bc

Let's Not Fall in Love

book_age0+
4
FOLLOW
1K
READ
friends to lovers
scandal
student
K-pop
drama
comedy
sweet
bxg
like
intro-logo
Blurb

We're so happy as we are right now

Let's not make promises, because you never know when tomorrow comes.

Don't ask me anything

I can't give you an answer

Don't try to have me

Let's just stay like this

Don't try to trap us in the world called love

Because it's a greed that can't be filled

Before things get too deep, before you get hurt

Don't trust me, don't expect too much from me

Casts:

Huang Renjun

Shin Ryujin

Let's Not Fall In Love

©Lazy-nim 2019

chap-preview
Free preview
Shin Ryujin
Senin, hari paling melelahkan dan bisa dibilang sebagai hari yang paling menjengkelkan bagi sebagian besar manusia, tidak terkecuali bagi Huang Renjun. Pemuda yang sekarang sudah memasuki semester 4 jurusan desain grafis ini baru saja tiba di kampus dan saat ini sedang menunggu lift. "Renjun-hyung!!" Pintu lift yang Renjun tekan baru saja terbuka, tapi ia sudah harus bertemu dengan pengusiknya di dalam sana. Siapa lagi kalau bukan Shin Ryujin. Tidak mau semakin merusak suasana hati di senin paginya, Renjun langsung memutar balik badannya dan melangkah menjauhi lift dimana Ryujin berada. Lebih baik kelelahan menaiki tangga daripada harus capek batin mendengar celotehan Ryujin, begitu pikir Renjun. Baru beberapa langkah, salah satu tangannya sudah ditahan oleh seseorang yang ia yakini adalah si gadis yang Renjun anggap merepotkan itu. "Kenapa hah? Demi apapun, ini masih pagi," keluh Renjun akhirnya menyerah. "Hehehe, kenapa langsung mengoceh begitu? Kan aku belum berkata apapun," balas Ryujin dengan ekspresi sok polosnya yang justru semakin membuat Renjun jengkel. "Kenapa? Ini baru awal semester, tidak mungkin kan kau sudah diberi tugas?" tanya Renjun to the point mengingat kebiasaan Ryujin yang selalu meminta –memaksa Renjun untuk membantunya. "Ya memang tidak ada tugas dari perkuliahanku tapi ada materi yang tidak kupahami dari pertemuan minggu lalu," jawab Ryujin. "Terus? Apa urusannya denganku?" "Tolong ajari aku ya Renjun-hyung~~" pintah Ryujin dengan raut penuh harap yang sama sekali tidak meluluhkan hati Renjun. Alih-alih luluh, Renjun justru memasang ekspresi bergidik. "Ekspresimu semakin membulatkan tekadku untuk tidak membantumu," sahut Renjun lalu pergi meninggalkan Ryujin begitu saja. Bukan Ryujin namanya jika ia menyerah, ia lalu berlari kecil untuk mendahului Renjun dan menghalangi pemuda itu. Tapi bukannya berhenti, Renjun seakan tidak melihat Ryujin dan tetap berjalan melewati gadis itu begitu saja. "Yah Renjun-hyung bantu juniormu ini," Ryujin masih merengek. Renjun tidak menggubris dan masih saja berjalan. Sampai akhirnya Ryujin yang kesal karena Renjun yang tak mengganggap keberadaannya langsung membentangkan kedua tangannya lebar di depan Renjun, bermaksud menghadang pemuda itu. "Keras kepala sekali sih, ada apa hah?" ketus Renjun akhirnya menyerah. "Hehehe, gitu dong. Renjun-hyung, ajari aku mandarin ya," mohon Ryujin yang membuat Renjun mengernyitkan dahinya heran. "Belajar mandarin? Untuk apa? Itu kan mata kuliah tidak wajib, kenapa kau mengambilnya jika kau tidak bisa?" tanya Renjun bertubi-tubi. "M-memangnya kenapa sih kalau aku mau belajar bahasa mandarin? Ada yang salah!?" tantang Ryujin balik karena tidak terima dengan reaksi Renjun. "Tidak salah sih hanya saja ya kenapa harus mandarin? Kenapa tidak bahasa inggris saja yang jelas-jelas akan lebih terpakai nantinya?" "My english is very good already, so I no need to study it again," sahut Ryujin dengan grammar ala kadarnya, membuat Renjun tersenyum tipis  melihat kekonyolan Ryujin. "Grammar mu masih berantakan, tapi ya boleh lah hahaha," ucap Renjun entah memuji atau menghina. "See? Aku ini tidak bodoh-bodoh amat kok, haha –aw!" pekik Ryujin ketika Renjun tiba-tiba mencubit pipinya. "Yah kenapa mencubit pipi ku!?" tanya Ryujin tidak terima dengan perlakuan Renjun. "Supaya kau sadar sebelum omonganmu itu semakin melantur kemana-mana," sahut Renjun sekenanya tapi masih dengan raut wajah menahan tawa. Nampaknya di mata Renjun, Ryujin itu memang pelawak. "Ish, untung saja kau sudah bersedia mau membantuku. Kalau tidak aku pasti sudah menghajarmu," gerutu Ryujin. "Yah, memangnya kapan aku bilang aku akan membantumu?" tanya Renjun kembali menaikkan sebelah alisnya, membuat raut wajah menyebalkan. "YAH HUANG RENJUN, KAU JANGAN MEMPEMA– HMMPPH!" omelan Ryujin terhenti karena Renjun sudah membungkam mulut Ryujin dengan telapak tangannya. "Kecilkan suaramu bodoh, kita sedang di tempat umum," Renjun berbisik ke Ryujin setelah membungkuk kepada orang-orang di sekitar mereka, meminta maaf atas kehebohan yang Ryujin perbuat tadi. Tidak mau terulang, Renjun pun menarik Ryujin masuk ke salah satu ruang kelas yang kebetulan belum ada penghuninya. "Y-yah! Kenapa malah menarikku ke ruangan kosong seperti ini???" Ryujin bertanya dengan was-was, bahkan sudah menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya seolah sedang melindungi diri dari penjahat. "Hey bodoh, kau kebanyakan menonton drama. Aku tidak akan berbuat apa-apa padamu, tidak sudih juga," decih Renjun benar-benar tidak habis pikir kenapa bisa-bisanya ada gadis seliar Ryujin. "HAHAHA, ya kan siapa tau." "Jadi kau benar serius mau belajar bahasa mandarin?" tanya Renjun meyakinkan Ryujin. Ryujin mengangguk mantap. Jujur saja, Renjun ragu. Ryujin itu gadis yang selalu mengikuti mood. "Cari kursus saja sa–" "Appa tidak akan mengijinkanku soalnya ia tau aku tidak bisa berkomitmen untuk belajar terus hehehe." "Nah itu juga kenapa aku malas mengajarmu. Sekarang kau bisa mohon-mohon, tapi nanti?" "Kalau kau yang mengajar aku pasti akan belajar terus kok!" ucap Ryujin mantap. "Lah? Kenapa bisa begitu?" "Entah, kenapa banyak sekali sih pertanyaanmu!?" "Hey, kau sedang meminta tolong. Ingat posisimu nona." "Oh iya hehehe, ya maaf, jadi kau mau ya mengajariku?" "Apa yang aku dapat jika membantumu hah?" tantang Renjun. Mendengar itu, Ryujin terdiam sejenak dan menunduk. "Ya aku kira kau mau sukarela membantuku. Yasudah kalau kau tidak mau, aku tidak bisa membalasmu dengan apapun," tutur Ryujin menunduk. Tunggu, kenapa Ryujin jadi nampak kasihan begini? Renjun kan jadi tidak tega, walau memang Ryujin menyebalkan tetap saja Ryujin yang menemani Renjun dari kemarin di masa-masa dirinya patah hati kala itu. Sebelum Ryujin melangkah pergi dari ruangan itu, Renjun buka suara. "Y-yasudah, kabari saja kapan kau mau mulai. Nanti aku sesuaikan dengan jadwal perkuliahanku." "Yang benar!?" pekik Ryujin senang, benar-benar berbanding balik dengan dirinya beberapa detik yang lalu. Okay, sekarang ada sedikit penyesalan dalam hati Renjun yang bisa-bisanya terjebak karena akting Ryujin tadi. "Iya, lagipula kenapa coba sampai seantusias ini untuk belajar bahasa mandarin?" Renjun kembali mempertanyakan. Pasalnya Renjun tahu kalau Ryujin ini bukan tipikal gadis rajin dan gemar belajar. Bahkan di club seni sekalipun, Renjun bisa lihat kalau Ryujin ini hanya datang saat moodnya bagus saja. Memang sosok yang sedikit merepotkan dan aneh menurut Renjun. "Hehehe, supaya kelak bisa lancar bahasa mandarin dan berkomunikasi baik dengan mertuaku nanti," sahut Ryujin dengan senyuman cerahnya lalu langsung keluar dari ruangan itu, meninggalkan Renjun bengong sendiri. "Mertua katanya?" gumam Renjun berusaha mengolah informasi yang baru saja ia dengar dari mulut Ryujin. To be continued..

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan Cinta Pertama

read
60.5K
bc

I Love You, Doctor

read
635.8K
bc

Imperfect Marriage

read
336.9K
bc

MY DOCTOR MY WIFE (Indonesia)

read
5.1M
bc

DOKTER VS LAWYER

read
1.1M
bc

Om Bule Suamiku

read
8.9M
bc

FINDING THE ONE

read
36.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook