Part 13

1546 Words
Jam menunjukkan pukul tujuh malam Kaila tiba di rumahnya. “Kok lama pulangnya sayang?” tanya Rachel Saat melihat ibunya, Kaila segera menutupi sikunya yang terluka. “Tadi, aku bermain di rumah Yeri sebentar bunda” jawab Kaila Rachel yang tengah menyiapkan makanan di meja makan, tidak memperhatikan Kaila. “Kalau gitu, aku ke kamar dulu ya bunda” pamit Kaila Rachel hanya mengangguk dan Kaila pun segera pergi berlalu ke kamarnya. “Hei” panggil Gerald Kaila yang baru saja ingin menutup pintu kamarnya terhenti dan menatap Gerald. “Kenapa?” tanya Kaila “Kau baru pulang?” tanya Gerald Kaila mengangguk. “Gio bilang dia akan main ke sini” ujar Gerald “Lalu kenapa? Kenapa kau memberitahuku soal itu?” tanya Kaila “Entahlah. Dia menyuruhku untuk memberi tahumu” jawab Gerald “Bilang padanya aku tidak peduli” ucap Kaila “Kenapa begitu? Kalian bertengkar?” tanya Gerald “Kenapa tiba-tiba kau banyak tanya sih” ucap Kaila kesal “Entahlah, belakangan ini dia menanyakan soal kau terus” ujar Gerald curiga “Kalian ada hubungan?” tanya Gerald “Apa maksudmu? Kau gila? Kenapa aku harus mempunyai hubungan dengannya?” tanya Kaila “Ya, kalau memang tidak ada kau tidak perlu kesal begitu” jawab Gerald “Makanya, berhentilah berbicara omong kosong” ucap Kaila “Kenapa?” tanya Gerald “Apanya?” tanya Kaila balik “Kenapa kau terus memegang sikumu?” tanya Gerald “Tidak apa-apa” jawab Kaila dan segera menutup pintu kamarnya “Hei” ucap Gerald sambil menahan pintu kamar itu sebelum sepenuhnya tertutup “Ah, ada apa lagi sih?” tanya Kaila “Buka pintunya” jawab Gerald “Untuk apa?” tanya Kaila yang masih berusaha untuk menutup pintu kamarnya itu “Aku mau lihat siku mu” jawab Gerald “Hanya terluka sedikit kok” ucap Kaila “Udah sana!” usir Kaila “Kaila, buka pintunya” ucap Gerald tegas Mendengar itu, Kaila membuka pintunya dan membiarkan Gerald masuk. “Coba kulihat” ujar Gerald Kaila menunjukkan sikunya yang terluka itu. “Kenapa bisa terluka?” tanya Gerald “Jatuh” jawab Kaila Gerald menghembus nafas berat. “Jujurlah padaku” ucap Gerald “Uh, aku memang terjatuh” ujar Kaila kesal “Kau tida-“ “Oh baiklah! Aku terjatuh karena didorong” potong Kaila “Didorong siapa?” tanya Gerald “Kak Shella” jawab Kaila “Mereka mengganggu mu lagi?” tanya Gerald Kaila mengangguk. “Sial! Memang sudah seharusnya waktu itu aku memberi mereka pelajaran” ucap Gerald “Mana? Kau bilang mau menghentikan mereka sendiri. Tapi sampai sekarang mereka masih mengganggumu” ucap Gerald “Mereka tidak akan menggangguku lagi kok” ujar Kaila “Kenapa kau seyakin itu?” tanya Gerald “Tadi kami dibantu oleh kak Grizelle, kak Grizelle juga mengancam mereka supaya tidak mengganggu kami lagi” jawab Kaila “Grizelle?” tanya Gerald Kaila mengangguk. “Dia juga yang mengobati luka ku” sambung Kaila Gerald diam. Tidak tahu harus merespon apa. “Lututnya juga terluka” ucap Kaila “Apa?” tanya Gerald “Tapi sudah ku obati kok” ucap Kaila Gerald bernafas lega. “Sudahkan? Pergi sana!” usir Kaila Gerald pergi keluar dari kamar Kaila. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan malam. “Sayang, ayo makan!” seru Rachel dari meja makan Gerald segera turun dan duduk di meja makan itu. “Adik kamu mana?” tanya Rachel “Masih di kamar” jawab Gerald “Loh, masih belum siap?” tanya Rachel Gerald mengangguk. “Bunda” panggil Gerald Rachel menoleh menatap putranya itu. “Gerald makan duluan ya” ujar Gerald “Loh kenapa?” tanya Rachel “Gerald mau pergi keluar soalnya” jawab Gerald “Mau kemana?” tanya Rachel “Minimarket” jawab Gerald “Kok kamu sering banget ke minimarket sekarang?” tanya Rachel “Ada yang mau Gerald beli” jawab Gerald “Yaudah, kamu duluan aja makan” ujar Rachel Gerald mengangguk dan segera memakan makanan yang sudah disiapkan ibunya. Tak lama, Kaila turun dan ikut makan juga. Begitu juga dengan Rachel. Setelah semua selesai, Gerald beralih menuju pintu luar rumah. Ting Tong! Sangat pas. Gio datang. Gerald membuka pintu dan manatap ke arah Gio. “Ayo main game!” ajak Gio langsung “Sekarang jam berapa?” tanya Gerald “Jam delapan lewat” jawab Gio Gerald mengangguk dan mengajak Gio masuk. Mereka bermain game. Waktu terus berjalan. “Kalian main game terus, bosan tau lihatnya” ucap Kaila Gio menatap ke arah Kaila. Lalu melirik sekilas ke arah Gerald yang masih main serius bermain game. Gio kembali melihat Kaila yang sedang menatapnya. Gio mengedipkan mata kirinya sambil tersenyum. Melihat itu, Kaila juga ikut tersenyum. “Sekarang jam berapa?” tanya Gerald Gio dan Kaila segera menghentikan senyuman mereka masing-masing. “Hampir setengah sepuluh” jawab Kaila Gerald segera menghentikan game-nya itu. Dan pergi berlalu keluar rumah. “Mau kemana dia?” tanya Gio “Palingan ke minimarket” jawab Kaila “Sayang, ayo ke minimarket juga” ucap Gio “Jangan panggil aku begitu, kalau bunda dengar gimana?” tanya Kaila kesal “Gak kok” jawab Gio “Ayo! Aku juga penasaran kenapa kakakku sangat suka ke minimarket” ajak Kaila Mereka segera menyusul Gerald. ***** Gerald memasuki minimarket. “Selamat dat-“ ucapan Grizelle terhenti saat melihat Gerald Gerald berlalu mengambil sebungkus ice cream dan memberikannya pada Grizelle. ‘Apa ini? Dia ke sini hanya karena mau membeli satu ice cream?’ batin Grizelle Grizelle memindai barang tersebut dan menyebutkan harga yang harus dibayar Gerald. Gerald membayar dan memberikan ice cream itu lagi pada Grizelle “Ha? Kan sudah ku hitung” ucap Grizelle heran “Untukmu” ujar Gerald “A-apa?” tanya Grizelle “Kenapa? Mau kubelikan beberapa lagi?” tanya Gerald “Ah tidak, bukan itu” jawab Grizelle “Kalau begitu ambil” ucap Gerald “Gratiskan? Nanti malah kau tambah ke utangku” tanya Grizelle “Ya, gratis” jawab Gerald “Tapi, ini dalam rangka apa? Kenapa mendadak membelikan ice cream?” tanya Grizelle “Ucapan terima kasih” jawab Gerald “Terima kasih?” tanya Grizelle bingung “Karena sudah membantu adikku” jawab Gerald “Oh, kau sudah tau ya” ujar Grizelle “Maaf” ucap Gerald “Untuk?” tanya Grizelle “Soal Kiara tadi, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membela dia” ucap Gerald “Ya, tidak apa-apa” ucap Grizelle “Aku kan sudah bilang, aku mulai terbiasa” sambung Grizelle “Jadi kau tidak marah?” tanya Gerald Grizelle menggeleng. “Hei, aku ini punya banyak utang denganmu. Bagaimana bisa aku marah hanya karena itu?” tanya Grizelle “Baguslah kalau begitu” ucap Gerald Hening. Tidak ada yang berbicara lagi. “Bagaimana dengan lututmu?” tanya Gerald membuka pembicaraan lagi “Sudah membaik kok” jawab Grizelle “Sungguh?” tanya Gerald Grizelle mengangguk. “Kenapa? Kau khawatir padaku?” goda Grizelle “Apa sih?” tanya Gerald kesal “Hei, jangan bohong! Aku melihat kekhawatiran dimatamu” ucap Grizelle “Jangan membuat aku kesal” ucap Gerald Grizelle mengerucutkan bibirnya. “Selamat datang” sapa Grizelle saat melihat ada pelanggan masuk Grizelle tersenyum saat melihat pelanggan itu adalah Kaila dan Gio. “Kalian ngapain?” tanya Gerald “Tentu saja ada yang mau kami beli” jawab Gio Kaila menatap Grizelle. ‘Ah aku lupa kak Grizelle bekerja di sini’ batin Kaila ‘Tunggu! Jangan bilang kakak sering ke sini karena mau menemui kak Grizelle’ batin Kaila lagi Kaila menatap Grizelle dengan mulut terbuka karena kaget. Grizelle langsung tertawa saat melihat Kaila. Kaila segera menutup mulutnya dan merasa malu. Kaila melihat Gerald yang sedang tersenyum tipis sambil melihat Grizelle yang masih tertawa. ‘Apa ini? Apa aku tidak salah lihat?’ batin Kaila Kaila kembali menatap Grizelle yang sudah menghentikan tawanya dan sedang tersenyum ke arah Kaila. ‘Bagaimana bisa? Kak Grizelle sungguh hebat. Aku kira bakalan kak Kiara yang bakalan menarik perhatian kakakku. Ternyata malah kak Grizelle’ batin Kaila ‘Bukannya tak senang, kak Grizelle juga udah berubah kok’ batin Kaila “Kak, aku mendukungmu” ucap Kaila tiba-tiba “Ha? Mendukung apa?” tanya Grizelle “Ah, tidak ada. Tadi aku hanya asal bicara” jawab Kaila Grizelle hanya ber-oh ria. “Kak, kami akan ke Mall besok. Mau ikut?” tanya Kaila “Tapi aku tidak ada uang” jawab Grizelle sedih “Kak Gerald yang traktir” ucap Kaila Gerald segera melotot ke arah Kaila. “Ya kak? Biarkan kak Grizelle ikut” bujuk Kaila Gerald memutar bola mata malas. Gerald melirik sekilas ke arah Grizelle yang tersenyum padanya. “Hei, kalau tidak boleh pun aku tidak apa-“ “Baiklah. Ikut saja” potong Gerald “Beneran kak?” tanya Kaila Gerald mengangguk. Kaila tersenyum senang. “Kenapa?” tanya Gio “Kau ikut juga” ucap Kaila “Kemana?” tanya Gio “Ke mall” jawab Kaila “Aku sih ikut-ikut aja” ucap Gio Gerald menghela nafas malas. Dia kembali melihat ke arah Grizelle yang sedang tersenyum sambil menatap Kaila dan Gio. Gerald tersenyum tipis, namun dia tidak tahu kenapa dia bisa tersenyum. Bukan. Lebih tepatnya dia belum tahu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD