Perjalanan Dinas

4972 Words
Pagi itu Liana menuju Bandara karena ia akan segera terbang ke Denpasar, Kantornya sedang mengadakan pertemuan di kota yang ditujunya itu, dan setiap karyawan selevel manager diharuskan hadir dalam pertemuan itu. Setelah sampai di Denpasar Mobil jemputan dari Hotel telah menunggu di pintu kedatangan, Liana dan beberapa 6 orang temannya segera memasuki mobil untuk menuju hotel, Hari itu Liana merasa sedikit kelelahan, karenanya Liana menyempatkan diri untuk sekejap memejamkan mata diatas ranjang hotel yang empuk dan nyaman. Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore hari, Liana bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dibukanya kran bathup dengan air hangat, Liana memanjakan diri dengan air sabun dan sejenak melepaskan letihnya di dalam rendaman air yang hangat. Tubuhnya terasa lebih relax, tidak lama kemudian ponsel yang ia taruh di dekatnyapun berbunyi, ternyata ada chat dari Miguel. " Liana jangan terlambat kita ada pertemuan jam 8 malam" Kata Miguel dalam pesan chat itu. " Baik pak.." Jawab Liana singkat. " Kamu sedang dimana? " Tanya Miguel. Entah mengapa otak nakal Liana mulai bekerja, ia mengambil foto selfi dalam bathup dan mengirimkannya pada Miguel. " Hmmm.. kamu masih tetap menggairahkan" Kata Miguel. " Hmmm.. bapak masih ingin mencoba lagi? " Jawab Liana dengan emoticon tersenyum. " Buka pintumu malam ini" Jawab Miguel. Liana hanya tersenyum senyum setelah melihat balasan chat dari Miguel. Tibalah waktu pukul 8 malam, Liana telah berdandan rapi dan bersiap untuk mengikuti pertemuan. Terlihat Miguel memandang Liana dengan pandangan buas seolah-olah matanya tak mampu lepas dar menatap ke arah p****t Liana, Pikiran pikiran tak sabar ingin segera menggerayangi Liana berlalu terus menerus di pikiran Miguel, Liana pun tampak sudah mengerti apa yang ada di kepala Miguel, dalam pertemuan itu Miguel tampak tidak terlalu konsentrasi membahas pekerjaan seperti biasanya, sampai akhirnya pertemuan itupun berakhir dan semua peserta meninggalkan ruangan pertemuan, sedangkan Liana tampak belum beranjak dari kursinya, begitu pula dengan Miguel, mereka berdua saling pandang tapi tidak berkata kata, Beberapa menit kemudian Liana segera meninggalkan ruangan itu " Bapak jadi?.." Goda Liana sambil tersenyum meninggalkan ruangan. " Hmm.. seperti rencana" Jawab Miguel. Tanpa disadari ada yang mengikuti langkah Liana menuju kamar, dan Lianapun sudah memgetahui bahwa beberapa meter di belakangnya adalah Miguel yang sedang mengikutinya, Diluar suasana hujan deras, dan dingin . suasana yang sangat mendukung bagi Liana untuk mencari kehangatan, Liana membuka pintu kamar dan masuk tetapi sengaja tidak menutup pintu supaya Miguel dapat menyusul masuk, dan benar saja Miguel langsung masuk ke kamar Liana, Kamar itu memiliki view menghadap kolam renang yang tampak teduh airnya biru disorot lampu. Liana segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Miguel tampak menuju sofa dan menyandafkan badannya sejenak. 5 menit kemudian Liana keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk " Bapak mau saya buatkan kopi? " Tanya Liana sambil tersenyum. " Hmmm.. aku rindu kopi sekretarisku yang dulu hahaha.. " Jawab Miguel sambil tertawa. " Hanya rindu kopinya saja pak? " Tanya Liana menyindir dengan wajah tersenyum. " Pelayanannya juga" Jawab singkat Miguel sambil menekan nekan remote TV untuk mengganti saluran TV. " Pelayanan di kantor apa diluar kantor? " Tanya Liana mulai nakal sambil ia mengaduk secangkir kopi untuk Miguel. " Jangan banyak tanya Liana nanti aku kesal kamu bisa aku hukum" Jawab Miguel sambil tersenyum. " Saya rela pak dihukum malam ini" Jawab Liana sambil menyodorkan secangkir kopi pada Miguel. Miguel mengambil kopi yang disodorkan oleh Liana, Ia meneguknya sedikit lalu menaruhnya di meja sebelah sofa, Kemudian tangan miguel merengguh pinggang Liana dan melingkarinya, Ditariklah Liana dalam pangkuan Miguel. Mereka berhadap hadapan dan saling pandang satu sama lain. Kemudian Liana memejamkan kedua matanya dan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Miguel, Akhirnya mereka bedua berciuman dengan begitu penuh gairah, Hingga sampai sampai ponsel Liana berdering getapi Liana mengabaikannya. " Liana ponselmu berdering" Kata Miguel sambil menghentikan ciuman sejenak. " Biarkan saja pak.. kita lanjutkan saja" Kata Liana seolah olah tidak ingin kehilangan momen kebersamaan mereka. Liana kembali mendaratkan ciuman di bibir Miguel sambil tangannya merengguh kancing kemeja Miguel dan melepasnya satu per satu. Malam itu Liana merasa gila dan dikuasai gairah yang meledak ledak, Dengan begitu bernafsu Liana menyibak kemeja Miguel dan mulai menciumi d**a Miguel yang berbulu halus, Miguelpun tampak memejamkan mata dan menikmati setiap gerakan yang dilakukan oleh Liana kepadanya. Liana mulai turun dari pangkuan Miguel dan berjongkok dihadapannya, tangan Liana mulai membuka Resleting celana yang dipakai Miguel, Miguelpun tidak mau terlalu lama kemudian berinisiatif membuka celana sendiri, Dan Liana menarik turun celana dalam Miguel hingga senjata miguel menyembul keluar, dan Liana mulai tersenyum melihatnya, tangannya meraih batang itu dan mengelusnya dengan berlahan, tak lama kemudian mulut Liana ikut bermain menjilat setiap lekuk dari batang besar miguel itu, Miguel tampak kuwalahan menahan apa yang dilakukan Liana kepadanya, Sehingga ditariklah handuk yang membalut tubuh Liana dan melemparkannya ke ranjang, Lianapun tampak tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Tanpa mau melepaskan kesempatan Miguel meremas remas buah d**a Liana yang menggantung, sedangkan Liana sudah mulai memasukkan batang besar Miguel ke dalam mulutnya, sambil kedua tangannya mengocok batang besar itu yang tak mampu masuk sepenuhnya ke dalam mulut liana karena telah mengenai tenggorokannya. Miguelpun mengerang dan menggeliat karena perlakuan Liana. " Uhff...fuck.. it so nice.." Ucap Miguel. Mata Liana melirik keatas kearah wajah Miguel sambil mulutnya terus bermain main di batang besar itu. Air liur Lianapun menetes netes di kantong bola Miguel. Liana terus melakukan hal yang sama sampai beberapa menit. Kemudian Miguel tampak sudah tidak tahan lagi, batang besarnya terasa sangat kaku dan ingin segera berontak. Dibimbinglah Liana ke arah ranjang dengan posisi menungging, tak lama kemudian batang besar itu diarahkan ke dinding lubang kenikmatan Liana. Sontak Liana terkejut. " pelan-pelan saja pak.. masih sempit" Kata Liana. Berlahan tapi pasti Batang besar itu menembus lubang kenikmatan Liana. "Ackkk... oh my gosh.. so big.." Kata Liana. " Kamu suka? ahh.." Kata Miguel. " Iya pak.. sudah lama sekali tidak merasakan yang sebesar ini.. ough.." Jawab Liana. Miguel mulai mendorong batangnya maju mundur menembus lubang kenikmatan Liana. dan Liana sudah mulai merasakan lubang kenikmatannya basah. " please slap my ass pak..." Kata Liana meminta agar Miguel menepuk keras pantatnya. Kemudian Miguelpun menuruti keinginan Liana sambil terus memompa lubang kenikmatan Liana sesekali Miguel menepuk keras keras p****t Liana hingga terlihat memerah, Sedangkan Lianapun menikmati permainan itu, tubuhnya berguncang saat berkali kali Liana mendapatkan o*****e, Miguel masih tampak perkasa dan terus bertahan dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Tidak Lama kemudian Liana meminta untuk berganti posisi " Biarkan aku diatas sayang.." Pinta Liana sambil matanya terpejam merasakan kenikmatan. Miguel mencabut batang besarnya dan kemudian menjatuhkan diri berebahan di ranjang, Liana mulai menaiki tubuh Miguel, kedua tangannya bertumpu pada d**a Miguel, kemudian Lubang kenikmatan Liana ia arahkan ke batang besar Miguel, dan Blesss... akhirnya Liana berhasil memasukkan batang besar itu, Mulai ia goyangkan naik turun pantatnya, sambil bibir Liana pun mencari cari bibir Miguel dan berciuman dengan sangat panas. Berkali kali ponsel Liana terus berdering namun ia membiarkannya, Hingga akhirnya permainan itu berakhir keduanya terkapar diatas ranjang, Miguel tampak letih dan memejamkan mata, sedangkan Liana akhirnya memeriksa Ponselnya, " Astaga.. Mas Rian menelpon" Kata Liana dalam hati. Kemudian ia juga membuka chat whatsappnya dan ia terkejut karena ada kabar sedih diterimanya, Rian mengatakan bahwa Noah sedang panas tinggi, dan Rian sangat marah karena berkali kali menelpon Liana tetapi tidak diangkat, ancaman ancaman Rian membuat Liana ketakutan, Rian mengancam akan melarang Liana bekerja lagi. Liana langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri, Ia berencana segera kembali ke jakarta secepatnya, Ia langsung mencari cari tiket tercepat ke jakarta. " Ada apa Liana kamu tampak kebingungan" Tanya Miguel. " Aku harus segera kembali ke jakarta karena anakku sakit" Jawab Liana sambil terus sibuk dengan ponselnya. Segeralah Liana menelpon Rian. " Mas maaf tadi HPku tertinggal di kamar sedangkan aku sedang ada meeting" Kata Liana dalam panggilan telepon. " Meeting macam apa jam 1 malam begini" Tanya Rian dengan marah. " Ee.. ee.. iya mas maaf meetingnya sampai jam 10 aku masuk kamar langsung tertidur lupa untuk memeriksa HP" Jawab Liana dengan terpatah patah karena bingung. "Cepat kembali ke Jakarta, Noah panas tinggi" Kata Rian. " Iya Mas, ini juga sedang cek tiket pesawat kalau ada yang tercepat akan aku ambil" jawab Liana. " Ya sudah buruan ya.." Kata Rian dengan nada jengkel sambil mengakhiri panggilan. Akhirnya yang dicari Liana dapat juga, ada tiket jam 6 pagi menuju jakarta, Liana langsung memesan tiket tersebut. Setelah mengurus tiket Liana segera mulai mengemasi barang-barangnya. Karena pagi pagi sekali ia harus segera menuju bandara. Sedangkan Miguel sudah tampak tertidur pulas, Malam itu Liana terus menelpon ke rumah untuk mencari tau perkembangan Noah, sampai-sampai matanya tidak bisa terpejam walaupun terasa mengantuk. Ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya, Tibalah waktu menunjukkan pukul 5 pagi dan Liana sudah siap untuk segera kembali ke jakarta, Miguel tampak masih pulas tertidur, Liana membiarkan dan meninggalkannya begitu saja. Langkah kaki Liana begitu cepat dari kamar menuju ke Lobby hotel, Tampak Taxi yang ia pesan sudah menunggu du depan, Ia segera memasukkan kopernya ke dalam bagasi dan memasuki taksi itu, Hatinya serasa dipenuhi rasa berdalah karena tidak ada di sisi Noah saat dalam keadaan sakit. Dan Rasa takutnya menguasai dirinya karena ia tidak dapat membayangkan kemarahan Rian saat bertemu dengannya, Suasana jalan raya masih sangat sepi karena masih sangat pagi. " Pak Bisa lebih cepat sedikit tidak pak" Kata Liana pada supir taksi. " Baik Bu.." Jawab Supir taksi itu sambil mulai memacu mobil lebih cepat lagi. Tak Lama kemudian sampailah Liana di Bandara, tanpa menunggu lama ia langsung menarik kopernya memasuki bandara untuk segera menuju ke loket. Akhirnya Liana sampai juga di Jakarta, Langkahnya langsung menuju ke kamar Noah, Dilihatnya Noah anaknya itu sedang dikompres keningnya. "Noah.. sayang.. kamu kenapa?" Kata Liana sambil menciumi anaknya. Sedangkan Noah tampak tertidur lelap. "Sudah dibawa ke Dokter mas? " Tanya Liana kepada Rian yang tampaknya hanya diam tidak menyapa Liana sedikitpun. " Sudah.." Jawab Rian singkat. " Mas sudah makan?" Tanya Liana berbasa basi karena ia tau suaminya itu sedang marah kepadanya, tetapi Rian tidak menjawab pertanyaan Liana malah meninggalkan ruangan menuju teras untuk merokok. Liana sudah menyadari kemarahan suaminya itu. Tapi bagaimana lagi Liana memang sedang ada Dinas ke Luar kota itupun ia pulang lebih cepat daripada yang lainnya. Karena Noah tampaknya sudah baikan dan tertidur lelap, maka Liana mencoba menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya, Bagaimanapun juga Liana tau bagaimana cara meredakan kemarahan suaminya. secangkir kopi hitam buatannya paling tidak sedikit meredakan kemarahan Rian. Liana mencoba menggoda Rian untuk bisa bermesraan, karena biasanya Rian lebih tenang setelah berhubungan badan. akhirnya siang itu Liana melayani Rian di ranjang untuk membuat kemarahan Rian mereda. Sore hari itu ponsel Liana berbunyi tampak ada panggilan masuk dari Kliennya. " Sore pak.. ada yang bisa saya bantu?" Kata Liana dalam panggilan telepon. " Sore Liana, saya mau menyampaikan kalau besok apakah kamu bisa datang untuk meeting project? " Kata Kliennya yang bernama Thomas. Lianapun berfikir dan paham dengan karakter Thomas yang selalu memanfaatkan keadaan. " Baik pak, saya usahakan untuk datang pak" Jawab Liana dalam panggilan telepon itu. Tanpa ia sadari ternyata Rian sedang ada di dekatnya. " Kamu apa tidak merasa sudah terlalu sibuk sebagai ibu rumah tangga? " Tanya Rian. " Iya mas aku paham, cuman aku akan terus berusaha membagi waktu mas" Jawab Liana. " Apakah kamu merasa secara finansial kita masih kekurangan? " Tanya Rian. " Tidak mas, hanya aku terbiasa bekerja, dan rasanya itu sangat penting buatku, aku juga tidak mau menyia-nyiakan pendidikanku yang tinggi" Jawab Liana. Rian hanya diam dan meninggalkan Liana menuju ke teras Rumah. Sedangkan Liana merasa kariernya mulai terancam karena Rian sudah mulai bersikeras membuat Liana berhenti bekerja. Kini Liana menjadi lebih berat karena karirnya tidak mendapat dukungan dari suaminya. walaupun begitu Liana tetap bersikukuh untuk terus berkarir. Hari berikutnya seperti biasa Liana berangkat menuju kantor, dan kali itu ia memiliki janji bertemu dengan Thomas dan Team Kliennya untuk meeting project. Tampaknya Liana tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendapatkan Order lebih besar lagi dari perusahaan Thomas. Ia berfikir setidaknya jika Ia tidak dapat bekerja lagi ia sudah memiliki tabungan yang cukup dari hasil insentifnya. Dan Hari itu meeting berjalan dengan lancar, ada peluang-peluang baru bagi Liana untuk meraih order, sambil memikirkan cara maka sore itu Liana menyempatkan diri untuk pergi ke gym sekedar berolah raga. Satu hal yang sedang mengganggu pikiran Liana adalah di masa masa itu Liana akan sering melakukan pèrjalanan dinas, dan itu sangat menjadi kendala bagi Liana yang sedang membujuk Rian agar tidak menghalanginya bekerja. Pikiran Liana terbang entah dimana seolah-olah ia sedang tidak berada di tempat gym tersebut, sampai sampai ia tetap diam saja saat beberapa teman gym menyapanya. " Eh.. Li.. sombong sekali disapa diam saja" Kata Wulan salah satu teman gym nya sambil menepuk pundak Liana. " Eh.. kamu apa kabar? " Jawab Liana terbangun dari lamunannya. " Baik, kamu kemana aja tidak pernah kelihatan? " Tanya Wulan sambil mengambil posisi duduk di sebelah Liana. " Biasalah.. sibuk kerja namanya juga kacung" Jawab Liana sambil tersenyum bercanda. " Bisa aja kamu, kacung kok bawa mercy hahahaha" Kata Wulan sambil tertawa tawa. " Iya nih lagi bingung juga bisa lanjut kerja atau harus resign" Kata Liana. " Kok resign sih? memangnya ada masalah apa?" Tanya Wulan terheran heran. " Iya.. suami udah komplain karena aku terlalu sibuk" Jawab Liana. " Ya kamu jelasin lah ke suami baik baik" Kata Wulan. Lianapun hanya mengiyakan apa yang diucapkan Wulan namun wajah Liana menampakkan rasa pesimis, Kemudia Wulan berlalu meninggalkan Liana begitu saja, Tampaknya Wulan tau bahwa Liana sedang ingin sendirian. Seperti biasa malam itu pukul 9 malam Liana sampai dirumah, dengan membawa segala lelah setelah bekerja dan berolah raga di gym. " Baru pulang Li..?" Tanya Rian yang sedang duduk di sofa ruang tengah. " Iya mas.. tadi ngegym dulu" Jawab Liana sambil menuju kamar dan bersiap-siap mandi. " Kamu sampai kapan begitu terus..???" Suara Rian meneriaki Liana yang sudah masuk ke dalam kamar. Liana hanya diam tidak menjawabnya sambil mulai masuk ke dalam kamar mandi. Rianpun menyusul ke dalam kamar, Rian melontarkan kata-kata protes dengan segala macam alasan kepada Liana, sedangkan Liana hanya diam mendengarkan sambil mengguyur tubuhnya dibawah shower. Liana mencoba menenangkan diri dari telinganya yang mulai memerah karena omelan Rian. sampai akhirnya Liana selesai mandi dan tubuhnya berbalut handuk keluar dari kamar mandi, sedangkan Rian dengan wajah cemberut duduk di ranjang. " Mas... Ayo kita bermesraan.. " kata-kata singkat Liana itu seolah menjawab semua omelan Rian yang panjang. " Bisa saja kamu merayu suami" Jawab Rian sambil langsung menarik Liana ke Ranjang, tampaknya Liana berhasil menggoda Rian malam itu sehingga mereka berdua akhirnya bersetubuh hingga hampir pagi. Di pagi harinya Rian tampak sudah lebih tenang dan tidak lagi mengomeli Liana, Liana memang sangat tau bagaimana cara meredam kemarahan Rian. Bahkan Liana di sela-sela persetubuhannya dengan Rian berhasil membuat Rian berjanji akan membiarkannya terus bekerja. Pagi itu setelah Liana menyiapkan sarapan untuk Rian, seperti biasa ia berangkat ke kantor, kali ini Liana memperbaiki sikapnya kepada Rian, Ia sering kali mengirim chat menanyakan apa yang sedang Rian lakukan, mungkin itu adalah salah satu bentuk cara Liana untuk menunjukkan bahwa ia tidaklah mengacuhkan keluarga. Siang itu ada panggilan telepon dari Thomas, walaupun sebenarnya Liana sedikit malas menanggapinya, namun sebagai seorang marketing ia tetap memegang teguh profesionalitasnya. Dan benar saja apa yang sudah ditebak oleh Liana, Thomas mengajak Liana bercinta siang itu, Namun Liana beralasan bahwa ia sedang datang bulan. Akhirnya Thomaspun memakluminya, tetapi Thomas meminta Liana memberi kabar apabila sudah selesai datang bulan, karena Thomas ingin bercinta dengan Liana sebelum ia kembali ke negaranya. dan Lianapun mengiyakan apa yang menjadi permintaan Thomas. Sore itu sepulang dari kantor, Liana menyempatkan diri untuk mampir ke Mall untuk berbelanja pakaian, Liana hendak membeli pakaian untuk suami dan anaknya. Tidak lupa ia membeli makanan kesukaan suami dan anaknya, Liana mencoba meeubah diri menjadi sosok ibu yang baik, walaupun ia menyadari bahwa prilakunya yang tetap saja menjadikan ia seorang yang buruk, terutama prilaku seksualnya. Tapi setidaknya dia sedang mencoba melakukan sebaik mungkin yang mampu ia lakukan. memberikan waktu yang cukup untuk keluarganya, dan memperhatikan semua kebutuhan keluarganya. Malam itu Liana menikmati malam bersama suami dan anaknya, suasana yang jarang sekali ia rasakan selama ini, bagaimanapun juga tujuan utamanya adalah keluarganya, Liana selalu berusaha menjaga keutuhannya walaupun sangat banyak kekurangan dan kesalahan yang ia lakukan. Pagi hari itu seperti biasanya Liana bersiap-siap berangkat ke kantor, setelah menyiapkan sarapan untuk suaminya, ia segera bergegas menuju kantor, dalam perjalanan ia mencoba menghubungi Thomas. " Hallo Sir i' m ready for you, So when you have a time? " Kata Liana menanyakan kepada Thomas mengenai waktu untuk ketemu. " Hmmm Nice, thats up to you pretty.." Jawab Thomas mengatakan bahwa semua terserah pada Liana saja. " Ok Sir i will Book the Hotel Room for Tonight" Kata Liana bahwa ia akan membooking hotel malam itu juga. Walaupun Liana tidak begitu tertarik dengan Thomas namun ia sadar bahwa Thomas sangat berpengaruh besar terhadap kelancaran pekerjaan Liana, maka Liana sudah mengambil keputusan untuk melayani apapun kemauan Thomas, Karena malam itu Liana akan bertemu Thomas setelah selesai membooking Hotel via telepon, maka Liana menyempatkan diri sejenak untuk merawat tubuhnya di Salon. Ia juga tidak ingin Thomas merasa kurang puas dengan pelayanannya. Tibalah pukul tujuh malam, dan Liana sudah bersiap-siap di dalam kamar hotel, ia sejenak merebahkan diri di ranjang sambil menunggu kedatangan Thomas, dan beberapa saat kemudianpun pintu kamarnya diketuk, Liana beranjak dari ranjang dan menuju pintu untuk membukanya, Tampak seorang pria bule paruh baya dengan kemeja warna biru, Thomas datang dengan membawa sebotol sampanye, Thomaspun masuk kemudian Liana menutup pintu kamar. Thomas kemudian duduk di sofa sambil membuka tutup botol sampanye yang dibawanya. " Give me a glass please" Thomas meminta Liana memgambilkan gelas untuknya. " Okay Sir.." Jawab Liana sambil mengambil sebuah gelas kosong. Thomas menuang sampanye dan meneguknya, sedangkan Liana hanya duduk diam di ranjang sambil memencet remote TV dan mengganti ganti salurannya. Setelah meneguk sampanye Thomaspun berdiri memghampiri Liana, dengan kasar Thomas mendorong Liana dan memeluk Liana dari belakang, sambil Thomas memciumi leher Liana, tangan thomas membuka satu per satu kancing kemeja Liana, maka tampaklah Bra hitam yang dipakai Liana, Thomas meremas remas d**a Liana yang masih terbungkus Bra, mata Lianapun terpejam menikmati cumbuan Thomas, Tidak lama kemudian Thomas menurunkan celana panjang Liana hingga ke paha, dan juga menurunkan celana dalam yang dipakai Liana, Thomas membimbing Liana dalam posisi menungging, dan Thomas membuka redleting celananya dan menggeluarkan batang besarnya, p****t Liana yang sudah terbuka seolah olah membuat Thomas tidak mau menunggu untuk segera menusuk dengan batang besarnya itu dan tak lama kemudian, Bless.. batang besar Thomas sudah memasuki l**************n Liana sampai Liana memekik terkejut. Thomas tampaknya sudah tidak sabar langsung memompa batangnya maju mundur. " Oh.. fuck.. its so good.." Kata Thomas sambil terus memompa. " Achk.. " Liana memekik sedikit kesakitan karena liang kenikmatannya belum begitu basah. Dan tak lama kemudian Thomas menutup mata Liana dengab dasinya. " Achk.. What are you doing sir? " Tanya Liana menanyakan apa yang sedang dilakukan Thomas, sambil terus mendesah. Thomas tidak menjawab pertanyaan Liana tetapi Liana membiarkannya karena Liana sudah siap dengan apapun yang akan diperbuat oleh Thomas, Thomas kemudian mencabut batang besarnya sejenak, dan Liana hanya terdiam dengan mata tertutup. " Are you finish? " Tanya Liana yang tidak dapat melihat apapun karena matanya tertutup, Tak lama kemudian Liana merasakan Liangnya mulai ada yang memasuki, namun Liana merasakan berbeda, Ia merasakan benda itu Lebih besar dari sebelumnya, Berlahan-lahan benda itu akhirnya masuk ke dalam Lubang kenikmatan Liana. Namun Liana sangat terkejut karena benda itu sangat besar tidak seperti sebelumnya, Karena merasa curiga Liana melepas ikatan dasi yang menutupi matanya dan mulai melihat ke belakang. Liana sangat terkejut matanya melotot melihat orang yang sedang memompa Liang kenikmatannya ternyata bukanlah Thomas, Liana melihat seorang Bule muda tinggi besar dengan badan yang sangat atletis sedang menyetubuhinya dari belakang. " Fuck.. who are you?..." Kata Liana sambil berusaha melepaskan diri, tetapi pria itu kembali menarik paha Liana sehingga Liana tidak dapat terlepas. Liana merasa kesal dan terus berusaha melepaskan diri namun tidak berhasil, sedangkan Thomas tampak sedang duduk di sofa melihat Liana yang sedang disetubuhi. Liana mulai kehabisan tenaga karena terus berusaha melepaskan diri, sampai akhirnya ia menyerah dan membiarkan pria itu menyetubuhinya. Semakin lama Liana semakin terbiasa, apalagi pria itu tampan dan bertubuh bagus, Liana mulai menyukai dan menikmatinya. Tak lama kemudian Thomas beranjak dari sofa dan naik ke ranjang, Thomas menyodorkan batang besarnya ke mulut Liana, dan Liana mengulumnya, itu adalah pengalaman pertama kalinya Liana digarap dua laki laki sekaligus. Walaupun hatinya terasa dilecehkan sehina-hinanya namun Liana merasa setidaknya ia sedikit mendapat kepuasan daripada hanya melayani Thomas yang tidak membuatnya memcapai Klimaks. Thomas meminta pria itu minggir sejenak karena Thomas ingin memasukkan batangnya ke dalam l**************n Liana. Tak lama setelah pria itu minggir maka Thomas menggenjot tubuh Liana, tampaknya Thomas sudah dalam keadaan birahi yang tinggi, dalam posisi doggy Thomas terus memompa lubang kenikmatan Liana hingga akhirnya Thomas mengeluarkan cairan kenikmatan dan menyemprotkannya di p****t Liana. " Achk.. Fuck.. " Kata Thomas saat mencapai o*****e. " Liana he is Roland, He is my business partner, I hope you give him best service, cause i should go now.." Kata Thomas mengenalkan pria itu adalah Roland yang notabene adalah rekan bisnis Thomas, dan Thomas meminta Liana melayani pria itu karena Thomas harus segera pergi meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian Thomas berpakaian dan segera meninggalkan kamar itu. sedangkan Liana masih terdiam di ranjang dan membalut tubuhnya dengan selimut. Roland tampak canggung karena melihat Liana hanya diam saja, maka Roland menuju ke sofa dan duduk sambil melihat televisi. mereka berdua tampak tidak berbincang dan saling diam satu sama lain. Mungkin Roland merasa Liana marah padanya karena ia telah memperlakukan Liana seperti w************n. Liana tampaknya mulai tidak betah dengan suasana itu, sampai akhirnya Liana membuka pembicaraan. " Why you did this? " Liana menanyakan kenapa Roland melakukan hal itu pada Liana. " I'm so sorry, Thomas asked me" Roland menjawab bahwa Thomas yang memintanya melakukan hal itu. Liana melihat batang besar Roland masih berdiri tegak karena memang Roland belum sempat o*****e, Lianapun merasa gairahnya kembali naik setelah melihat batang besar itu, kemudian Liana beranjak dari ranjang dan mendatangi Roland yang sedang duduk di sofa, Liana berlutut di hadapan Roland dan kemudian mulai menyentuh batang besar itu dan mengulumnya. " Achk..." Rolandpun mendesah karena perlakuan Liana. Kedua tangan Roland memegang kepala Liana dan mendorong serta menariknya maju mundur mengulum batang besar Roland. Tangan Lianapun menggenggam batang besar yang tidak muat masuk seluruhnya ke mulut Liana dan mengocoknya. Tampaknya Roland mulai tidak tahan lagi, Akhirnya Roland membimbing Liana mengambil posisi di sofa, dari belakang kedua tangan Roland meremas kuat p****t Liana dan ia mulai mengarahkan batang besarnya ke l**************n Liana. Wajah Liana tampak mengeluarkan ekspresi menahan sesuatu, mungkin karena Liang kenikmatannya sedang didobrak oleh sebuah benda besar milik Roland. " Achk.. It is so big.." Liana mendesah mengomentari batang besar milik Roland yang mencoba masuk ke l**************n Liana. " oh.. you like it babe ? " Kata Roland menanyakan apakah Liana menyukai. Tidak lama kemudian batang besar itupun masuk walaupun belum keseluruhan, Liana sedikit mengeluarkan ekspresi lega, sedangkan Roland mulai memompa pelan-pelan batang besarnya, hingga membuat l**************n Liana basah dan licin. " Ach.. yes.. do it.. achk.." Liana mengerang menahan nikmatnya batang besar milik Roland. semakin lama batang besar itu masuk semakin dalam hingga Liana tampak meronta ronta " Ach.. fuck.. it is so big" Kata Liana. Liana mulai meraih tangan Roland dan menepukkan ke pantatnya sebagai tanda agar Roland menepuk pantatnya dengan keras. Rolandpun mengikuti apa yang diinginkan Liana, Ia menepuk nepuk keras p****t Liana hingga merah berbekas. Akhirnya tak lama kemudian Liana berteriak keras karena ia mencapai klimaks. Dan disusul oleh Roland yang tampaknya juga hampir mencapai puncaknya, dan Akhirnya Roland mencabut batang besarnya itu dan menyemprotkan cairan kenikmatan ke punggung Liana. Roland tampak menjatuhkan diri berbaring di ranjang sedangkan Liana meraih tisu dan membersihkan punggungnya yang penuh dengan cairan kenikmatan Roland. Liana melihat wajah Roland yang tampan sambil tersenyum. " Why.. ?" Kata Roland melihat ekspresi Liana. " Nothing.. just wanna see your handsome face" Kata Liana bahwa ia hanya ingin melihat wajah gampan Roland. Liana tampak tidak tahan melihat itu dan menjatuhkan diri di d**a Roland, serta Liana mengarahkan bibirnya ke bibir Roland. merekapun berciuman mesra dalam keadaan telanjang bulat. Baru kali ini Liana bisa benar benar menikmati ciuman dengan partner hubungan tubuhnya. biasanya Liana hanya mengejar klimaks tanpa romatisme yang berlebihan. mungkin karena Roland adalah Bule yang paling tampan yang pernah tidur dengannya. Bahkan Liana meminta Roland untuk melakukan hubungan badan sekali lagi. Akhirnya malam itu Liana dan Roland berhubungan badan berkali-kali hingga waktu menunjukkan hampir pukul 4 pagi. Tubuh Liana yang letih setelah bergumul semalaman ia rendam di dalam bathup dengan air hangat. Liana memanjakan diri didalam rendaman. tak lama kemudian Rolandpun tidak mau menyia-nyiakan. Ia menyusul Liana memasukkan tubuhnya di dalam Bathup. Liana duduk di pangkuan Roland dan menyandarkan kepalanya di d**a Roland hingga sempat Liana tertidur. Tak lama kemudian mereka berdua selesai mandi. Liana menawarkan Roland untuk memesan makanan. Namun Roland menolaknya karena tampaknya Roland harus segera pergi. Lianapun tidak mampu memaksanya. Roland tampak sudah berpakaian Rapi. Tapi yang mengejutkan bagi Liana Roland memberikan secarik kertas kepada Liana. dan itu ternyata selembar cek yang bertuliskan angka yang lumayan besar bagi Liana. Liana awalnya menolaknya karena Liana merasa bahwa ia bukanlah seorang p*****r. Tapi Roland meyakinkan Liana bahwa uang itu hanya sebuah bentuk pembuka hubungan. Roland bermaksud untuk terus berhubungan dengan Liana setelah waktu itu. Lianapun hanya terdiam hingga Roland mendekatkan wajahnya ke wajah Liana dan menvium lembut bibir Liana. Lianapun tidak mampu berkata apa apa bahkan entah mengapa Liana merasa hatinya berbunga-bunga karena perlakuan Romantis Roland. Masih tetap terdiam Liana hanya mampu memandang Roland yang beranjak menuju pintu kamar dan segera meninggalkan tempat itu. Hubungan Roland dan Liana tidak selesai disitu. Liana mulai sering berbincang dengan Roland lewat chat, dari sekedar menanyakan kabar hingga bercanda gurau. Sesekali di jam makan siang Liana sering mengajak Roland bertemu hanya sekedar Check in di Hotel dan bercinta beberapa jam. tampaknya Liana mulai merasakan kecanduan dengan kehebatan Roland diatas Ranjang, bahkan Liana sejak saat itu sering menolak Miguel yang sebelumnya rutin bercinta dengannya. Kegilaan Liana terhadap Roland menjadikan Liana mulai tidak terkontrol dan bertindak tanpa pikir panjang. Bahkan apapun yang diinginkan Roland Liana dengan kerasnya berusaha memenuhinya hanya sekedar membuat hati pria bule itu senang. tak jarang Liana membelanjakan kebutuhan pria bule itu dan menanggung pengeluaran setiap kali mereka berdua bertemu. Semua itu tidak menjadi masalah bagi Liana selama Roland selalu dekat dengannya. Sore itu Liana sedang memacu mobilnya menuju sebuah Hotel dimana Roland sedang menginap, Liana sudah menyiapkan semua kebutuhan belanja Roland selama menginap, Mobil Liana di parkir di Basement dan Liana melangkahkan kaki menuju lobby Hotel dimana Roland telah menunggu di sofa. " Hi Honey.. " Sapa Liana pada Roland yang tampak sedang sibuk dengan ponselnya. " Hi.. I' m waiting for you" Jawab Roland sambil menaruh ponselnya di meja. " Ayo kita keatas.." Kata Liana seolah-olah Liana sudah tidak sabar menuju kamar dan ingin segera bercinta dengan Roland, Liana memang memiliki Libido yang tinggi apabila sudah mendekati masa menstruasinya. Akhirnya mereka berdua berjalan menuju kamar. "Cepat masuk sayang..” uсар Liana sambil menarik tangan Roland agar masuk ke dalam kamar. Di ѕеlа-ѕеlа реmbiсаrааn dan canda mereka mеreka, Liana mеrаѕа bersemangat ѕеkаli, gairahnya sudah tidak terbendung seolah olah ingin segera melampiadkannya dengan Roland, Sаmbil tеrѕеnуum-ѕеnуum, Roland mеnаtар Liana dengan tаjаm ѕаmbil mеnarik kain hijab yang membungkus kepala Liana. “Aduh.. sabar sayang..sakit…? ucap Liana kesakitan karena jarum di kain hijabnya mengenai kepalanya. Kemudian Liana melepaskan hijabnya sendiri sedangkan Roland membuka kancing kemeja Liana dan menciumi daerah bahu Liana. " Esshhh.. ah.." desah Liana penuh gairah. Tampaknya Liana sudah tidak sabar dan langsung berjongkok di depan Roland yang masih berdiri, Liana membuka resleting celana Roland yang sudah tampak mengembung karena terdorong benda di dalamnya. Dikeluarkanlah Batang besar milik Roland dari dalam celana, Liana langsung mengulumnya dengan lahap, jemarinya menggenggam sisa batang panjang Roland yang tak muat masuk seluruhnya di mulut Liana. Tарi ѕауаngnуа, kulumаn itu hаnуа ѕеbеntаr ѕаjа, ѕеbаb Roland tidak sabar ingin segera mеrаѕаkаn lubаng intim Liana, Tubuh Roland уаng ѕudаh bеrkеringаt mеngayuh tubuh Liana ѕаmbil mеngаrаhkаn bаtаng besarnya tераt di dераn рintu Lianag kenikmatan Liana. Di оlеѕ-оlеѕ dаn di gеѕеk-gеѕеknуа ujung kераlа batangnуа di bаgiаn bibir Lianag kenikmatan itu уаng mеmbuаt Liana mendesah. Bеgitu batang besar itu di dоrоng mаѕuk kе dаlаm. “Blеееѕѕ…” Liana mаbuk kерауаng, ѕеbаb batang itu tеrlаlu bеѕаr mеrоbеk lubаng kenikmatan Liana уаng ѕеmрit. Akаn tеtарi Roland tеtар bеruѕаhа mеndоrоng реlаn-реlаn hinggа batangnya menyentuh sisi terdalam dinding l**************n Liana. "Its so tight” kоmеntаr Roland tеntаng l**************n Liana. "hmmm.. you will addicted and always remember", Jawab Liana sambil matanya terpejam menikmati. Sеtеlаh itu Roland mеmоmра l**************n Liana, ѕаmраi bеnаr-bеnаr lubаng kenikmatan itu basah kuyup dan tеrbiаѕа dengan tuѕukаn batang Roland уаng tеrlаlu bеѕаr. Di tеkаn… Di саbut lаgi…Di dоrоngnуа lаgi… Di kеluаrkаnnуа lаgi… Bеgitu tеruѕ ѕаmраi Liana mеndеѕаh-dеѕаh mеnikmаti реrmаinаn Roland pria уаng tаmраn itu. Mungkin, еntаh kаrеnа ukurаn batang Roland уаng tеrlаlu bеѕаr, mаkа Liana mеrаѕаkаn ukurаn lubаngnya tersobek. Ouuhh… Ahhhh… Sѕѕѕhhh…” ѕuаrа dеѕаhаn Liana “Aduuh… реlаn-реlаn, sakit sayang…”, uсараn Liana mеngеluh mеrаѕаkаn Batang Roland уаng tеrlаlu bеѕаr. " You like it babe..? " Tanya Roland sambil mulai menambah kecepatan memompa barangnya di Lubang kenikmatan Liana. " Ah.. yes.. yours.. is best.. ah..fuck.. so big" Ucap dan desah Liana. Roland menekan semakin dalam batangnya hingga Liana merasa batang itu hampir mengisi hingga perutnya. Sesekali Roland mencium bibir Liana dan meremas d**a Liana. Hingga Liana serasa seperti di surga menikmati kenikmatan yang luar biasa baginya. Sampai akhirnya mereka berdua mencapai klimaks, dan malam itu mereka melakukan pergumulan hingga berkali-kali karena Liana tidak mau memyia-nyiakan uang yang sudah Liana keluarkan untuk Roland, Liana merasa apa kepuasan yang ia dapatkan haruslah sepadan dengan biaya yang ia keluarkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD