Bab 5 iblis Laba-laba part 1

1333 Words
Ryo berjalan masuk ke dalam terowongan, meninggalkan reruntuhan yang masih memancarkan sisa-sisa energi magis dan bau ozon dari pertarungan terakhirnya. Kegelapan di depannya terlihat lebih pekat, hampir seperti sebuah pelindung yang sulit di tembus. Udara kian berubah, menjadi lembab dan berat, beraroma seperti tanah basah dan daging yang membusuk. Kekuatan Inferno yang baru saja diserapnya berdenyut di dalam nadinya, sebuah nyala api yang hangat dan liar yang bertolak belakang dengan kedinginan yang merayap dari dinding batu. Luka di tubuhnya masih berdenyut-denyut sakit. Tusukan di paha, goresan di lengan, memar di rusuk—semuanya bernyanyi dalam paduan suara yang menyiksa. Tapi ada sesuatu yang lain sekarang, sebuah getaran asing yang bersemayam di dalam dirinya. Jiwa Inferno kian bergejolak. Itu bukan sekadar kekuatan, tapi itu adalah sebuah kehadiran, sebuah naluri purba yang haus akan kehancuran dan kemarahan. Ryo merasakan seolah inferno mencakar di balik tulang rusuknya, mendorongnya untuk terus membakar, menghancurkan, dan mengubah segalanya menjadi abu. Tak lama kemudian, Ryo mendengar bisikan." Kau yakin bisa mengendalikanku? " Langkah Ryo terhenti sejenak." Kau... Inferno". Jawab Ryo kepada entitas yang berbicara kepadanya. "Tunjukkan bahwa kau layak untuk menjadi tuanku. Jika tidak... Jika tidak... " Balas Inferno dari dalam benak Ryo. "Bisa di percepat? Jika tidak apa? Kita tidak sedang kuis di sini. Kau tau? "Lanjut Ryo. " Tidak... " "Saya belum bicara...! Tidak sopan memotong pembicaraan orang. Kau tidak pernah makan bangku sekolah yah hah..! " "Memang tidak. Suatu saat nanti kau akan tahu sendiri. " Gumam Inferno. "Sungguh percakapan yang tidak ada artinya. Buang-buang waktu saja. Huhh" Entitas itu terdiam lagi. Ryo pun melanjutkan perjalanannya. Ruangan itu sungguh ngelap, kemudian Ryo mengepalkan tangan, dan nyala api kecil—lebih merah dan liar daripada api ninjutsu biasa—berkobar di sekitar pergelangan tangannya, menerangi lorong sempit untuk sejenak. Penerangan itu menunjukkan dinding yang basah dan berlumut, dipenuhi dengan ukiran-ukiran aneh yang terdistorsi oleh bayangan yang menari-nari. Dia segera mematikan api itu. Penglihatan malamnya sebagai ninja cukup baik sebenarnya, tetapi di Goa ini, bayangan-bayangan itu seolah hidup dan sengaja mengaburkan pandangan. Dia mengandalkan pendengarannya, indra penciumannya, getaran di bawah kakinya. Sebuah dasar ilmu untuk bertahan diri yang ia pelajari di sekolah ninja saat masih berada di klan Serigala. "Aku harus lebih kuat lagi,” bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya serak dan asing di telinganya. Kata-kata itu terasa seperti sumpah sekaligus sebuah kutukan. Dia berjalan perlahan, setiap langkah kakinya berjalan dengan penuh kehati-hatian. Lorong itu menurun dengan tajam, berbelok-belok seperti usus suatu raksasa yang sudah mati. Suara tetesan air di tempat yang jauh bergema, menciptakan irama yang mengganggu indra pendengaran. Dan kemudian, ada suara lain. Sebuah derit yang lembut, seperti cakar yang menggaruk batu. Ryo berhenti, ia menempelkan dirinya ke dinding yang dingin dan basah. Napasnya ditahannya agar tidak mengeluarkan suara sekecil apapun. Dia menyipitkan matanya, mencoba untuk menembus kegelapan. Krrk… Krrk… Suara itu datang dari depan, dan dari atas. Dia mengangkat pandangannya, tetapi langit-langit terowongan tenggelam dalam kegelapan, tak ada yang bisa ia lihat. Naluri Inferno di dalam dirinya mendengus, seperti anjing penjaga yang mencium seekor mangsa. Itu adalah perasaan jijik dan ketertarikan sekaligus. Dia memutuskan untuk tidak menunggu. Dengan gerakan cepat dan senyap, dia melesat ke depan, menggunakan shunshin no jutsu yang dimodifikasi dengan percikan kekuatan bayangan yang ia dapatkan melalui pertarungan. Gerakannya meninggalkan jejak asap kehitaman yang dengan cepat menghilang. Lorong itu tiba-tiba terbuka, muncul sebuah jalan yang mengarah ke sebuah ruang gua yang lebih besar. Di sini, sumber cahaya aneh yang berwarna kehijauan muncul dari jamur-jamur fosfor besar yang menempel di dinding dan langit-langit, memancarkan cahaya hijau pucat dan biru yang menyakitkan mata. Cahaya itu menerangi pemandangan yang mengerikan. Ruangan itu dipenuhi dengan struktur yang mirip sarang laba-laba raksasa, terbuat dari benang-benang lengket dan besar yang memancarkan kilauan keperakan di bawah cahaya jamur. Beberapa makhluk aneh menggantung di atas. Beberapa dari makhluk-makhluk kecil itu, mirip dengan seekor kelelawar dengan mata putih s**u, sudah mati dan dililit erat. Yang lain adalah sisa-sisa tulang belulang manusia dan humanoid, masih mengenakan sisa-sisa pakaian zirah atau jubah ninja yang lusuh. Udara dipenuhi dengan bau manis yang menjijikkan, mungkin seperti daging yang membusuk dan madu basi. Dan di tengah ruangan, terlihat seekor makhluk yang sedang mengunyah seekor kelelawar. Makhluk itu memiliki tubuh kurus seperti laba-laba dengan delapan kaki yang panjang dan runcing, tetapi bagian atas tubuhnya adalah tubuh seorang yang kurus, dengan kulit pucat kelabu dan tangan yang berbentuk cakar hitam yang panjang. Kepalanya memanjang, tanpa mata, hanya sebuah mulut yang dipenuhi dengan taring-taring melingkar yang berputar pelan, menggerus daging dan tulang mangsanya. Itu adalah sumber suara derit itu. Krrk… Krrk… Ryo merasakan dorongan dari dalam. Inferno mendesak untuk membakar segalanya, membakar sarang yang menjijikkan ini, membakar makhluk itu menjadi abu. Tapi jiwa ninja di dalamnya hasrat itu. Kebakaran bisa memicu sesuatu hal berbahaya yang lain di gua ini, atau ia bisa terjebak sendiri dalam perangkap api yang di buatnya. Dia menarik kunai-nya. Logam itu terasa dingin di genggamannya. Mencoba mengambil posisi agar bisa menyerang dan bertahan. Tanpa peringatan, kepala makhluk tanpa mata itu berputar ke arahnya. Mulut yang penuh berhenti mengunyah. Ia mengendus udara di sekitarnya. “Daging… baru…” suara parau keluar dari mulutnya, lebih seperti desisan udara daripada suara. “Daging yang hangat…” Lima dari delapan kakinya yang runcing menancap ke tanah, mendorong tubuhnya ke depan dengan kecepatan yang luar biasa. Ia meluncur di atas lantai gua seperti peluru, cakar-cakarnya mengarah ke jantung Ryo. Ryo yang sedari tadi sudah memasang kuda-kuda, langsung menghindar dan melompat ke samping, membiarkan makhluk itu melesat melewati dirinya. Saat makhluk itu lewat, Ryo segera melancarkan kunainya ke tubuh atas makhluk itu. Namun, bukan darah yang keluar, tetapi suatu cairan kental dan bening yang segera mengeras menjadi benang seperti sutra. Makhluk itu mendarat dengan anggun, berputar dengan cepat. “Luka… kecil. Aku akan membungkusmu. Menyimpannya untuk makanan penutup nanti.” “Cih terlalu cerewet. Aku akan mengajarkan kamu, apa itu arti dari penderitaan,” Ryo membalas, suaranya datar, menutupi detak jantungnya yang berdebar kencang. Dia melemparkan tiga shuriken. Makhluk itu mengabaikannya, ia membiarkan senjata itu menancap di kulitnya yang keras. Shuriken-shuriken itu terperangkap dalam cairan bening yang langsung mengeras, membuatnya tidak bisa di ambil lagi. Makhluk itu menyemburkan sesuatu dari mulutnya. Bukan jarum atau racun, tetapi jaring benang yang luas dan lengket, berpendar di cahaya jamur yang suram. Ryo berbalik ke belakang, tetapi jaring itu begitu luas sehingga ujungnya menyentuh sepatunya. Cairan makhluk itu langsung merekat, ia pun segera menariknya dengan kuat. Ryo akhirnya terjatuh, kaki kirinya terikat oleh benang yang kuat seperti baja. "Kena kau! ” desis makhluk itu dengan gembira. Ia mendekat, kakinya yang runcing menancap di tanah seperti tombak, mendekati kepala Ryo. Panik mencoba menyergapnya. Dia bisa merasakan tarikan yang tak tertahankan, rasa lengket yang menjijikkan di kulitnya. Jiwa Inferno dalam dirinya berteriak untuk dilepaskan. Tapi kemudian, sesuatu yang lain muncul. Sebuah ingatan. Bukan dari Inferno, tapi dari dirinya sendiri. Latihan bertahun-tahun lalu. Masternya di perguruan, mengajarkan seni meloloskan diri. "Seorang ninja bukanlah seekor lalat, Ryo. Jangan sampai terjebak dalam jaring. Tapi jika kau terjebak, ingat! kau bukanlah seekor lalat yang lemah. Tapi kau adalah iblis yang membawa gunting." "Gunting yah.. " Gumamnya sembari mengangkat tangannya ke atas, ia memusatkan kekuatan api dari Inferno untuk membentuk sebuah gunting. " Hmm, aku rasa ini kurang efektif. " Gumamnya. Ia sadar serangan itu tidak hanya akan membakar jaringnya—tapi itu mungkin akan membakar kakinya juga. Sebagai gantinya, dia mengarahkan telapak tangannya ke tubuh makhluk besar yang mendekat itu dan melepaskan semburan api yang terkonsentrasi dan dengan panas yang membara, sebuah Fireball Jutsu yang dimodifikasi oleh kekuatan Inferno yang liar. “Jurus ninja : Bola api!” Bola api itu, berwarna merah menyala dengan inti oranye putih, melesat langsung ke tubuh yang berbentuk manusia dari makhluk itu. Makhluk itu menjerit—suara melengking yang memecah telinga—dan terlempar ke belakang hingga terlempar menghantam tembok. Bagian dari tubuhnya yang kurus itu pun terbakar, kulitnya mengelupas dan melepuh di bawah panas yang intens. Bau daging terbakar yang menusuk memenuhi udara, menutupi bau manis yang menjijikkan. Ryo tersenyum tipis." Kena kau.. " Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD