Brum… deru mobil berhenti di depan klinik. Dahi Zaki berkerut saat melihat pintu gerbang terbuka, namun pintu rumah tertutup. Aira sudah pulang? Pikirnya. Zaki berjalan mendekatemastikan keadaan. Menggerak gerakkan gagang pintu. Terkunci? Batinnya, merasa aneh. “Aira? Aira?” panggil Zaki. Sepi, tak ada yang menyahut. Zaki yang yakin Aira sudah pulang akhirnya berjalan keluar. Saat hendak menutup pintu pagar, tiba tiba terdengar. Bugh… Suara debum terdengar dari dalam klinik. Zaki menoleh ragu, berjalan lagi ke arah klinik, mengintip dari jendela yang sedikit tertutup tirai. Sepi, seolah tak ada kehidupan. Tapi matanya tertahan pada sebuah ransel kecil warna Abu abu, milik Aira, dan sebuah ponsel pecah yang tergeletak di lantai. Pikiran Zaki mulai kacau. Bugh… Zaki mendobrak

