0.22

1568 Words
*** "Gila lu pada ya, temennya dizholimi pada diam wae" Daffa datang dalam keadaan basah kuyup, ntah apa yang dilakukan Shiden kepadanya. "Setiap perbuatan ada konsekuensinya bro" kalimat yang meluncur dari mulut Wildan sukses membuat emosi Daffa kembali ke titik paling tinggi. Daffa dengan cepat mengejar Wildan yang sudah lebih dulu mengambil ancang ancang untuk lari. "Awas lu Wildan" teriak Daffa tapi larinya terhenti karena sebuah suara dari orang yang sangat dia kenal. "Berhenti, jangan kek bocah deh" ternyata Sari yang megeluarkan suaranya pantas saja Daffa langsung diam tak berkutik. "Ibu mantan emosi" celetuk Shadam "Yah Daffa giliran sama mantan kecap" kini Reza yang mengeluarkan suaranya "Kicep g****k" Shadam dengan emosi meralat perkataan temannya itu. "Kalian bisa diam" suara tenang Sari dan tatapan seolah ingin membunuh siapapun yang di hadapannya membuat empat sekawan itu langsung mengatupkan mulutnya agar tak menimbulkan suara. Aku tahu sedari tadi Sari sudah lelah melihat tingkah laku mereka yang kekanak-kanakan, dan jadilah sekarang ia mengeluarkan segala emosi yang sedari tadi telah ia tahan. Shiden keluar dari kamarnya setelah membersihkan tubuhnya dan terkejut melihat suasana yang terjadi di ruang tengah, ia merasakan hawa dingin menyelimuti ruangan ini. Dan empat temannya yang diam tak berkutik di hadapan Sari. "Mampus lu" ucapnya tanpa suara hanya gerakan bibir saja yang dapat diketahui oleh keempat teman temannya. Aku yang menyadari kehadiran Shiden ikut melihat ke arahnya. Dan aku melayangkan sebuah tinjuan ke udara untuk menghentikan tingkah konyolnya agar tak membuat singa dalam diri Sari bangun kembali. Setelah itu Shiden langsung masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa ia melambaikan tangannya. "Udah Sar, yuk kita masuk kamar" aku menenangkan Sari dengan mengajaknya masuk ke dalam kamar. "Iya Tyl, ayo" Aku dan Sari berjalan masuk menuju ke kamar. Bisa aku dengar helaan nafas lega dari keempat orang itu. Setelah melihatku dan Sari masuk ke kamar mereka baru berani bersuara. "Lu sih bangunin nenek garong" "Ya lu lah cari gara-gara" "Lu mandi deh Daf, sakit mata gue lihat keburiqan lu" *Pletak* Daffa memukul kepala Reza "Kalau gue buriq lu apaan" Tanyanya tak terima. "Sudah sudah" ucap Wildan mencoba menghentikan perdebatan kedua orang itu. "Daffa, lu mandi gih" Daffa mengangguk patuh, akhirnya memilih untuk mandi dan membersihkan diri dari sisa kotoran dan dosa. *** Hari ini hari terakhir kami di puncak, tak membuang waktu liburan yang berharga kami menghabiskan hari ini dengan berbagai aktivitas. Seperti sekarang ini aku dan Sari bertugas untuk memasak di dapur dibantu dengan ibu penjaga villa yang sudah dipercaya oleh keluarga Shiden untuk memasak dan membersihkan villa. "Ini dibersihkan dulu neng" Aku mengangguk, untung ada ibu ini, jika tidak entah bagaimana nasib masakan dari orang yang tak bisa memasak ini. *** Suasana tenang dan damai. Jangan tanya kemana mereka berempat, mereka sekarang masih bertamasya di alam mimpinya. Entah jam berapa malam tadi para sekawan itu tidur, saat aku melihat jam malam tadi sudah pukul 02.00 malam tapi masih saja mendengar teriakan mereka yang sedang bermain game. "Tyl, bangunin mereka gih" Sari menyuruhku membangunkan mereka karena makanan yang kami siapkan sudah selesai dan tersaji dengan rapi di atas meja makan. "Lu aja Sar, gue nggak berani bangunin para macan tidur" "Lah kalau gue macan bangunin macan dong" Canda Sari sambil tertawa membuatku mau tak mau juga ikut tertawa. Lalu aku beranjak ke arah kamar para macan. *Tok Tok* Aku mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. "Udah Tyl, masuk aja pada masih molor tu" teriak Sari dari arah dapur Aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam, karena ini pertama kalinya aku masuk ke kamar laki laki. Betapa terkejutnya diriku melihat bagaimana bentuk dan kondisi kamar ini, jika biasanya kita menamai ruangan yang sangat berantakan dengan sebutan kapal pecah mungkin ini lebih dari kapal pecah mungkin sudah seperti kapal karam yang telah lama di dasar laut hancur tak berbentuk. Baju yang berserakan di mana mana menyisakan boxser yang melekat di tubuh masing masing, bungkusan camilan dan sisa camilan yang berserakan dimana mana, bau menyengat yang bercampur menjadi satu, dan jangan lupa suara dengkuran yang saling bersahutan bagaikan kicau burung di pagi hari. Satu respon yang aku keluarkan setelah melihat kondisi kamar ini adalah geli dan jijik bercampur menjadi satu. Tapi mau tak mau aku memberanikan diri untuk mendekat ke tubuh yang saling berhimpitan di atas tempat tidur yang seharusnya di isi maksimal oleh dua orang tapi sekarang di isi oleh lima orang. Pertama aku membangunkan Daffa "Daffa bangun! " sambil menggoyang goyangkan tubuhnya. No respon aku beralih ke Reza "Bangun Ja" masih dengan respon yang sama. Aku menghela nafas berat "Den bangun ayolah" sedikit menggeliat tapi kembali tidur "Wildan Shadam ayo bangun" sambil menggoyang goyang badan keduanya. Tedengar erangan dari Shadam dan Wildan, ah berhasil pikirku. Tapi ternyata tidak harapan hanyalah tinggal harapan, harapan selalu saja mengkhianati kenyataan. Kelima sekawan ini masih saja tertidur seperti orang mati. "Oke baiklah sekali lagi jika tidak kalian akan melihat Tylisia yang sesungguhnya" bisikku menyemangati diriku sendiri. Dengan keras aku menggoyangkan badan mereka dengan kencang. Tapi tetap hasilnya nihil. Oke, baiklah. aku menggulung lengan baju ku seperti orang yang hendak berperang. Jadi kalian semua ingin melawan seorang Tylisia. Dengan langkah cepat aku masuk ke dalam kamar mandi. Mengambil gayung yang berisi air penuh. Masa bodoh akan reaksi apa yang akan mereka berikan. yang penting aku melaksanakan misiku dengan sukses. 1 ... Aku menghitung perlahan 2 .. 3 .. Dan BYURRRR "HUJAN WOI" "AIR LIUR SIAPA SIH" "k*****t SIAPA YANG NGOMPOL" "BASAH BASAH" "ANJ... " Aku tertawa terbahak bahak melihat respon yang keluar dari mulut mereka, respon yang sama sekali tidak terbayangkan oleh ku. Tawaku berhenti setelah mendapat tatapan tajam dari kelima sekawan itu. Aku tahu mereka bisa melakukan apa saja dengan tatapan itu, hal inilah membuatku bergidik ngeri sampai ke ubun ubun dan bersiap siap mengambil ancang ancang untuk kabur. Tapi sayang seribu sayang memang benar kata orang tenaga lelaki lebih kuat daripada wanita. Reza sudah menghadang jalan menuju pintu keluar. "Mau kemana ehm? " Reza mengedipkan matanya sambil terus menghadang jalanku. "E.. I.. itu mau keluar" ucapku tergagap "Nggak takut bangunin macan yang lagi tidur? " kali ini Shadam yang bertanya sambil menunjuk Shiden. Yang langsung mendapat lemparan bantal dari Shiden "Sialan lo" aku meneguk bulat bulat saliva ku saat melihat mereka berlima mengelilingiku. Oh tuhan aku menyesal. Penyesalan memang selalu datang terakhir. "Ehm, anu itu eeh gue cuman bangunin kalian buat sarapan" "Terus sekalian mandiin kami juga" "Mandi bareng aja yuk" perkataan Wildan sukses membuatku meneguk saliva ku lagi, Sial umpatku. Aku melihat ke arah Shiden, untuk mencari pertolongan. seperti menyadari tatapanku Shiden hanya menatapku acuh sambil mengedikkan bahunya. Aku bersumpah akan menurunkan Shiden di tengah jalan saat jalan pulang nanti. "Yuk Tyl" "Lu nggak tau aja betapa gilanya mereka" lagi dan lagi perkataan Shiden membuatku berkali kali merutukinya. "Kapan lagi mandi bareng kita, ya nggak?" Wildan mencari persetujuan dari teman temannya dan seketika temannya bersorak "Iya kapan lagi" "Kesempatan tidak datang dua kali" Mereka tiba tiba tertawa, tawa yang hampir mirip seperti iblis dan temannya temannya. "Siapapun tolong aku" doaku dalam hati "Kenapa Tyl takut? " "The First ya? " Aku menggeleng kuat sambil menutup mataku saat melihat Shadam mulai membuka celana yang dipakainya. "Fix mereka benar benar gila" "Sar tolong" aku semakin mengencangkan doaku dan tiba-tiba. BRAK suara pintu terdengar "APA APAAN SIH KALIAN" Aku membuka mataku saat mendengar suara Sari, terimakasih tuhan telah mengambulkan doaku. Aku langsung menghambur ke pelukan Sari, tiba-tiba air mataku turun. Aku tidak berbohong saat aku mengatakan sangat takut dengan apa yang mereka lakukan. Aku menangis sesegukan. "Bercandaan kalian nggak lucu bangs*t" Sari sangat kesal dengan kelakuan teman temannya itu. Sari langsung membawaku keluar dari kamar ini "Minggir Lo" ucap Sari saat melihat Reza masih menghadang jalan mereka. "Sar" panggil Daffa Tapi orang yang dipanggil tak sama sekali menoleh. "Ini gara gara lu Dan" Shadam menyalahkan Wildan "Lah kok gue?" "Ini ide lu kan, gue mah cuman mengikuti situasi aja" "Dasar g****k, itu semua gara gara tindakan ekstrim lu" Wildan membela diri "Cukup cukup" teriak Daffa "Sekarang kita pikirin cara minta maaf ke mereka berdua" Reza memberi solusi. Dan semuanya mengangguk tak terkecuali Shiden. Memang mereka akui bahwa bercandaan mereka keterlaluan. *** "Sar, pulang bareng kami aja" ucap Daffa saat melihatku dan Sari memasukkan barang barang kami ke bagasi mobil. Yap, aku dan Sari memutuskan untuk pulang. Kami benar benar marah atas apa yang mereka lakukan. "Sar, maafin gue" Daffa tak menyerah "Bukan ke gue lu minta maaf ke Tylisia tuh" Ujar Sari sambil terus memasukkan barangnya. "Tyl, maafin gue, gue tadi nggak ikut-ikutan" "Iya gue maafin" ucapku seadanya. Sejak tadi mereka tidak berhenti meminta maaf kepada aku dan Sari. "Udah semua Tyl?" Ujar Sari kepadaku "Kalian perempuan mana mungkin di mobil cuman berdua" Shiden menasehati dengan lembut. Sekarang aja sok menasehati tadi kemana saat aku meminta pertolongan. "Udah Sar, yuk" aku masuk ke bagian pengemudi. Tiba tiba Shiden menahan tanganku Tapi aku langsung melepaskannya. "Yaya" panggilnya. "Tyl, maafin kami" kali ini Wildan dan Shadam yang meminta maaf ntah berapa kali mereka meminta maaf. "Iya gue maafin, udah minggir gue mau jalan" ujarku sarkas. Aku melajukan mobilku pelan. dan tiba-tiba mereka berlima melompat ke depan mobilku. "Kalian nggak boleh pergi" "Stop" "Jangan tinggalin kami" Ucap mereka lebay. TIIT TIIT Aku membunyikan klakson mobilku. Tapi mereka tetap saja tak bergeming. "Minggir" teriakku "Nggak" "Nooo" Aku menahan senyumku agar tak terbit melihat kelakuan mereka. Mereka benar benar mudah sekali ditipu. "Sepertinya berhasil Sar" ucapku kepada Sari yang ada di sampingku yang juga sedang menahan tawanya agar tak tertawa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD