Sekarang, Sky berdiri di depan gerbang sekolah bertuliskan Sunridge International School—huruf-huruf besar berwarna emas yang berkilau diterpa matahari pagi.
Tas sekolah tergantung di kedua pundaknya. Seragamnya masih rapi, sepatu mengkilap, dan rambutnya disisir menyamping dengan hati-hati oleh Tio tadi pagi. Tapi semua itu tidak cukup menenangkan rasa gugup yang bergejolak di dadanya.
Tio sudah pergi tiga menit yang lalu. Mobilnya menghilang di belokan jalan, meninggalkan Sky sendirian di tengah keramaian murid-murid baru yang datang dengan tawa, obrolan, dan senyum yang belum ia kenali.
Sky menarik napas pelan. Dalam hatinya, ia mencoba menenangkan diri. “Kamu bisa… seperti kata Paman, kamu bisa.”
Dengan langkah hati-hati, ia mulai memasuki gerbang sekolah. Suasana di dalam penuh dengan warna—spanduk penyambutan siswa baru, papan pengumuman yang ramai, dan murid-murid berseliweran dengan berbagai aksen bahasa, sebagian besar berbahasa Inggris.
Sky menatap sekeliling, mencoba mencari wajah yang ramah, atau tempat yang bisa membuatnya merasa tidak terlalu kecil di antara kerumunan ini.
Tapi untuk saat itu, dia hanya berjalan. Sendiri.
Sky terus berjalan di lorong sekolah, langkahnya pelan dan hati-hati. Suasana sekolah begitu ramai, penuh wajah asing dan suara obrolan yang belum ia kenal. Ia baru saja akan melihat papan informasi kelas saat…
Tap.
Sebuah tepukan di pundaknya membuatnya menoleh cepat.
"Loh… loh, Rangga? Ka-kamu kok masih hidup?!"
Sky terkejut. Seorang pria berdiri di hadapannya, memakai baju olahraga dengan bola basket diapit di lengan kirinya. Matanya membulat penuh keterkejutan. Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung memegang kedua bahu Sky, membolak-balikkan badannya.
Sky jadi pusing. Ia nyaris kehilangan keseimbangan.
“Hei, hei, pelan… aku bukan Rangga,” ucap Sky, menepis tangan pria itu dengan sopan tapi tegas.
(note: mereka menggunakan bahasa inggris untuk keseharian di sekolah)
Pria itu terdiam sejenak, menatap Sky lebih dekat. “Serius? Kamu bukan Rangga? Tapi wajah kamu… persis banget.”
Sky menghela napas pelan. Lagi-lagi nama itu.
“Aku Sky,” jawabnya singkat. “Rangga… saudara kembarku.”
Tatapan pria itu langsung berubah. Wajah yang awalnya penuh kejutan kini tampak canggung, bahkan sedikit sedih.
“Oh… maaf. Aku nggak tahu,” ucapnya pelan. Bola basket di tangannya mulai terasa tidak penting.
“Aku Leo,” lanjutnya. “Rangga… sahabat aku. Dekat banget. tapi sekarang,” ucap Leo terhenti membayangkan sesuatu.
Sky hanya mengangguk, tak tahu harus membalas apa. Rasanya aneh. Baru hari pertama, dan kenangan tentang Rangga seakan menyambutnya lebih dulu dibanding apa pun.
Leo mengusap tengkuknya. “Eh… kamu udah tahu kelas kamu belum? Biar aku anterin.”
Sky menatap Leo sebentar. Lalu mengangguk pelan.
“Boleh,”
"Memangnya kamu tahu kelasku di mana?" tanya Sky.
"Sebelas IPA kan—eh, enggak tahu sih. Coba lihat mading dulu," jawab Leo yang tanpa sadar keceplosan menyebut kelas Rangga.
Sky hanya tersenyum maklum. "Aku masih kelas 10," katanya.
"Loh, bukannya kalian kembar? Kenapa beda tingkatan kelasnya?" Leo terlihat bingung.
"Aku enggak bisa cerita banyak. Aku dan dia sangat berbeda. Dulu aku homeschooling," jawab Sky singkat.
"Ohh... bisa gitu ya," gumam Leo, mulai memikirkan banyak hal tentang Rangga—rahasia yang ternyata belum ia ketahui.
----
Setelah melihat kelas Sky di mading, Leo mengantarkannya sampai ke depan kelas. Ia langsung berpamitan karena waktu tinggal lima menit lagi sebelum bel masuk berbunyi, sementara kelas mereka berada di ujung yang berlawanan.
"Aku balik dulu ya, lima menit lagi bel bunyi. Nanti pas istirahat aku temani. Tunggu di sini, oke?" ucap Leo sambil buru-buru melangkah pergi saat melihat banyak siswa mulai masuk ke kelas masing-masing.
Sky melihat dari kejauhan Leo berlari terburu-buru. Ia sedikit terkekeh. Rupanya saudara kembarnya punya teman yang cukup aneh, pikirnya.
Dengan perlahan, Sky melangkah masuk ke kelas barunya. Suasana di dalam kelas cukup ramai, semua murid tampak saling berbicara menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Inggris. Sky hanya bisa menangkap sebagian—ia setengah paham, setengah bingung.
Pandangan matanya tertuju pada sudut belakang kelas. Seorang pria tampak tertidur dengan kepala bersandar di meja. Di sebelahnya, ada bangku kosong. Sky menggenggam kedua tali tasnya erat-erat, berusaha menenangkan diri. Ia bersiap melangkah ke arah bangku itu, tapi tiba-tiba...
Seseorang menepuk pundaknya.
"Kak Rangga? Ini beneran Kak Rangga, ya?" ucap seorang perempuan dengan suara gemetar, penuh harap. Ia adalah salah satu penggemar berat Rangga yang kabarnya telah meninggal. Kini, sosok yang amat mirip itu justru berdiri di hadapannya, masuk ke kelasnya.
Perempuan itu terus mencecar pertanyaan, mencoba memastikan apakah Sky adalah Rangga. Beberapa murid perempuan lainnya mulai berkumpul, ikut penasaran. Sorotan mata mereka membuat Sky merasa tak nyaman. Ia mundur sedikit, mencoba menghindar, merasa risih dengan perhatian tiba-tiba itu.
"Hai! Apa yang kalian lakukan?" ?