Ketegangan berlanjut,
Jaring yang melilit kaki Ryo sedikit mengendur, saat sang iblis terkena sebuah serangan sehingga kekuatanya sedikit berkurang. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Dengan kekuatan yang bergejolak, Ryo merobek sepatu botnya agar bisa terlepas dari cengkraman Iblis itu, ia segera menjauh meski sepatu botnya masih terperangkap jaring.
Ryo pun berdiri, kaki kirinya sekarang hanya berbalut kaus kaki ninjanya, ia merasakan dinginnya batu melalui kain yang lusuh itu. Makhluk itu menggeliat-geliat di tanah, menjerit-jerit kesakitan sambil mencoba memadamkan api yang membakar tubuhnya dengan cairan beningnya sendiri.
Ryo tidak akan memberikan iblis itu kesempatan untuk bangkit lagi. Dengan cekatan, ia segera menutup jarak antara langsung meloncat ke arah iblis itu. Api mulai ia kobarkan di sekitar tangan kanannya, membentuk sesuatu yang mirip dengan cakar yang menyala oleh api yang bergejolak. Jurus baru, dan dia tentunya belum memikirkan sebuah nama yang cocok untuk jurus ini. Tapi yang pastinya, serangan ini terbentuk karena kemarahan, ambisi, dan tekad yang luar biasa dari seorang ninja yang terhianati.
"Kita hitung dosamu iblis busuk". Teriaknya sembari segera menyerang, cakar yang membara itu ia tancapkan ke d**a iblis yang sedang kehilangan pertahanannya.
Roarrrrr... teriak makhluk itu ketika cakar api menembus dadanya. Tubuhnya menggeliat, api melahap setiap inci kulit yang tersisa. Bau daging hangus bercampur dengan cairan bening yang mendidih memenuhi udara.
Perlahan, cahaya di tubuhnya meredup, seperti bara yang kehabisan napas. Ryo berdiri mematung, napasnya terengah, api di tangannya padam bersamaan dengan runtuhnya kekuatan sang iblis. Ia menatap tubuh yang kini tak lebih dari bangkai hangus, tapi... hatinya tidak merasa puas.
Tidak ada senyuman. Tidak ada kemenangan. Hanya sepi yang menempel di d**a, seperti batu dingin yang menekan.
“Kekuatan... apa ini?” gumamnya pelan. Telapak tangannya masih terasa panas, tapi yang merayap di pikirannya bukan kebanggaan, melainkan sesuatu yang aneh. Pengetahuan. Rasa asing yang berputar, halus tapi licik, seperti benang-benang tipis yang siap mengikat. Sebuah cara untuk memintal, menjebak, dan mengikat.
“Mungkin… di pertarungan berikutnya aku bisa memanfaatkannya.” Napasnya berat. Tapi bahkan ucapan itu terdengar hampa, seakan ia tak benar-benar percaya pada dirinya sendiri.
Di hadapannya, iblis itu sudah tak bernyawa. Namun yang tumbuh di dalam dadanya justru lebih gelap dari api yang baru saja ia padamkan.
Dia segera menarik tangannya dari d**a makhluk itu. Api padam. d**a makhluk itu menganga, terbuka seperti luka yang menolak sembuh. Di sana, tersembunyi sebuah kelenjar kecil berdenyut, memancarkan cahaya keperakan yang aneh—seperti jantung mungil yang masih melawan takdir. Tanpa ragu, Ryo merobeknya keluar. Hangatnya menempel di telapak tangan, berdenyut pelan, seolah bernapas. Lalu, sebelum sempat ia memikirkan apa pun, benda itu meleleh, menghilang begitu saja di udara.
Seketika, sesuatu berubah. Pengetahuan itu mengalir, menembus pikirannya. Ia bisa merasakan benang-benang di sekitar—menyadari titik rapuh, titik yang bisa ditarik, dipelintir. Sarang yang tadinya menjijikkan, kini terlihat seperti pola yang bisa ia kendalikan." Sepertinya tidak seburuk yang kuduga. Ayolah Ryo... Belajar beryukur saja, setidaknya dapat upgrade kekuatan." Gumamnya ke dirinya sendiri.
Ini bukan kekuatan iblis utama. Bukan hadiah yang besar. Hanya seperti kekuatan yang ampas. Kalau dalam game di ps mungkin mininya mini bos. Tapi tetap sebuah senjata baru berada di tangannya.
Ryo berdiri di tengah-tengah ruangan, dikelilingi mayat dan tembok yang sedikit hancur. Napasnya memburu. Tubuhnya lebam, luka yang terbuka, setengah terbakar, dan kini malangnya… ia kehilangan sepatu. Tapi untungnya ia masih hidup. Dan lebih kuat dari sebelumnya. Tapi di pikirannya, adakah cara untuk meningkatkan kekuatan yang 'ampas' ini?.
Ia menunduk, mencabut kunai yang masih tertancap di tubuh makhluk yang gosong itu. Lalu pandangannya jatuh pada sesosok ninja yang sudah tinggal kerangka, terdiam bisa di pojok goa. Sepasang sepatu bot masih menempel di kakinya.
Ryo berjalan dengan dengan senyum yang lebar." Hei bung... Coba tebak apa yang ada disini.."
Ryo meraihnya, menarik satu, lalu segera mengenakannya. Agak longgar, tapi lebih baik daripada tanpa apa pun. Jijik? Ia tidak punya waktu untuk itu." Maaf yah tulang, tapi setidaknya sepatu ini lebih berguna jika aku yang mengenakannya. " Ua sedikit terkekeh sembari mengeluh tengkorak kepala ninja malang itu.
Ryo tahu ia harus terus bergerak.
Goa ini tidak memberi ruang untuk terus berlama-lama. Goa ini adalah guru—guru yang paling kejam—dan setiap pelajaran datang dengan darah dan keringat yang mengalir.
Waktu berjalan entah berapa lama. Jam? Hari? Semua itu tidak lagi penting di kegelapan total yang menelan segalanya. Ryo beristirahat sejenak di ceruk batu yang sempit, mengunyah daging kering dari ranselnya. Air menetes pelan dari langit-langit, ia tampung dalam wadah kecil, mencampurnya dengan sedikit bubuk penawar racun—salah satu dari persediaan terakhir." Ahhh... Setidaknya ada makanan. Tidak mungkin aku makan daging iblis kan? " Gumamnya sembari mengunyah pelan.
Ia memejamkan mata. Bukan untuk tidur, melainkan untuk merasakan. Api milik Inferno, pengetahuan dingin si Pemintal—keduanya berputar di dalam tubuhnya. Mereka bukan sekutu, bukan teman, bukan pula piaraan. Tapi, mereka adalah binatang buas, dirantai, yang harus di jinakkan melalui sebuah pertarungan. Dan ia harus tetap jadi tuan mereka.
Lalu… suara langkah kaki terdengar mulai mendekat.
Bukan kaki makhluk aneh atau iblis. Bukan gesekan p****t dari laba-laba. Tapi, Ini suara manusia. Langkah yang ringan. Halus. Terlatih. Seperti bayangan yang tahu cara bernafas tanpa suara dalam diam.
Ryo langsung siaga. Tangannya mencengkeram pedang pendeknya, tubuhnya merapat ke dinding, menyatu dengan gelap. Ia menyatu dengan alam seolah nafasnya tak pernah ada. Mata Ryo fokus menatap ke sumber suara.
Tak berapa lama, sosok itu pun muncul dari lorong. Seorang wanita. Tinggi, ramping. Jubah ninjanya compang-camping, kotor oleh darah dan tanah, tapi masih menempel di tubuh yang lentur. Rambut pirangnya acak-acakan, terurai liar. Di tangannya, sebuah pedang ninjato berkilat—bersih, terawat, seolah pedang itu tak pernah terkena darah dari pertarungan. Matanya biru sedingin baja. Tatapannya menyapu setiap sudut ruangan dengan ketelitian yang hanya dimiliki seorang pembunuh veteran.
"Ayaka? " Gumam Ryo dalam keheningan.
Ryo mengenalinya. Wanita itu adalah Ayaka. Dari Klan Kesturi. Sebuah klan yang pernah beraliansi dengan klannya sendiri, sebelum pengkhianatan itu. Dia dikenal karena kemampuan genjutsu-nya yang luar biasa dan sifatnya yang tidak bisa di terka.
"Apa yang dia lakukan di sini? Apakah dia juga dikhianati? Atau apakah dia pemburu, dikirim untuk menyelesaikan quest dari Genzo?" Gumam Ryo dengan nafas yang pelan dan terkontrol.
Ayaka berhenti, tepat di depan ceruk persembunyian Ryo. Dia tidak melihat langsung ke arah Ryo , tetapi sepertinya dia tahu sesuatu.
“Kau bisa keluar dari sana,” katanya, suaranya dingin dan jernih, seperti hembusan angin yang menerpa. “Aku mencium bau darahmu. Dan… bau api? Eh gosong mungkin.”
Ryo tidak langsung keluar dari kamuflasenya. “Ayaka. Dari Klan Kesturi.”
“Ryo,” dia membalas, tanpa terlihat terkejut. “Klan Serigala. Atau, mantan klan Serigala?.” Ada sedikit ejekan dalam nada bicaranya yang manis itu.
“Apa yang kau lakukan di sini?” lanjut Ryo, Ia segera keluar dari persembunyiannya.
“Bisa di sebut survive mungkin. Setidaknya sama sepertimu. Meskipun kelihatannya kau memulai keonaran lebih duluan dari aku.” Matanya melirik ke arah luka dan bekas bakar di tubuh Ryo.
“Apakah kau dikirim untuk mencariku?” tanya Ryo, nada suaranya keras.
Ayaka tertawa pendek, tanpa humor. “Jangan terlalu percaya diri. Dunia itu tak seperti daun kelor yang harus berputar terus di sekelilingmu, Ryo. Aku terdampar disini karena salah jalan. Terjebak, sama sepertimu. Meskipun,” dia mengamatinya lagi, “kau kelihatannya… menjadi lebih kuat .”
Mereka saling menatap satu sama lain, saling bertukar kabar dan informasi.
Ayaka bisa merasakannya, hawa iblis yang kuat sedang bersemayam di tubuh ryo. Ayaka terlihat sedikit waspada.
Ryo menatap Ayaka yang terlihat tidak mempercayai dirinya, Ryo tetap waspada, ia sedikit menjaga jarak. “Goa ini adalah makam, dan Kau sendirian disini?”
Bersambung...