Rasanya tak kuat menahan gelisah dan kecewa atas kehamilannya sendirian, akhirnya Agnia mencurahkan segala problema di hatinya pada seseorang di sebrang sana. Tangisnya dengan setia mengiringi setiap kata yang terucap, napasnya terasa begitu sesak dan berat. Tapi, dia terus bicara menyerukan isi pikirannya yang sangat kacau.
“Aku gak tau harus ngomong apalagi ....”
“Sayang, aku udah bosen bilang sama kamu, kalo aku sayang sama kamu. Soal anak yang kamu kandung, mereka juga anak-anak aku. Mereka yang bakal jadi pelengkap rumah tangga kita nanti.”
“Mas, aku—”
“Aku gak mau denger keluhan kamu.”
“Aku benci sama takdir aku sendiri!”
“Termasuk aku? Kalo kamu benci takdir kamu, artinya kamu juga benci aku, karena akulah takdir kamu. Aku yang bakal jadi suami kamu, aku—”
“Bukan gitu, Mas. Harusnya ... harusnya ini gak terjadi, harusnya gak kayak gini, harusnya—”
“Sayang, pasti ada keajaiban dibalik sebuah musibah. Kamu harus yakin itu. Sekarang aku tanya, apa yang bikin kamu terbebani? Bilang ke aku.”
“Apalagi? Bukan cuma aku yang jadi korban, tapi kamu juga, Mas. Jujur, aku malu banget.”
“Atas apa?”
“Aku harus lahirin dua anak yang nggak tau siapa ayahnya dan malah kamu yang tertuduh.”
“Ada aku yang bakal nikahi kamu, apa itu aja belum cukup bikin hati kamu tenang?”
“Justru aku takut kamu nyesel kedepannya. Kamu harus jadi ayah dari kedua bayi aku, harus tanggung jawab kayak besarin mereka, nyekolahin mereka, harus ikut repot sama tingkah mereka, sama banyak tuntutan mereka sebagai anak.”
“Apalagi? Udah selesai?”
“Kamu ngertiin perasaan aku, dong, Mas.”
“Kamu yang nggak ngerti-ngerti, Sayang.”
“Atau ....”
“Atau?”
“Kalo digugurin aja gimana? Katanya kalo hamil karena pemerkosaan boleh digugurin.”
“Agnia ... Sayang, pikiran kamu itu ... Ada aku, Sayang, ada aku. Aku yang bakal nikahin kamu. Apa perlu aku tidurin kamu dulu, biar kamu ngerasa kalo aku ikut andil jadi ayahnya anak-anak kamu?”
Kegiatan menguping Ravindra terganggu ketika ponselnya bergetar. Beruntung hanya getaran saja, tidak berdering dan membuat Agnia sadar bahwa ada seseorang di depan pintu kamarnya. Membaca pesan yang dikirimkan seseorang, Ravindra yang sedang tidak baik-baik saja semakin kacau.
Lusi
Rav, maaf, lain kali jangan nyuruh-nyuruh Mas Ferdi di luar jam kerja, apalagi sekarang udah malam. Karin mendadak demam tinggi, dari tadi ngigau terus. Mau dibawa ke dokter gimana kalo jam segini Mas Ferdi masih kamu suruh-suruh?
20:20
Ravindra
Sorry, Lus. Gue telepon dia sekarang.
20:22
Lusi
Gak aktif. Dari tadi di telepon juga gak bisa.
20:23
Ravindra
Gue susul dia sekarang.
20:25
Ravindra yakin Ferdi sedang berada di hotel bersama selingkuhannya. Pria yang sudah beristri itu memang senang bermain wanita, bahkan di saat istrinya tengah hamil anak kedua. Jujur saja, Ravindra benci perselingkuhan dalam rumah tangga, karena anak yang menjadi korbannya. Sayang, ia tak dapat menghentikan Ferdi.
Pernikahan Ferdi dan Lusi telah menjadi sebuah contoh nyata bagi Ravindra. Itu alasannya ia tak ingin cepat-cepat menikahi kekasihnya, Silvia. Padahal, keluarga Rajasa sudah sering menyinggung tentang pernikahan, Silvia juga demikian. Hatinya hanya belum siap, dan ia tak ingin menyesali sesuatu yang tak sepantasnya di masa depan.
Di tempat lain
Agnia menghentikan perbincangan ketika mendengar suara ribut dari arah luar. Penasaran apa yang terjadi, akhirnya ia keluar dari kamarnya untuk mencari tahu. Pintu kamar Ravindra terbuka lebar hingga terlihat si pemilik kamar sedang melakukan apa. Pria itu sedang mengamuk!
Entah apa yang terjadi, Ravindra terlihat begitu murka hingga melemparkan banyak barang ke sembarang arah. Tak hanya itu, dia juga memukul cermin besar berulang kali. Bukan hanya cermin tersebut yang pecah bahkan hancur, tangannya pun terluka hingga mengeluarkan banyak darah.
“Kak Nia!” Citra berlari ke arah Agnia yang terkulai lemah di depan kamar Ravindra. “Kakak kenapa?” tanyanya panik.
“Nia, kamu kenapa, Sayang?” Tari juga sama paniknya, menyentuh wajah Agnia seolah sedang memastikan sesuatu.
“Kakak lemas? Pusing? Atau gak enak badan?” cecar Citra tak santai, tak tahu juga harus melakukan apa.
Agnia menggelengkan kepalanya dengan berat tanpa mengatakan apa pun. Respons tubuhnya terhadap suara dan tindakan 'kekerasan' membuatnya lemas seketika. Bukan hanya tangan, tapi tubuhnya pun bergetar hebat. Wajahnya terlihat ketakutan seakan ada makhluk menyeramkan.
Sama seperti Agnia, kedatangan Tari, Citra, dan asisten rumah ke lantai dua adalah untuk memastikan apa yang terjadi di kamar Ravindra. Tapi, yang mereka lihat malah sosok Agnia yang terlihat sangat tertekan dan ketakutan. Dalam keadaan itu, Tari dan Citra memiliki pertanyaan yang sama, apa Ravindra marah kepada Agnia?
Mendengar banyak suara di luar kamar, Ravindra menghentikan aksinya secara mendadak. Kepalanya bergerak ke arah pintu, di mana ada tiga wanita yang juga sedang memandangnya. Tapi, mata elangnya hanya tertuju pada Agnia yang terlihat ketakutan. Tak sadar, kakinya melangkah lebar untuk menghampiri mereka begitu saja.
“Ada apa?” Ravindra bertanya dengan tenang seolah tidak terjadi apa pun sebelumnya.
“Ravin, ada apa sama kamu?” Tari mengira Ravindra yang telah membuat Agnia terpukul.
“Tangan Kak Ravin berdarah.” Citra menunjuk tangan sang kakak yang berlumur darah segar.
“Kamu ngapain, Rav? Ada masalah apa sampai kayak gini?” Tari baru tahu Ravindra terluka.
Agnia yang masih terduduk di atas lantai, merasakan pusing dan mual secara bersamaan saat melihat tetesan darah. Penglihatannya dirasa terus menghitam dan buram, kepalanya tak kuat lagi menahan sesuatu yang terasa berat. Tubuhnya tak dapat bertahan lagi, ambruk tak berdaya.
“Kak Nia!” pekik Citra histeris.
“Ya ampun, Nia!” Tari sama paniknya.
“Kak Ravin, tolongin Kak Nia, Kak!” Citra berteriak khawatir, meminta pertolongan pada Ravindra karena hanya ada dia sebagai pria.
“Kita bawa ke klinik aja, Rav. Mama takut Nia kenapa-kenapa.” Tari segera memberikan usul.
Tanpa banyak pikir, Ravindra segera mengangkat tubuh Agnia untuk dibawanya ke klinik terdekat. Kondisinya memang terlihat tidak baik-baik saja, terutama wajahnya yang sangat pucat bagai sedang berpuasa. Seolah tak merasa sakit, Ravindra tak menghiraukan lukanya, malah ikut syok dengan keadaan wanita itu.
Selama perjalanan, Ravindra mengatakan tak tahu menahu perihal Agnia yang menghampiri kamarnya. Ia pun dengan tegas menyangkal tuduhan, bahwa kekesalannya bukan tertuju pada wanita itu. Namun, ia juga tidak bisa menjelaskan masalah yang sedang menimpanya saat ini.
Bukan hanya Agnia yang ditangani petugas medis, tapi Ravindra juga. Untuk apalagi jika bukan mengobati lukanya yang parah? Selain sayatan-sayatan yang disebabkan kaca, serpihan-serpihan kaca itu juga tampak menancap hingga terbenam di dalam daging tangannya.
Sejak datang ke klinik Ravindra hanya diam, tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Bahkan saat tangannya ditangani dokter, ia tetap tak berekspresi seolah tidak ada rasa sakit. Semua yang ada pada dirinya seolah mati rasa, tidak ada reaksi. Pikirannya terus berputar pada suatu hal.
“Rav, kamu lagi masalah?” tanya Tari lembut, mengusap punggung Ravindra yang sedang duduk di ruang tunggu. “Mama tau, Mama emang gak berhak buat campuri urusan kamu. Tapi, Mama minta kamu buat gak marah-marah di rumah. Kamu lihat sendiri 'kan kondisi Nia? Mirza bilang, Nia punya trauma sama kekerasan.”
“Maaf.” Hanya satu kata itu yang Ravindra ucapkan tanpa minat.
“Sebesar apa pun masalah kamu, serumit apa pun itu, jangan dilampiaskan ke barang-barang, apalagi ke diri kamu sendiri.” Tari menunjuk tangan Ravindra yang terluka.
“Gimana kondisi Nia?” Ravindra lebih mengkhawatirkan kondisi wanita itu.
“Dokter bilang Nia cuma syok. Semoga dia cepat sadar,” jawab Tari apa adanya. “Kamu pulang duluan aja, Rav. Istirahat di kamar Mirza atau kamar tamu. Kamar kamu biar dibersihin dulu.”
“Aku ada urusan penting dulu, Ma.” Ravindra beranjak dari duduknya.
“Jam segini?” Tari sedikit keberatan, khawatir akan suatu hal. “Rav, Mama mohon, tenangin diri kamu. Sekarang pulang aja, jangan ke mana-mana. Kamu juga jangan banyak pikiran.”
“Aku mau ke rumah Ferdi.” Ravindra yakin, ibunya pasti mengira ia akan mabuk-mabukan.
Tari tak bisa mencegah lagi, membiarkan Ravindra meninggalkan klinik tersebut. Pria yang mendadak frustasi itu segera malakukan perjalanan menuju rumah Ferdi. Ferdi bukan hanya sepupu baginya, tapi juga sahabat. Dia harus tahu masalah yang sedang Ravindra hadapi saat ini.