Dengan kemudahan karir yang didapatkan oleh Liana maka Miguel menyarankan Liana menduduki posisi yang lebih potensial untuk maju. Karena Miguel merasa posisi sekretaris yang disandang oleh Liana tidak akan membawa Liana untuk lebih maju lagi. Miguel menyarankan Liana mengambil tantangan baru dengan menjadi tonggak perusahaan. Walaupun sebenarnya Liana sudah nyaman menjadi sekretaris Miguel, namun setelah Liana pikirkan kembali apa yang diucapkan oleh Miguel ada benarnya juga, Ia merasa bahwa ia akan semakin menua sedangkan karirnya sudah mentok sampai disitu saja, maka Liana akan memaksimalkan usia mudanya dengan posisi yang lebih memiliki tantangan. Maka Liana mengajukan diri untuk menjadi project marketing, karena ia merasa Marketing adalah posisi yang paling diutamakan di perusahaan itu, Bahkan Miguel memberi tantangan pada Liana apabila Liana bisa mendapatkan Project sesuai target maka Miguel akan menghadiahi saham sebesar 5%, Tantangan itu memang tidak mudah namun karena jiwa Liana yang pantang menyerah maka Liana pun menyetujuinya. Liana mendapatkan kebijakan khusus bahwa Liana akan berada di posisi Marketing namun tetap menjalani tugas sebagai sekretaris Miguel. Karena Miguel merasa bahwa Miguel tidak begitu repot dan Liana bisa meninggalkan tugas sebagai sekretaris sewaktu waktu, dan Miguel mulai mengajarkan pada Liana bagaimana cara berpresentasi, melirik konsumen, membuat penawaran, menghitung harga dan lain-lain. Liana tergolong karyawan yang cepat belajar, karena baru beberapa hari Liana mendapat kesempatan, ia sudah mendapatkan beberapa project walaupun hanya project kecil. Namun itu adalah awal yang bagus sebagai seorang yang belum pernah menjadi marketing. Juga karena Liana sudah memiliki mobil sendiri memudahkan Liana kesana kemari menemui klien dan menjalankan tugasnya meraup project. Bulan pertama Liana mencoba menjajaki dunia marketing tampak menyenangkan baginya apalagi setelah mendapatkan insentif yang tak pernah didapatkan posisi lain. Sekali Insentif yang ia dapat sama dengan gajinya bekerja selama enam bulan. Hal ini tidak lepas dari jasa Miguel mendidik jiwa bisnis Liana. sampai akhirnya di bulan berikutnya Liana sudah benar-benar meninggalkan posisinya sebagai sekretaris dan menjadi executif marketing. Miguel pun tidak keberatan dengan hal itu. Akhirnya seorang sekretaris baru menggantikan Liana sebagai sekretaris Miguel. Walaupun begitu Liana masih menjalin hubungan dengan Miguel secara intens, hampir setiap akhir pekan Liana dan Miguel bertemu untuk sekedar melakukan hubungan seks. Sampai akhirnya Miguel menyarankan untuk berhenti melakukan itu.
" Li.. apakah kamu tidak bosan terus terusan begini? " Kata Miguel sambil menciumi leher Liana.
" Hmm.. pak.. aku menikmati ini dan membutuhkannya" Jawab Liana sambil jemarinya mencengkram punggung Miguel.
" Sebaiknya kita hentikan saja Li.." Kata Miguel sambil bibirnya turun menyusuri d**a Liana.
" Saya tau bapak ingin menggantikan saya dengan sekretaris baru bapak.. ach.. sst.." Jawab Liana mendesis karena Miguel mengecupi payudaranya.
Tangan Miguel mulai menelusup ke celana dalam Liana.
" Ach.. pak.. sssttttt.. ah.. ya sudah pak puaskan saya untuk terakhir kalinya" Desah Liana yang mulai tak tahan dengan gairahnya.
Liana sudah tidak sabar lagi akhirnya Liana memgambil alih kendali dengan mendorong Miguel duduk di ranjang serta Liana jongkok dibawahnya. Liana mulai mengeluarkan senjata miguel dari celana dalam, dan diarahkannya ke mulutnya, Liana menghisap senjata itu dengan penuh nafsu sambil kedua tangannya mengocoknya." Hmmm.. pak ini hadiah untuk bapak karena telah membantu karier saya hmm..." kata Liana sambil mengulum senjata Miguel.
" Hmmm.. s**t you looks great Liana" Kata Miguel sambil meremas p******a Liana.
Liana dengan Liarnya mendorong d**a Miguel sampai Miguel terbaring, Dan Liana menaiki tubuh Miguel dan berusaha memasukkan senjata Miguel di lubang kenikmatannya.
" blesss.. " Akhirnya senjata miguel tertelan lubang kenikmatan Liana.
" Issshhh.. Pak.. enak... oh... shit.." Kata Liana sambil mulai menggoyangkan pantatnya diatas tubuh Miguel.
Miguelpun memainkan kedua p******a Liana yang menggantung di hadapannya. Meremas, memilin dan menciuminya.
" ah... sssttth... oh.. yes.. cssshhhh.. " Suara desahan Liana semakin membuat senjata Miguel berdiri tegak.
" Hmmm.. Liana kamu memang nikmat.. oh.. ssttt f**k" Ucap Miguel.
Lianapun semakin cepat memggoyangkan pantatnya naik turun diatas tubuh Miguel.
" Ussh.. ah.. ah... ssttt.. Pak.. aku mau kelu.. ar.. ah... shit.. yesss..." Desah Liana yang akhirnya mendapatkan orgasmenya. Liana dan Miguel menghabiskan saat itu memghabiskan waktu dan menikmati pergumulan yang mungkin akan jarang dilakukan lagi, karena Liana mulai sibuk dengan tugas barunya sebagai marketing, sedangkan Miguel juga sudah merekrut sekretaris baru.
Pagi itu Liana sudah siap mengendarai mobilnya menuju kantor, rencananya hari itu Liana akan menjemput salah seorang klien yang datang dari USA, Liana dan supir kantor rencananya akan menunggu di Bandara, hari itu sangat ditunggu tunggu oleh Liana karena seorang Bos besar dari USA akan menjadi targetnya mendapatkan order, dengan setelan warna biru tua, sepatu hak tinggi, Liana berdandan semenarik mungkin agar tidak mengecewakan. Mobil kantorpun telah melaju cukup kencang menuju bandara, peejalanan sekitar 60 menit ditempuh Liana lebih awal dari jadwal kedatangan Kliennya yang bernama Thomas.
" Pak Nanti saya telpon kalau Klien sudah datang, Pak Ari langsung ke pintu kedatangan ya.." Kata Liana pada pak Ari Supir kantor.
Kabar yang diterima Liana Thomas datang dengan 2 orang stafnya, karenanya Liana sudah mempersiapkan 2 Mobil berjaga-jaga apabila tidak cukup dengan 1 mobil atau para Klien membawa barang bawaan yang cukup banyak.
Liana berdiri cemas di depan gerbang kedatangan Bandara saat suara pengumuman pesawat mendarat telah terdengar di telinganya, Matanya melihat satu per satu para penumpang yang keluar dari gerbang kedatangan, sambil kedua tangannya mengangkat secarik kertas bertuliskan nama Thomas. Akhirnya terlihat 3 orang laki-laki bule memdatangi Liana, 1 orang diantaranya berumur sekitar 45 tahun, dan 2 orang yang lain tampak masih muda mungkin umur sekitar 30 dan 18 tahun.
" Are you Mr. Thomas? " Tanya Liana.
" Yes, I am" Jawab Pria yang berumur 45 tahunan itu.
Ternyata 2 orang yang lain adalah asisten Thomas.
" I am Liana Sir.." Kata Liana sambil menjabat tangan Thomas
" David" Kata salah satu pria itu mengenalkan diri pada Liana.
Tapi satu orang lagi tampak diam hanya berjabat tangan tanpa memperkenalkan diri kepada Liana.
Liana sendiri menjadi penasaran dengan pria yang belum ia ketahui namanya itu, sedangkan Thomas tampak banyak lebih memperhatikan pria yang belum Liana kenal itu dibandingkan dengan David.
" Hey.. Liana.. he is Neil my son" Kata Thomas.
Liana baru memgetahui bahwa pria muda itu ternyata anak Thomas.
Akhirnya Thomas dan rombongannya masuk ke dalam mobil, sedangkan Liana memilih menumpang mobil yang satu lagi karena ia kawatir jika mereka tidak nyaman karena terlalu banyak penumpang.
" Pak Langsung Bawa ke Hotel ya" Kata Liana pada Pak Ari supir kantor.
" Baik Bu.." Jawab Pak Ari
Liana mengikuti mobil yang dikendarai Pak Ari di belakang.
" Ikutin Mobil depan ya Pak" Kata Liana pada pak Wawan supir mobil yang ditumpangi Liana.
Kedua Mobil itu beriringan meninggalkan bandara menuju sebuah Hotel di kawasan Jakarta Pusat.
Dan Hari melelahkan itu berakhir, Liana membiarkan mereka bertiga beristirahat di Hari itu karena mungkin mereka letih setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Langit mulai gelap Liana memacu mobilnya menuju rumah, sambil fikirannya terus aktif memikirkan rencana rencana agar dapat meyakinkan kliennya untuk mau memberikan Order ke Perusahaan tempat Liana bekerja, Tak lama kemudian masih dalam keadaan menyetir ponsel Lianapun berdering.
" Ya.. pak.." Kata Liana mengangkat panggilan dari Miguel.
" Bagaimana Li.. apakah semuanya berjalan Lancar? " Tanya Miguel kepada Liana.
" Tenang pak.. semua lancar.." Jawab Liana.
" Li.. apakah kamu sibuk? " Tanya Miguel.
" Saya sedang perjalanan pulang pak, ada apa pak? " Jawab Liana.
" Liana aku ingin sekali bercinta dengan kamu malam ini" Kata Miguel.
" Hmmm... kemarin bapak bilang itu yang terakhir.. hihihi...hik.." Jawab Liana sambil menahan tawa.
" Ayolah Li.. " Kata Miguel
" Hmmm.. Baiklah tapi Bapak yang datangi aku, aku akan cari hotel dekat sini saja" Jawab Liana.
" Ok.. kabari aku segera" Kata Miguel.
Akhirnya Liana memperlambat laju mobilnya dan merubah arah ke kawasan kota dan akhirnya ia mobilnya masuk ke sebuah Hotel dan Liana segera mengabari Miguel tentang keberadaannya.
Kaki Liana melangkah menuju resepsionis hotel itu, dan segera dipesannya sebuah kamar, tampaknya tubuhnya ingin segera berebahan di ranjang, Liana segera memasuki kamar yang dipesannya dan membersihkan diri dengan mandi dan berendam di bathup, ia sejenak memanjakan diri dengan hangatnya air bathup dan buih buih sabun. sambil menunggu Miguel datang, Liana memberi kabar ke rumah bahwa ia ada acara mendadak yang membuatnya tidak akan pulang malam itu.
Setelah setengah jam menunggu Miguel tidak juga muncul, Liana mulai merasa kesal, dan rasa kesalnya semakin memuncak saat Miguel menelponnya dan mengatakan bahwa ia tidak jadi datang menemui Liana, Perasaan Liana merasa tak karuan, wanita itu merasa dipermainkan, Bahkan ia sudah rela menyewa kamar hotel, Di tengah kekesalannya ponsel Liana kembali berdering, sebuah nomor asing yang belum pernah ia simpan dalam kontaknya, dan nomor itu bukanlah nomor indonesia, Ya benar nomor itu adalah nomor USA,
" Hallo.. " Kata Liana.
" Hey.. its me Thomas" Kata Thomas dalam panggilan itu.
" Hey Sir.. How are you? May i help you Sir? " Kata Liana.
" Hmm.. just felt boring so if you dont busy, can we have dinner together?" Thomas mengajak Liana untuk makan malam jika tidak sibuk.
" Hmmm.. thats fine but i m stay at hotel tonight, so better we meet here if you dont mind" Kata Liana menyetujui permintaan Thomas tapi Liana tidak ingin terlalu jauh dari Hotel tempat Liana menginap, mungkin Liana merasa sedikit Lelah.
" Hmmm thats fine i can order taxi from here, Just let me know your position" Kata Thomas menyetujui saran Liana dan meminta Liana memberitahukan posisinya.
Tiga puluh menit sesudahnya Liana mulai berdandan kembali dan segera menuju Lobby hotel untuk bersiap-siap menemui Thomas, Kakinya tampak sedikit letih setelah seharian beraktifitas, sampai akhirnya pintu Lift Hotel terbuka dan Liana memasukinya menuju Lantai Lobby. Pintu Lift kembali terbuka, dengan langkah lambat Liana berjalan menuju sebuah sofa di Lobby Hotel, namun tiba tiba ia terkejut ketika pandangan matanya melihat dua orang Pria yang duduk di sofa, dan yang membuat jantungnya tiba-tiba hampir copot ternyata salah satu pria itu adalah Rian suami Liana. Ternyata Rian sedang menemui Klien di Hotel itu dan Liana tidak mengenali pria yang satu lagi karena Liana memang jarang ikut campur urusan bisnis suaminya. Liana secara spontan membalikan badan dan kembali menghadap pintu lift, pikirannya kacau dan gerogi, walaupun Liana tidak melakukan apa apa hanya sendiri di hotel itu tapi entah kenapa Liana merasa ketakutan. Sampai akhirnya Liana kembali masuk ke dalam kamar hotel, sejenak Liana terduduk sambil menghela nafas panjang. diambilnya sebotol air minum mineral dan diteguknya. Sambil berfikir entah kenapa Liana spontan membereskan barang-barangnya dan berencana segera meninggalkan hotel itu untuk pulang. Dikepala Liana hanya terfikir dimana Rian memarkirkan mobil, apakah Rian sempat melihat mobil Liana, apakah Rian mengetahui keberadaan Liana, seolah ribuan pertanyaan terbesit di kepala Liana bercampur rasa was was. Liana melihat ke jam tangannya, Tanpa berfikir panjang Liana segera membawa tasnya dan beranjak meninggalkan ruangan Hotel itu. Hingga saat keluar dari dalam Lift Liana memperhatikan ke arah sofa tempat Liana melihat Rian sedang duduk disitu. Ternyata Sofa itu telah kosong, namun Liana tidak mengurungkan niatnya untuk segera pulang, Liana segera memdatangi resepsionis untuk memgurus check out. dan akhirnya Liana segera menuju mobilnya dan melaju ke arah Rumahnya.
dengan tangan diatas setir, Liana mengendalikan mobilnya dengan penuh rasa was was, ia berharap Rian tidak memyadari keberadaannya, sampai tiba-tiba ponselnya berbunyi, Liana menatap ke arah ponselnya yang ia taruh di jok sebelah, muncul nama Rian disitu. jantung Liana semakin berdebar-debar khawatir jika Rian mengetahui tentang Liana yang sempat berada di hotel yang sama dimana Rian menemui Klien. Tetapi Liana memutuskan mengangkat ponselnya.
" Iya mas?.." Kata Liana mengangkat ponselnya
" Kamu dimana Li..? " Tanya Rian.
" Di Mobil mas, lagi nyetir mau pulang" Jawab Liana.
" Lho bukannya tadi bilang mau nginap?" Tanya Rian.
" Iya mas, cuman aku pikir ga ada perlunya, lebih baik aku pulang kerumah ketemu Noah" Jawab Liana.
" Oh gitu, bagus deh, soalnya aku juga pulang telat, ini masih belum pulang, masih makan sama Klien, Ya sudah hati-hati ya" Kata Rian
" Iya mas, mas juga hati-hati ya" Jawab Liana.
Akhirnya panggilan telepon itu pun berakhir, dan rasa was was Liana sedikit terobati karena Rian ternyata tidak melihatnya.
Tetapi muncul lagi satu masalah yang Liana ternyata tidak menyadarinya, Liana lupa bahwa Thomas sedang menuju ke arah Hotel dimana Liana sempat checkin.
Akhirnya Liana memutuskan mengirim chat kepada Thomas bahwa ia ada kepentingan mendadak sehingga tidak dapat menemui Thomas.
Thomas sedikitpun tidak membalas chat dari Liana. Tapi Liana merasa yakin bahwa Thomas sudah membacanya. Akhirnya sampai sudah Liana di depan Rumah. semua urusan pekerjaan dan lain-lain sudah ia lupakan untuk sejenak karena ia ingin segera melihat Noah anaknya.
Keesokan harinya Liana tidak menyangka bahwa apa yang telah ia lakukan membawa efek buruk terhadap hubungan kerjasama bisnis antara perusahaannya dengan perusahaan Thomas, Dalam perjalanan menuju kantor ponselnya berdering.
" Halo.." Kata Liana
" Liana kamu harus segera selesaikan ini" Kata Miguel.
" Ada apa pak?" Tanya Liana dengan rasa penasaran.
" Thomas berencana membatalkan order kepada kita" Jawab Miguel.
" Hah..Apa alasannya pak?" Tanya Liana dengan kaget.
" Aku sendiri tidak mengerti, sebaiknya kamu segera temui dia" Jawab Miguel.
Liana dengan rasa was was dan penasaran segera menginjak gas lebih dalam dan memacu mobilnya menuju kantor, ia tampak kebingungan dengan kejadian yang ia dengar, karena di perbincangan terakhir mereka Thomas sudah terjadi kesepakatan order maupun harga. Liana pun tidak mau kehilangan kesempatan besar itu yang akan membawa kemajuan bagi perusahaannya maupun insentif yang akan ia terima.
Akhirnya sampai juga Liana di kantor, Tampaknya Miguel sudah menunggunya di dalam ruangan.
" Apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya Miguel.
" Saya juga tidak paham pak, tapi semalam memang Mr. Thomas mengajak saya beetemu tapi kemudian saya membatalkannya" Jawab Liana.
" Sebagai seorang marketing, tindakanmu saya anggap ceroboh" Kata Miguel.
" Saya mengaku bersalah pak, saya akan berusaha memperbaiki keadaan dan mengambil kembali orderan itu, tolong beri saya kesempatan pak" Kata Liana.
" Baiklah mungkin aku harus memecat kamu apabila kamu gagal karena ini adalah orderan penting bagi perusahaan kita" Kata Miguel.
Dengan raut muka sedih Liana meninggalkan ruangan Miguel dan menuju ke meja kerjanya. Hati Liana begitu gelisah diliputi rasa bersalah karena tindakan cerobohnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Thomas berbicara.
" Morning sir.. can meet sir?" Kata Liana dalam chat mencoba mengajak Thomas bertemu.
" Hmm.. its serious? i m affraid if you cancel it again" Jawab Thomas menanyakan keseriusan Liana dan menyindirnya bahwa ia takut jika Liana membatalkan pertemuan lagi.
" Sure.. sir.. i m sorry about last night" Jawab Liana meminta maaf tentang perlakuannya semalam.
" Okay just let me know where we will meet up?" Kata Thomas menanyakan dimana akan bertemu.
" I will send a driver to pick you up sir" Jawab Liana bahwa ia akan mengirim supir untuk menjemput Thomas.
Akhirnya supir kantor meluncur menuju hotel dimana Thomas menginap, sedangkan Liana menuju sebuah Restaurant di Jakarta Selatan dimana ia telah memesan meja untuk bertemu dengan Thomas, Liana sangat berharap rencananya mempertahankan Order berhasil karena itu adalah pertaruhan besar dalam karirnya. Sambil memacu mobilnya pikiran Liana terus mencari cari cara bagaimana membujuk Thomas untuk tidak membatalkan Ordernya. Thomas pria paruh baya itu memang sulit untuk ditebak dalam mengambil keputusan, bahkan Liana sendiri tidak menyangka akan mengalami kesulitan itu. Tibalah Liana di Restaurant itu dan segera ia duduk dan menunggu Thomas datang. dan tidak lama kemudian munculah sosok laki laki paruh baya yang tinggi besar dan tubuh atletis. Thomas pria itu datang seorang diri menemui Liana, dalam hati Liana kemana rekan rekan Thomas, kenapa mereka tidak ikut dalam meeting itu.
" Hi Sir.. how are you? " Kata Liana menyapa Thomas memanyakan kabar.
" Hi.. i m good, how about you? " Jawab Thomas menanyakan kembali kabar Liana.
" i m good Sir.." Jawab Liana.
Akhirnya perbincangan terjadi sambil mereka berdua menyantap hidangan yang telah dipesan. Liana terus menanyakan kepada Thomas tentang alasan Thomas ingin membatalkan Order, dan jawaban Thomas cukup memukul Liana dalam dalam, Karena Thomas menganggap Liana dan Team nya tidak serius menangani pelanggan. Liana berfikir pasti hal tersebut terkait Liana yang membatalkan pertemuan dengan Thomas, sampai beberapa jam Liana terus berusaha meyakinkan Thomas, Namun Thomas tampak tidak berubah pikiran.
Liana mulai putus asa dengan segala usahanya membujuk Thomas, akhirnya Liana meminta ijin pada Thomas untuk meninggalkan meja sejenak dengan alasan hendak ke toilet. Hal itu hanya alasan saja, sebenarnya Liana mencari celah waktu untuk menelpon Miguel untuk meminta saran.
" Aku sudah berusaha keras membujuknya tetapi tampaknya ia tetap bersikukuh" Kata Liana pada Miguel dalam panggilan telepon.
" Aku rasa Thomas mencari sesuatu timbal balik" Kata Miguel menjawab Liana.
" Maksud bapak?" Tanya Liana tidak paham dengan perkataan Miguel.
" Sepertinya dia menyukaimu Liana, dan dia menginginkan sesuatu dari kamu, pasti kamu tau maksudku" Kata Miguel.
" Hmm.. dasar srigala.. " Kata Liana memggumam.
" Istrinya sudah lama monopause pasti ia butuh pelampiasan Liana, semua kembali pada keputusanmu, aku hanya memberi informasi" Kata Miguel.
Dan tanpa permisi dengan rasa kesal Liana langsung menutup percakapan telepon dengan Miguel dan kembali ke meja dimana Thomas sedang duduk.
" Sorry for waiting sir.." Kata Liana meminta maaf karena membuat Thomas menunggu.
" Its okay, I think we have done, and i will go from here" Jawab Thomas hendak berpamitan.
" Wait a minute Sir..." Respon Liana menahan Thomas dan tak sengaja tangan Liana memegang pergelangan tangan Thomas.
" Why we dont make it more relax sir?" Kata Liana.
" What do you meant? " Tanya Thomas dengan penasaran.
" I meant, emm.. we can go to some place and talk about it" Kata Liana mengajak Thomas ke suatu tempat.
" Hmmm.. interesting.." Jawab Thomas yang sudah paham maksud Liana.
Akhirnya Liana memerintahkan supir kantor untuk pulang dan Liana membawa Thomas menuju sebuah Hotel yang tidak jauh dari tempat itu.
Liana segera menuju Lobby dan memesan kamar, lalu mereka berduapun memasuki sebuah kamar hotel. Tanpa basa basi Liana segera mencumbu Thomas.
" Hey.. hey.. hey.. thats what i m talk about" Kata Thomas memuji Liana yang telah memahami maksudnya.
" Sign the contract sir.. and i will make you satisfy" Liana meminta agar Thomas menandatangani kontrak dan berjanji akan memuaskannya.
akhirnya Thomas juga membalas cumbuan Liana dengan sentuhan lembut pada wajah serta leher Liana. Hingga akhirnya mereka saling mengulum bibir dengan mesranya dan dengan perlahan Thomas mendorong kepala Liana untuk lebih dekat pada batang besar yang masih tersembunyi di dalam celana Thomas dan Lianapun langsung melepas celana yang dipakai Thomas hanya dengan sekali tarik.
Saat itulah Liana melihat batang besar Thomas begitu menantang mengacung pada Liana. Liana menarik dan melepas hijabnya dengan tangan sambil mulutnya melumat batang besar Thomas yang membesar dan semakin menegang saja ” Oooouuwwww….. Liana s**t slowly... ” Thomas sudah mendesah ketika mulut Lianabdengan buasnya melumat habis batang besarnya. sedangkan tangan Thomas berusaha melepas blazer hitam yang dipakai Liana. dan Akhirnya terlepas Blazer tersebut meninggalkan kemeja dalaman berlengan pendek yang dipakai Liana.
Sembari melumat tangan Lianapun ikut bermain dengan cara mengocok dengan lembut, hingga Liana merasa batang besar Thomas itu semakin menegang dan semakin membesar saja. namun Liana semakin lahap memainkannya dalam mulutku sampai-sampai Liana tidak kuat lagi dan dengan cepat Liana melepas bajunya hingga Liana terlihat hanya memggunakan bra di depan Thomas, mungkin Thomaspun tidak tahan melihat Liana melakukan itu.
Dengan cepat Thomas merengkuh tubuh Liana untuk dia rebahkan ” So Naughty come ti me eeehhhmmm… ” Thomas merengkuh tubuh Liana lalu Thomaspun melepaskan celana dalam Liana dan menindih Liana layaknya pria yang sudah kehausan seks, Thomas langsung memasukkan batang besarnya dalam lubang kenikmatan Liana yang memang sudah basah , kemudian Thomas menggoyangkan pantatnya seirama dengan desahan yang dia keluarkan saat itu.
Sembari meremasi p******a Lianat Thomaspun mendesah ” Oooooouuuuggggghhh….. aaaaaaggggghhh…. aaaaagggggghhh… aaaaahgggghhh.. Fuck..” Lianapun hanya bisa memejamkan mata menikmati permainan Thomas yang begitu Liar walaupun sedikit kasar bergerak di atas tubuh Liana, yang ikut bergerak seirama dengan gerakan pompaan Thomas. Lianapun menjambak rambut Thomas saat dia hentakan batang besar Thomas semakin keras dan semakin dalam.
Kemudian Lianapun ikut mendesah karena nikmatnya ” OOouuuggghh.. Sir.. its nice d**k aaaggghhh.. fuvk me harder aaaaggghhhhh….. aaaaggghhhh…. ” Thomas mencium bibir Liana lalu berkata di sela gerakannya ” Ohh s**t it you have nice p***y Liana aaaaggghhhh….. aaaaaaggghhhhh… ” Liana suka mendengar kata itu Lianapun langsung menciumnya kembali.
Tapi ketika Thomas semakin cepat bergerak Lianapun tidak kuasa menahan sesuatu yang seakan mengalir dari dalam lubang kenikmatannya. Dan kemudian Liana melihat Thomas juga memejamķan mata dan mengerang keras sekali “OOOOuuuggghh… oooouuggh.. Liana…. aaaaaaaggghhh.. ” Menyemprotlah s****a Thomas di dalam lubang kenikmatan Liana dan terasa hangat juga nikmat sekali bagi Liana.
" Sorry Liana i c*m inside" Thomas meminta maaf pada Liana karena tidak tahan dan mengeluarkan spermanya di dalam lubang kenikmatan Liana.
" Its okay sir.. do what you want.. i m yours.. dont worry i always drinking pil" Kata Liana sambil memgecup bibir Thomas dan mengatakan bahwa Thomas boleh melakukan apa saja karena Liana menggunakan pil KB.
mereka berdua terkapar diatas ranjang, bagi Liana itu bukanlah kesenangan karena ia merasa terpaksa melayani nafsu Thomas demi mendapatkan kembali order yang hampir saja batal. Liana merasa Thomas tidak seperkasa pria-pria bule yang pernah ia tiduri, walaupun Thomas juga memiliki senjata yang cukup besar, namun Liana merasakan bahwa batang besar Thomas itu lembek dan tidak begitu keras, dan juga Thomas tidak mampu bertahan lama sehingga Liana tidak merasakan klimaks, namun semua itu dimaklumi Liana karena Thomas adalah Pria paruh baya yang lama tidak pernah berhubungan dengan wanita karena istrinya yang telah monopause.
Tapi yang menggangu Liana adalah akibat ia tidak mendapatkan klimaks dalam hubungan itu, maka ia merasa gairahnya belum terlampiaskan, sepulang dari hotel ia merasa tubuhnya serba tidak nyaman dan gairahnya yang tidak terlampiaskan memuncak, ia segera menelpon suaminya.
" Mas... mas pulang cepat kah? " Tanya Liana dalam panggilan telepon.
" Hmmm.. belum bisa dipastikan Li.. kenapa?" Tanya Rian.
" Tidak apa apa mas, hanya saja sudah lama kita tidak berhubungan badan, apa mas tidak ingin? " Kata Liana sambil malu malu.
" Hmmm iya ya.. saking sibuknya sampai aku lupa, Ya sudah kita lakukan malam ini ya, aku akan segera pulang, kamu tunggu saja dirumah" Jawab Rian.
Tidak lama kemudian Liana mendapat informasi dari group chat kantornya bahwa Thomas telah menanda tangani Order yang diharapkan. banyak rekan-rekan kantor yang memberi selamat kepada Liana atas keberhasilan Liana mendapatkan Order itu, walaupun dalam hatinya merasa bodoh karena harus mendapatkan order dengan cara yang tidak lazim, tetapi Liana sudah tidak punya jalan lain lagi untuk mempertahankan karirnya dan mendapatkan promosi serta insentif yang besar.
Beberapa saat kemudian HP Liana kembali berbunyi, ternyata ada chat dari Thomas.
" I m realy satisfied Liana.. thanks a lot, i loved your cubby butt, and your tight p***y, keep your body like that cause i loved it much" Kata Thomas yang berterima kasih karena Liana sudah membeeikan kepuasan, dan Thomas sangat menyukai p****t Liana yang semok, dan Lubang kenikmatan Liana yang ketat, dan Thomas mengatakan sangat menyukai tubuh Liana.
Liana pun hanya tersenyum membacanya, karena Liana merasa tubuhnya gendut dan kurang percaya diri dengan tubuhnya, namun ternyata kekurangan yang ia rasakan itu menjadi pujian dan dianggap nikmat oleh pria-pria yang pernah menidurinya, bahkan hampir semuanya merasakan kecanduan menikmati tubuh Liana, Liana segera menghapus chat itu karena ia khawatir suaminya akan membacanya dan mengetahui skandal yang dilakukan Liana di luaran.
Malam itu akhirnya Liana merias diri agar tampak cantik dihadapan Rian suaminya yang sudah lama tidak sempat menjamahnya, Liana sengaja hanya berbalut handuk dan berbaring di ranjangnya sambil menunggu Rian pulang, tidak lama kemudian apa yang ia tunggu telah tiba, Rian baru saja datang dan memasuki kamar.
" Sudah lama nunggu Li..? " Tanya Rian sambil mulai melepas kemejanya.
Lianapun sudah tidak sabar, lubang kenikmatannya masih terus basah sejak berhubungan dengan Thomas karena tidak mendapatkan Klimaks, tanpa basa basi Liana segera beranjak dan melucuti pakaian Rian.
" Eh.. Li.. sudah ga sabar aja" Kata Rian terheran heran.
Liana langsung mengulum batang Rian yang masih lembek hingga mulai mengeras.
" Edsshh.. mmm enak sekali Li.." Kata Rian mendesah.
Liana segera membimbing Rian berbaring dan menaikinya, dimasukkan batang Rian ke dalam Lubang kenikmatan Liana.
" Uh...sssh..." Desah Liana
Liana segera menggoyangkan pantatnya semakin lama semakin cepat dengan Liar, matanya terpejam, dan angannya membayangkan seorang n***o yang berbatang besar sedang ia naiki, dan tak lama kemudian Lianapun mendapatkan Klimaks.. dan Rian pun juga mendapatkan o*****e.
" Assh... aku keluar mas..oh.. oh.. sssh..." Desah Liana.
Liana memang hanya sengaja ingin mendapatkan klimaks dan tidak berniat bersetubuh berlama lama karena tubuhnya telah letih setelah melayani Thomas. Namun persetubuhan yang singkat itu membayar gairah yang tidak terlampiaskan saat bercinta dengan Thomas.
Esok harinya, Liana tampak lebih santai dan berencana berangkat ke kantor lebih siang, ia ingin sedikit rilex setelah menghadapi semua kesulitan dalam mendapatkan order, pagi itupun Liana tidak seperti biasanya, ia masih sempat bermain dengan Noah dan menyiapkan kopi dan sarapan untuk suaminya.
" Tumben kamu santai banget Li.. tidak berangkat? " Tanya Rian keluar dari kamar menuju meja makan dimana Liana sedang duduk dan sibuk dengan gadgetnya.
" Siangan mas, agak capek soalnya" Jawab Liana dengan singkat sambil menaruh nasi di piring yang disiapkan untuk Rian.
Rianpun duduk dan segera menyantap masakan Liana.
" Bisnisku sedang bagus Li.. sepertinya kalau kamu dirumah begini, Noah akan lebih senang" Kata Rian yang menyindir mengarahkan agar Liana berhenti bekerja.
" Mas mau aku cepat tua gara gara bosan dirumah" Jawab Liana tampak sedikit kesal.
" Ya.. aku kan cuman berpendapat Li.. ya terserah kamu" Jawab Rian sambil mengunyah makanannya.
"Mumpung masih muda aku mau mempersiapkan ekonomi sebaik mungkin mas " Kata Liana menjelaskan kepada Rian.
" Kenapa tidak kerja di Perusahaanku saja Li.. jadi kita bisa berdua terus" Tawaran Rian kepada Liana.
" Ah aku tidak mau dianggap mendompleng kesuksesan suami, lagipula aku tidak mau nanti menjadi karyawan yang dianggap spesial karena hubungan khusus" Kata Liana.
" Ya sudahlah atur aja gimana baiknya" Kata Fian sambil berdiri dan siap-siap untuk berangkat kerja.
Hari itu Liana tampak serius lega karena tujuannya telah berhasil walaupun harus menggunakan cara yang tidak sepantasnya, tidak lama kemudian notifikasi M Bankingnya berbunyi, bonus yang dijanjikan ileh perusahaan telah dipenuhi, dan Liana tampak kaget melihat deretan angka yang cukup besar baginya karena selama ini ia belum pernah mendapatkan penghasilan sebesar itu. Muncullah angan angannya sebagai seorang wanita ia sudah merencanakan membelanjakan hasil kerjanya itu, mulai baju baru, perhiasan, tas, jam tangan, gadget baru semua sudah melintas di pikirannya. tampaknya malam ini ia akan menuju sebuah mall untuk memenuhi angan-angannya itu.
Sepulang dari kantor Liana segera mengarahkan laju mobilnya menuju sebuah Mall, Malam itu ia puaskan naluri wanitanya dengan berbelanja apapun yang ia sukai, uang tidak menjadi masalah baginya setelah mendapatkan insentif besar, tak lupa ia juga berbelanja untuk kebutuhan rumah, tangannya telah digantungi banyak sekali tas belanjaan. Sambil bersusah payah membawa belanjaannya ternyata ponselnya berdering dan itu dari suaminya yaitu Rian.
" Halo.. mas.." Jawab Liana dalam panggilan telepon.
" Kamu dimana Li...? " Tanya Rian.
" Di Mall abis belanja bulanan, ini baru mau pulang" Jawab Liana.
" Oh gitu, ya sudah cepat ya.., soalnya besok pagi aku mau berangkat ke Bali, tolong siapkan pakaianku" Kata Rian.
" Kok mendadak mas? iya deh ini mau pulang" Jawab Liana.
Liana segera membawa semua belanjaannya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Nafasnya sedikit terengah-engah karena membawa belanjaan yang cukup banyak. Namun semua itu tidak membuat rasa senangnya berkurang karena mendapatkan bonus yang besar dari kantor. Dipaculah pulang menuju rumah.
Dalam perjalanan pulang Liana mulai berfikir bahwa ternyata pekerjaannya memiliki potensi untuk menghasilkan uang yang banyak, namun juga memiliki resiko dan kesulitan yamg tinggi dalam mengerjakannya, Liana setidaknya mulia berfikir untuk memperbaiki penampilannya agar dapat menarik dan enak dilihat oleh klien-kliennya, maka Liana berfikir untuk mulai rutin lagi datang ke Gym setelah sekian kali sering absen.