Kembali ke Tanah Air

3395 Words
Siang itu Liana dan Roland mendarat di Bandara, akhirnya mereka berdua harus kembali melakukan aktivitas rutin, Liana harus kembali memeriksa bisnisnya setelah sepekan ia berada di Thailand. Langkah kaki Liana sengaja memisahkan diri dari Roland saat berada di bandara, karena mereka sudah berada di Indonesia maka mau tidak mau Liana dan Roland harus menjaga jarak agar hubungan mereka berdua tidak terlihat oleh siapapun. Liana berjalan lebih dulu di depan dengan menarik tas kopernya, sedangkan Roland sengaja memperlambat waktu dan langkahnya agar tertinggal jauh oleh Liana. Liana sudah memerintahkan supir kantor untuk menjemputnya, sedangkan Roland harus mencari kendaraan sendiri untuk pulang ke apartementnya di kawasan Jakarta Selatan. Dalam perjalanan Liana menelpon ke rumah untuk menanyakan keadaan Noah putranya, Liana juga tidak lupa menelpon manager kantornya agar datang ke rumah untuk menyampaikan laporan selama Liana tidak berada di Indonesia. Hari itu memang hari yang tidak begitu menyenangkan bagi Liana karena Liana tidak dapat sebebas saat di Thailand, kegiatan sehari hari telah menanti Liana dan itu menjadi hal yang ia anggap membosankan. Roda mobilnya tanpa terasa telah membawanya dekat dengan rumah. Tubuh lelah Liana akhirnya ia bawa dengan langkah-langkah berat mendekati pintu rumahnya. " Pak koper saya bawa masuk ke ruang tamu ya.." perintah Liana pada supirnya. " Baik bu" Jawab sang supir. Ternyata Rian masih berada di rumah dan belum juga berangkat ke kantor. " Mas.. tidak ke kantor?" Tanya Liana sambil menaruh tas di sofa tengah tempat Rian sedang duduk. Rian hanya terdiam dan memandang Liana dengan terheran heran. " Kenapa Mas..?" Tanya Liana dengan penasaran dan jantungnya berdebar debar melihat sikap Rian kepadanya, Liana kawatir perbuatannya diketahui oleh suaminya itu. " Apa aku tidak salah Lihat Li.." Tanya Rian dengan mata yang masih terus menatap heran kepada Liana. " Ada apa sih Mas?.. " Tanya Liana dengan semakin penuh kekawatiran. " Kamu tidak pakai Jilbab? " Tanya Rian. Dan pertanyaan Rian itu seolah-olah hampir meledakkan jantung Liana. Liana baru menyadari bahwa ia lupa mengenakan jilbab karena terbawa kebiasaannya berpakaian seksi selama berada di Thailand. Otaknya mulai berputar mencari kata-kata serta alasan kepada suaminya itu. " Oh itu mas.. tadi di depan aku lepas.. soalnya panas sekali" Jawab Liana dengan penuh kekawatiran. " Oh gitu.. ya udah.. sana istirahat dulu" Jawab Rian. Hati Liana merasa lega mendengar jawaban dari Rian. tetapi hatinya mengatakan betapa bodohnya dirinya hingga sampai lupa memakai jilbab. " Mana Noah Mas.." Tanya Liana. " Itu ada diatas sedang dimandikan" Jawab Rian sambil meneguk secangkir kopi dan duduk santai menonton televisi. Liana segera bergegas melangkahkan kaki ke arah tangga menuju lantai atas karena rasa rindunya kepada Noah putranya. Liana kemudian sejenak bermain-main dengan Noah untuk melepaskan rasa Rindunya. Liana juga mengajak Noah turun untuk menunjukkan oleh-oleh yang dibawa Liana dari Thailand. Setelah beberapa jam memghabiskan waktu dengan Noah akhirnya Liana masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Liana melihat Rian sedang berbaring dan memejamkan mata. " Mas tidak berangkat kerja hari ini? " Tanya Liana kepada Rian. Namun Rian tidak menjawabnya, tampaknya Rian memang sudah tertidur pulas. Liana membuka tasnya dan mengambil ponselnya, sambil Liana menghapus foto-fotonya bersama Roland saat berada di Thailand. Liana kawatir jika sampai Rian melihat itu, Liana memeriksa ponselnya dengan seksama dan memastikan tidak meninggalkan sedikitpun jejak perselingkuhannya dengan Roland. Akhirnya semua jejak-jejak itu telah selesai ia musnahkan. Liana mulai merebahkan badannya yang terasa letih, matanya memandang plafon kamar dalam keadaan rebahan, tetapi pikirannya melayang-layang seolah gambaran gambaran kebersamaannya dengan Roland melekat erat memenuhi memorinya. di tengah lamunannya itu tiba-tiba terasa sesuatu menyentuh paha Liana. sontak Liana sejenak terkejut, Ternyata tangan nakal Rian sedang mengelus-elus pahanya. "Hmm.. kenapa mas..? mas sedang mau? " Tanya Liana menggoda suaminya itu. " Kamu capek tidak? " Tanya Rian sambil menciumi bahu Liana. " Iya sih capek.. tapi kasihan juga Mas lama aku tinggal, ayo mas aku layani.." Kata Liana sambil mulai menurunkan celana pendek yang dikenakan Rian. Liana segera mengelus-elus sesuatu yang menggunduk di balik celana dalam suaminya itu. sedangkan Rian mulai melepaskan kaos. Liana mengeluarkan batang Rian dari celana dalam, dan mulai mengulum dengan mulutnya. hingga sedikit demi sedikit batang Rian mulai mengeras. Liana tampaknya ingin segera melayani suaminya itu. Liana melepaskan celana dalam dan mulai menaiki tubuh Rian. diarahkannya batang Rian itu ke bibir lubang kenikmatannya. sedikit demi sedikit Liana menurunkan pinggulnya sampai batang Rian masuk ke dalam lubang kenikmatannya. Liana mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun. sambil melepaskan gaun tidur yang dipakainya. sedangkan Rian sibuk mencoba meraih punggung Liana untuk melepaskan pengait bra Liana. sesaat kemudian terlepas sudah bra yang menutupi buah d**a Liana. Rian mulai memainkan tangannya meremas-remas buah d**a Liana. tetapi sesaat kemudian Rian tiba-tiba berhenti dan menatap ke arah buah d**a Liana. " Li.. d**a kamu kok ada tanda merah" Tanya Rian. " Liana yang sedang asyik menggoyangkan pinggulnyapun akhirnya sejenak berhenti, Liana baru teringat bahwa Roland meninggalkan bekas kecupan di d**a Liana saat malam terakhir mereka bercinta di Thailand. Lianapun mulai gugup dan berfikir mencari alasan untuk meyakinkan kepada suaminya bahwa tanda merah di dadanya tersebut bukanlah bekas kecupan. " Mana sih mas.. mas ada ada saja ah" Jawab Liana sambil kembali menggoyangkan pinggulnya. " Ini.. Li.. serius masa kamu tidak melihatnya.." Kata Rian sambil jarinya menyentuh bagian d**a Liana yang berwarna merah. " Oh itu iya mas iritasi saja dan aku menggaruknya jadi deh merah begitu.. ayo ah mas.. lanjutkan" Kata Liana sambil terus menggoyangkan pinggulnya lebih cepat. " Oh kalau gatal minum diobatin Li.." Kata Rian sambil mulai menggerakan badan membantu Liana melakukan pompaan. semakin lama goyangan pinggul Liana semakin cepat sampai akhirnya cairan Rian menyemprot ke dalam rahim Liana. Tampaknya Liana belum mendapatkan klimaksnya tapi apa daya Rian sudah terlebih dahulu mencapai ujung kenikmatan. Liana segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Rian tampak beristirahat sejenak dengan merebahkan diri di ranjang. Rasa kurang puas yang dirasakan oleh Liana ia lampiaskan dengan menyibukkan diri mengurusi urusan bisnisnya, walaupun berada di rumah, Liana tetaplah sibuk mengatur anak buahnya untuk memastikan bisnis yang digelutinya berjalan dengan baik. " Halo Rin.. tolong kamu email ke saya data penjualan bulan ini ya" Kata Liana pada Rini asistennya di kantor via telepon. " Baik bu, Mohon ditunggu sebentar saya akan segera mintakan ke sales" Jawab Rini. " Ok makasih" Liana kemudian menutup teleponnya. Liana masih sibuk di depan Ponselnya, Liana tidak menyia-nyiakan waktu menghubungi Roland lewat chat w******p. " How about the business plan? " Liana menanyakan kepada Roland tentang rencana bisnis yang telah mereka bahas saat berada di Thailand. " Everythings good" Jawab Roland memgatakan bahwa semuanya berjalan dengan baik. dalam perbincangan chat itu akhirnya Liana dan Roland bersepakat untuk bertemu guna menyiapkan kantor baru, bisnis baru. Mereka membuat janji bertemu di malam hari untuk menyiapkan semuanya seperti mencari kontrakan untuk kantor, peralatan, dan banyak hal yang harus mereka siapkan dan belanjakan. dan tidak lupa Liana sudah membooking hotel, karena setelah mereka selesai menyiapkan semuanya Liana ingin bercinta sejenak dengan Roland karrna Liana merasa belum mendapatkan klimaks saat bercinta dengan Rian. Liana seperti sudah kecanduan berhubungan badan dengan Roland, rasanya tak bisa berlama-lama Liana membiarkan hasrat dan birahinya tertahan. baru saja mereka berdua pulang dari Thailand rasanya sudah ingin kembali memadu kasih diatas Ranjang. Apalagi kondisi bisnis Liana yang semakin maju bahkan melampaui bisnis yang dimiliki suaminya, membuat Rian suami Liana memaklumi kesibukannya, Kadang Liana baru sampai rumah tengah malam bahkan menjelang pagi, tetapi Rian tidak sedikitpun menyalahkan Liana. Malam itu Liana dan Roland mengerjakan apa yang mereka rencanakan untuk bisnis baru mereka. Bisnis yang sebenarnya Liana sedikit tidak yakin. Karena Liana akan bersaing dengan Miguel mantan bosnya dalam mendapatkan order, Walaupun bukanlah Liana satu satunya pesaing dalam bisnis itu. tetapi setidaknya hanya sedikit perusahaan yang bergerak di bidang tersebut. Semua urusan persiapan bisnis malam itu mereka sudahi, Mobil Liana segera meluncur ke sebuah Hotel yang telah ia pesan. begitu pula dengan Roland yang duduk satu mobil dengan Liana. Roland sibuk konsentrasi dengan kemudi yang sedang ia kendalikan. Liana tampak memandangi Roland yang baginya begitu tampan dan mempesona. sesekali Liana mendaratkan ciuman ke pipi Roland, dan Roland hanya tersenyum dengan perlakuan Liana, entah mengapa Liana sangat tidak mampu mengendalikan diri bila berada di dekat Roland, Rasanya Liana tidak ingin mengakhiri momen momen tersebut. Laju mobil yang mereka kendarai melambat saat hampir sampai di Hotel. Liana meminta Roland untuk menurunkannya di Loby agar Roland dapat membawa mobil itu ke parkiran yang berada di basement. Liana keluar dari mobil dan mulai menapakkan kaki di Loby, terlihat beberapa pegawai Hotel memberikan salam kepada Liana dengan ramah. Langkah kakinya berlahan menuju ke meja resepsionis untuk melakukan check in. Setelah Liana memdapatkan kunci kamar, sejenak Liana duduk di sofa Loby sambil menunggu Roland datang setelah memarkirkan mobil. Akhirnya Roland telah muncul dan mereka berdua menuju ke kamar. dan terjadilah hubungan seperti yang biasa mereka lakukan. setelah puas bercinta dengan Roland, akhirnya Liana memutuskan untuk pulang, waktu telah menunjukkan pukul 2 malam. Liana sengaja meninggalkan Roland berada di kamar karena malam itu Roland memutuskan untuk menginap dengan alasan keletihan setelah melayani liarnya Liana diatas Ranjang. Sampai dirumah, seperti biasa Liana melemahkan langkah kakinya agar tidak ada yang terbangun karena mendengar kedatangannya. Ruang tamu telah gelap, begitu juga ruang tengah, semuanya telah sunyi senyap. Jam dinding telah menunjukkan hampir pukul 4 pagi. Tangan Liana meraih gagang pintu kamarnya, begitu gagang pintu itu tersentuh, tiba-tiba ia terkejut mendengar suara datang dari belakangnya. " Dari mana saja kamu?" Tanya Rian yang tampaknya sudah berdiri di belakangnya, situasi yang gelap membuat Liana tidak menilhat keberadaan Rian. " Ehh.. ini mas biasa dari kantor aku sedang siapin pameran buat pekan depan" Jawab Liana. " Jangan bohong kamu" Kata Rian dengan keras sambil menyalakan lampu ruang tengah. " Kok bohong.. emang iya kok" Jawab Liana. " Aku datang ke kantormu tadi, tapi mereka bilang kamu hari ini tidak datang ke kantor, kemana kamu? " Kata Rian dengan nada yanh semakin tinggi. " Mas kalau bicara biasa saja mas tidak usah membentakku begitu, aku tidak tuli.." Jawab Liana yang juga mulai terbawa amarah. " Apakah aku harus bersikap ramah atas semua kebohonganmu? " Tanya Rian. " Kebohongan apa sih mas? sudah ah aku tidak mau melayani emosimu.. aku mau tidur" Jawab Liana sambil membuka pintu kamar dan segera masuk, sedangkan Rian mengikuti Liana ke dalam kamar. " Kamu belum menjawab pertanyaanku Li.. kemana saja kamu? " Tanya Rian. " Aku akan diam sampai mas tidak emosi" Jawab Liana sambil mengambil kimono di lemari dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Akhirnya Liana duduk di kamar mandi dan merenungi apa yang baru saja terjadi. Ia menyadari bahwa memang dirinya salah, dan Rian pantas jika harus marah kepadanya. tapi Liana tidaklah mungkin mengakui kebenaran yang sesungguhnya, karena itu sama saja dengan bunuh diri. Liana terus berfikir harus membuat alasan apa lagi untuk menjawab dan meredakan emosi suaminya itu. Liana berfikir untuk sejenak menjauhi Roland untuk sementara agar tidak membuat Rian curiga, tetapi Liana dan Roland baru saja memulai bisnis tidaklah mungkin Liana menjauhi Roland dalam waktu waktu dekat. Akhirnya Liana memutuskan untuk mengenalkan Roland kepada Rian, dan memberitahu suaminya itu bahwa ia sedang menggarap bisnis baru yang memerlukan konsentrasi, energi, dan waktu. setelah menemukan jawaban itu, Liana segera mandi dan membersihkan diri. Saat Liana selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, Ia melihat Rian suaminya itu sedang terdiam duduk di ranjang dan pandangannya mengarah ke televisi. Liana memutuskan untuk mendekati suaminya itu dan berlaku manja kepada Rian. " Mas... jangan marah dulu.. biar aku jelaskan" Kata Liana sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rian. sedangkan Rian masih dalam keadaan diam tidak mengabaikan ucapan Liana. " Aku baru mau cerita sama mas, aku sedang menggarap bisnis baru mas, dan sengaja aku belum cerita ke mas karena aku pikir tadinya aku akan membuat kejutan buat mas" Kata Liana sambil mengusap usap pipi Rian. " Aku tidak suka kamu tidak jujur" Kata Rian. " Iya mas.. aku paham mas pasti marah, namanya juga mau kasih kejutan tidak mungkinlah kalau aku cerita" Kata Liana. Akhirnya Liana menjelaskan semuanya tentang rencana bisnis barunya kepada Rian, dan berjanji akan mengenalkan rekan bisnisnya yaitu Roland. Akhirnya amarah Rianpun sedikit mereda walaupun Rian tetap tidak suka dengan apa yang dilakukan Liana. dan malam itu akhirnya semua masalah Liana dan suaminya selesai. Liana menjelaskan kepada Roland tentang pertengkarannya dengan Rian. dan Liana meminta Roland agar untuk sementara lebih berhati-hati dengan hubungan mereka berdua. Karena Liana berfikir ada kemungkinan bahwa suaminya akan lebih mengawasi kegiatan Liana setelah kejadian itu. Liana memutuskan memasrahkan semua urusan bisnis baru itu kepada Roland, dan Roland cukup memberikan laporan kepada Liana tentang perkembangan bisnisnya. Beberapa hari kemudian Roland meminta Liana datang ke notaris untuk menandatangani Akta Pendirian Perusahaan. dan perusahaan itu telah resmi berdiri di hari itu dengan Roland yang menjabat sebagai direktur serta Liana menjadi komisaris. Di awal awal perusahan berjalan, keadaan tidak sebaik seperti apa yang direncanakan. biaya operasional membengkak sedangkan perusahaan belum juga mendapatkan order, situasi itu dikeluhkan Roland pada Liana. Roland menjelaskan bahwa perusahaan butuh waktu untuk bisa berjalan normal, dan Roland meminta Liana agar terus mendukung terutama apabila diperlukan biaya tambahan untuk mempertahankan perusahaan. Sebagai seorang pebisnis, Liana sangat marah dan kecewa dengan ketidak mampuan Roland dalam mengelola perusahaan. Liana dalam keadaan serba salah antara harus membantu perusahaan secara financial ataukah membiarkannya runtuh. Sudah cukup besar modal yang ditanam oleh Liana di perusahaan itu. Roland terus saja meyakinkan Liana bahwa ia pasti dapat mengendalikan perusahaan dengan baik. Liana terus saja berfikir hingga berhari-hari sebelum mengambil keputusan. Liana belum pernah mengalami keadaan seperti itu, bisnis yang dibangun sebelumnya tidak mengalami hambatan yang berarti dan berjalan dengan baik. Hal itu mungkin karena bisnis Liana jauh lebih simple dan tidak memerlukan strategi yang berlebihan. Tapi Liana akhirnya berfikir untuk tetap mempertahankan perusahaan dengan syarat semua keputusan dan manajemen akan diatur langsung olehnya. Dan akhirnya Roland menyetujui hal itu. dan itu membuat Liana harus sibuk ke kantor setiap hari untuk melakukan pengawasan ketat. Pagi itu Liana berangkat ke kantor perusahaannya yang baru dimana ia dan Roland bekerja bersama. Liana ingin segera membereskan semua masalah yang dihadapi oleh perusahaan, kesulitan utamanya adalah mendapatkan order bagi perusahaan, mau tidak mau Liana kembali membuka kembali pengalaman lamanya saat menjadi sales, ia harus mencari solusi agar perusahaannya tidak hanya berjalan dengan menghabiskan biaya operasional tetapi juga mendapatkan pemasukan dari order. Liana serius menggarap semuanya karena ia juga telah mengeluarkan modal yang cukup besar untuk mendirikan perusahaan itu, ditambah saat itu Liana juga mau tidak mau harus memberikan support dana tambahan untuk operasional perusahaan. Rasa kesalnya pada Roland yang ia anggap tidak becus mengurus perusahaan ia kesampingkan untuk sementara waktu, ia lebih berfikir saat itu adalah situasi darurat yang membutuhkan campur tangannya agar perusahaan dapat kembali beroperasi dengan normal dan mendapatkan profit yang maksimal. Satu demi satu Liana menghubungi klien-klien lamanya, Liana merasa seperti kembali bekerja di perusahaan lamanya hanya bedanya saat ini dia bekerja sebagai pemilik perusahaan. saat itu Liana sedang duduk di ruangannya dan melakukan panggilan telepon dengan klien-kliennya. Roland datang dan mengetuk pintu ruangan Liana. Liana sudah mendengarnya namun masih membiarkannya karena Liana menganggap panggilan telepon yang ia lakukan lebih penting. Akhirnya Roland tidak menunggu Liana mempersilahkan masuk, Roland membuka pintu ruangan Liana dan melihat Liana sedang sibuk melakukan panggilan telepon. Roland melangkahkan kaki dan menuju ke arah Liana. Ia berdiri tepat di belakang Liana, Roland menyandarkan diri di jendela yang terletak tepat di belakang meja kerja Liana. Roland tampaknya memahami bahwa Liana sedang marah kepadanya, Roland mencoba bersikap lembut pada Liana, tangan Roland diarahkan ke bahu Liana dan memijat-mijat bahu Liana, sedangkan Liana masih tetap sibuk dengan Ponselnya. Sampai akhirnya panggilan telepon yang dilakukan Liana berakhir. " What are you doing here? " Tanya Liana kepada Roland tentang apa yang dilakukan Roland di ruangannya. " I just want make sure about you" Roland menjawab bahwa ia hanya sedang memastikan keadaan Liana baik-baik saja. Sikap judes Liana tidak menurunkan semangat Roland untuk mendapatkan kembali perhatian Liana. Namun Liana hanya diam dan mengabaikan perkataan Roland. " Lets.. get some coffee.." Ajak Roland kepada Liana untuk sejenak minum kopi di luar kantor. " Sorry i'm busy" Liana menjawab bahwa ia sedang sibuk. Akhirnya Roland meninggalkan Liana, Roland keluar dari ruangan itu dan entah pergi kemana. Liana sejenak berpikir, ia merasa kasihan pada Roland, tidak dapat dipungkiri ia memiliki hati kepada Roland, namun Liana merasa bahwa ia harus bertindak tegas demi kelancaran jalannya perusahaan. Tetapi entah kenapa saat itu ia terus membayangkan Roland, bayangan pria itu tidak mampu ia hapus dari pikirannya, hampir satu bulan sejak percintaannya dengan Roland di Hotel, Liana dan Roland belum lagi memiliki waktu untuk melakukannya lagi, Liana merasa harus menjaga jarak sementara waktu karena kawatir hubungannya dengan Roland diketahui oleh Rian suaminya. Lamunan Liana di meja kerjanya membuat teh hangat yang tersaji di atas mejanya telah dingin, Liana belum juga menyentuhnya dari sejak OB menaruhnya di atas meja kerja Liana. Situasi perusahaan itu telah menguras tenaga dan pikiran Liana. Sampai akhirnya ada kabar gembira yang ia dapatkan. Sebuah email tentang Order baru. Liana sangat gembira melihat itu, setidaknya telah terbuka kesempatan bagi perusahaannya untuk mendapatkan profit walaupun belum menutup kerugian yang ditanggung perusahaan. Kabar itu menjadikan Liana semakin terdorong untuk bekerja lebih keras lagi, agar masa masa kritis perusahaannya segera berlalu. Liana segera mengumpulkan team sales di ruangannya dan menyampaikan kabar gembira itu, serta meminta mereka agar mengerjakan tugas tugas mereka dengan baik dan melayani klien dengan maksimal. Sedangkan Roland tidak sedikitpun Liana libatkan, tampaknya Liana masih ragu dengan kemampuan Roland mengelola perusahaan. Roland sendiri merasa seperti seorang yang tidak berguna, tidak ada sedikitpun pekerjaan yang ia lakukan kecuali hanya menandatangani berkas sebagai seorang direktur. semua pekerjaan telah diambil alih oleh Liana, walaupun setidaknya Roland ikut merasa senang karena ternyata mampu memperbaiki kondisi perusahaan. Sedikit demi sedikit keadaan mulai membaik, kerugian mulai tertutupi oleh profit. tetapi hubungan Liana dan Roland masih renggang. Liana lebih banyak menghabiskan waktu bekerja dan mengurus keluarganya sejak suaminya marah marah kepadanya akibat Liana pulang pagi. Saat itu hubungan Roland dan Liana lebih banyak hanya sekedar rekan bekerja. Liana tampak dengan sengaja menjauhi Roland, Liana berfikir bahwa banyak urusan yang jauh lebih penting, walaupun sebenarnya ia juga merindukan percintaannya dengan Roland, namun Liana merasa harus menahan perasaan itu karena banyak hal yang harus ia selesaikan. Sore itu Liana bertemu teman temannya, mereka menyebutnya pertemuan para gadis, mereka adalah teman-teman Liana sejak masa kuliah, seperti sebuah Reuni walaupun hanya lima orang saja termasuk Liana. Liana tampaknya sudah rindu dengan sahabat-sahabatnya itu. Rita, Dewi, Sisil, Laura, dan Liana. Banyak sudah obrolan-obrolan yang terjadi di meja sebuah kafe itu, ditemani makanan dan minuman yang sengaja Liana pesan untuk menambah semaraknya suasana. Candaan, keluh kesah, dan pengalaman-pengalaman menjadi perbincangan mereka, satu hal yang menjadi perhatian Liana adalah Sisil, sahabat Liana itu tampak paling muram dan sedikit sekali membawa tawa. " Sil.. kamu gimana kabarnya?" Tanya Liana sambil memakan cemilan. " Yah.. gitu Li.. biasa ibu rumah tangga taunya cuman dapur sama kasur hehehe.." Jawab Sisil sembari sedikit bercanda. " Ya ga apa apa Sil.. yang penting suami nyukupin" kata Liana. " Ya suami maunya nyukupin, cuman kenyataannya belum cukup Li.." Jawab Sisil mulai sedikit serius. " Belum cukup gimana maksudmu?" Tanya Rita yang akhirnya ikut masuk dalam perbincangan itu. " Ya lebih besar pasak daripada tiang.. hehehe" Jawab Sisil. " Kenapa kamu tidak bekerja saja Sil? " Tanya Dewi. " Maunya sih gitu ya.. cuman umur sudah tidak memungkinkan kali ya.. mana ada perusahaan mau terima emak emak hahahaha" Jawab Sisil Liana akhirnya berfikir, mungkin ada baiknya Liana membantu sahabatnya yang sedang kesulitan itu, apalagi Liana sudah mengetahui sejak dari jaman kuliah Sisil adalah sosok yang cerdas dan cekatan. " Sil.. maaf nih.. maaf ya.. jangan tersinggung, kalau kerja di tempatku mau tidak? " Tanya Liana. "Eem.. jadi apa Li.. serius kamu? " Tanya Sisil " Iya serius jadi wakilku kebetulan aku buka usaha baru dan aku sudah kuwalahan Sil kerja di dua tempat sekaligus" Jawab Liana. " Gini deh Li.. aku tanya suami dulu ya, soalnya dadakan gini" Kata Sisil sambil mengambil ponselnya dan segera menghubungi suaminya lewat chat. " Ya cuman gajinya tidak seberapa tapi cukup layak lah.." Kata Liana. " Tuh.. iya tuh cobain deh.." Kata Laura " Iya.. ini lagi chat suami.." Jawab Sisil Liana sangat berharap dapat merekrut Sisil karrna dia butuh orang yang dapat dipercaya untuk menjadi tangan kanannya di perusahaan yang baru, karena mau tidak mau Liana juga harus mengurus bisnis Fashionnya yang sudah berjalan. Akhirnya Sisil pun menjadap ijin dari suaminya untuk bekerja di kantor Liana. Liana tampak begitu senang karena tidak lagi merasa sendirian dalam mengurus bisnisnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD