Air mata Julie terus berlinang. “Syukurlah, kau ternyata adikku. Zack ini, ternyata adikku. Aku benar- benar bersyukur.” Ia tidak tahu perasaan campur aduk yang ia rasakan sekarang, tapi di atas semua itu : jelas sekali ia merasa bahagia. Sementara itu kepiluan Zack mereda. Ia terkejut dengan reaksi Julie yang sama sekali tak ia duga. “Kenapa?” tanya Zack sambil melepaskan pelukan Julie. “Kenapa kau tidak... memarahiku?” Julie makin menyunggingkan senyum penuh air matanya, seraya berkata, “Untuk apa? Karena kau telah berusaha menculikku?” “Ya,” sahut Zack dengan dingin. “Aku bahkan sempat berniat membunuhmu.” “Tapi tidak kaulakukan bukan?” tanya Julie lagi, tanpa merasa gentar sedikit pun dengan kata- kata Zack barusan. “Tidak kaulakukan sebab kau tak ingin menyakitiku. Kau menyayangi

