lingkungan baru

977 Words
Singkat cerita, Robert telah selesai dimandikan. Tio tetap mendampingi sepanjang proses itu, duduk di samping bathtub, memberi arahan sabar kepada Sky yang terlihat canggung dan kikuk. Air membasahi hampir seluruh pakaian Sky—kaus dan celananya sudah basah kuyup. Ia belum pernah memandikan siapa pun sebelumnya. Bahkan saat nenek dan kakeknya dulu sakit, semuanya diurus oleh para asisten. Tapi hari ini berbeda—ia yang melakukannya sendiri, untuk ayah yang bahkan belum benar-benar mengenalnya. Setelah proses mandi selesai, Sky mengeringkan tubuh Robert dengan handuk, gerakannya pelan dan hati-hati. Lalu, dengan sedikit kebingungan, ia memasangkan popok dewasa pada ayahnya. Tidak sempurna, tapi cukup rapi. Tubuhnya lelah, tangannya pegal, tapi hatinya penuh dengan perasaan asing yang sulit ia uraikan. Tio berdiri pelan, menatap Sky dari sisi ruangan dengan senyum tipis. "Tumbuh dewasa itu kadang nggak enak, Tuan," katanya pelan, tapi cukup jelas. "Tapi semua itu tetap harus dijalani. Saya cuma bisa mengarahkan... selebihnya, Tuan yang harus jalan sendiri menghadapi kenyataan hidup." Sky menoleh, menatap Tio dengan sorot mata bingung tapi juga penuh pertanyaan. "Tapi... kenapa harus aku, Paman?" Tio tersenyum, kali ini lebih hangat. "Karena kamu bisa menjalaninya. Makanya sekarang, harus belajar berdamai, ya. Jagain Papa Sky… kalau misalnya nanti saya sedang tidak ada." Sky terdiam. Hatinya seperti dipeluk dan dipukul dalam waktu bersamaan. Ia menunduk. “Iya, Paman…” "Kalau begitu sekarang Tuan Muda mandi. Biar saya yang lanjut urus tuan Robert, " ucap Tio, matanya menatap pakaian Sky yang sudah basah kuyup, menempel di tubuhnya. Sky mengangguk cepat dan hendak berdiri, tapi gerakannya tertahan oleh suara Tio lagi, kali ini lebih seperti nasihat seorang ayah kepada anaknya. "Tapi... izin dulu ke Tuan Robert. Jangan langsung pergi begitu saja." Sky terdiam sejenak, lalu perlahan kembali duduk. Ia menoleh ke arah ayahnya, yang masih duduk diam di kursi roda, matanya kosong menatap ke arah ubin kamar mandi. Sky menggenggam tangan ayahnya—dingin dan lemah, tapi tetap nyata. “Emm… Papa,” ucap Sky gugup, nadanya pelan seperti takut salah, “Sky mandi dulu, ya? Nanti ketemu lagi… pas makan malam.” Tak ada jawaban dari Robert, hanya helaan napas yang nyaris tak terdengar. Tapi Sky merasa perlu mengatakannya. Perlu tetap berperilaku baik, meski tak mendapat respons. Tio yang mengamati dari samping hanya tersenyum kecil. Dalam hatinya, ia tahu—meski tidak diajarkan langsung oleh Nyonya Margaret. Sky sedang belajar sesuatu yang sangat penting: bagaimana menjadi anak yang lembut dan berbakti dalam versi dirinya sendiri. Sopan. Tulus. Dan penuh usaha. ---- Waktu makan malam tiba. Sky sudah lebih dulu duduk di meja makan besar yang terasa sepi. Ruangan itu luas, tapi dingin—bukan karena suhu, tapi karena kesunyian yang menggantung di udara. Ia memeluk erat boneka beruang biru kesayangannya, satu-satunya benda yang masih terasa familiar di rumah besar ini. Matanya menatap kursi-kursi kosong di hadapannya, pikirannya melayang entah ke mana. Takut, dan asing bercampur dalam d**a kecilnya. Tiba-tiba, suara roda bergesekan dengan lantai marmer terdengar dari balik pintu. Sky menoleh. Seorang asisten pria yang belum dikenalnya, mungkin yang disebut Tio tadi, mendorong kursi roda sang ayah memasuki ruang makan. "Selamat malam, Tuan Muda Sky," ucap sang asisten dengan bahasa Indonesia yang sopan. Sky sudah cukup memahami maksudnya, meski intonasinya masih kaku. Ia membalas pelan, "Malam juga," dengan sedikit nada Inggris yang masih tersisa dalam suaranya. Tak lama, Tio pun masuk. Ia langsung melihat posisi duduk Sky yang sedikit menjauh dari ayahnya. "Tuan Muda," ucapnya sambil menunjuk kursi di sebelah kanan Robert, "duduknya jangan berjauhan, ya. Duduk di sebelah tuan Robert." Sky ragu, tapi mengangguk. Ia menarik kursinya pelan dan duduk di sebelah Robert. Degup jantungnya bertambah cepat. Ia bahkan bisa mendengar napasnya sendiri. Tiba-tiba, tanpa peringatan, suara Robert pecah di ruangan. "Di mana istriku? Dan anakku?" tanyanya pada sang asisten. Matanya yang tadinya kosong kini terlihat gelisah, seperti seseorang yang baru terbangun dari mimpi panjang. "Di mana mereka? Kenapa mereka tidak makan malam bersamaku? Apa mereka marah? Suruh mereka turun sekarang!" Robert berteriak, tubuhnya bergetar. Asisten mencoba menenangkan, membungkuk sedikit dan berbicara lembut. Namun, tiba-tiba Robert menoleh ke sisi kirinya. Pandangannya jatuh pada Sky. "Rangga…" ucapnya dengan suara gemetar, "Rangga, di mana Mamamu? Apa dia tidak mau makan malam bersama kita? Dia… dia pasti masih marah padaku, ya?" Sky membeku. Matanya langsung berkaca-kaca. Hatinya seperti diremas. Kata-kata Robert menusuk lebih dalam daripada teriakan apa pun. Bukan karena kemarahan—tapi karena kerinduan Robert yang hanya ditujukan pada dua orang: istrinya dan Rangga. Bukan dia. Bukan Sky. Sebegitu sayangnya kah ayahnya pada istri dan saudara kembarnya, sampai-sampai dirinya… tak pernah hadir di benaknya? Seolah ia tak pernah ada?... Memang seharusnya dirinya tidak ada di sini kan? kenapa harus sedih. pikir Sky. ---- Kejadian makan malam semalam masih membekas jelas di benak Sky. Kata-kata ayahnya, tatapan kosong yang tak mengenalnya, semua itu terus terngiang saat ia berdiri sendiri di depan cermin pagi ini. Seragam SMA melekat rapi di tubuhnya. Warna putih dan abu-abu yang asing, tapi kini harus menjadi bagian dari kesehariannya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantung yang tak karuan. Tok tok tok. Terdengar ketukan pintu. Sky menoleh cepat. "Masuk," jawabnya pelan. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok tubuh kekar yang sudah sangat dikenalnya—Tio, berdiri di ambang pintu sambil menenteng tas sekolahnya. "Paman…" ucap Sky, lalu menghampiri dan memeluk Tio dengan erat, seolah mencoba menarik kekuatan dari pelukan itu. "Paman, nanti… di sana aku bisa punya teman nggak, ya?" tanyanya lirih, kepala kecilnya mendongak menatap wajah Tio yang hangat. Tio tersenyum sambil menepuk pelan punggung Sky. “Pasti dapat, Tuan Muda. Tidak mungkin tidak. Tuan kan baik, tulus… dan berani.” Sky mengangguk pelan, meski hatinya masih penuh keraguan. “Sekarang sudah siap?” tanya Tio lembut. “Kalau sudah, ayo turun sarapan dulu. Tuan Robert sudah menunggu di bawah.” Sky menghela napas lagi, lalu meraih tasnya dari tangan Tio. “Iya… ayo, Paman.” Hari baru telah dimulai, meski luka semalam masih belum sepenuhnya sembuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD