Hari masih dihiasi langit sore yang cerah ketika Agnia memasuki komplek elite berisikan banyak rumah mewah dan menakjubkan, termasuk rumah Rajasa. Agnia kembali merasa ragu untuk bertemu keluarga kekasihnya, merasa kecil dibanding Rajasa yang sangat terkenal. Bagaimana jika tidak semua keluarga Rajasa menerima kedatangannya?
Mobil berhenti di salah satu gerbang tinggi yang dimiliki rumah besar nan megah. Desain rumah berlantai dua itu memang terbilang kuno, tapi kemegahannya tetap membuat orang-orang terpana termasuk Agnia. Selain bangunan yang terlihat masih sangat kokoh, furniture di dalamnya pun terkesan antik dan bernilai sangat tinggi.
“Assalamu'alaikum.” Mirza memasuki rumah Rajasa seraya menggenggam tangan Agnia.
“Wa'alaikumsalam,” sahut Tari, menoleh ke asal suara. “Eh, Mirza. Kamu pulang, Sayang?” Senyuman sumringah langsung mengembang di bibirnya. Ia pun segera berdiri untuk menyambut kedatangan putranya yang terus mendekat.
“Ma, ini yang suka aku ceritain, Agnia.” Mirza memperkenalkan wanita yang dibawanya.
“Oh ... ini yang namanya Agnia? Cantik banget, sih.” Tari senang bertemu wanita yang sering diceritakan Mirza setiap pulang ke rumah.
Dengan sopan, Agnia mencium punggung tangan Tari sesudah Mirza yang melakukannya. Tidak ada siapa pun lagi di sana, hanya Tari yang saat itu sedang menonton TV di ruang keluarga. Suasana rumah yang sangat luas tersebut memang terasa sepi, tidak banyak orang yang menghuni.
“Kalian mau makan? Atau minum apa?” Tari menawarkan, duduk di sofa berukuran single.
“Nggak, Ma. Aku mau bicarain sesuatu yang penting.” Mirza menggeleng, wajahnya terlihat serius untuk menyampaikan niatnya. “Gini, Ma. Nia lagi hamil anak aku,” ucapnya berbohong.
“Apa?” Tari tercengang dengan wajah yang tak kalah menegangkan.
“Nia diusir dari rumahnya. Makanya aku bawa ke sini, biar Nia tinggal di sini aja sama Mama, tapi aku tetap di Cilegon.” Mirza menjelaskan setenang mungkin.
“Bentar, bentar.” Tari merasa ada yang aneh dan janggal. “Maksudnya, Agnia mau tinggal di sini tanpa kamu nikahi?” tanyanya tak mengerti.
“Nia mau nikah setelah melahirkan, Ma. Lagian, persiapan juga belum ada, 'kan? Jadi selama Nia hamil, dia di sini sama Mama. Nanti kalo udah lahiran, baru aku nikahi dia dan tinggal bareng aku.” Mirza kembali menjawab dengan kata-kata yang sudah dia siapkan.
“Kenapa gak mau nikah secepatnya?” Tari menatap heran, terdengar aneh untuknya.
“Kita udah sepakat gitu, kok, Ma. Nikahnya kalo udah lahiran aja.” Mirza yang menjawabnya.
“Ya udah, nggak apa-apa. Kamu tinggal di sini aja sama Mama, ya. Jangan sungkan sama Mama.” Tari tak ingin mendesak apa pun, Mirza sering bercerita bahwa Agnia mudah tersinggung.
“Ravin di mana? Belum pulang?” Mirza tak melihat tanda-tanda keberadaan kakaknya.
“Mungkin pulang ke apartemen, atau lagi nongkrong-nongkrong dulu sama temennya. Bisa jadi ketemuan sama pacarnya.” Tari tak yakin.
“Aku mau ketemu dia dulu sebelum pulang ke Cilegon.” Mirza memberikan isyarat matanya.
“Biar Mama yang bicarain soal Agnia. Ravin pasti ngerti, kok. Dia gak bakal keberatan Nia tinggal di rumah ini. Lagian dia pulangnya ke apartemen.” Tari tahu Mirza akan bicara apa pada Ravindra.
“Aku aja gak apa-apa.” Mirza bersikukuh ingin ia sendiri yang bicara. “Kalo ada yang bikin kamu gak nyaman, bilang aku,” ucapnya pada Agnia.
“Gak usah jauh-jauh bilang ke Mirza, bilang aja ke Mama, apa yang bikin kamu gak nyaman di sini.” Tari tidak setuju, dia sendiri yang akan menjamin kenyamanan Agnia.
“Kamu denger? Mama suka sama kamu, loh.” Mirza puas melihat reaksi ibunya pada Agnia.
“Emang kenapa? Nia pikir Mama gak suka? Justru Mama seneng kamu lagi hamil. Artinya Mama bakal punya cucu, rumah ini gak sepi lagi.” Tari awalnya memprotes, tapi akhirnya ia tersenyum mengingat akan ada bayi sebagai cucunya.
“Nia aku bawa kalo udah lahiran, Ma.” Mirza mengingatkan, Agnia hanya tinggal sementara.
“Tapi cucu Mama jangan dibawa, biar temenin Mama aja di sini. Kalian bisa bulan madu lagi, punya anak lagi,” ujar Tari seenaknya. “Oh, iya, udah berapa bulan sekarang?” tanyanya pada Agnia.
“Nia belum sempat periksa sama sekali. Nanti Mama antar periksa aja, ya.” Mirza lalu berdiri, tak bisa berlama-lama di sana karena ada urusan.
“Kamu mau langsung pergi lagi? Gak salah?” Tari ikut berdiri, tak percaya Mirza pulang hanya untuk mengantarkan Agnia kemudian pergi lagi.
“Besok ada acara penting, Ma. Ini pas sampai ke Cilegon aku harus ketemu klien. Padat banget jadwalnya.” Mirza mengeluh. Karena pekerjaan, dia sulit berbagi waktu untuk orang-orang tercinta.
“Ya udah, hati-hati.” Tari mengangguk paham, mustahil menahannya pergi walau masih rindu.
“Sayang, aku pergi, ya.” Mirza mencium kening Agnia di hadapan sang ibu tanpa malu, lalu memberi salam sebelum berangkat, “Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumsalam,” balas Agnia dan Tari secara bersamaan.
Mirza termenung dalam sejenak, hatinya mulai bertanya-tanya. Apa keputusannya ini salah? Mengakui sesuatu yang tidak ia lakukan, mungkin terdengar sangat konyol. Tapi, benar kata pepatah, cinta mampu membutakan segalanya. Kehamilan Agnia tidak membuat Mirza ingin meninggalkannya, justru kasih sayangnya semakin bertambah.
Jika saja pria lain ada di posisinya, Mirza yakin pria itu juga akan melakukan hal yang sama, yaitu menikahi kekasihnya meski wanita itu sedang hamil anak pria lain. Selain rasa sayangnya yang besar, tipikal Agnia juga wajib diperjuangkan. Ya, Mirza pikir apa yang akan dilakukannya masih wajar.
Seperti yang dikatakannya tadi, Mirza benar-benar mengunjungi apartemen kakaknya yang bernama Ravindra Syahreza Rajasa untuk meminta izin tinggalnya Agnia di rumah Rajasa. Walau bagaimanapun, Ravindra adalah orang yang sangat berkuasa atas semua yang Rajasa miliki.
Mendengar Mirza menceritakan tentang Agnia panjang lebar, Ravindra tidak bereaksi banyak. Membuat kekasihnya hamil, rasanya bukan sesuatu yang mengejutkan. Ia tidak keberatan Agnia tinggal di rumahnya untuk sementara waktu, karena ia tinggal di apartemen dan jarang sekali pulang.
Hubungan Ravindra dan Mirza terbilang biasa saja, tidak terlalu akrab ataupun sebaliknya. Bicara seperlunya, tak banyak berinteraksi umumnya adik dan kakak. Hal itu karena mereka tidak seibu. Juga, ada suatu alasan yang membuat Ravindra tidak menganggap Mirza sebagai adik seutuhnya.
Dulu, pernikahan Prambudi dan Mita terjadi karena perjodohan. Namun, ternyata Prambudi masih berhubungan dengan mantan kekasihnya yang bernama Tari, bahkan menghasilkan Mirza yang usianya dua tahun lebih muda dari Ravindra. Benar, Mirza terlahir tanpa ikatan pernikahan.
Ketika Mita meninggal dunia di usia mudanya, Prambudi lantas menikahi Tari. Adanya Mirza menjadi sebuah bukti kuat, berapa lama Prambudi dan Tari melakukan hubungan gelap. Hal itu tentu menjadi masalah besar yang tak berujung hingga tiga keluarga besar sering kali bersinggungan.
Setelah Prambudi tiada, mau tak mau Ravindra yang menggantikan posisinya. Selain memimpin perusahaan, ia juga menjadi kepala keluarga dan bertanggung jawab atas ibu tiri serta kedua adiknya. Sampai detik ini, Tari dan Citra tetap tinggal di rumah peninggalan Prambudi bersama Mita.
“Rav, kebetulan kamu pulang. Makan bareng, yuk? Mumpung kita juga baru mau mulai.” Tari langsung mengajak Ravindra untuk bergabung.
Bukannya menyahuti ajakan sang ibu, tatapan Ravindra malah tertuju pada Agnia yang juga sedang menatapnya dengan sungkan. Cantik! Ravindra tak bisa berbohong, dia terkesima meratapi wajah wanita yang merupakan calon adik iparnya itu. Ia pun duduk di samping Citra, di sebrang Agnia.
Pertama kali bertemu, Agnia merasa banyak kemiripan antara Mirza dan Ravindra. Ya, mereka adik kakak, bukan? Wajar jika wajah mereka banyak kemiripan, sama-sama tampan, berpostur tegap dan gagah dengan tinggi sekitar 185cm, ramah dan sopan. Hanya saja Ravindra terlihat lebih dewasa, selebihnya tidak ada lagi hal yang menonjol.
“Kak Ravin belum pernah ketemu Kak Nia, 'kan? Pacarnya Kak Mirza.” Citra dengan antusiasnya memperkenalkan Agnia. “Bentar lagi ada bayi lucu di sini,” lanjutnya sembari tersenyum senang.
“Nanti Mama bujuk kakak kamu itu, biar bayinya tetep di sini aja. Nia gak apa-apa ikut ke Cilegon kalo udah nikah, tapi entar bayinya sama Mama.” Tari akan berusaha membujuk Mirza.
“Hore.” Citra mengangkat kedua tangannya ke udara, bersorak riang persis seperti anak kecil.
Tari tidak asal membual. Di usianya yang kini menginjak 50 tahun, tentu ia mendambakan seorang cucu. Untuk itu, ia ingin merawat bayi yang diketahuinya darah daging Mirza. Tari seringkali merasa kesepian, terutama jika Citra sedang tidak ada di rumah. Wajar jika dia berharap suasana rumah tersebut akan ramai oleh tangisan bayi.
“Nggak apa-apa, ya, Rav?” Tari meminta persetujuan secara langsung kepada Ravindra.
“Kenapa?” Ravindra malah terlihat bingung, tak fokus dengan apa yang dibicarakan mereka.
“Mama mau rawat anak Mirza. Katanya Nia mau nikah setelah lahiran dan Mirza bakal bawa Nia ke Cilegon. Tapi Mama keberatan kalo cucu Mama ikut, maunya di sini aja temenin Mama. Itu juga kalo kamu setuju.” Tari menjelaskan panjang lebar.
“Boleh.” Ravindra mengangguk asal, padahal ucapan ibu tirinya belum dia cerna dengan baik.
“Terima kasih, Kakak.” Citra memeluk Ravindra dengan manja, lalu kembali melanjutkan makannya. “Kak Ravin gak mau nanyain gimana sekolah aku? Tumben. Biasanya tiap ketemu pasti nanya itu.”
“Jawaban kamu selalu sama. Ngapain Kakak harus tanya tiap hari?” Ravindra mendadak gemas dengan raut Citra yang berubah jadi cemberut.
“Ih, 'kan emang tiap hari juga Kakak nanya pertanyaan yang sama!” Citra kesal sendiri.
“Ya udah, gimana sekolah kamu?” Ravindra akhirnya memberikan pertanyaan yang sebenarnya bosan dia tanyakan setiap kali bertemu Citra.
“Bete!” Citra mengerucutkan bibirnya.
“Kenapa?” Ravindra terkekeh melihatnya.
“Ada murid baru, Kak. Terus dia tuh sok banget orangnya. Dia pikir dia cantik? Cantikan juga aku!” adu Citra yang berakhir menyombongkan diri.
“Cantikan kamu. Kakak yakin banget itu.” Ravindra manggut-manggut saja seakan setuju.
Begitulah sikap Citra terhadap Ravindra, sangat dekat, tidak ada kesungkanan sama sekali. Gadis yang masih kelas tiga SMA itu dikenal dengan ciri khasnya yang periang, banyak bicara, manja, dan kekanak-kanakan. Terkadang sangat menyebalkan dan bertindak sembarangan, tapi terkadang dia juga sangat perhatian dan penuh kasih sayang.
Tidak seperti Mirza yang hadir sebagai bukti perselingkuhan Prambudi bersama Tari, Citra terlahir setelah Tari resmi menjadi menantu Rajasa. Tak heran, Ravindra begitu menyayangi gadis itu melebihi apa pun. Bahkan, alasan kuat Ravindra pulang ke rumah adalah Citra, gadis yang selalu membuatnya terhibur dan lupa masalahnya.
“Kak Nia kenapa gak makan?” Citra baru sadar keberadaan Agnia yang sejak tadi hanya diam.
“Kamu gak suka makanannya?” Tari juga baru menyadari bahwa makanan Agnia masih utuh.
“Bu—bukan gitu.” Agnia mengelak dengan cepat. “Akhir-akhir ini makanan apa pun susah masuk ke perut. Gak ada nafsu sama sekali.”
“Mama ngerti. Hamil muda emang kebanyakan kayak gitu, gak nafsu makan. Tapi biasanya suka ngidam mau makanan apa gitu. Misal buah mentah, atau makanan yang lainnya.” Tari pernah merasakan kehamilan, tentu paham dan memakluminya.
“Kakak ada ngidam, gak?” Citra penasaran.
“Nggak ada kayaknya. Cuma gak nafsu makan aja.” Agnia tidak merasa menginginkan sesuatu.
“Besok kita periksa, ya. Ntar dikasih resep sama dokter biar kamu gak terlalu mual-mual, terus dikasih penambah nafsu makan juga,” ucap Tari yang mendapat anggukkan singkat dari Agnia.
“Periksanya pas aku udah pulang sekolah, dong. Aku mau ikut.” Citra tiba-tiba merengek.
“Gak usah ikut.” Tari merasa tak penting.
“Aku mau lihat, Ma.” Citra memelas manja.
“Lagian perutnya masih rata gitu, janinnya belum terbentuk bayi. Percuma kamu ikut, gak bisa lihat bayinya kayak gimana.” Tari tetap tak mau membawa Citra, padahal anak gadisnya itu hanya penasaran dengan cara memeriksa kandungan.
“Kalo Kak Nia belum berani tidur sendiri, biar Kakak tidur di kamar aku aja. Atau aku yang tidur di kamar Kak Nia?” Citra menawarkan, bisa saja Agnia seorang penakut dan enggan tidur sendirian.
“Berani tidur sendiri? Mau Mama temani?” Tari ikut menawarkan diri, baru ingat akan hal itu.
“Ih, Ma, sama aku aja. Sesama anak muda. Iya, 'kan, Kak?” Citra protes, malah menyinggung.
“Maksud kamu, Mama udah tua, gitu?” Tari melayangkan tangannya untuk mencubit Citra.
Aktivitas makan malam pun terhenti sejenak. Citra mendadak sibuk menghindari cubitan dari tangan Tari, sedangkan sang ibu terus berusaha untuk menggapai bagian tubuhnya. Adegan tersebut sudah lumrah terjadi, dan sejujurnya itulah yang Ravindra nanti-nantikan. Mereka berdua memang tak pernah gagal membuatnya merasa terhibur.
Pada dasarnya Tari memang wanita baik dan Ravindra akui itu. Dia tidak pernah membedakan antara dirinya ataupun Mirza, selalu berlaku sama. Kasih sayangnya tulus sebagai ibu, tidak ada yang dibedakan. Hanya saja, caranya untuk menjadi menantu Rajasa yang salah, yakni menjadi orang ketiga di dalam pernikahan ayah dan ibunya.
Di sisi lain, Agnia terdiam, merasa hatinya tercubit sesuatu melihat kedekatan Tari dan Citra. Mengapa rumahnya tidak sehangat rumah ini? Di rumahnya tidak pernah terdengar canda tawa, yang ada suara teriakan akibat pertengkaran. Bahkan, Agnia sudah sering menjadi pelampiasan amarah sang ayah, padahal dia tidak tahu masalahnya.
Baru beberapa jam mengenal Tari dan Citra, Agnia merasa telah memasuki dunia baru dalam hidupnya. Kelembutan Tari berhasil membuatnya merasa nyaman, keakraban Citra juga membuat detik-detik yang dilaluinya begitu berwarna. Inilah yang dia impikan sejak dulu, yaitu kehangatan keluarga yang tak pernah terjadi di rumahnya.
“Jangan tidur malem-malem. Kalo gak berani tidur sendirian, bilang aja. Ntar aku nyuruh Citra buat temenin kamu.”
“Aku berani tidur sendiri, kok.”
“Yakin?”
“Iya, Mas.”
“Gimana Mama sama Citra?”
“Mereka baik banget sama aku.”
“Kalo ada yang bikin kamu gak nyaman, bilang aku, ya. Jangan dipendam. Aku gak mau kamu gak nyaman di sana.”
“Aku nyaman, Mas. Apalagi Citra, bawel banget anaknya. Hehe.”
“Justru karena dia ngomongnya blak-blakan kayak gak punya rem, aku khawatir dia gak bisa jaga ucapannya sama kamu.”
“Aku bisa bedain bercanda sama bukan, ya. Gak sebaper yang kamu kira!”
“Ya siapa tau aja kamu risih sama Citra, tapi kamu gak berani bilang.”
“Aku ngantuk, Mas.”
“Ya udah, tidur sana, udah malem. Besok periksa sama Mama, ya.”
“Kamu juga tidur, jangan main game.”
“Iya, Sayang. Bye, assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumsalam.”
Agnia tersenyum hangat, memandangi wallpaper ponselnya yang tidak lain adalah potret Mirza. Lihatlah, dia selalu berhasil membuat hatinya merasa nyaman dan berbunga-bunga. Sikap manis dan perhatiannya yang besar sudah cukup menjadi alasan kuat Agnia mencintai pria itu dengan sangat. Tak hanya tampan, dia juga sangat murah hati.
Dibalik senyum Agnia yang mengembang indah, terdapat keraguan yang mendalam. Mirza bisa dikategorikan pria idaman dan sempurna, sedangkan dirinya? Terkadang Agnia merasa mimpi memiliki kekasih sesempurna dia dan ketakutan terbesarnya adalah penyesalan pria itu karena memilih wanita yang tak setara seperti dirinya.