Dia tidak Baik-Baik Saja

4479 Words
Sesaat setelah July kembali dari halaman belakang. [ Anne, apa kau tahu sesuatu? ] Pesan terkirim. July mengirim pesan ke pada sepupunya itu sambil merebahkan diri di atas ranjang tidurnya. Ia ingat betul, kerusakan di pintu itu tepat dengan apa yang ia perbuat kemarin ketika ia kesal memutar karena harus menanam kentang berantena merah sendirian. Ia mencoba untuk kabur dari halaman belakang dan berkali-kali menarik knop pintu tapi tidak bisa ia buka. Saking kesalnya ia menendang pintu dan akhirnya berbekas di sana. Lelaki itu terus saja memandangi handphonenya. Ia menunggu Anne menjawab pesan yang ia kirimkan beberapa menit yang lalu. Tak lama, layar handphone July menyala, sebuah pesan masuk. Balasan dari Anne yang sejak tadi ia tunggu-tunggu. [ Apa lagi sekarang? ] July merubah posisi tidurnya. Ia bertelungkup. Kemudian Ia mulai mengetik, kembali melemparkan pesan balasan untuk Anne. [ Pintu halaman belakang rusak. ] Kirim. July membalas pesan dari Anne dengan secepat kilat. Ia begitu bersemangat untuk membicarakan hal ini pada Anne. Setelah sebelumnya ia gagal membuktikan padanya tentang apa yang ia katakan dua hari lalu. Tidak seperti sebelumnya dimana July harus menunggu balasan Anne, kali ini perempuan itu lebih fast response. Tidak sampai satu menit, July mendapat balasan pesan lagi dari perempuan itu. [ Mengapa tanya padaku? Kau kan yang selalu ada di dalam rumah. ] Rupanya ia tidak sejalan dengan maksud dari perkataan July. Lelaki itu menggelengkan kepala setelah membaca pesan dari Anne. Bukan itu yang ia maksud. Pintu belakang rumah itu, yang tadinya baik-baik saja, sekarang rusak. Itu maksudnya. Memang salahnya karena ia tidak mengatakan lebih banyak tentang hal itu. Ia hanya mengatakan tentang pintu belakang rumah mereka. Jika memang benar lelaki itu hanya bermimpi, seharusnya pintu itu tidak meninggalkan bekas ketika July terbangun. Sama seperti pagar belakang, maupun bekas ledakan di halaman yang kembali rata, atau tentang pagar-pagar dari kayu yang menjadi tempat penyimpanan kacang-kacang kenari raksasa, atau pun sebuah slot mesin besar di sisi kiri halaman belakang rumahnya. Semua terlihat benar-benar normal. July hanya tidak mengerti dengan apa yang terjadi. [ Bukan itu maksudku Anne. Kau tahu kan aku pernah bermimpi kalau di halaman belakang rumah kita ada makhluk pemakan otak? ] Send. July sudah merasa gemas karena ia hanya bisa berbicara dengan Anne menggunakan pesan singkat. Sebenarnya lebih leluasa jika mereka berdua beradu tatap. Sayangnya, Anne masih di luar rumah. Kalau pun July menelponnya, ia tak yakin bahwa apa yang ia sampaikan akan terdengar jelas bagi Anne, apalagi jika perempuan itu sedang berada di pinggir jalan. Jika saja perempuan itu ada di balik pintu sekarang, sudah pasti perdebatan dan nada tinggi terdengar lagi seperti beberapa waktu lalu. Cukup lama July menunggu pesan jawaban yang paling baru dari Anne. Sampai ia hampir saja tertidur, pesan itu kemudian dibalas. [ Aku kira kau sudah sembuh. Ternyata sekarang semakin parah. ] Seketika, July yang membaca pesan itu pun membulatkan matanya. Ia melotot. Merasa tidak terima dengan jawaban pesan singkat yang dikirimkan oleh Anne untuknya. “Hey! Apa yang dimaksud Anne adalah aku ini gila? Sialan kau, Anne! Tidak ada gunanya aku bicara padamu,” dengkusnya kesal, tepat setelah membaca pesan dari sepupunya itu dan menjadi penutup percakapan antara mereka berdua. Masih dengan terus menggerutu, July menelungkupkan tubuhnya di atas kasur. Ia mulai membuka laptopnya yang sudah dicharge penuh. Kemudian mencolokkan headphone di laptop, menyalakan musik, dan mulai menyumpal telinganya dengan lagu yang ia sukai. *** ‘Aku tahu itu pasti hanya mimpi.’ Begitulah kalimat pertama yang ia gumamkan saat kedua matanya terbuka dan menangkap langit-langit kamar yang berwarna putih. Warna yang sama dengan lelangit kamar miliknya. Ia sedikit lega, bahwa akhirnya ia terbangun dari mimpi buruk yang benar-benar mengerikan. Perempuan itu menghela napas panjang setelah beberapa saat membuka mata. Mimpi buruk itu terasa benar-benar nyata baginya. Bagaimana ia berlari dengan rasa terbakar di sekujur tubuh, bagaimana tangisan-tangisan itu menghujani telinganya dan membuatnya serasa menggila, bagaimana akar-akar yang mencuat dari tanah itu melilit kakinya, bagaimana ia tergelincir jatuh ke sungai dan mendengarkan alunan yang selalu July dendangkan untuknya, sampai perempuan mengerikan dengan taring-taring panjang di mulutnya yang siap menelan perempuan itu itu hidup-hidup. Begitu juga dengan dingin yang menusuk tulang, ia dapat merasakan itu semua. Seolah benar-benar terjadi pada dirinya. Kini, hangat menyelimuti tubuh. Seperti selimut miliknya, yang selalu ia kenakan saat tidur. Ia mulai mengedar pandang, memastikan bahwa ia benar-benar sudah bangun dari mimpi yang sangat tidak masuk akal. Namun, wajah itu kembali mengeluarkan raut keheranan saat menemukan lampu gantung dari berlian di tengah ruangan. ‘Sejak kapan lampu kamarku jadi semewah ini?’ Ia bertanya tanya dalam hatinya. Perempuan itu itu mencari dua sosok yang bergentayangan di kepalanya bahkan sejak pertama kali membuka mata. July dan John. “July?” Ia memanggil wanita itu, tapi tidak ada jawaban. Biasanya, begitu ia menyuarakan seruan itu, July akan berhambur menghampiri nya. Atau paling tidak berteriak, menjawab panggilan Anne. “John?” Hening. Ia hanya seorang diri di dalam ruangan yang luas ini. Tidak ada jawaban dari keduanya. “ Siapa pun! Kenapa tidak ada satu orang pun yang menyahut?” Perempuan itu itu bertanya-tanya. “Jangan-jangan, aku masih bermimpi?” Anne mulai menerka-nerka, bukankah hal tidak masuk akal selalu ada dalam sebuah mimpi? Ia meraba ranjang yang ditidurinya. Terasa begitu lembut dan amatlah luas. Ini jelas bukan ranjang rumah sakit yang biasanya hanya cukup untuk satu orang. “Apa aku sedang di rumah sakit?” Ia mencoba untuk berteriak, memanggil siapa pun yang ia pikir mungkin ada di sana. “Halo? Dokter? Suster?” ‘Aku belum pernah melihat ranjang rumah sakit seluas ini,’ pikir perempuan itu itu. Anne bertanya-tanya. Mungkinkah ini benar-benar di rumah sakit? Atau, ia masih bermimpi? Namun, menurutnya ini berbeda dari mimpi buruk yang baru ia alami. Tidak ada akar-akar aneh yang mencuat dari dalam tanah lalu menarik-narik kakinya. Tidak ada tangisan-tangisan yang merobek-robek pendengaran. Tidak ada mahluk menyeramkan yang siap menikam dan menelannya hidup-hidup. Tidak ada. Begitu pun dengan pinus-pinusnya. Tidak ada. Setidaknya mimpinya kali ini sedikit lebih baik. Meskipun sama saja memusingkan dan membingungkan untuknya. ‘Jika tadi aku sudah bermimpi buruk, apakah sekarang aku sedang bermimpi indah?’ tanyanya dalam hati. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. “Atau ada yang salah dengan kepalaku?” Anne meraba kepalanya. Ia tak menemukan luka, perban atau apapun yang membalut kepalanya seperti orang-orang yang baru saja mengalami kecelakaan. Bukankah seharusnya ada perban di sana? Mengingat bagaimana kecelakaan itu menghantam kepalanya hingga darah merembes dan menggenang di sana. ‘Kejanggalan kedua.’ Perempuan itu itu terus membatin. Ia ingat, terakhir kali kepalanya terbentur dan mengeluarkan darah. Namun, tidak terjadi apapun padanya kini. Ia benar-benar baik-baik saja. Yang ia rasakan hanya kebingungan. Ia mencoba duduk. Memperhatikan satu per satu sudut ruangan yang luas ini. Gorden berwarna putih, dinding, hiasan-hiasan yang juga berwarna putih, sprei, selimut, bantal semuanya berwarna putih. Bahkan pintu yang tertutup rapat pun memiliki warna yang sama. “Jangan-jangan, yang tadi itu bukan mimpi buruk?” Lagi-lagi asumsi demi asumsi keluar dari mulutnya. Ia kini terlihat persis seperti Whichessenova yang gemar berbicara sendiri. Ia mengedar pandangannya ke sekeliling. Mencoba mencari petunjuk tentang di mana tubuh perempuan itu itu tersesat sekarang. Siapa yang membawanya ke ruangan ini, dan apa yang akan sesorang itu lakukan padanya. “Jangan-jangan mahluk mengerikan itu sudah menikamku sampai mati dan sekarang aku ini berada di surga?” Sepertinya ia mulai kehilangan akal. Semua nampak mungkin baginya kini. ‘Apakah ini benar-benar surga?’ Perempuan itu itu terperangah. Membayangkan jika benar yang ada di kepalanya itu merupakan fakta yang tak terbantahkan lagi. Namun, sejenak kemudian Anne menelan ludah. Bukankah itu artinya ia tak bisa bertemu dengan July dan John lagi? Bukankah itu artinya, ia tak bisa kembali? “Tidak, tidak!” Anne menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini tidak benar baginya. “Ini pasti hanya mimpi. Tidak mungkin kan aku mati begitu mudah?” Ia memejamkan mata. Menarik napas yang panjang. Mencoba untuk tenang, tapi ia tetap tak bisa tenang. “July, tidak bisakah kau jemput aku dari mimpi yang aneh ini?” Perempuan itu itu mulai merengek. Tiba-tiba pintu itu terbuka setelah terdengar ketukan sebelumnya. Muncul sesosok makhluk berbadan kecil dengan topi runcing berwarna putih. Hidungnya mancung, terlihat seperti milik Anne tapi berbeda dengan manusia biasa. Memanjang ke depan, persis seperti milik penyihir hitam di televisi. Telinganya bulat dan meruncing di bagian ujung seperti sendok. Ia memakai pakaian serba putih dan sepatu bulat yang juga berwarna senada. Mahluk ini memiliki rambut keriting. Ia juga memiliki janggut seperti lelaki tua, berwarna putih. “Kau sudah bangun, Tuan Muda?” Makhluk itu bertanya pada perempuan itu itu. Sementara, ia yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa mengangguk kikuk. Ragu-ragu. Orang kerdil itu berjalan menghampiri ranjang Anne. Ia berdiri persis di sebelah ranjang, tapi Anne tidak dapat melihatnya karena ia terlalu pendek, atau mungkin ranjang perempuan itu itu lah yang terlalu tinggi. Perempuan itu itu tertawa kecil. Tawanya yang pertama sejak ia menginjak tempat aneh ini. Setelah beberapa waktu ia hanya bisa kebingungan. “Aku tidak bisa melihatmu, mahluk kecil. Diam di situ! Aku akan turun,” ujar Anne begitu melihat makhluk kerdil itu tak bisa menjangkaunya. Anak itu turun dari ranjang dan lagi-lagi merasa kebingungan yang terjadi pada tubuhnya. “Ada apa Tuan Muda?” makhluk kerdil itu bertanya. “Kenapa aku tidak merasakan apapun?” Orang kerdil di depannya hanya mengedip-kedipkan mata. Tidak mengerti apa maksud Anne. Tidak paham dengan maksud Tuan Mudanya yang tidak merasakan apapun. “Aku baru saja terjatuh, tergelincir, bahkan kakiku terkena akar-akar yang begitu kuat. Bukankah seharusnya kakiku terluka? Bagaimana mungkin aku baik-baik saja?” “Kau, lihatlah kakikku!” tambahnya lagi. Anne memutar-mutar badannya. Memainkan kakinya yang memang tidak terasa sakit. “Aneh bukan?” Perempuan itu itu terus mengeluarkan pertanyaan yang tidak ia mengerti mengapa terjadi demikian. Sementara makhluk kerdil itu hanya tersenyum melihat tingkah Sang Tuan Muda. “Mungkin karena lukanya sudah sembuh.” “Secepat itu?” Alis Anne naik. Tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Rasanya tidak mungkin lukanya akan sembuh dalam waktu satu malam. Bukankah itu terlalu ajaib? “Seminggu bukankah waktu yang tidak sebentar, Tuan Muda?” “Tunggu! Seminggu?” Anne lebih kaget lagi. ‘Rupanya aku tertidur selama itu?’ batinnya. “Lalu, kau ini siapa? Tidak, lebih tepatnya kau ini apa?” Orang kerdil itu menaruh kedua tangannya di depan perut lalu menunduk perlahan. Itu adalah tanda penghormatan pada orang yang disegani. “Hamba adalah Odi. Pelayan setia Tuan Muda. Hamba adalah sebangsa Dwarf yang berevolusi. Biasanya Dwarf senang di tempat gelap, tapi tidak bagi kami yang sudah berevolusi. Kami bahkan tahan matahari-“ ucapannya terpotong. Mahluk kerdil itu mendongak ke atas, melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada cahaya matahari yang masuk menerobos jendela pada ruangan itu. “Meskipun matahari sepertinya tidak terlihat dari sini. Hamba akan selalu melayani Tuan Muda dengan sepenuh hati.” ‘Dwarf?’ Anne menggaruk-garuk kepalanya. Mahluk di depannya ini memang kerdil dan terlihat seperti kurcaci, persis dengan yang ia lihat pada film Snow White saat kecil dulu. Namun, topi kerucutnya mengingatkan Anne pada Katai, mahluk bawah tanah yang suka mengikuti jejak manusia dan tidak bisa terkena sinar matahari. Hidung dan telinga yang meruncing mengingatkannya pada Goblin, si nakal yang suka mencuri barang-barang yang berkilau seperti emas. Ia ingat July sering menceritakan dongeng-dongeng itu sewaktu Anne kecil. Benarkah ia terdampar di dunia dongeng? “Penambang emas seperti di film Snow White?” Odi menggelengkan kepala, “Tidak, Tuan Muda. Hamba hanya akan melayani Tuan Muda. Hamba bukan penambang emas.” ‘Terserahlah. Masa bodoh dengan mahluk ini. Bukankah dia bilang dia adalah pengabdi setiaku? Dia akan melakukan apapun yang kupinta ‘kan?’ Anne memandangi mahluk itu dari atas sampai bawah secara perlahan. Dari ujung topi, sampai ke sepatu bulat yang makhluk itu gunakan. “Jadi, kau akan menuruti semua perintahku?” Anne tersenyum licik begitu mendengar kalimat pengabdian yang keluar dari bibir Odi. Orang kerdil itu mengangguk. “Dengan kata lain, kau ini babysitter ah tidak, aku sudah cukup dewasa untuk kata babysitter. Asisten! Benar, jadi anggaplah kau adalah asisten pribadiku sekarang. Begitu, kan?” Anne menegaskan kembali maksud kehadiran Odi disampingnya. Mahluk kerdil itu menganggukkan kepala dengan senyum yang mengembang di bibir. “Apakah ada pertanyaan lagi, Tuan Muda?” “Kau ini pelayanku, tapi terdengar seperti guruku di kelas. Guruku juga selalu bertanya, ‘Apakah ada pertanyaan?’” Perempuan itu itu mulai menggerutu. Terserah mahluk apa yang ada di hadapannya kini. Ia tidak peduli, yang ia tahu hanya satu, mahluk itu akan menuruti apapun yang Anne inginkan. Apapun. Tolong digaris bawahi, apapun. Odi yang mendengar celotehan Anne hanya menundukkan kepala. Menunggu kalimat tanya yang keluar dari bibir Tuan Muda selanjutnya. Ia tahu, pasti perempuan itu itu memiliki segudang pertanyaan tentang tempat ini. “Ah, iya. Aku ini sebenarnya ada di mana?” Benar saja. Belum lama makhluk itu tertunduk, Anne sudah mengeluarkan lagi pertanyaan. Odi mulai menegakkan kepala, telunjuknya mulai mengacung ke udara. Tak lama, terlihat gambar yang melayang di atasnya. Sebuah kastil berwarna putih yang begitu megah. “Saat ini Tuan Muda sedang berada di Menara Putih.” Perempuan itu itu takjub. Matanya terus berbinar memandangi gambaran Menara Putih yang entah mengapa bisa terpampang di ujung telunjuk Odi. Seperti sebuah sihir dalam cerita Harry Potter. “Jadi, ini bukan surga?” Odi menggeleng, senyum tidak pernah alfa dari bibirnya. Se menjengkelkan apapun Anne, yang ia lakukan hanyalah bersabar akan sifatnya. Karena setelah ini, Odi akan menghabiskan banyak waktu bersama perempuan itu itu. “Ini adalah Hotplants. Memang hamba akui, tempat ini juga ajaib dan menakjubkan.” ‘Hotplants?’ Rasa-rasanya, Anne berpikir itu adalah sebuah tempat yang tak asing baginya. Ia sering mendengar nama tempat tersebut. Seolah sudah terpatri di dalam kepala Anne. “Silakan, Tuan Muda.” Tangan makhluk kerdil itu menjulur, mempersilakan Anne keluar dari ruangan tersebut. Dijajakinya tangga-tangga bulat bening yang terlihat seperti piringan kaset raksasa. Baru selangkah anak tangga itu dipijaknya, ia beringsut mundur, Anne menarik kakinya kembali ke atas. Ketakutan. “Apa itu? Mengapa piringan itu mengeluarkan cahaya?“ Ia terkejut melihat cahaya yang terpancar begitu kakinya menginjak anak tangga. Ia pikir bahwa sesuatu akan terjadi padanya. “Itu adalah piringan cahaya, Tuan Muda. Tidak perlu khawatir, Tuan Muda tidak akan terluka. Ini adalah inovasi terbaru dari anak tangga. Tidak perlu takut terjatuh, di sisi kanan ada penghalang tersembunyi. Begitu Tuan Muda terpeleset, dinding penghalang tersembunyi itu akan menahan tubuh agar tidak terjatuh.” Meskipun terdengar keren, Anne belum percaya sepenuhnya bahwa benda ini benar-benar aman. Sebelumnya, ia tak pernah menemukan tangga dengan model serupa. Ragu-ragu, kaki itu mulai melangkah. Pelan sekali. Seperti anak kecil yang mencoba belajar turun dari tangga, seperti yang ia lakukan dahulu saat ia kecil. Ia mencoba meletakkan tangannya di sisi kanan demi membuktikan perkataan Odi bahwa piringan cahaya ini benar-benar memiliki penghalang tersembunyi. Lagi-lagi perempuan itu itu merasa takjub. Tangannya seperti meraba sesuatu di udara. Benar-benar dinding yang tidak terlihat sedang menjaganya saat turun dari piringan cahaya. Rasanya seperti ia sedang dalam sebuah film, lagi dan lagi. Sesampainya di bawah, mulut Anne menganga. Lagi-lagi anak itu terkesima. Pilar-pilar besar yang berwarna putih berjajar begitu rapi seperti bangunan arsitektur romawi yang berkolaborasi dengan gaya modern. Lampu gantung yang bahkan jauh lebih besar dibanding yang baru saja ia lihat di kamarnya begitu mewah. Lantai marmer berwarna putih memantulkan bayangan dirinya. ‘Sebenarnya tempat apakah ini? Mengapa terlihat seperti sebuah istana?’ “Hamba akan mengajak Tuan Muda untuk berkeliling.” Begitu yang diucapkan Odi ketika mereka memijak lantai marmer tersebut. Sementara itu, Anne masih menatap kagum, tidak mengedipkan matanya barang sebentar. Ia menangkap apapun yang terpampang di hadapannya. Pemandangan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan sama sekali oleh perempuan itu itu. Ia tak lagi mengingat kejadian mengerikan yang menimpanya satu minggu yang lalu. Tempat ini benar-benar membuatnya tersihir. Rasa ketakutannya terobati hanya dengan berkeliling di dalam bangunan yang luar biasa ini. Tak lama, ada pemandangan yang membuat Anne semakin penasaran. “Siapa mereka?” Anne menunjuk perempuan-perempuan yang berada di pilar terujung. Mereka yang berjalan beriringan seolah sedang dikomando karena begitu rapi berbaris. Mereka mengenakan gaun sebetis berwarna putih, rambut yang dikundai dan memakai pita berwarna putih. Perempuan-perempuan itu berbaris membelakangi Anne, berjalan dengan serempak. Masing-masing dari mereka membawa sesuatu. Namun, karena jarak pandang yang cukup jauh, perempuan itu itu tidak tahu apa yang mereka bawa. Lagi-lagi, Odi mengacungkan telunjuknya. Terlihat gambar seorang perempuan dengan rambut yang dikundai, memakai gaun putih dan pita putih di rambutnya. Gambaran lebih dekat dari mereka. “Itu adalah para Kawula. Mereka akan menyiapkan segala keperluan dapur dan seisi Menara Putih.” “Seperti koki kerajaan?” Odi mengibaskan udara tepat di depan gambar yang muncul dari telunjuknya. Seketika, gambar itu berubah menjadi para Kawula yang sedang sJulyk dengan pekerjaan dapur. “Lebih tepatnya, dayang-dayang, mungkin?” Odi mengibaskannya lagi, dan gambar itu berubah menjadi ruang pemandian air panas. Di sana, beberapa Kawula sedang menyiapkan perlengkapan mandi. Termasuk air hangat, sari bunga, tambahan s**u, dan beraneka sari tumbuhan yang telah diekstrak untuk kesehatan kulit dan rambut. Setelah mengerti dengan penjelasan singkat Odi, perempuan itu itu pun mengangguk. ‘Jadi aku terdampar di suatu tempat yang bernama Menara Putih dan menjadi tamu kehormatan, bukankah menyenangkan sekali? Aku bahkan memiliki seorang asisten pribadi!’’ Anne mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyuman yang lagi-lagi terlihat licik. “Termasuk melayaniku?” Sekali lagi ia bertanya yang kemudian disusul anggukan kepala Odi. ‘Benar, bukan?’ “Lalu, ke mana mereka akan pergi?” Anne kembali bertanya setelah melihat mereka mulai menghilang, memasuki sebuah ruangan di sebelah kiri. “Mereka akan menyiapkan jamuan makan malam, Tuan Muda.” Perempuan itu itu mengangguk, meskipun entah jamuan makan malam yang bagaimana yang dimaksud Odi. Mungkin sama saja seperti Dinner yang dilakukannya dengan July, John, Tante Anna dan Lawson saat malam natal tiba. Atau, seperti sebuah makan malam romantis yang ia impikan saat bertemu dengan pujaan hatinya nanti. Entah, perempuan itu itu tidak tahu. “Tuan Muda harus mempersiapkan diri. Raja Whicessenova ingin melewati jamuan makan malamnya bersama Tuan Muda.” Huft. Anne terbangun. Segera ia duduk di tepian ranjang. Kenapa ia terus menerus mendapatkan mimpi yang aneh? *** Perempuan itu berdiri menghadap ke cermin yang berukuran kecil di dalam kamarnya. Hari ini merupakan hari liburnya yang terakhir, ia akan pergi ke suatu tempat karena ada keperluan personal. Anne, perempuan yang sedang bersiap-siap itu masih saja mendumal. Ia berpikir kalau kelakuan July sekarang ini benar-benar tidak masuk akal. Apalagi ketika ia melakukan hal konyol yang menurutnya sungguh membuang-buang waktu. “Dari mana sebenarnya July mendapatkan uang itu?” Sambil menyisir rambut, kemudian mengikatnya menjadi seperti buntut kuda, ia bertanya pada dirinya sendiri melalui cermin yang memperlihatkan pantulan dirinya. Melakukan monolog, seolah-olah ia bertanya pada bayangannya di cermin itu. “Apa dia main judi?” Segala pikiran dan prasangka terus menerus bergantian memasuki kepala Anne. Judi adalah salah satu hal yang perempuan itu takutkan karena ada hal yang membuat luka yang sulit disembuhkan untuk Anne. Ia tahu kalau judi bukan hanya merusak keuangan, tapi juga segalanya. Cinta, kekeluargaan, bahkan kewarasan sekali pun. Ia masih ingat betul bagaimana ayahnya yang seorang penjudi itu menghabiskan uang mereka bahkan sampai mereka kehilangan tempat tinggal yang mereka miliki. Sampai ayahnya terjebak pada hutang dan menjadi sering bermabuk-mabukan , bahkan seringkali ringan tangan pada ibunya Anne. Kala itu, Anne baru enam tahun. Tapi, ia ingat dengan jelas, bagaimana judi bisa merubah seseorang menjadi monster yang menakutkan. Setahun setelahnya, Anne tinggal dengan orang tua July. Ibunya telah kehilangan nyawa akibat kekerasan yang dilakukan ayahnya Anne yang saat itu sudah dirasuki setan. Sejak kejadian itu, Ayah Anne lenyap, bak ditelan bumi. Ia tidak dapat ditemukan lagi. Beberapa tahun berlalu, kesialan kembali menimpa Anne. Tidak, bukan hanya Anne. Luka itu juga dirasakan oleh July. Saat itu July berusia empat tahun dan Anne berusia sebelas tahun. Saat itulah kedua orang tua July mengalami kecelakaan dan meninggal. Yang tersisa hanyalah si kecil July dan Anne, anak perempuan berusia sebelas tahun yang kini sudah menjadi seorang nakes di sebuah rumah sakit. Anne melirik ke arah pintu, kemudian perempuan itu kembali berujar, “Kenapa dia berkata tentang hal-hal yang tidak masuk akal? Apakah virus itu juga menyerang otak? Aku harus segera bertemu dengan John.” Anne keluar dari kamar, menutup pintu lalu berjalan ke kamar July. Setelah kemarin siang July mengatakan kalau ia mendapatkan uang itu dari dalam tidurnya, Anne merasa semakin prihatin. Ia berpikir kalau July mungkin saja mengalami depresi. “Apakah aku harus membawanya ke psikiater? Pasti berat sekali menjadi July. Setelah virus itu menjangkit dirinya, ia bahkan dipecat dari tempatnya bekerja. Malang sekali, kau.” Kemudian, Anne keluar tanpa membuka pintu kamar July yang entah sedang melakukan apa. Ia hanya menempelkan telinganya sebelum pergi, dan yang ia dapatkan hanyalah keheningan. Lagi-lagi, mungkin July sedang tertidur, pikirnya. Pagi ini, saat matahari belum benar-benar muncul dari timur, Anne sudah keluar dari rumah. Perempuan itu ingin membicarakan masalah July yang terlihat tidak baik-baik saja pada John sang kekasih, yang sekaligus Dokter yang menangani kasus virus yang juga menjangkit July, bahkan sejak pertama kali virus itu masuk ke dalam rumah sakit tempat mereka bekerja. Anne berfikir, John mungkin lebih tahu dibanding Anne tentang virus varian baru ini, karena yang biasa ia tangani hanya mengeluarkan gejala demam, anosmia, mual, dan muntah saja. Satu lagi, sesak napas. Tapi tidak dengan halusinasi. Anne belum pernah menemukan pasien yang mengalami halusinasi saat terjangkit virus tersebut. *** “Kenapa kau tidak menghubungiku dulu, Anne? Aku bisa menjemputmu di Halte. Bukankah pagi ini cuacanya cukup dingin?” Itulah kata-kata yang menyambutnya pertama kali begitu tiba. Lelaki itu memasang wajah khawatir karena kedatangan perempuannya yang tiba-tiba itu di cuaca yang cukup dingin. Seharusnya ia yang mendatangi Anne. Sementara itu, Anne hanya tersenyum. Kemudian, John membawanya masuk ke dalam apartemen miliknya. Perempuan itu kemudian duduk di sofa dan menaruh tasnya di meja. “Kau sudah temukan penawarnya?” Bukannya menjawab pertanyaan panjang dari sang kekasih, Anne malah membalasnya dengan pertanyaan juga. Rasanya sudah tak sabar ia membicarakan tentang virus yang membuat semua orang merasa stress menjalani hari-hari yang terus dibayang-bayangi oleh virus yang bisa menjangkit siapa saja dan mengakibatkan kematian. Tidak langsung menjawab pertanyaan dari Anne, John malah berjalan ke dapur dan mengambil dua buah gelas berleher panjang. “Aku tidak ada jadwal sampai dua hari ke depan, haruskah kita minum Wine? Dan, bukankah itu bagus di cuaca yang dingin seperti ini, Honey? ” tawar John dengan kedipan mata yang menggoda. Ia tersenyum genit ke arah perempuannya itu. Sayangnya, Anne seperti sedang tidak b*******h sama sekali. Tawaran yang menggoda itu kemudian ditolak oleh Anne, “Tidak, besok aku harus bekerja. Air putih saja.” John mengangkat bahu, “Baiklah jika itu yang kau mau,” ujarnya. Kemudian lelaki itu berjalan ke arah dapur dan meninggalkan Anne di ruang tamu. Tak lama, lelaki itu kembali dengan sebuah botol dengan air mineral di tangannya. John menuangkan air putih ke dalam gelas lalu menyodorkannya pada Anne. “Kami belum menemukan penawarnya. Tapi, sejauh pengamatan yang telah dilakukan oleh tim, penderita akan membentuk antibodinya sendiri. Apalagi jika tubuh penderita tadinya memang sehat. Virus yang telah mati itu akan menjadi antibodi bagi penderita sehingga virus yang sama tidak akan lagi menyerang ke dalam tubuh,” John menjelaskan pada Anne sembari menuang air putih ke dalam gelas kosong milik Anne dan menyodorkannya. Terlihat sederhana, tapi tetap saja mempesona. Mungkin jika wanita-wanita melihat John, mereka akan berteriak, meminta John untuk menikahi mereka. “Tapi kenapa banyak yang tewas karena virus itu, John?” nada bicara Anne sedikit meninggi. Ternyata itu tidak berhasil pada Anne di saat-aat seperti ini. Lain daripada yang lain, perempuan itu tidak jatuh terpesona pada kekasihnya yang begitu menawan. Perempuan itu sedang serius. Ini adalah moment di mana ia tidak bisa lagi menganggap remeh segala hal terkait virus tersebut. Anne dipenuhi rasa khawatir. Terlebih, ia memang telah menjadi saksi bagaimana kamar mayat dipenuhi oleh orang-orang yang terjangkit virus. Setiap hari ia harus mendengar alat detak jantung yang tidak lagi mendeteksi kehidupan. Anne harus melihat nyawa-nyawa yang hilang lebih banyak setiap harinya. Jadi, bisakah ia terlihat tenang dan baik-baik saja sekarang? Selama enam bulan ini, lebih banyak terdengar isak tangis dibanding tawa senang karena anggota keluarga mereka dinyatakan sembuh dan boleh pulang ke rumah, seperti sebelumnya, saat virus sialan itu belum masuk ke dalam dunia mereka yang tenang. Mereka memang boleh pulang. Tapi ke sisi Tuhan. Rumah yang baru, yang tak bisa lagi dilihat oleh keluarganya. Rumah yang jauh sekali. “Aku, dengan mata kepalaku sendiri melihat banyak orang yang tewas. Bagaimana mungkin kita tidak bisa menemukan obatnya? Ini sudah enam bulan lamanya, John! Mana janji pemerintah yang katanya akan meneliti tentang ini dan memberikan penawar pada semua pasien?” Tapi, John terlihat tenang. Tidak turut meninggikan suara atau tersulut emosinya. Ia tahu jikalau Anne mungkin gusar karena virus yang melanda dunia ini belum juga usai. Yang bisa dilakukan mereka adalah berusaha. Hasilnya, mereka hanya bisa pasrah pada Tuhan. “Dalam kasus yang kutemui, kebanyakan dari mereka yang tewas memiliki riwayat penyakit bawaan. Sehingga begitu virus itu masuk ke dalam tubuh dan menyerang paru-paru, kemudian memperparah organ lainnya. Mereka yang sudah memiliki penyakit, akan semakin parah penyakitnya. Mereka juga kesulitan membentuk antibodi selayaknya penderita lain yang tidak memiliki riwayat penyakit. Imun mereka benar-benar lemah, Honey.” Anne menoleh, “Lalu bagaimana dengan Rudolf?” Terlihat dari matanya yang memerah, ada pedih yang menganga dari sana. Setiap dokter maupun perawat yang sudah menemani pasien sejak lama, pasti merasakan luka dan penyesalan juga begitu pasien yang mereka tangani tidak terselamatkan. Mereka juga mengumpat dalam hati, mereka juga memaki diri sendiri mengapa mereka tidak bisa lebih baik sehingga nyawa pasiennya itu bisa dipertahankan sedikit lagi. Perempuan itu teringat pada kasus terakhir kali di rumah sakit tempatnya dan John, kekasihnya itu bekerja. Rudolf, seorang remaja yang juga meninggal dunia setelah dinyatakan terjangkit virus tersebut setelah melakukan isolasi di dalam ruang terpisah selama dua minggu. “Bukankah sebelumnya ia tidak memiliki riwayat penyakit?” John meneguk air di dalam gelas yang ia pegangi sejak tadi. Kemudian duduk berhadapan dengan Anne yang terus menerus menatap wajahnya dengan mata yang sudah begitu memerah. “Karena hal lain.” Lelaki itu menjawabnya dengan singkat. Nada bicaranya pun tidak berubah. Tetap pada nada yang datar. “Apa?” Mendengar jawaban yang keluar dari bibir kekasihnya itu, dengan cepat ia kembali bertanya dengan nada tinggi tentunya. “Rudolf bukan tewas karena virus itu, Anne.” John mencoba untuk menenangkan Anne. Ia tahu kalau perempuan itu pasti merasa cemas, terlebih sekarang ini, July juga terjangkit. Sudah berkali-kali, sejak Anne mengatakan pada John untuk pertama kalinya bahwa virus itu ada di tubuh July, John meminta Anne untuk tinggal sementara di Apartemennya. Namun, perempuan itu menolak. Hanya Anne satu-satunya yang July miliki sejak kedua orang tua July tewas dalam sebuah kecelakaan ketika July berusia empat tahun. “Aku tahu, kau pasti cemas karena virus itu kini menyerang July. Tapi, tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Anne. Bukankah kau bilang July baik-baik saja kemarin? Toh, ia juga tidak memiliki riwayat penyakit apapun. Bukankah begitu?” Anne yang tadinya menunduk setelah mendengar perkataan John segera mendongak. “Aku rasa tidak, John. Ada yang salah dengan kepalanya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD