lembaran baru

1059 Words
Mendengar nama Sky disebut lagi dan lagi, Robert tiba-tiba terdiam. Entah apa yang melintas di benaknya, ia perlahan melepaskan pelukannya. Sky menatap Robert dengan bingung dan cemas, lalu memandang Tio dengan penuh tanya. Tio hanya tersenyum lembut, mencoba menenangkan. "Ini Sky, bukan Rangga. Dia juga anak Tuan Robert," ucap Tio selembut mungkin. Namun Robert menggeleng keras. "Enggak! Aku enggak punya anak bernama Sky. Aku cuma punya satu anak—Rangga! Dan... Lisa, istriku, di mana dia? Rangga di mana?" Seperti orang kebingungan yang terjebak di antara masa lalu dan kenyataan, Robert menatap Tio penuh tanya. Sky yang mendengar semua itu mulai mengerti. Dari kata 'nama' dan 'anak satu' dalam bahasa Indonesia yang sedikit ia pahami, ia menyimpulkan satu hal: dirinya memang tidak pernah ada di hati mereka. Hatinya hancur. Ada rasa sesak menggelayut. Matanya memanas. Ia ingin menangis, ingin melepas perih yang mengendap dalam diam. "Paman Tio..." panggil Sky lirih sambil menatapnya. Tio yang mengerti segera mengusap kepala Sky dengan lembut. "Gak papa, Tuan Muda. Tuan Robert sedang banyak pikiran. Kita mulai dari awal, ya? Nanti beliau juga akan kenal dan sayang sama Tuan," ucapnya menenangkan. "Nanti sore jam tiga, biasanya jadwal Tuan Robert mandi. Tuan bisa bantu, ya? Biar makin dekat," sambungnya dengan nada hangat. "Oh iya, besok Tuan juga mulai sekolah baru. Sekolah umum. Tuan harus mulai belajar adaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman sebaya," lanjut Tio. Sky terdiam. "Apakah aku bisa beradaptasi? Aku terbiasa homeschooling, menghabiskan waktu di Amerika hanya berkebun dengan nenek... Aku bahkan tak pernah bermain dengan anak-anak seumurku," batinnya cemas. "Iya, Paman," jawab Sky akhirnya, meski suaranya terdengar ragu. Tio tersenyum, lalu membungkuk sedikit ke arah Robert. "Tuan Robert, saya dan Sky izin kembali ke kamar, ya." Tidak ada jawaban. Robert masih diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tanpa menunggu lebih lama, Tio menggandeng Sky dan perlahan mereka meninggalkan kamar, menyisakan keheningan yang berat di belakang mereka. ----- "Ini kamar Tuan Rangga. Gak papa ya, Tuan. Hanya sementara saja," ucap Tio sembari membukakan pintu kamar. Sky mengangguk pelan. Begitu pintu terbuka, aroma kayu basah dan debu yang lembut langsung menyambut indra penciumannya. Langkahnya terasa berat saat ia melangkah masuk bersama Tio. Kamar itu masih terasa hidup, seolah pemiliknya baru saja keluar sebentar. Sky duduk perlahan di atas kasur, memandangi setiap sudut ruangan dengan mata yang penuh rasa ingin tahu tapi juga canggung. Ada keheningan yang aneh di sana, seperti ruangan yang menyimpan banyak kenangan. Sementara itu, Tio membuka koper sambil sibuk menelepon seseorang. Sky tak tahu siapa yang sedang di hubungi oleh Tio, dia tidak sekepo itu orangnya. Setelah beberapa saat, Tio menutup ponselnya, dan Sky langsung angkat bicara. "Paman... apa tidak apa-apa aku tidur di sini? Barang-barang dia masih rapi semua. Aku takut merusaknya," ucap Sky memecah keheningan. Tio tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa, Tuan. Tapi Tuan harus hati-hati, ya. Barang-barang Tuan Muda Rangga yang sekiranya tidak perlu bisa disimpan dulu di lemari itu," katanya sambil menunjuk ke sebuah lemari bercat putih di sudut ruangan. Sky mengangguk pelan. Pandangannya masih terpaku pada foto kecil di meja belajar yang memperlihatkan Rangga dan kedua orang tuanya yang bermain air di kolam renang. terlihat senyuman bahagia di sana. "Oh iya, Paman... aku nggak terlalu lancar Bahasa Indonesia. Nanti di sekolah gimana?" tanyanya dengan cemas. "Tenang saja, Tuan," jawab Tio. "Sekolah Tuan nanti itu sekolah internasional. Biasanya mereka pakai bahasa Inggris sepenuhnya. Dan itu juga sekolahnya Tuan Muda Rangga dulu." Sky sedikit lega. Tapi tetap saja, pikirannya berkecamuk—tentang sekolah, tentang kamar ini, tentang Robert yang menolaknya, dan tentang Rangga... sosok yang belum pernah ia temui, tapi jejaknya terasa begitu kuat di rumah ini. ____ Sore pun tiba. Cahaya matahari yang merayap masuk dari sela jendela menebarkan rona keemasan di lantai kamar. Sky dan Tio kembali masuk ke kamar Robert. Di atas ranjang, Robert tampak tertidur lelap, tubuhnya diam, hanya d**a yang naik turun perlahan menandakan kehidupan yang masih menyala. "Tuan, waktunya mandi," ucap Tio lembut, sambil menggoyangkan tubuh Robert sedikit. Kelopak mata Robert terbuka perlahan. Ia menatap kosong ke langit-langit kamar, seperti lupa di mana dirinya berada. "Tuan Muda, bantu saya untuk mendudukkan Tuan Robert, ya," pinta Tio. Sky segera bergerak, ikut menopang tubuh ayahnya. Bersama, mereka mengangkat Robert dengan hati-hati hingga duduk bersandar di sandaran ranjang. Tubuh Robert terasa lemah dan berat, namun Sky berusaha menahan tanpa ragu. "Paman," gumam Sky pelan, "tadi Papa dibantu siapa untuk tidur di tempat tidur?" "Biasanya ada asistennya sendiri," jawab Tio sambil merapikan bantal di belakang punggung Robert. "Tapi tadi saya sudah bilang, untuk sore ini biar saya dan Tuan Muda saja yang memandikan Tuan Robert." Sky mengangguk, merasa ada sedikit kedekatan yang mulai tumbuh. Meski sang ayah belum mengenalinya, setidaknya kini ia bisa melakukan sesuatu. "Dekatkan kursi rodanya, Tuan," perintah Tio pelan. Tanpa banyak kata, Sky segera sigap mendorong kursi roda ke sisi ranjang. Roda-roda tua itu mengeluarkan suara lembut di atas lantai marmer. lalu berhenti tepat di samping Robert. Dengan perlahan, Tio memindahkan tubuh Robert dari tempat tidur ke kursi roda. Robert tidak sepenuhnya pasif—tangannya masih bisa bergerak meski lemah, dan ia berusaha sedikit menopang dirinya sendiri, namun tanpa arah. Sky mengikuti Tio dari belakang saat kursi roda didorong menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi yang hangat dan rapi itu, Tio berhenti lalu menoleh pada Sky. "Tuan Muda, coba bantu buka bajunya Papa, ya," ucapnya lembut. Sky mengerutkan kening. "Kenapa nggak Paman aja?" Tio tersenyum kecil, tidak memaksa, hanya menenangkan. "Paman hanya bantu kalau ada yang keliru. Hari ini, Tuan Muda Sky yang mandikan Tuan Robert." Sky tampak ragu. "Tapi... aku takut. Takut Papa marah, atau risih…" "Enggak, Tuan," sahut Tio pelan. "Percaya sama saya. Ini salah satu cara membangun kepercayaan. Biar Tuan Robert terbiasa lagi dengan kehadiran Tuan." Sky menarik napas panjang. Ia mendekat perlahan, menatap ayahnya yang duduk diam. Meski pandangan Robert kosong, tangan kanannya tampak bergerak lemah, berusaha menyingkirkan sesuatu dari paha yang tak ada di sana—gerakan refleks tanpa makna. "Papa…" ucap Sky, nyaris berbisik. "Sky bantu buka bajunya, ya. Sky yang mandiin Papa." Robert masih tak menjawab, tapi kali ini tangannya bergerak ringan, seperti menyentuh ujung bajunya sendiri, lalu diam kembali. Tidak menolak, tapi juga tidak benar-benar menyetujui. Sky menoleh ke Tio. Lelaki tua itu hanya mengangguk pelan, penuh keyakinan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sky mulai membuka kancing baju ayahnya—pelan, penuh hormat, seolah takut menyentuh terlalu keras bisa membuat kenangan atau luka lama pecah kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD