24

1402 Words
Otak Isa mendidih, membara oleh cemburu yang tak lagi bisa disembunyikan. Sebuah foto lama yang tak sengaja ia temukan di media sosial Tasya menusuk matanya—Aira, dalam pelukan Zaki, di sebuah rumah makan. Tatapan lelaki itu pada Aira… terlalu dalam untuk sekadar teman. Dan tatapan malu-malu Aira… terlalu jujur untuk disebut biasa. Dendam Isa semakin menggelegak kala ia melihat mereka kembali—Aira dan Zaki—berlarian di bawah hujan, tertawa, seperti dunia hanya milik mereka. Pagi ini, Isa bertekad mengakhiri semua. Antara dia, Aira, dan Zaki. Harus ada yang dibereskan. Harus ada yang dikalahkan. Pagi ini Isa harus menyelesaikan semua masalah antara dirinya, Aira, dan Zaki. Harus bersikap tegas sekalipun itu pada sepupunya sendiri. Bahwa Aira itu miliknya, dan Zaki dengan masa lalunya yang kelam, catatan gelapnya sama sekali tak pantas untuk memiliki Aira. Jika Aira memang tak bisa kembali padanya, maka Zaki pun tak berhak memiliki Aira, jangan sampai dia mengotori masa depan Aira. Setelah mengecek bengkelnya, Isa mengendarai motornya menuju rumah Zaki. Harapannya: bisa bertemu ketika kedua orang tua sepupunya itu sedang tidak di rumah. Tapi ternyata Zaki telah berangkat lebih dulu ke klinik pesantren. Para pembantu Zaki yang berjumlah tiga orang, tentu sudah mengenal Isa dengan baik, hanya saja kali ini mereka mengerutkan dahi, sebagian mengangkat bahunya saat temannya melirik penuh arti. Tak biasanya Isa main saat pemilik tak ada di rumah. Dengan santainya ia tiduran di karpet bludru ruang keluarga. Ia bahkan menyalakan tv sambil memainkan ponsel, mengatakan ia akan menunggu Zaki pulang. Ruang keluarga itu mempunyai kaca kaca yang lebar, memberikan cahaya yang cukup. Bahkan halaman rumah terlihat jelas dari tempat itu. Mbak Nem bahkan menelpon ibu nya Zaki, jika Isa sedang ada di rumah. Mengatakan jika ia menunggu Zaki. Santi lalu berpesan biarkan saja Isa berada di rumahnya, layani apa yang dia minta, ia akan segera pulang saat jam nya sudah kosong. Keberadaan Isa yang tiduran di karpet membuat para pembantu kesulitan bersih bersih, tapi pria itu tak peduli ia bermain game seolah seorang bujang pengangguran. Jam dua belas siang, saat Isa sedang mengecas ponselnya. Matanya tiba tiba melihat sosok yang ia rindukan selama ini. Ia pasti sedang bermimpi. Tangannya lalu menggosok gosok mata, tak yakin dengan penglihatannya. Benarkah yang berdiri di halaman itu Aira? Sendirian dan sedang menelpon. Isa berdiri, berusaha melihat semakin dekat. Tapi baru saja melihat, gadis itu masuk ke dalam, klinik? Sedang apa dia di sana? Jangan jangan ini ada kaitannya dengan Zaki? d**a Isa seketika bergejolak, tangannya mengepal erat. Ini tidak boleh terjadi. Aira tidak boleh semakin dekat dengan pria sok suci tersebut. Isa lalu keluar rumah, kakinya melangkah lebar lebar, tak sabar ingin melihat apa yang terjadi di dalam klinik? Isa melangkah cepat, masuk ke dalam klinik. Saat suara sapu menyapu lantai terdengar samar, Isa menutup pintu klinik pelan. Matanya menangkap Aira sedang membereskan ruang periksa, seorang diri. Klik. Ia mengunci pintu depan, menyimpan kunci di saku. Saat Aira muncul dari balik pintu periksa, tubuh gadis itu mematung. “Gus Isa?” suara Aira gemetar, seperti bisikan ketakutan. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Isa tersenyum miring. Alisnya terangkat tajam. “Harusnya aku yang tanya, Ra. Ngapain kamu di sini, sendirian, di rumah sepupuku?” Aira mundur, Isa maju. Duduk santai di kursi tunggu, ia melipat kaki. “Seperti ini ya kelakuan santri? Berani sekali datang ke rumah laki-laki.” “I-ini nggak seperti yang kamu pikir, aku…” “Nggak usah ngeles. Ngaku aja. Kamu suka, kan… sama Mas Zaki?” Suara Isa datar, tapi gerak kakinya gelisah, mengguncang udara. Aira pelan-pelan melangkah mundur, mendekati pintu belakang. Tapi sial—terkunci. “Aku sama Mas Zaki nggak ada apa apa!” Sangkal Aira, ia pun berusaha terlihat tenang di bawah ruang kosong yang menggema. “Nggak ada apa apa tapi selalu terlihat berdua?” “Terserah kalau kamu nggak percaya.” Aira kini berada tepat di balik pintu. Matanya was-was menatap pintu depan, sepertinya sulit untuk mencapai pintu itu, ia harus melewati Isa. “Ya Allah… lindungi aku…” bisik hatinya. “Aku kan sudah bilang, kalau kita masih bisa bersama, Aira. Aku bersedia nikah sama kamu, kalau kamu minta aku juga siap cerain Andin. Tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Kenapa kamu nggak sabaran hah? Malah menggatal sama mas Zaki. Menggodanya sampai datang ke rumahnya? Tidak bisakah kamu jual mahal?” “Aku nggak menggoda mas Zaki, Gus.” Perlahan tapi pasti Aira menggeser tubuhnya, mendekat pada pintu depan. Jantung Aira berdegup keras saat ia tepat berada di depan Isa. Ia tidak punya pilihan selain nekat. Srak! Isa mendekat, menggenggam tangan Aira. Jemari itu lembut, masuk semua ke dalam genggamannya, membuat Isa semakin enggan melepasnya, entah mengapa ada gejolak semakin ingin memilikinya. “Gus, Gus, Gus!” Tekan Isa, bibirnya mengeras, nafasnya berhembus kasar, menyapu wajah Aira. “Berhenti memanggilku dengan kata kata menjijikkan itu Aira, panggil aku mas seperti dulu, Aira!” Aira sekuat tenaga menarik tangannya. “Jangan mimpi aku manggil kamu ‘mas’ lagi. Dan aku nggak akan nikah sama kamu! Dasar pengecut, kalau dari awal nggak mau nikah sama neng Andin, harusnya bilang aja terus terang. Sekarang semua sudah terlambat, nggak akan ada yang berubah setelah kamu cerai sama neng Andin.” Kata kata Aira yang menusuk membuat genggaman Isa seketika melemah, buru buru Aira berlari ke arah pintu. Sial, pintu itu juga terkunci. Bahkan tenaganya tak cukup kuat untuk mendobrak. Aira beralih ke sebuah meja yang berada di depan jendela, ponselnya ada di sana. Baru saja ia memegangnya, ponsel itu sudah dipukul Isa hingga jatuh. Wajah Aira syok memandang ponselnya yang pecah, semakin pucat saat kedua tangan Isa memegangi wajahnya, memaksanya menatap wajah Isa. “Sebelumnya aku berniat melepasmu, Aira. Tapi kamu sudah menghinaku, Akan ku buktikan aku bisa memilikimu.” Suara Isa menggeram rendah. Mata Aira terbelalak, Isa menciumnya, keras dan kasar, tangannya terkunci di d**a Isa, tubuh itu menekannya, dan kesulitan bernafas karena tangan Isa mencekik lehernya. Bug… Kaki Aira menendang kemaluan Isa, dan tubuhnya seketika terlepas dari jeratan Isa, pria itu membungkuk kesakitan. “Tolong…! Tolong…!” Aira berteriak sambil menggedor nggedor kaca jendela, lalu menggedor gedor pintu sekuat tenaga sambil terus meminta tolong. Plak! Bruk! Isa menampar wajah Aira sangat keras hingga membuat tubuh wanita itu terpental ke lantai. Telinga nya berdengung, wajahnya panas, air mata mulai berjatuhan, wajahnya terluka melihat wajah keras pria yang dulu di cintanya, tak menyangka orang yang dulu begitu lembut dan baik, ternyata menyimpan dendam besar padanya. Nafas Isa yang menderu membuat Aira sadar, hal terburuk bisa terjadi jika ia tetap di tempat itu. Kaki Aira gemetar ketika ia berusaha bangkit, lari masuk ke dalam kamar periksa, lalu menutup pintunya. Grep. Tangan Isa menahan pintu kamar. “Pergi kamu, Gus. Kamu sudah gila!” Teriak Aira sambil menahan pintu, sedang Isa mendorong sekuat tenaga. “Aku memang sudah gila! Semua gara gara kamu, Aira!” bentak Isa. Brak… pintu kamar terbuka lebar. “Pergi kamu, Gus. Pergi…!” Aira mundur, melempar apa saja yang ada di sekitarnya bantal, sprei, botol, apapun Aira lempar. “Tolong… tolong saya…” Aira menjerit jerit tatkala Isa semakin mendekat. Tangan nya memukul mukul angin, berharap pukulannya akan mengenai Isa. Plak… kembali Isa menampar Aira keras-keras hingga membuat gadis itu terpelanting ke lantai. Wajah Aira lebam, darah segar mengalir di sudut bibirnya, kerudungnya acak acakan. Ia menangis, duduk terpojok di lantai. “Maafkan aku, ampuni aku,” Aira menangkupkan kedua tangannya, menggosok gosok putus asa dengan wajah berlinang air mata. “Ku mohon, lepasin aku.” Pinta Aira. Isa menggeleng. “Kalau kamu hamil, aku bisa memilikimu Aira.” “Jangan, ku mohon, jangan lakukan itu, Gus.” Suara Aira bergetar, menggeser duduknya, menjauh dari Isa. Srak! Isa tiba tiba menarik kerudung Aira hingga lepas. “Akan ku buat kamu hamil, Aira.” “Jangan! Ku mohon jangan lakukan itu.” Pinta Aira putus asa. “A-apa yang mau kamu lakukan?” Mata Aira membelalak saat Isa meraih gunting. Aira bergeser. Pikiran pikiran buruk silih berganti di otaknya. Apakah nyawanya akan berakhir di sini? Srak… Tiba tiba Isa menggunting rok Aira. Aira pun berteriak sambil terus meminta tolong. Bruk. Isa meninju wajah Aira, cukup keras, hingga membuat gadis itu diam tak berkutik, tak sadarkan diri. — Brummm... Suara mobil memecah kesunyian. Zaki turun, dahi nya berkerut melihat pintu gerbang terbuka. Tapi pintu rumah tertutup rapat. “Aira?” panggilnya, sambil mengetuk pintu. Sepi. Zaki hampir pergi… ketika suara debam keras terdengar dari dalam klinik. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD