Liana.
" Janjian dengan bagian Purchasing" Jawab Wulan.
" Oh begitu, ok deh mbak silahkan aja langsung ya" Kata Liana.
" Lho kamu tidak ada di kantor Li..? " Tanya Wulan.
" Rencananya aku sih ada acara keluar kantor setelah makan siang Mbak, maklum mbak namanya Kacung ya ngikut aja bos nya kemana" Jawab Liana.
" Oh begitu ya, baiklah kalau begitu" Kata Wulan.
Tidak lama kemudian Miguel tampak sudah siap untuk berangkat menemui Klien di sebuah restauran.
" Li.. sudah siap semua? " Tanya Miguel.
" Sudah pak.." Jawab Liana sembari berdiri dari tempat duduknya.
" Ayo kita jalan.." Kata Miguel sambil beranjak menuju pintu keluar.
Lianapun mengikutinya di belakang sambil memeluk beberapa dokumen di depan dadanya. Ternyata sampai depan pintu keluar mereka berpapasan dengan Wulan yang baru saja sampai.
" Hey Li... mau jalan? " Kata Wulan sambil menghampiri Liana.
" Iya.. mbak, saya jalan dulu ya" Jawab Liana.
Sedangkan Miguel hanya tampak melihat saja.
" Eh.. bos kamu ganteng juga, hati-hati lho nanti jatuh cinta hihihi.." Bisik Wulan sambil beranjak dari Liana.
" Hush.." Jawab Liana sambil menepuk pundak Wulan.
Akhirnya Mobil Miguel sampai di depan Lobby kantor, Miguel dan Liana pun segera memasuki mobil dan meninggalkan tempat itu.
Mobil yang dikendarai menuju ke sebuah Resto yang memerlukan setengah jam perjalanan. Dalam perjalanan Miguel duduk di kursi belakang, sedangkan Liana di kursi depan bersebelahan dengan supir.
" Li.. tadi siapa? Teman kamu? " Tanya Miguel.
" Iya Pak teman di Gym" Jawab Liana.
" Ada keperluan apa dia? " Tanya Miguel.
" Dia diminta presentasi oleh bagian Purchasing pak, karena dia pengusaha produksi kardus dan percetakan" Jawab Liana.
" Oh... " Kata Miguel.
Tidak terasa mereka telah sampai di tempat tujuan. Liana dan Miguel turun di Lobby sedangkan Pak Widodo segera mencari parkiran Mobil.
" Pak Wid kalau ingin makan dulu tidak apa-apa pak.. Kita masih lama" Kata Liana kepada pak Widodo sebelum pak widodo meninggalkan Lobby
Siang itu Miguel meeting dengan beberapa Kliennya, ada 5 orang yang hadir saat itu. Edi, Rustam, Jaka, Alex, dan Harry. Mereka semua adalah perwakilan dari perusahaan yang sedang bekerjasama dengan perusahaan Miguel.
Meetingpun berlangsung dengan terjadinya kesepakatan-kesepakatan yang poin poinnya telah tercatat oleh Liana. Perbincangan bisnis itu berlangsung lebih dari 2 jam. Setelah itu mereka tutup perbincangan utama dan masuk ke bincang-bincang santai saja. Membahas hal-hal diluar bisnis seperti hobi dan lain-lain. Dan Liana sudah selesai tugasnya maka ia menaruh pulpennya di meja.
Liana mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa chat dan telepon yang masuk ke ponselnya.
Sedangkan Miguel memberi isyarat pada Liana untuk sejenak meninggalkan meja itu. Mungkin ada hal yang mereka tidak ingin orang lain tahu termasuk Liana.
Liana pun meninggalkan meja itu dan berpindah di sofa dekat Loby, sambil memainkan ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya, diantaranya Rian, Wulan, dan ada satu nomor asing yang tidak ia kenali.
Lianapun akhirnya menghubungi nomer asing itu.
" Halo.. Maaf ini dengan Liana, apakah tadi menelpon saya" Kata Liana dalam panggilan itu.
" Hey you dont know me? I gave you my number Already" Ternyata ia berbahasa Inggris.
" Do i know You Sir? " Tanya Liana.
" Okay.. I m Howard" Ternyata itu adalah nomor Howard.
" Oh.. thats you.. sorry" Kata Liana yang malu karena dia ternyata tidak menyimpan nomor Howard.
" Its okay, Are you busy? " Tanya Howard.
" Ehmmm a bit busy, i m at work, can we talk later? " Kata Liana.
" Ehmm okay.. sorry, see you later" Kata Howard.
Akhirnya Liana mengakhiri panggilan itu dan menyimpan nomor Howard.
Tidak lama kemudian notifikasi ponsel Liana berbunyi, ada sebuah chat dari Miguel.
" Liana.. kamu langsung saja kembali ke kantor, kalau kamu ingin pulang juga tidak masalah, sepertinya aku akan lama berada di sini, karena setelah ini mereka ingin mengajak aku minum-minum" Kata Miguel dalam chat.
" Baik pak.. saya pulang saja, Pak Widodo saya minta standby menunggu bapak, biar ke kantor naik taksi saja pak" Jawab Liana.
Akhirnya Liana meninggalkan tempat itu, tidak lupa ia menelpon Pak Widodo untuk standby menunggu Miguel.
Dalam perjalanan ke kantor, entah kenapa Liana ingin menelpon Howard sekedar minta maaf karena lupa menyimpan nomornya.
" Hi Howard.." Sapa Liana dalam telepon.
" Hi.. Liana.. how are you? " Jawab Howard.
Akhirnya mereka berbincang bincang lewat telepon selagi Liana dalam perjalanan ke kantor, Howard hanya menanyakan kapan alan ada di Gym. dan Liana mengatakan sore itu akan ke Gym, Howard hanya menjanjikan untuk mentraktir Liana makan setelah Gym. Dan Liana pun menyetujuinya.
Sampailah Liana di kantor, dan segera ia bergegas menuju dimana mobilnya diparkir. karena ingin segera pulang dan mampir ke Gym.
Liana sampai ke Hotel dimana dia biasa melakukan Gym. Ia langsung menuju ruang ganti untuk berganti pakaian olahraga. setelan legging dan atasan ketat membuat bentuk lekuk tubuhnya jelas terlihat, walaupun ia tetap menggunakan hijab.
" Eh.. eh.. Liana sudah disini aja kamu" Kata Wulan yang tampaknya sudah lebih dulu berada di tempat itu.
" Eh gimana tadi? sukses tidak? " Tanya Liana.
" Belum tau juga sih, doakan saja deh" Jawab Wulan.
" Iya.. semoga saja ya.." Kata Liana.
Tampaknya Wulan akan segera pergi dari tempat itu karena ada suatu acara.
" Li.. kamu mau ikut tidak? " Tanya Wulan.
" Yah.. mbak.. kan aku baru saja sampai, memangnya mau kemana? " Tanya Liana.
" Biasa Li... mau datangin pemain gitar spanyol hahahaha" Jawab Wulan sambil tertawa dan berlalu.
Liana tampak bingung dengan perkataan Wulan. Awalnya Liana berfikir apakah Wulan sedang Les bermain gitar atau bagaimana, lalu Liana baru ingat saat Liana dan Wulan makan malam bersama di Kafe, Saat itu Liana memuji body Wulan seperti Gitar Spanyol. Tapi saat itu Wulan mengatakan percuma punya body gitar spanyol tetapi tidak ada yang memainkannya.
" Hmmm.. tampaknya yang dimaksud Wulan adalah mendatangi pria yang akan memainkan tubuh Wulan" Pikir Liana dalam hati.
Entah mengapa perkataan Wulan itu membuat Liana merasa b*******h, Ia malah membayangkan Wulan sebentar lagi akan menikmati Nikmatnya bersetubuh walaupun ia tidak tau dengan siapa, Rasa ingin merasakan hal yang sama dirasakan oleh Liana. Tapi bagaiamana mungkin ia bisa mewujudkannya sedangkan Rian sedang ada di Bali, dan Miguel Malam itu akan ada acara minum-minum dengan Kliennya. Tanpa terasa kemaluan Liana terasa basah seolah-olah menginginkan senjata seorang lelaki menusuknya.
" Hey.. Liana, are you here" Sapa Howard menghampiri Liana yang duduk sendirian.
" Hey.. kamu.. apa kabar? " Jawab Liana dengan bahasa indonesia karena ia tahu bahea Howard bisa berbahasa Indonesia.
" I m good.. Terima Kasih" Jawab Howard sambil memberikan sebotol air mineral pada Liana. Lianapun mengambil botol itu.
" Thanks.." Kata Liana saat menerima botol itu.
Liana pun berbincang bincang sebentar dengan Howard sambil sesekali meminum air mineral.
Akhirnya mereka berolahraga bersama dan sesekali Howard membetulkan gerakan Liana karena dirasa salah.
Sampai akhirnya sudah 1 jam Liana melakukan Gym dan tiba-tiba saja ia merasa pusing dan pandangannya berputar-putar.
" Are you okay Liana? " Tanya Howard.
" Aku merasa pusing, can you help me please?" Jawab Liana.
" Maybe too tired, better you take a rest" Kata Howard. Sedangkan Liana tampak sudah tidak konsen dengan ucapan siapapun. kepalanya terasa pusing dan pandangannya mulai kabur seolah ia merasa hendak pingsan.
Howard akhirnya memapah Liana keluar dari tempat itu. Ternyata semua sudah direncanakan oleh Howard, bahkan ia sudah membooking kamar hotel di tempat itu. Akhirnya Howard membawa Liana masuk ke kamar yang telah ia pesan.
Howard meletakkan Liana terbaring di ranjang.
Sedangkan Liana masih dalam keadaan setengah sadar.
" What happened with me? " Kata Liana.
" Dont worry everything its gonna be okay" Jawab Howard saat meletakkan Liana di ranjang.
Howard melepaskan kaos hijab Liana, Liana hanya pasrah saja seolah-olah tidak memiliki tenaga sedikitpun. Kemudian Howard melepaskan kaos Liana, Tidak hanya itu Howard juga melepaskan Legging Liana. Hingga Liana tampak hanya mengenakan Bra dan celana dalam.
Ternyata Howard telah mencampur minuman Liana dengan semacam obat yang membuat tubuh lemah sementara, dan hal itu benar-benar terjadi, Liana tampak tidak memiliki tenaga sedikitpun.
Kemudian Howard mengambil segelas air dan memberikan bubuk penawar agar Liana kembali pulih. Diminumkannya air itu ke mulut Liana dengan menggunakan sedotan.
Sambil menunggu Liana pulih kembali, Howard membuka pakaian dan bertelanjang, Diciuminya bibir Liana yang masih dalam keadaan lemas.
" Ogh.. please.. get away from me.." Kata Liana masih dalam keadaan lemas.
Howard tidak memperdulikan perkataan Liana dan terus memgulum bibir Liana. Tak Lama kemudian Howard melepaskan Bra Liana dan mulai meremas-remas p******a Liana dengan sesekali memilin p****g Liana, sambil bibirnya terus mengulum bibir Liana.
sedikit demi sedikit tubuh Liana kembali pulih,
“Ach.. jangan Howard.. apa yang kamu lakukan b******n kamu”, kata Liana sambil tubuhnya berusaha memberontak tapi tetap saja Howard meneruskan niatnya, Liana ditidurkan di pinggir Ranjang dan diangkat kaki Liana hingga terlihat liang kewanitaannya yang mungil, dan Howard pun mulai manjilati liang kewanitaan Liana dengan penuh gairah. Liana pun yang tadinya berontak sudah mulai bernafsu karena pengaruh obat yang telah Ia minum dari botol minumannya.
“Auh.. Howard. Oh b******n kamu auh”. Satu buah jari terasa dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri, terus jadi dua jari yang masuk, ditarik, didorong di liang kewanitaan Liana. Akhirnya banjir juga lubang Liana, karena masih penasaran Howard memasukkan tiga jari ke liang kewanitaan Liana sedangkan jari-jari tangan kirinya membantu membuka bibir surganya. Dengan nafsunya jari ke empatnya dimasukkan pula, Liana mengeliat keenakan. Diputar-putar hingga bibir kewanitaannya menjadi lebar dan licin. Nafsu Liana bercampur kemarahan memuncak sewaktu jari terakhir dimasukkan pula.
“Aduh.. sakit Howard.. jangan nanti sobek please jangan ”, desah Liana sambil mengeliat dan menolak perbuatan Howard, Liana berusaha berdiri tapi tidak bisa karena tangan kiri Howard memegangi kaki kiri Liana. Dan akhirnya,
Liana menjerit keras tapi Howard tidak memperdulikan jeritannya, tangan kirinya meremas p******a Liana hingga rasa sakitnya hilang. Akhirnya Howard tambah menggila, didorong, tarik, digoyang kanan kiri dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya, dia memutar posisi jadi enam sembilan, dia menyumbat mulut Liana dengan batang k*********a hingga Liana mendapatkan kenikmatan. Bersamaan dengan itu tampaknya tenaga Liana sudah kembali pulih,
Howard memutar berdiri di tepi ranjang dan menarik kepala Liana untuk mengulum k*********a yang besar. Dengan sangat kaget dan merasa takut, Liana melihat baru kali ini ia melihat batang sebesar itu berwarna hitam. Howard menyodorkan batang besarnya ke wajah Liana dan memaksa Liana mengulumnya.
" Suck it.. b***h" Kata Howard. dan akhirnya dengan sedikit terpaksa Liana menurutinya.
“Auch.. Howard punyamu terlalu panjang hingga masuk di tenggorokanku.. pelan-pelan saja”, ucap Liana tapi Howard masih bernafsu. Tangannya masih memainkan liang kewanitaan Liana, jari-jarinya mengelitik di dalamnya hingga rasanya geli, enak dan agak sakit karena bulu-bulu tangannya menggesek-gesek bibir kewanitaan Liana yang lembut. saat itu terus berlangsung lama sampai akhirnya Liana o*****e walaupun hatinya sangat marah.
“Howard.. aku nggak tahan.. auch.. aouh.. aku keluar auch, aug.. keluar lagi..” desah Liana nikmat menahan o*****e yang ia rasakan.
Kemudian Howard menarik tanganya dari dalam liang kewanitaan Liana.
Setelah mengetahui Liana sudah mendapatkan o*****e Howard pun beranjak dan menghempaskan diri berbaring di ranjang. Sedangkan Liana tampak terengah-engah setelah o*****e. Howard pun tampak malah sibuk menonton televisi. Liana bingung kenapa Howard tidak melanjutkan perbuatannya. padahal Howard belum sempat memasukkan senjata raksasanya itu ke Lubang kenikmatan Liana. Liana sendiri akhirnya tidak kuat karena masih merasa tanggung hanya mendapatkan o*****e dari permainan jari Howard. Akhirnya Liana mendekati Howard dan memegang batang raksasa itu. tapi Howard menyingkirkan tangan Liana dari k*********a. Liana tampak menatap Howard dengan bingung.
" Kamu yakin tidak ingin memasukkan senjatamu? " Tanya Liana terheran heran.
Howard malah pergi menjauh dengan duduk di sofa. Liana semakin bingung apa yang diinginkan laki laki itu darinya. Liana hanya diam di ranjang dalam keadaan telanjang bulat.
Howard kemudian beranjak dari Sofa menuju kamar mandi untuk mandi.
Dengan rasa h***y tidak karuan Liana menghampiri Howard.
" Kamu mau apa?" Tanya Liana.
" I wanna go home" Jawab Howard.
" What..? are you crazy?.. so why you dont finish it?" Tanya Liana dengan marah karena nafsunya telah berkobar menunggu senjata Howard menghajar Lubang kewanitaannya.
" So what do you want? " Jawab Howard dengan keras pula.
" f**k me please.. " Jawab Liana lirih dan menunduk.
" What you said? " Kata Howard sambil tangannya mencekik leher Liana.
" Ffffucck mme pleaseee" Jawab Liana dengan tenggorokan tercekik.
Howard mendorong tubuh Liana hingga berjongkok, Dan Memberikan senjata besarnya ke wajah Liana.
Tanpa diminta seperti seorang b***k Liana menggenggam senjata yang tidak muat dalam genggamannya itu dan memasukkan ke dalam mulutnya, Mulut Liana terasa penuh karena senjata Howard yang terlampau besar, bahkan mulutnya hanya mampu menampung kepala senjata Howard saja, sedangkan sisanya digenggam dan dikocoknya.
Dengan penuh kesungguhan Liana mengulum mengocok Batang keperkasaan Howard, Liana berusaha semaksimal mungkin membuatnya keras.
Akhirnya Liana berhasil membuat Batang keperkasaan Howard berdiri tegak. Dan Liana bangun dari posisi berjongkok serta menarik tangan Howard agar mengikutinya keluar dari kamar mandi menuju ke Ranjang. Sampai di depan Ranjang Liana memposisikan diri membuka lebar-lebar pahanya agar Lubang Kewanitaannya tidak terhalang.
" I m ready.. please do it" Liana memohon agar Howard menghajar Lubangnya dengan senjata besar itu. Akhirnya Howard menghampiri Liana, kedua kaki Liana ditahan dengan kedua tangan Howard, dan Howard mengarahkan batang besar dan hitam itu ke lubang kenikmatan Liana. Ujung kepala senjata itu sudah menyentuh bibir kemaluan Liana. Namun tidak mudah masuk karena terlalu besar.
" ogh.. its so big.." Kata Liana.
Howard terus mencobanya berkali kali, bahkan sampai meludahi lubang kenikmatan Liana supaya lebih Licin.
" Ach.. aku tidak tahan lagi sayang.." Kata Liana.
akhirnya Kepala senjata Howard sudah berhasil memasuki bibir kemaluan Liana.
" bless.. " Liana pun sontak berteriak..
" Ahck.... Sakit.. sakit sekali. ..uh..uh..uh.." Reaksi Liana sambil mendorong perut Howard mundur.
" Pelan pelan sayang.. ini monster.. ini besar sekali" Kata Liana sambil merintih kesakitan.
Howardpun mendorong lagi batang besarnya lebih dalam hingga beberap mili masuk ke lubang kenikmatan Liana.
" Achk.. fuck.. sayang.. sakit sekali.. please.. sudahi saja achk.. ack...uh.." Tampaknya Liana hendak memgurungkan niatnya untuk merasakan batang besar Milik Howard, Tapi Howard sudah menggenggam erat kedua pergelangan kaki Liana, Hingga Liana tidak akan bisa lari kemanapun. Howard mulai memaju mendurkan senjatanya berlahan walaupun hanya masih masuk ujungnya saja.
" Achk.. sakit sakit.. ahkk... please hentikan" Kata Liana.
Lianapun menangis meneteskan air mata karena kesakitan.
Hoeard tetap mendorong lebih dalam lagi dan masuk seperempat batang senjatanya, itupun sudah mentok di dinding rahim Liana. Howard memaju mundurkannya secara berlahan sambil badannya dicondongkan ke depan hingga ia bisa sambil menciumi bibir Liana.
Tak lama kemudian Lubang kewanitaan Lianapun Mulai basah, dan Senjata besar Howard mulai lancar maju mundur di lubang itu.
" How do you feel? " Tanya Howard
" Ach.. achk.. sayang ini rasanya seperti melahirkan" Jawab Liana sambil matanya merem melek.
Howard melepaskan tangannya dari pergelangan kaki Liana karena Liana sudah tampak lebih rileks, Tangan Howard meremas kedua p******a Liana.
" Oh.. oh.. sayang ini pertama kalinya.. oh.. aku merasa seperti bintang porno" Oh.. Liana mendesah desah mulai keenakan.
" Oh.. fuck.. its.. nice p***y yeah.." Kata Howard sambil asyik memompa senjatanya ke liang kewanitaan Liana.
Howardpun meraih tasnya di ranjang itu dan memgeluarkan sebuah botol obat, obat itu berupa pil, sambil terus menghajar Lubang kewanitaan Liana, Howard menelan pil itu tanpa meminum air, dan pil itu adalah pil untuk membuat kaum pria bertahan lama dalam berhubungan seks.
Liana merasakan lubang k*********a mekar karena terisi oleh senjata batang raksasa milik Howard.
" uhh.. its bad monster..," Rintih Liana merasakan batang besar itu menghajar lubang kewanitaannya.
Sedangkan Howard tampak asyik menghujamkan senjatanya ke liang itu sambil sesekali menampar wajah liana seperti memperlakukan seorang b***k.
Lubang kenikmatan Liana sudah banjir dengan pelumas, Sekali dorong saja senjata Howard membuat Liana o*****e, Hingga Liana merasakan o*****e dengan jumlah yang tak terhitung olehnya Kakinya terus mengejang berkali kali karena Howard mampu membuatnya o*****e hanya dengan sekali pompaan.
Dan Liana sangat kagum dengan stamina Howard yang mampu bertahan dengan posisi ity hingga satu jam lebih tanpa lelah. sampai sampai Liana sudah merasakan kakinya lemas.
Howard membalikan tubuh Liana dan kembali memasukkan senjatanya dengan posisi Doggy style, sedangkan Liana kakinya sudah merasa gemetaran hingga berkali kali jatuh telungkup tapi Howard mendirikannya lagi, Howard menghajar Liana dari belakang sambil menampari p****t Liana sampai memerah dan meninggalkan bekas telapak tangan. sesekali Howard menjambak rambut Liana kebelakang agar kembali mendirikan kakinya, satu jam lebih Howard menghajar Liana dengan doggy style sampai Liana merasa pandangannya kabur karena hampir dehidrasi.
" Let me drink a water please" kata Liana yang sudah hampir pingsan. Howardpun memberikan botol air minum pada Liana, sambil Liana minum Howard tetap saja menghajar lubang kewanitaannya dari belakang seolah-olah tiada akhirnya. Hingga Liana merasa k*********a perih dan lecet karena sudah mengering. Howard kembali meraih tasnya dan mengambil sebuah gel yang ternyata adalah pelumas kewanitaan. Howard mengoleskannya ke bibir lubang kewanitaan Liana. dan kembali meneruskan aksinya. Liana tampaknya sudah tidak tahan menungging karena sudah terjatuh jatuh berkali kali, Howardpun mengambil dan menggendong tubuh Liana dan menghajar liang itu dalam keadaan berdiri menggendong Liana. Tubuh Liana terlompat lompat keatas kebawah seolah olah tubuh besar dan kekar Howard melempar lemparkannya.
Sudah hampir 3 jam Howard menghajar Lubang kewanitaan Liana dan Liana tampaknya telah kehabisan cairan kenikmatan, Akhirnya Lianapun pingsan.
Dalam keadaan Liana pingsan Howard tetap tidak berhenti menghajar Liana. Tetapi karena merasa tidak ada perlawanan dari Liana akhirnya Howard memghentikan gerakannya dan mencoba membangunkan Liana. Liana pun mulai membuka mata.
" aku kehabisan tenaga" Kata Liana dengan lemas,
Howardpun mengambil gagang telepon dan memesan makanan di hotel itu.
" Kamu belum keluar juga sayang? " Tanya Liana sambil mengelus d**a Howard. Liana tampaknya sudah merasa seperti di surga, Bahkan ia sekarang menganggap keperkadaan Miguel tidak ada apa apanya dibanding Howard.
Howard merebahkan diri di sebelah Liana masih dalam keadaan batang besarnya keras karena belum mencapai o*****e.
" Biarkan aku makan dulu ya sayang, supaya tenagaku pulih" Rayu Liana sambil mengecupi d**a Pria yang dianggapnya paling perkasa yang pernah ia temukan.
" Its Okay.." Jawab Howard
" Tenang sayang, malam ini aku tidak akan pulang, jadi puaskanlah keinginanmu, aku milikmu sayang.." Kata Liana.
Liana hanya membaluti tubuhnya dengan handuk, Seolah ia telah siap jika Howard sewaktu waktu menyetubuhinya lagi, karena ia tahu bahwa Howard memang belum mencapai o*****e.
Tidak lama kemudian ketukan Room service terdengar, Liana pun beranjak turun dari ranjang menuju pintu kamar, walaupun ia hanya berbalut handuk, ia membukakan pintu kamar itu
" Pesanan makanannya bu" Kata petugas hotel yang seorang laki laki berumur 30 tahunan. Mata petugas hotel itu tampak tertuju pada tubuh Liana yang berbalut handuk,
" Coba mas taruh di dalam, Petugas hotelpun mendorong troli makanan itu ke dalam kamar. kemudian Liana memberikan lembaran uang 50 ribu sebagai tips, dan petugas hotel itu meninggalkan kamar.
" Sayang.. ini kamu pesan untukku kan? " Tanya Liana.
" sure.." Jawab Howard sambil sibuk dengan ponselnya.
" Kamu tidak makan? " Tanya Liana kembali.
" i m not Hungry baby.." Jawab Howard.
Akhirnya Liana memakan makanan itu yaitu steik daging sapi dan segelas juice alpukat, serta ada sebotol sampanye.
Liana sama sekali tidak melirik minuman keras itu karena ia memang tidak suka minum. Tapi ia menyiapkannya untuk Howard dengan menuangkannya di gelas.
Sambil kemudian Liana melanjutkan makan kembali, Howardpun menghampiri makanan itu dan mengambil minuman yang telah disipakan Liana. Howard memgecup lembut bibir Liana dan Liana pun membalasnya.
Howard meneguk minuman itu, dan memawari Liana. Namun Liana menolaknya.
" Aku tidak suka minum sayang.. buat kamu saja ya.." kata Liana dengan lembut.
Howard pun kembali ke ranjang dan memegang remote TV, ia mencari cari acara yang sekiranya ia sukai.
Liana þelah selesai menyantap makanannya. Kemudian menghampiri Howard di ranjang.
" Sayang.. kasihan sekali kamu belum keluar ya? " Tanya Liana sambil menaruh badannya di d**a Howard, Tangannya mengarah ke arah senjata Howard, dengan Lembut Liana mengelus-elus senjata itu, sambil bibirnya memgarah ke bibir Howard, sambil berciuman Liana kembali ingin membangkitkan senjata raksasa Howard. Tidak cukup dengan tangannya Liana akhirnya memgulum senjata itu.
" Hmmm good girl.." Kata Howard
" I m yours baby.." Jawab Liana sambil memanjakan senjata besar milik Howard.
" achh.. nach... esstt.." Howard mengerang dan mulai terangsang. Disibaklah handuk yang membalut tubuh Liana, diraihlah p******a Liana yang sedang sibuk mengulum senjata Howard, Howard meremas remasnya dengan gemas. dan sesekali memilin putingnya.
" Ach...cch.. geli sayang, diremas saja" Kata Liana yang tidak terlaku suka putingnya dimainkan.
Setengah jam Liana bermain main dengan senjata besar Howard, Akhirnya Liana menaiki tubuh Howard dan berlahan mengarahkan lubang kewanitaannya ke Senjata besar Howard, Liana menggesek gesekkan senjata Howard itu ke bibir k*********a, karena memang tidak mudah untuk memasukkannya karena ukurannya yang terlalu besar, sedikit demi sedikit kepala senjata itu iya dorong masuk ke lubang kewanitaannya, dan akhirnya seluruh kepala senjata itu telah masuk. Liana mengambil nafas panjang sebelum meneruskan untuk memasukkan lebih dalam lagi. dan akhirnya
" blesss" masuklah Senjata raksasa itu menabrak dinding rahim Liana, walaupun Lubang kewanitaan Liana hanya mampu menelan seperempatnya saja.
" Oh.. sayang... oh.. besar sekali" Rintih Liana sembari mulai menggoyang pantatnya keatas dan kebawah, dan saat itu juga Liana langsung Orgasme..
" ach.. sayang aku keluar.." Padahal baru sekali goyang Liana sudah merasakan o*****e karena batang itu begitu besar memenuhi lubang kewanitaannya. Liana pun melanjutkan goyangan pantatnya dan erangan erangan keras terus tidak berhenti dari mulut Liana karena Liana mendapatkan o*****e berkali kali dengan mudahnya.
Howard membiarkan dulu Liana berbuat sesuka hati sampai akhirnya Howard merasa Liana sudah mulai lemas. maka Howard kembali berdiri dan menempatkan Liana dalam posisi menungging di atas ranjang, Dihajarlah Lubang kenikmatan Liana yang tampaknya sudah menyesuaikan diri dengan ukuran besar senjata Howard. Howard memompa dengan kecepatan tinggi hingga Liana kelebakan badannya tak terkendali dan mulutnya bersuara tidak karuan.
" oh.. fuck.. shit.. yes..yes... f**k me.. harder.. Ah.. yes.. i m cumming.." Rintih Liana berkali kali karena Howard terus melakukan pompaan tanpa berhenti walau Liana berkali kali telah o*****e, Kembali Howard melakukannya Hingga 1 jam tanpa berubah posisi dan akhirnya Howard merasa dekat dengan o*****e. Howard mencabut batang besarnya dan menarik kepala Liana diarahkan ke batangnya, Howard meminta Liana mengocoknya, Jemari Howard masuk ke mulut Liana dan memaksanya terbuka, dan Akhirnya s****a Howard meloncat memgalir mengisi mulut Liana dan sebagian membasahi wajah sampai Rambut Liana.
" Ah.. its best.. " Kata Howard sambil menikmati o*****e nya.
Malam itu mereka berdua tidak tidur hingga pukul 5 pagi, semalaman mereka habiskan untuk bersetubuh, Howard memang benar benar perkasa sampai sampai Kaki Liana sudah tidak bisa berdiri, bahkan Liana harus tidur dan mengistirahatkan kakinya beberapa jam sampai akhirnya dia bisa kembali berdiri.