0.23

1396 Words
Flashback "Kita nggak bisa dikerjain terus sama mereka" ujar Siti kepadaku di dalam kamar yang hanya ada kami berdua. Aku mengangguk setuju, sejak sampai di puncak entah sudah berapa kali kami dijahilin oleh mereka. Tiba-tiba Siti tersenyum penuh arti melihatku. Aku mengernyitkan alisku tanda tak mengerti akan senyuman yang terbit di wajahnya. "Ada apa?" "Kita buat mereka percaya kalau kita benar benar marah" Siti dengan ide jahilnya itu, seketika membuatku tersenyum penuh. "benar mereka harus dikerjain balik, mereka tidak bisa berbuat semena mena pada perempuan" aku mengancungkan tinjuku ke udara menunjukkan semangatku yang membara untuk mengerjai mereka. Dan akhirnya kami melaksanakan ide kami yang berpura ingin berangkat ke Jakarta sekarang juga tanpa mereka. *** Aku dan Siti mencoba menahan tawa kami. "TIIT TIIT" aku menekan klaksonku berulang kali agar para makhluk yang ada di depanku ini berpindah. Aku membuka kaca mobilku "Kalau nggak pengen mati muda, Minggir! " teriakku pada mereka, aku benar benar menghayati aktingku. Siti tersenyum senang melihatku, dia tak benar benar menyangka bahwa reaksi mereka akan seperti itu. Untuk semakin meyakini mereka bahwa aku tak segan segan menabrak mereka, aku menginjak gas serta rem secara bersamaan sehingga menimbulkan deru yang seolah siap menabrak apapun yang ada di depannya. "Tyl, lu gila ya, masa teman sendiri mau lu tabrak" ujar Reza tak terima "Eh, lu Ja mana ada temen yang ngerjain temannya segitu banget" Siti tak kalah sewot daripada Reza Aku ingin memberikan piala oscar seketika itu juga kepada Siti, Siti benar benar memiliki akting yang sungguh luar biasa melebihi aktor aktor di drama korea. Dan lihatlah Daffa pun akhirnya ikut terpancing emosinya melihat kelakuan kami berdua, nah ini yang kami tunggu. Kita lihat seberapa marah mereka kepada kami. "Semuanya bisa kita bicarain baik baik, ga usah kek gini dah bocah kalian semua" perkataan Daffa sukses benar benar memancing emosi kami, kami memang mengharapkan mereka marah tapi tak semarah ini yang dengan lancangnya mengatai kami bocah. Jika kami bocah lalu apa mereka, balita? "Kalau kami bocah, ngapain ngajak kami kesini? "teriak Siti dengan marah krpada mereka, sama seperti aku Siti juga tak terima dikatain bocah. Kali ini kami benar benar akan pergi, tak seperti ide awal tadi yang hanya mengerjai mereka kali ini kami memutuskan untuk benar benar pergi dari hadapan mereka. Aku dan Siti menutup kaca jendela kami yang terbuka. "Jalan Tyl" ujar Siti Aku langsung menjalankan mobilku tak peduli dengan mereka yang berada di depan mobilku, toh jika benar benar ingin mati ya mati saja aku pun tak peduli. Dan benar saat nampak mobilku berjalan mereka dengan cepat berpindah dari depan mobilku untuk menyelamatkan dirinya. Entah apa yang mereka katakan, aku tak bisa mendengarnya sama sekali. Kali ini aku benar benar marah kepada mereka, ya benar memang ini salahku karena membangunkan mereka dengan air, tapi tak seharusnya mereka mengerjaiku dengan membuka boxernya di depanku sungguh tindakan yang sangat tidak etis. *** Drrttt Drttt Bunyi ponselku menciptakan hening yang terjadi di dalam mobil, aku dan Siti sibuk menenangkan emosi yang tengah membara di hati kami. Aku melihat layar ponselku, seketika setelah melihat siapa yang menelfonku aku segera mematikannya. Kalian pasti tahu siapa yang menelfonku, yap Shiden. Aku sangat marah kepada Shiden bagaimana dia bisa diam saja saat aku diperlakukan seperti itu, apakah dia menganggapku temannya atau bukan Kembali suara ponselku berbunyi, dan masih saja nama Shiden yang terpampang di layar, kali ini aku tak mematikannya, aku malah mengecilkan volumenya bahkan lebih tepatnya mensilentkan ponselku agar tak terdengar satupun notifikasi. Dan aku bisa fokus menyetir saja, karena perjalanan kali ini cukup jauh. *** Aku mengantarkan Siti ke rumahnya, tepat pukul 12 siang kami sampai di Jakarta. Perjalanan yang cukup melelahkan bagi kami berdua. "Makasih ya Tyl" setelah Siti menurunkan barang barangnya yang ada di bagasi belakang. "Santai Sit, gue pamit ya" "Iya hati hati" Aku mengangguk mendengar perkataan Siti **** Akhirnya aku sampai di rumahku juga, memang tempat yang paling nyaman adalah rumah. Tak ada yang bisa menggantikan posisi rumah. "Eh Non, sudah pulang" sapa salah satu mbak yang bekerja di rumahku "Iya mbak" "Mau dimasakin apa Non? " " Nanti aja mbak, belum lapar mau istirahat dulu" "Oh gitu, baiklah biar saya saja yang membawa barang barangnya" Aku mengangguk mengiyakan. Aku benar benar capek, setelah sekian lama tak berkendara selama itu. Aku segera melenggang ke kamarku untuk membersihkan diri agar saat tidur nanti bisa lebih nyaman. *** Setelah dirasa bersih, aku pun segera menaiki tempat tidur agar segera bisa mengistirahatkan diri ini dari lelah yang berkepanjangan ini. Entah kenapa aku benar benar merasa kecewa,ku kira aku telah mendapatkan teman teman baru yang memahamiku tetapi ternyata aku salah, mereka hanya memandang aku sebagai bocah yang tidak memiliki perasaan. Ini semua juga salahku, mengapa tiba tiba menjadi seorang Tylisia yang membuka diri kepada orang yang baru dikenal, mengapa tiba tiba harus berteman akrab dengan mereka. Sungguh hal yang membuatku tiba tiba lupa akan diriku. *** Sudah dua hari sejak kejadian di puncak aku menghindar dari Shiden baik itu di sekolah maupun di rumah, setiap ia datang mencariku aku selalu menyuruh para pembantuku untuk mengatakan aku tidak ada di rumah atau sedang tidak ingin diganggu. Tapi ketika di sekolah cara ku menghindarinya dengan tidak meninggalkan kelas saat jam istirahat karena kesempatan untuk berpapasan dengannya ketika di luar kelas sangatlah besar. "Tyl, bawa bekal kan? "tanya Siti yang juga melakukan hal yang sama denganku diam dikelas saat sedang istirahat. "Bawa dong, nih" aku menunjukkan kotak bekalku yang sudah di siapkan sebelumnya. "Kemarin Daffa ngechat gue" ujar Siti di sela makan kami "Terus dia bilang apa? " "Dia bilang kalau dia dan teman temannya minta maaf, mereka tau kalau bercandaan mereka kelewatan dan maaf untuk omongan mereka yang menyinggung kita. Kalau kita mau maafin mereka, mereka ngundang kita ke acara ulang tahunnya si Wildan besok, gimana? " Siti menjelaskan panjang lebar isi chatnya dengan Daffa. "Kalau gue rasanya udah cukup marahan sama mereka, apa kita maafin aja mereka ya? " tanyaku kepada siti "Iya gue rasa kita harus maafin mereka, kan nggak baik cantik cantik gini tapi pendendam" ujar Siti sambil melihat wajahnya di sebuah sendok yang dipegangnya. Aku tertawa dengan apa yang ia lakukan "Kalau orang cantik dilihat pake sendok aja tetap cantik" ledekku kepada Siti *** Bunyi bel sekolah membuyarkan lamunanku, sejak dua jam terakhir entah mengapa aku tidak fokus kepada guru yang sedang menerangkan pelajaran di depan. Biasanya aku tak pernah seperti ini, ada apa denganku, perasaanku juga tidak enak, semoga tidak terjadi hal hal negatif yang tidak diinginkan. aku memasukkan buku buku yang sejak tadi tidak aku sentuh ke dalam tas. Saat aku akan beranjak dari tempat duduk tiba tiba Siti datang ke mejaku "Tyl, nanti gue bilang ke Daffa ya kalau kita bakalan datang ke partynya wildan" "Iyaa Siti cantik" ucapku kepadanya "Ih kamu lebih cantik" "Nggak kamu yang lebih cantik" "Kamu cantiknya beda" "Iya beda cantikkan kamu" "Sampai kapan kalian bakalan berdiri di sana!" tiba tiba sebuah suara yang sangat mereka kenal muncul entah dari mana. aku dan Siti pun menoleh ke arah sumber suara. "Ngapain lu disini Dhen" tanya Siti "Mau jemput sahabat gue, wek" ujar Shiden sambil memeletkan lidahnya " Sahabat? " Siti menaikkan alisnya pura pura tidak mengerti. "Lu kenal sama sahabatnya Tyl" tanya Siti kepadaku dengan cepat aku menggeleng "Mana gue kenal, sama nih orang aja gue nggak kenal" aku ikut meledek Shiden "Atau jangan jangan ni orang cuma ngaku ngaku kali ya, bilang aja mau godain kita berdua" Ucap Siti semakin meledek Shiden "Emang ya lo pada, dendaman banget" ujar Shiden diiringi gelak tawa dariku dan Siti "ih siapa nih, yuk kita pergi Tyl" Ajak Siti "Yuk, Yuk" ucap Shiden sambil menarik tanganku dan Siti keluar dari pintu kelas. *** " Tadi mama nyuruh aku ngajak kamu ke restaurant favorit mama" ujar Shiden saat kami sampai di parkiran motor dimana motor Shiden terparkir " Ngapain? " " Biasalah ibu ibu pada mau arisan" ujar Shiden santai, membuatku mendecih sebal " Arisan nggak usah ajak anak bisa nggak sih" selalu saja para ibu ibu setiap arisan mengajak anak anaknya, entah untuk apa kami diajak hanya mendengarkan obrolan yang tidak dimengerti oleh kaum millenial seperti kami. "Namanya juga ibu ibu Ya, kalau nggak gitu ubi ubi namanya" candaan Shiden yang terdengar aneh di telingaku "Garing den" ujarku langsung mengambil helm yang telah Shiden sediakan untukku. "Yeee" Shiden berteriak tak terima Shiden langsung menstarter motornya dan kami pun melaju membelah jalanan ibukota menuju tempat arisan para ibu ibu sosialita. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD