Liana semakin hari semakin merasa dekat dengan Roland, Liana sudah mengabaikan semua teman kencannya yang sebelumnya, Maka saat itu hanya Roland yang menjadi pelampiasan Liana apabila ingin meraih kehangatan. Hal itu menyebabkan karier Liana sedikit terganggu, Fokus dalam pekerjaannya berkurang tetapi Liana tampaknya benar-benar sudah mempersiapkan semuanya. Sambil Liana tetap bekerja uang yang ia kumpulkan dari hasilnya bekerja ia gunakan untuk membangun sebuah perusahaan kecil-kecilan. Liana memilih bidang fashion karena kegemarannya sebagai wanita akan pakaian. Hingga akhirnya lahirlah sebuah brand yang menggunakan namanya. Semakin terpuruknya karier Liana di kantor dibarengi dengan semakin majunya usaha yang ia rintis. Bahkan penghasilan Liana dari usaha yang ia rintis sudah melebihi gaji dan bonus yang ia dapatkan dari kantor tempat ia bekerja. Karena prestasinya di kantor menurun drastis maka Liana terpaksa di pindahkan jabatan, ia tidak lagi menjabat sebagai marketing namun ia dipindahkan menjadi admin biasa. secara jabatan bisa dikatakan Liana turun drastis, hal ini membuat Liana merasa malu dan gagal, Liana mulai tidak nyaman dengan jabatan barunya, Mungkin perusahaan melakukan hal ini dengan sengaja agar Liana akhirnya mengundurkan diri. Dan benar saja setelah satu bulan Liana menjalani jabatan barunya ia akhirnya memutuskan untuk resign dan fokus mengurus usahanya.
Beberapa bulan Liana bekerja keras membesarkan usahanya akhirnya usahanya itu berbuah manis. Liana berhasil menembus pasar nasional dengan merek dagang pakaiannya. Omset yang ia dapatkan berlimpah ruah sampai Liana akhirnya dapat membangun gedung kantornya sendiri yang sebelumnya ia hanya menyewa.
Tidak lama setelah itu nama Liana telah dikenal sebagai pengusaha sukses. Dengan materi yang berlimpah Liana dapat mewujudkan semua cita citanya, Ia mencapai kesuksesan finansial, Hubungan Liana dengan Roland masih terus berjalan. Sebagai seorang yang memiliki kekuatan finansial, Liana mencoba menolong Roland agar dapat lebih maju dalam berbisnis, Liana melakukan investasi kepada perusahaan milik Roland, tentu saja Liana tidak berharap cuma-cuma hal ini Liana lakukan agar dapat mengikat Roland, Liana menginginkan untuk memguasai Roland sebagai alat untuk melepaskan nafsu birahinya.
Seringkali Liana ijin kepada Rian untuk berangkat berbisnis di Luar Negeri hal itu dimanfaatkan Liana untuk berduaan saja dengan Roland dan memuaskan dirinya yang telah kecanduan bercinta dengan Roland.
Pagi itu Liana berangkat ke Bandara, Ia akan terbang menuju Thailand dengan alasan ia akan memgembangkan bisnis disana. Namun sebenarnya Ia telah membuat janji dengan Roland yang sudah lebih dulu berada di Thailand.
Setelah beberapa jam di pesawat, Akhirnya Liana merasakan aroma udara Bangkok Thailand. Sebuah pemandangan yang berbeda dari biasanya membuatnya sedikit merasa rilex dan gembira. Kakinya melangkah menuju gerbang kedatangan dengan menyeret kopernya yang terisi penuh dengan bekal pakaiannya. Seorang laki laki bule tampan tampak berdiri di sekitar kerumunan penjemput. Ia Roland lelaki yang menjadi tujuan Liana berada di Bangkok. Begitu bertemu dengan Roland, Liana langsung memeluk dan berciuman bibir dengan hangat, sesuatu yang tidak dapat dilakukan di Indonesia di muka umum, Tangan Roland merengkuh punggung Liana dan membawa Liana segera pergi dari tempat itu.
Sebuah taksi membawa mereka keluar dari bandara menuju sebuah hotel yang telah mereka berdua pesan. sepanjang perjalanan Liana dan Roland berkali-kali mendaratkan ciuman bibir seolah-olah mereka sedang terlepas bebas tanpa ada yang mengganggu. kesempatan seperti itu yang selalu menjadi keinginan Liana, dimana Liana dapat merasakan kebebasan menikmati semua yang ia ingin lakukan.
Rencananya hari itu Liana ingin melihat lihat perusahaan yang dibangun Roland dimana Liana ikut menanamkan modalnya, dan Liana telah cukup besar mengucurkan dana guna berinvestasi di perusahaan itu.
" Sayang kapan kita kunjungi perusahaannya? " Tanya Liana.
" Not today baby.. i knew you still tired" Roland menjawab bahwa tidak hari itu juga karena Roland menganggap Liana masih lelah setelah perjalanan.
" Hmmm.. okay.. lalu apa yang kita lakukan hari ini" Tanya Liana.
" Hmm.. better we making love whole the day.. hahaha" Roland menjawab bahwa lebih baik mereka bercinta seharian.
Liana tersipu malu sambil mencubit pipi Roland.
Tak lama kemudian mereka berdua sampai di sebuah hotel bintang 5 di kawasan tengah kota Bangkok.
Langkah kaki mereka berdua seolah serentak menuju ke kamar yang telah mereka pesan. Lantai demi lantai tampak terlewati saat mereka berada di dalam lift, sampai akhirnya sampailah mereka di lantai 6, Liana dan Roland keluar dari Lift menuju kamar, tangan mereka saling bersilang merangkul pinggul satu sama lain. Mereka merasa seperti baru turun ke dunia tanpa memgenal siapapun, tanpa ada yang mengganggu, dan merasa bebas seperti burung.
Akhirnya sampailah mereka berdua di dalam kamar, dan tampaknya mereka berdua sedikit lelah, Liana segera membersihkan diri dengan kucuran air shower yang ada di kamar mandi, sedangkan Roland tampaknya sedang sibuk membuat kopi.
Setelah beberapa menit Liana tampak keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono yang disediakan oleh hotel. Rambutnya yang masih basah karena shampo ia balut dengan handuk diatas kepala. Liana duduk menuju sofa sedangkan Roland tampak masuk ke kamar mandi untuk mandi, Liana mengambil kertas menu makanan yang ada di meja, perutnya terasa lapar dan butuh sesuatu untuk dimakan. Namun Liana sedikit ragu dengan makanan yang ada di hotel itu, karena Liana seorang muslim yang punya aturan sendiri untuk menyantap sesuatu. sedangkan ia paham bahwa Thailand bukan sebuah negara yang menjamin kelayakan makanan bagi muslim. Hal itu sedikit membuat Liana tidak nyaman dan akhirnya memutuskan memesan makanan yang aman yaitu Roti. Diambilnya gagang telepon di meja dan ia segera menghubungi restaurant hotel untuk memesan makanan dan minuman.
Sambil menunggu makanan datang Liana menelpon ke Rumah untuk menanyakan kabar Noah buah hatinya, Liana tampak lega karena Noah baik-baik saja bersama neneknya. Liana kembali melakukan aktivitasnya sebagai pebisnis ia menghubungi karyawannya untuk mengetahui keadaan kantornya, saking sibuknya, Liana tidak menyadari bahwa Roland sudah selesai mandi dan tampak berbaring di ranjang, mata Roland terpejam tampaknya Roland juga kelelahan. Liana sejenak mengalihkan pandangannya ke Roland, Ia mengamati pria tampan itu, Pria itu membuat Liana merasa ketagihan atas kehangatan dan keperkasaannya diatas ranjang.
Hari mulai sore Liana membangunkan Roland yang terlelap.
" Sayang.. ayo bangun.. kita jalan keluar yuk" Kata Liana sambil membelai rambut Roland.
Roland sedikit demi sedikit membuka matanya dan melemparkan senyum kepada Liana hang wajahnya sangat dekat, lalu Roland menarik Liana ke dadanya dan mencium bibir Liana dengan lembut.
" Where we will go? " Kata Roland menyakan kemana Liana ingin pergi.
" Berenang yuk " Kata Liana
" Hmm.. good idea.. " Jawab Roland.
Akhirnya mereka berdua bersiap-siap turun menuju kolam renang hotel.
Setelah keluar dari Lift akhirnya sampailah mereka berdua di Kolam Renang Hotel, Liana menuju ruangan ganti begitu juga dengan Roland, walaupun Liana tidak begitu mahir berenang namun ia ingin merasakan sensasi berenang bersama Roland, beberapa menit kemudian Liana keluar dari ruang ganti, sedangkan Roland sudah berebahan di kursi santai, Liana tampak berbeda dari biasanya, Liana memberanikan diri mengenakan bikini, karena ia berfikir di Thailand tidak akan ada orang yang mengenalinya, Liana berjalan dengan percaya diri membalut tubuh montoknya dengan bikini, pantatnya yang padat membuat beberapa pria yang berada di sekitar kolam renang tampak menatapnya dengan penuh nafsu, Liana hanya tersenyum dan berkata dalam hati bahwa ternyata ia cukup menggoda di mata para pria.
Sampailah Liana di hadapan Roland.
" Ayo.. kita masuk ke air" Ajak Liana sambil menarik tangan Roland dari kursi santai.
Rolandpun mengikuti kemauan Liana, mereka berdua masuk ke dalam air, Segarnya air kolam membasahi tubuh mereka, Roland beberapa kali mengambil Lintasan panjang berenang, sedangkan Liana hanya berendam di sisi kolam karena ia memang tidak semahir Roland dalam berenang.
Hingga akhirnya langit mulai gelap, matahari mulai terbenam, Liana dan Roland memutuskan untuk menyudahi acara berenang itu untuk segera kembali ke kamar.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, sampai di kamar, Liana langsung menyergap Roland dan mendorongnya ke Ranjang, satu demi satu pakaian Roland dilucuti oleh Liana, dan Roland tampak menikmati perlakuan Liana, Liana mencium dari bibir Roland hingga turun ke leher, d**a, perut, sampai akhirnya sampailah bibir Liana di bagian batang besar Roland yang tampak semakin mengeras.
" Hmm.. aku suka sekali batang ini" Ucap Liana sambil tangannya menggenggam batang besar itu dan mengocoknya.
" ssshh.. its nice baby.." Ucap Roland mendesah menikmati perlakuan Liana.
Batang besar itupun Liana masukkan ke mulut dan Liana mengulumnya walaupun tidak muat di mulut Liana.
"Orrgghh.. it much better than all i ever had" Liana mengatakan bahwa batang besar Roland adalah yang lebih baik dari semua yang Liana pernah rasakan.
Dan Liana semakin bersemangat mengulum batang besar itu hingga air liurnya menetes di s**********n Roland.
Roland tampak kuwalahan dan tidak dapat menahan kenikmatan, kedua tangannya memegang kepala Liana dan menekan nekan kepala Liana agar mulut Liana mengulum lebih dalam lagi. Sesekali Liana merasakan batang besar itu menyentuh tenggorokannya hingga Liana terbatuk batuk.
Hingga akhirnya Roland sudah tidak tahan lagi dan meminta Liana menaikinya, Liana segera melepaskan celana dalamnya dan segera mencoba memasukkan batang besar itu di liang kenikmatannya, memang awalnya agak sulit karena batang itu terlalu besar untuk liang kenikmatannya yang sempit.
Sedikit demi sedikit ujung batang besar itu menelusup masuk ke dalam l**************n Liana. Dan Akhirnya masuk sudah batang besar itu.
" Blesss.."
" Achk.. fuck.." Rintih Liana merasakan batang besar itu masuk ke dalam liang kenikmatannya.
Walaupun belum seluruhnya masuk, namun batang besar itu sudah sesak memenuhi l**************n Liana yang sempit.
Liana mulai menggoyangkan pinggulnya sambil kedua tangannya bertumpu di d**a Roland.
" Achk.. sayang.. ini nikmat sekali" Desah Liana dengan mengangkat kepalanya dan mulutnya mendesis menahan nikmat.
Sesekali sambil terus menggoyangkan pinggulnya, Liana sesekali mencium dan menggigit lembut bibir Roland dengan mesra.
Rolandpun tampak tidak mau berdiam diri saja, tangannya meremas remas buah d**a Liana yang masih terbungkus oleh Bra, Roland berusaha melepas pengait Bra yang berada di punggung Liana agar dapat dengan leluasa melihat buah d**a Liana menggantung di hadapannya.
Ketika mereka berdua sedang merenguh kenikmatan tiba-tiba ponsel Liana berdering, Liana hanya melirik ke arah Ponselnya yang terletak di meja sebelah ranjang, tampaknya Liana tidak mau diganggu dan sedang asyik menikmati pergumulannya dengan Roland.
Roland masih asyik menjilati buah d**a liana dan meremasnya dengan tangannya yang kekar, sedangkan Liana mulai menggoyang pinggulnya dengan lebih cepat hingga akhirnya Liana mencapai klimaks.
"Achk.. sayang.. aku keluar..oh.." desah Liana sambil menutup matanya menikmati puncak kenikmatan itu.
Liana menaruh tubuhnya di d**a Roland untuk sejenak meresapi kenikmatan. Namun Roland sudah tidak sabar lagi, akhirnya Roland mengangkat tubuh Liana dan membaringkannya. Roland segera menindih tubuh Liana dan memasukkan batang besarnya ke l**************n Liana.
Roland langsung memompa lubang kenikmatan Liana dengan irama yang teratur. dan Liana tampak mulai merasakan kenikmatan lagi setelah klimaks pertamanya.
" Achk.. harder..harder.." Rintih Liana meminta agar Roland memompa lebih keras lagi.
Ponsel Liana terus berdering di meja, akhirnya Liana meraih ponselnya itu. paras wajah Liana tampak sedikit takut, ternyata Rian suaminya yang menelpon sejak tadi.
" Berhenti sebentar sayang.." kata Liana meminta Roland untuk menghentikan permainan sejenak. Namun Roland tidak mengabaikan permintaan Liana malah semakin keras Roland memompa lubang kenikmatan Liana sehingga Liana meronta-ronta.
" Ach.. ach... sayang berhenti sebentar.. aku mau angkat telepon..ack.." kata Liana memohon pada Roland sambil tangan kanannya menahan d**a Roland karena tangan kirinya memegang ponsel.
Namun yang dilakukan Liana percuma karena tangannya tidak mampu menahan gerakan Roland. Akhirnya Liana meminta Roland agar tidak berisik karena mau tidak mau Liana akhirnya mengangkat telepon dari Rian.
" Iya mas.." Kata Liana dalam penggilan telepon.
" Li kamu dimana?" Tanya Rian.
" Ya di Thailand lah mas.. kan aku sudah bilang" Jawab Liana.
" Iya tau di Thailand maksudnya sedang apa?" Tanya Rian.
" Ugh.. se.eedaangg.. ugh..mandi mandi mas.." Jawab Liana dengan sedikit terpatah patah karena Roland terus menghujamkan batang besarnya ke l**************n Liana.
" Kamu kenapa merintih rintih begitu? " Tanya Rian penasaran.
" Oh.. achk.. ini.. masss. ssshh.. aku lagi.. pijat kakiku agak sedikit pegel.. achk.." Jawab Liana dengan sedikit takut karena kawatir Rian mengetahui apa yang sedang dilakukan Liana.
" Ya sudah kalau begitu, kalau sudah selesai urusannya segera pulang ya" Kata Rian pada Liana.
" Iya mass...sshhh.." Jawab Liana sambil mendesah.
Setelah menutup telepon Liana melemparkan ponselnya di bantal, dan kembali menikmati permainannya dengan Roland. Roland semakin cepat memompa l**************n Liana sehingga Liana kembali mendapatkan klimaks berkali-kali.
Tampaknya Liana tidak ingin berhenti merasaka n kenikmatan yang diberikan oleh Roland secara bertubi-tubi. hingga akhirnya tubuh Liana berdenyut denyut merasakan puncak kenikmatannya. Roland mencabut batang besarnya dan membimbing Liana dalam posisi menungging, Liana mengikuti saja apa yang dilakukan oleh Roland. Kembali lagi Roland menusukkan batang besarnya ke l**************n Liana yang basah kuyup dan licin. tangan kanan Roland meremas p****t Liana yang padat, dan tangan kirinya meraih buah d**a Liana yang menggantung, serta bibir Roland menciumi punggung Liana sembari terus memompa l**************n Liana secara teratur dan berirama.
" Ackh.. sayang.. aku suka sekali posisi ini.. ackh.. suamiku tidak mampu melakukan posisi ini dengan baik karena batangnya terlalu pendek untuk pantatku yang tebal achh.. aho sayang lakukan terus.. oh.. yesss ah.." kata Liana sembari mulutnya mendesah dan meracau.
" You like it? huh..? " Kata Roland sambil sesekali menepuk p****t Liana dengan keras hingga memerah.
" Yes.. baby... i loved it ahh...harderrr.." Jawab Liana.
Tiba-tiba Roland beehenti memompa dan hanya diam dengan batang besarnya yang masih berada di dalam l**************n Liana.
Lianapun terkejut dengan tindakan Roland.
" Baby why you stop it?" Liana bertanya kenapa Roland menghentikan permainan.
" I just felt not right baby.." Jawab Roland.
" What happened? " Tanya Liana dengan penasaran.
" I needed more money for my investment" Roland mengatakan bahwa dia membutuhkan lebih banyak uang untuk investasi.
Tampaknya Roland sangat cerdik memanfaatkan situasi Liana yang sedang dirundung kecanduan bercinta.
" Berapa sayang?? ... jangan berhenti ayo terus pompa lagi.. sayang kumohon.. aku sudah tidak tahan.. masalah uang jangan kawatir aku akan memberikannya" Jawab Liana memohon Roland untuk kembali memompa Liang kenikmatannya.
" I needed 100.000.000 rupiah honey.." Jawab Roland.
" Oh hanya segitu.. sudah puaskan saja aku sayang, aku akan kasih cek nanti.. please make me fun.." Jawab Liana meyakinkan Roland.
Akhirnya Roland tersenyum dan kembali memompa batang besarnya menghujam l**************n Liana. semakin lama semakin cepat hingga tubuh Liana tampak tersentak sentak, dan mulut Liana mendesah desah karena mendapatkan klimaks berkali-kali. Sampai akhirnya Roland hampir memdapatkan puncaknya, Roland dengan cepat mencabut batang besarnya dan menarik rambut Liana serta mendekatkan batang besarnya ke mulut Liana.
" Eat my cum.. baby.." Kata Roland sambil mengarahkan batang besarnya ke mulut Liana.
Liana membuka mulutnya dan akhirnya cairan kenikmatan Roland menyemprot ke dalam mulut Liana, sebagian juga membasahi wajah Liana hingga sampai ke kening. Kemudian Liana membersihkan batang besar Roland itu dengan mulutnya.
" Aku sebenarnya jarang melakukan ini pada suamiku.. karena air miliknya sedikit bau, tetapi entah mengapa aku menyukai milikmu.." Kata Liana pada Roland.
Liana berfikir mungkin ini adalah kenikmatan sebuah dosa, ia berfikir mungkin itulah sebab mengapa orang menyukai melakukan dosa, karena nikmatnya melebihi hal yang biasanya.
Liana akhirnya terbaring di ranjang, tangannya meraih tisue yang sudah ia siapkan, diberaihkannya wajahnya yang penuh dengan cairan kenikmatan milik Roland. Sedangkan Roland tampak menuju sofa untuk duduk dan meneguk botol air mineral.
Beberapa menit kemudian mereka telah usai beristirahat sejenak, Roland dan Liana menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh bersama. Liana menyalakan air di bathup dan mengisinya dengan air hangat. Tangan Liana menarik jemari Roland dan meminta Roland untuk masuk ke bathup. Lianapun akhirnya ikut masuk ke bathup dan bersandar di d**a Roland, keduanya menikmati rendaman air hangat sambil memadu kemesraan. Sesekali Liana mencumbu Roland, Liana mencium bibir Roland dengan ciuman hangat, Lidah mereka berdua beradu satu sama lain. Hal yang sangat jarang sekali Liana dapatkan dari pasangan sah nya. Romantisme, Ciuman panas, dan hal hal lain yang Liana rasa tidak pernah ia dapatkan selain dari Roland. Walaupun sebagai seorang wanita Liana secara tidak sadar dimanfaatkan tubuh dan materinya oleh Roland, tapi harga mahal itu tidak menjadi masalah bagi Liana untuk menikmati masa mudanya yang akan terbatas oleh waktu. Liana merasa tidak akan memdapatkan kenikmatan bersetubuh lagi kelak saat usianya menginjak masa menopause, maka ia menghabiskan masa masanya untuk menikmati tubuh mudanya. tanpa berfikir benar dan salah, Liana seolah olah sudah ditutupi nafsu membara dan tak mampu lagi mengendalikannya.
Uang Milyaran rupiah telah Liana keluarkan untuk memenuhi keinginan Roland untuk memgembangkan bisnis. Liana berfikir semuanya tidak akan sia-sia selain Liana dapat menikmati tubuh Roland, Liana juga beranggapan bahwa investasinya kelak akan mendatangkan hasil yang dapat membantunya membangun perekonomian.
Hati Liana tampaknya sudah cenderung kepada Roland, bahkan seringkali Liana merasa cemburu dan posesif saat Roland berbicara pada wanita lain, walaupun itu adalah urusan pekerjaan. Tapi entah mengapa Liana merasa hatinya tidak mampu berbagi, Ia ingin menguasai Roland untuk dirinya sendiri.
Sebuah pola pikir yang bodoh itu tak membuat Liana berubah pikiran. Ia merasa uangnya dapat membeli segalanya dan menyelesaikan segalanya. Gaya hidupnya berubah dengan drastis setelah ia berhasil mencapai prestasi sebagai salah satu wanita sukses. Kehidupan mewah bergelimangan harta malah membuat Liana semakin kehausan, Ia senantiasa ingin membeli semua kenikmatan. Ia ingin melakukan semua yang ia sukai,
Ia membeli kendaraan terbaik, gedung kantor yang mewah, perabotan yang mahal, hingga ia juga menuruti hawa nafsu dan birahinya yang melampaui batas. semua ia lakukan dan seolah tidak ada penghalang karena kekayaannya.
Hari-hari di Thailand Liana habiskan untuk menuruti hawa nafsunya. setiap hari yang ia lakukan hanya berbelanja di siang hari dan bercinta dengan Roland di malam hari. Kadang-kadang Liana sampai lupa menelpon anak atau suaminya sampai sampai Rian sempat marah-marah di telepon. Namun seperti biasa Liana selalu dapat meredakan kemarahan Rian.
Sudah banyak sekali uang yang Liana keluarkan selama berada di Thailand, namun ia juga tidak merasa berat sedikitpun karena bisnisnya di Jakarta berjalan mulus walaupun ia tidak berada di tempat. Keberuntungan memang sedang berpihak kepada Liana. Uangnya terus mengalir seperti sungai yang tidak henti hentinya.
Dan Roland juga tidak diam saja tanpa mengambil keuntungan dari Liana. Wajah tampan dan tubuhnya yang menawan, Ia gunakan untuk mengambil keuntungan sebesar besarnya dari materi yang dimiliki Liana.
Ada satu hal yang membuat Liana sempat berfikir dua kali dari apa yang selalu disarankan oleh Roland kepada Liana. Roland mencoba mengajak Liana untuk membuka bisnis yang sama dengan tempat dimana ia bekerja dulu. Liana merasa ragu karena Liana mau tidak mau akan membuka persaiangan dengan Miguel mantan bosnya. Selain Liana memiliki dosa di masa lalu bersama Miguel, Liana juga merasa tidak yakin dapat bersaing dengan Miguel guru bisnisnya itu. Liana paham sekali bahwa Miguel adalah orang yang sangat cerdas cekatan dan ahli dalam mengambil peluang. Keberuntungan Liana dalam berbisnis ia rasa belum memadai dibandingkan dengan pengalaman Miguel dalam mengelola perusahaan. Namun entah mengapa Roland terus-terusan membujuk Liana, Liana awalnya tidak begitu mengambil pusing apa yang menjadi saran dari Roland. Namun seperti biasa Roland memanfaatkan situasi kecanduan Liana. Roland meminta Liana berjanji saat mereka sedang bercinta diatas ranjang. Dan Liana tidak pernah bisa menolaknya karena tidak ingin Roland menghentikan permainan di ranjang. Maka tibalah masa baru Liana, Liana dan Roland akhirnya membuat rencana kerja untuk membuka perusahaan baru itu. walaupun sebenarnya Liana tidak 100 persen yakin usahanya itu akan berhasil. Namun karena kegilaannya terhadap Roland, Liana seolah-olah tidak peduli apa yang akan terjadi. Modal besar-besaran ia gelontorkan untuk membiayai bisnis baru itu. Dan Liana mempercayakan kepemimpinan perusahaan kepada Roland walaupun Liana hanya memberikan saham sebanyak 10% kepada Roland.
Malam itu adalah hari terakhir Liana dan Riland berada di Thailand. Liana mengajak Roland untuk makan malam di restaurant Hotel tempat mereka berdua menginap. Tampaknya Liana sedang ingin menikmati hari terakhir kebebasannya melakukan apapun bersama Roland. Mereka berdua tampak menikmati malam itu, Walaupun makan malam itu di d******i oleh perbincangan seputaran bisnis, namun itu tidaklah membuyarkan suasana dan romantisme mereka berdua. jemari mereka saling bertindih dan bergenggaman di atas meja, gelas anggur yang seolah menjadi penghias meja mereka, sampai ciuman-ciuman yang mereka lakukan di meja restaurant itu hampirlah lengkap semua unsur romantisme telah mereka lakukan kecuali hanya satu perkara saja yaitu hubungan yang sah. Tapi mereka berdua tampaknya tidak mempedulikan hal tersebut. mereka seolah-olah membiarkan semuanya mengalir begitu saja.
Makan malam telah berakhir, mereka berdua mulai meninggalkan meja, beriringan mereka berjalan melewati sudut-sudut hotel menuju ke kamar mereka, setiap momentum seolah menjadi sesuatu yang tidak ingin mereka lewatkan. Bahkan dalam hati Liana berkata, Andai saja ia bisa menghentikan waktu, maka ia ingin lebih lama lagi untuk menikmati waktu waktu kebersamaan mereka berdua.
Sampailah mereka berdua di kamar, Malam itu sudah pasti mereka akan menghabiskannya dengan kemesraan, percintaan, serta pelampiasan birahi. Karena Malam itu adalah malam terakhir mereka berada di Thailand, Esok hari mereka harus bertemu kembali dengan aktifitas-aktifitas rutin yang dilakukan sehari-sehari, cukup membosankan memang, namun itulah hidup mereka. Dan tanpa melakukan hal itu, Liana tidaklah dapat membeli kenikmatan dan kepuasan yang ia rasakan itu.
Liana tampaknya harus memulai malam itu, Liana mendekat kepada Roland yang sedang melepas kemeja, Liana mendekap Roland, menaruh wajahnya bersandar di d**a Roland.
" Sayang.. aku akan merindukan saat saat ini" Kata Liana dengan lirih
" Hmmm.. i knew.." Jawab Roland dengan singkat kemudian kedua tangannya memegang wajah Liana, san Roland mendekatkan bibirnya ke arah bibir Liana, Lianapun hanya diam dan memejamkan mata, sampai akhirnya Liana merasakan bibir Roland telah beeadu dengan bibirnya, lidah Roland telah memembus bibirnya, Liana mulai membalas ciuman itu dengan panas, kedua mulut itu seolah tidak mau terlepas dalam waktu yang cukup lama, sambil dalam keadaan berciuman, Roland mulai mencoba membuka gaun yang digunakan Liana. Gaun itu akhirnya terjatuh dan melingkari pinggang Liana, tidak cukup dengan itu Roland mulai meraih pengait bra di punggung Liana, seolah Roland tidak ingin sehelai benangpun menutupi buah d**a Liana. Tangan Roland akhirnya berhasil melepas bra yang digunakan oleh Liana. Roland melemparkan bra itu ke arah ranjang yang masih rapi karena telah dibersihkan oleh room service.
Lianapun tidak mau kalah, Liana mulai berjongkok hingga wajahnya menghadap tepat berada di depan resleting celana yang dipakai Roland. Liana mulai membuka ikat pinggang yang digunakan oleh Roland, dan kemudian Liana membuka pengait celana Roland, sampai akhirnya Liana membuka resleting celana Roland. Wajah Liana tersenyum melihat sesuatu yang menonjol di balik celana dalam yang digunakan Roland. Benda itu seolah olah membuat Liana merasa tidak sabar untuk mempermainkannya, walaupun sebenarnya sudah 5 hari berturut-turut setiap malam benda besar itu menghajar l**************n Liana, Namun Liana seolah merasakan kecanduan dan ingin selalu merasakan batang besar milik Roland itu.
Batang besar itu yang mengubah hidup Liana dari seorang ibu rumah tangga menjadi seorang wanita yang kehausan dan tak mampu mengendalikan birahi. Liana mulai menurunkan celana dalam Roland hingga benda itu menyembul keluar, Berlahan jemari Liana menggenggam benda besar itu, bahkan Liana harus menggunakan kedua tangannya karena lingkar diameter benda itu cukup besar. Mulut Liana tampaknya mulai tidak sabar dan ingin membuat benda itu mengeras, pelan pelan Liana mengarahkan benda itu menuju mulutnya, sedikit demi sedikit liana memainkan batang besar milik Roland itu hingga mulai mengeras. Memang mulut Liana tidaklah cukup untuk memuat batang besar Roland itu seliruhnya, Namun hal itu tidaklah menurunkan semangat Liana untuk membangunkan batang besar itu agar mengeras dan bisa ia gunakan untuk memuaskan lubang kenikmatannya yang kehausan.
Liana mulai mengulum batang besar Roland, sedangkan Roland berdiam dalam keadaan berdiri dan menaruh kedua tangannya bertolak pinggang sambil menikmati kepiawaian mulut dan jemari Liana dalam memanjakan dan melayani batang besar miliknya itu. Semakin lama gerakan mulut Liana semakin cepat,, mata Liana melirik ke atas ke arah wajah Roland seolah-olah ingin menikmati ekspresi wajah Roland yang sedang ia manjakan senjata besarnya itu.
" Hmmm.. you always do your best ahh.." Rintih Roland menikmati perlakuan Liana.
"Oughh.. amo oka ayang?.." Kata Liana menanyakan apakah Roland menyukainya dengan suara yang tidak jelas karena di mulutnya sedang dijejali batanh besar milik Roland.
Tak lama kemudian tangan Roland mencoba meraih buah d**a Liana yang menggantung seolah-olah merasa gemas ingin meremasnya walaupun tidak berhasil ia lakukan karena tangannya tidak sampai, Akhirnya Roland menaruh kedua tangannya di kepala Liana dan menariknya maju mundur agar mulut Liana lebih mudah memaju mundurkan hisapannya di batang besar Roland.
Beberapa menit Liana terus melakukan itu hingga Liana merasakan batang besar milik Roland itu sudah menjadi sangat keras dan kaku. Akhirnya Liana mengajak Roland untuk berbaring di Ranjang dan mengambil posisi 69, Dimana mulut Liana dengan puas dapat mengulum batang besar milik Roland, dan Liana juga ingin merasakan lubang kenikmatannya dijilati dan dipermainkan oleh Roland. Roland mulai memainkan lidahnya menyibak dinding dinding l**************n Liana. Sesekali lidah Roland menelusup masuk ke lubang kenikmatan Liana yang mulai basah, bibir Roland sesekali menghisap bibir lubang kenikmatan liana hingga cairan pelumas yang membasahi l**************n Liana itu terhisap masuk ke mulut Roland. dan hal itu membuat Liana menggeliat merasakan nikmat beecampur geli. Sedangkan Liana masih tetap memainkan batang besar Roland yang semakin lama semakin mengeras. Hingga akhirnya Liana beranjak dari tempat semua dan mulai menaiki tubuh Roland, tangannya meluruskan keatas batang besar Roland itu dan mengarahkannya ke liang kenikmatannya. Kepala batang besar itu sudah menyentuh dinding lubang kenikmatan Liana. Sedikit demi sedikit Liana menurunkan pinggulnya dan menekan lubang kenikmatannya sampai akhirnya batang besar itu masuk sebagian ke dalam l**************n Liana.
" Achkk.. sayang.. ini enak sekali.. uh..." Desah Liana yang menikmati awal masuknya batang besar itu ke Liang kenikmatannya.
Liana kembali menurunkan pinggulnya agar batang besar Riland itu masuk lebih dalam lagi ke dalam liang kenikmatannya. dan akhirnya masuklah batang besar itu mendobrak ujung l**************n Liana.
" Uh... acchk.. sayang gede banget sih.. sudah mentok ini sshhh.. padahal baru setengah punyamu" Desah Liana mengomentari betapa besarnya batang milik Roland itu yang hanya mampu masuk setengah dari ukuran panjang batang itu.
" Hmmm.. is so tight honey.. i loved it" Rintih Rolamd yang merasakan nikmatnya batang besar itu digenggam oleh lubang sempit milik Liana.
Liana mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun dengan irama yang teratur, kedua tangan Liana bertumpu pada d**a Roland. Sedangkan Roland menikmati pompaan yang dilakukan Liana sambil jemarinya memainkan buah d**a Liana yang menggantung di hadapannya.
" Sssh.. sayang... enak sekali, milik suamiku tidak pernah bisa mentok begini.. shhh ahh... yess.." Desah Liana merasakan lubang kenikmatannya bergesekan penuh dengan senjata milik Roland yang tebal dan panjang.
Liana semakin mempercepat gerakannya, hingga tubuhnya terlihat bergerak naik turun. hanya beberapa saat saja Liana sudah mendapatkan klimaksnya, dan tidak berhenti disitu Liana kembali menggoyang pinggulnya untuk mengejar klimaks yang selanjutnya. sedangkan Roland begitu perkasa dan tetap bertahan walaupun batang besarnya terus dicelupkan ke lubang sempit milik Liana. Liana tampaknya ingin malam percintaannya itu berbeda dari biasanya. Liana meraih ponsel yang ada di dekatnya sambil terus menunggangi Roland dan memompa pinggulnya, Liana mengambil gambar video dengan ponselnya, Liana menyorotkan kamera ke arah wajah dan tubuhnya yang sedang bergerak naik turun menunggangi batang besar Roland.
" Ahck.. sayang aku rekam tidak apa apa ya?.. ssh.. oh enak sekali" Kata Liana.
" Hmmm.. up to you honey.. i' m Yours.." Jawab Roland mengijinkan Liana.
Sampai akhirnya Liana kembali mendapatkan Klimaks lagi dan lagi hingga berkali-kali. Kaki Liana tampaknya telah kelelahan melakukan gerakan terus menerus.
" Sayang.. ganti posisi ya.." Kata Liana sambil menjatuhkan tubuhnya di d**a Roland dan pelan pelan melepaskan batang besar itu dari liang kenikmatannya.
Roland mengambil alih permainan, Roland mulai menggendong Liana berhadap hadapan dengannya dan Roland mulai berdiri, batang besar itu ia dorong masuk ke lubang kenikmatan Liana yang tubuhnya sedang ia angkat. kedua tangan Liana melingkar dan menggantung di leher kekar Roland. Dan Roland mulai menaik turunkan tubuh Liana dan terus memompa lubang kenikmatan Liana, tubuh Liana terlempar naik turun, sesekali Liana berteriak memekik, hal itu karena batang besar Roland menusuk lubang kenikmatannya terlalu dalam akibat beban tubuh Liana yang mendorong kebawah setelah dilemparkan keatas.
" Acchkk.. acck..sayang lemparnya jangan terlalu tinggi.. masuknya sakit" Ucap Liana memprotes apa yang dilakukan Roland.
Namun Roland tidak mempedulikannya malah semakin lama gerakannya semakin cepat hingga mulut Liana berteriak teriak. bahkan sesekali ada suara langkah kaki berhenti di depan pintu kamar hotel, mungkin seseorang mendengar jeritan-jeritan Liana yang terlalu keras. sedangkan Roland terus melakukan hal yang sama, Sampai akhirnya sampailah di teriakan puncak Liana yang kembali mendapatkan klimaksnya.
" Ah.. Achk.. achk.. yes... sayang aku keluar banyak banget.. ahk.. enak sayang.." Teriakan Liana terdengar begitu keras.
Tidak lama kemudian Roland menaruh tubuh Liana di pinggiran ranjang, Liana dibimbing ke posisi menungging di sisi ranjang. Kemudian dengan posisi berdiri dari belakang Liana, Roland kembali memasukkan batang besarnya ke l**************n Liana, kali ini sudah tidak sulit lagi karena lubang itu telah dibanjiri cairan kenikmatan Liana setelah berkali kali mendapatkan klimaks. bahkan cairan itu sampai menetes menodai seprei warna putih di ranjang itu.
Kedua tangan Roland meremas p****t tebal Liana, dan Pinggul Roland mulai bergerak maju mundur memompa lubang kenikmatan Liana. Gerakan Roland semakin cepat, dorongan batang besar itu seolah olah mendobrak ujung lubang kenikmatan Liana. Rasa sakit bercampur kenikmatan dirasakan oleh Liana. Roland menarik rambut Liana dari belakang sehingga kepala Liana terngangah keatas. dan gerakan Roland semakin cepat, keras, sampai sampai hanya beberapa kali pompaan saja Liana mendapatkan Klimaks. Sudah tidak terhitung berapa kali Liana mendapatkan klimaksnya, Liana tidak peenah merasakan sepuas malam itu. selain kepuasan birahinya, juga kepuasan bathinnya karena pria yang menyetubuhinya adalah pria yang ia idam-idamkan secara fisik, maka tidaklah heran jika Liana rela mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk bisa memuaskan gairahnya itu.
Roland terus memompa l**************n Liana. Liana terkesima dengan keperkasaan Roland yang mampu bertahan lama .
Roland mulai mencoba merubah posisi. Liana dibaringkan dengan dua buah bantal menyangga punggung. dan berlahan Roland kembali menusukkan batang besar itu ke lubang kenikmatan Liana. dan tampaknya Liana telah kehabisan cairannya.
" Sayang keluarin sayang.. punyaku sudah hampir kering kamu kuat banget sih..?" Kata Liana sambil mengecup bibir Roland.
Akhirnya Roland mulai memompa l**************n Liana dengan sisa sisa pelumas di l**************n Liana itu, mata Roland fokus kepada bentuk tubuh Liana, dan Roland meminta Liana menciumi bidang d**a Roland dengan liar agar Roland bisa terangsang dan segera mencapai klimaks. Roland mulai memompa batangnya dengan teratur, sedangkan Liana sibuk mengecupi bidang d**a Roland, sampai akhirnya Roland hampir mencapai klimaks.. begitu pula dengan Liana, dan akhirnya keduanya berteriak dan mencapai klimaks secara bersamaan. Tetapi wajah Roland tampak cemas setelah itu.
" Oh my god.. c*m inside.." Kata Roland yang merasa takut karena cairan kenikmatannya keluar di dalam lubang kenikmatan Liana.
" Tenang sayang... aku minum pil KB setiap hari sejak kita rutin bercinta" Kata Liana sambil tersenyum dan mengelus pipi Roland.
Rolandpun merasa tenang setelah mendengar ucapan Liana. dan akhirnya malam itu mereka tertidur dan berpelukan tanpa pakaian dan berlindung dari udara dingin dibawah selimut putih.