0.21

1181 Words
"Harum banget bau apa nih" "Lapar gue" "Apaan nih banyak banget" Saat aku sedang asyik melakukan kegiatan ku di dapur, muncullah manusia manusia heboh dari arah kamar. Kehebohan mereka membuatku merasakan sesuatu yang berbeda tidak pernah selama ini aku merasakan suasana seperti ini, suasana yang mampu membuatku lupa akan sebuah kata kesepian, sungguh mengenal mereka membuatku benar benar merasa seperti anak remaja pada umumnya, yang memiliki banyak teman apa adanya bukan ada apanya. "Ini aku bawa makanan dari rumah untuk persiapan nanti malam kalau lapar" jelasku kepada mereka yang tengah asyik melihat berbagai makanan yang aku bawa "Jangan untuk nanti malam untuk sekarang aja Tyl" ujar Daffa tak sabaran "Nanti malam kalau lapar kita makan apa?" tanyaku kepada mereka khawatir jika nanti malam mereka akan merasa lapar. "Nanti malam kita BBQ-an" ucap Reza "BBQ-an apaan, makan aja otak lu" Shiden berjalan ke arah dapur setelah membersihkan badannya. "Gila, bos kita udah ganteng aja" puji Daffa "Ada cumi dibalik batu" sindir Reza "Emang cumi tinggalnya dibalik batu ya Ja? " kali ini si otak kosong Shadam yang bertanya *Pletakk* kepala Shadam sukses mendapatkan sebuah pukulan yang sempurna. " apaan sih lu mukul mukul" ucap Shadam tak terima " Itu cuman plosotan aja b**o" ujar Wildan *Pletak* kali ini giliran Wildan yang mendapatkan pukulan gratis dari Reza "Plesetan g****k bukan plosotan" "Alah typo dikit" ujar Wildan tak mau kalah. "Bisa diem nggak lo pada" "Atau mau gue lakban mulut lo pada" ucap Shiden kesal karena kehebohan mereka yang tak ada habisnya. "Oke diam" "Diam grak" "BBQ-an jadi dong" Masih saja acara bbq an tidak bisa lupa "Nggak" ujar Shiden singkat jelas padat. "Yah kalau gini mending nggak ikut gue" Wildan mengeluh tak terima "Siapa yang ngajakin lu, coba diingat kembali" " Yah emang nggak sih, tapi karena rasa setia kawan yah gimanapun gue sebagai teman yang baik harus ikut. " jelas Wildan panjang dan lebar. "Bacot" satu kata yang keluar dari mulut Shiden. Ia heran apakah tidak ada dari temannya ini yang memiliki otak yang waras. "Tyl gue udah selesai mandi" Sari yang datang ke dapur dengan pakaian yang sudah rapi. "Ah oke, lu liatin ya ayam bakar gue bentar lagi diangkat, tunggu aja belnya" "Siap" Aku meninggalkan dapur yang masih heboh mengenai acara BBQ -an yang mereka rencanakan. Aku masuk ke dalam kamar kemudian mengecek ponselku yang kehabisan batrai karena lupa mencharge nya saat akan berangkat, aku melihat ada sebuah panggilan tak terjawab dari mama. Aku segera menekan tombol dial kembali untuk menelfon mama. Terdengar suara khas mama di seberang sana. " Hallo Sayang" " Hallo Ma" " Gimana udah sampai di puncak ?" " Udah Ma, satu jam yang lalu " " Baguslah, mama rencana balik dari Dubai minggu besok Ya " " Kok lama banget ma? " " Papa sama mama masih ada urusan, kamu tenang aja oleh oleh untuk kamu ga bakalan lupa kok " " Aku nggak mintak oleh oleh cukup mama dan papa pulang dengan selamat aja udah cukup " " Anak mama baik banget sih, eh sayang udah ya ini mama mau nemenin papa meeting sama client, dah sayang " " Dah mama, hati hati " Sambungan telfon terputus, bahkan sebelum mama membalas ucapan terakhir ku, apakah orang tuaku begitu sibuk, sebenarnya aku sangat merindukan mereka bahkan untuk bertemu saja sulit, bertemu papa dalam dua bulan saja mungkin bisa dihitung dengan jari, dan mama walaupun ibu rumah tangga tapi sangat jarang ada di rumah, walaupun tak sejarang papa. Tapi aku tetap bersyukur selagi mereka masih baik baik saja dan dalam selalu dalam keadaan aman dan sehat itu sudah cukup bagiku. Biarkan itu cukup menjadi keluh kesahku tanpa menjadi beban orang lain. *** Aku terbangun dari tidurku, tanpa sengaja aku tertidur saat selesai mandi padahal niat awal hanya untuk merebahkan badan saja tapi malah tertidur, aku melihat jam yang ada di dinding kamar pukul 20.00, aku sudah tertidur hampir satu jam, aku pasti sudah melewatkan banyak acara pikirku. Aku segera melangkah keluar menuju dapur tapi nihil tak ada satupun dari mereka yang ada di dapur. "Kemana mereka" pikirku Aku terus berjalan ke arah samping, dan aku bisa mendengar suara bising. "Ah pasti mereka sedang BBQ -an" Aku segera mempercepat langkahku menuju halaman samping. Dan benar aku bisa melihat mereka sedang sibuk membakar daging daging yang beraroma harum yang membuat perut menjadi keroncongan. " Eh cantik udah bangun" pertanyaan yang keluar dari mulut Reza membuat semua mata tertuju kepadaku. "Iya maaf telat ya" ucapku seraya meminta maaf karena telat dan tak bisa membantu persiapan mereka. "Nggak apa apa kok cantik, udah ada aku kamu tenang aja" ujar Reza membanggakan dirinya dihadapanku. "YEEE" sorakan dari teman temannya yang ternyata Reza dapatkan. "Lu aja nggak ngapa ngapain, sibuk makan daging yang udah masak" "Dasar Bahlul congek" "Modus lu kelewatan njir, mundur dikit" "Sadar muka woi" suara Daffa terdengar " Tukang parkir Said?" " Mundur " ucap mereka kompak menertawakan Reza. Tapi tanpa mereka sadari api panggangan mereka sudah membesar, entah mengapa bisa sebesar itu. "AAAA APINYA" ujar Sari histeris melihat api yang cukup besar menghanguskan daging daging yang ada di pemanggangan. Mau tak mau mereka juga melihat kemana arah Sari melihat dan betapa terkejutnya mereka melihat api panganggannya yang besar untuk ukuran api yang digunakan untuk memanggang. "Buset, ambil air" Wildan heboh "Cepat cepat air" Shadam juga heboh sambil berlari mengambil air yang ada di dekatnya. " AWAS AWAS" *BYURRR* Bukannya api yang padam tapi wajah Shiden yang merah padam karena temannya itu salah menyiramkan air yang harusnya untuk api yang ada di panggangan malah kepada dirinya. " ANJ... " " Maaf Den, ampun gue nggak sengaja" Daffa yang menjadi pelaku penyiraman itu meminta belas kasihan kepada Shiden agar tidak memangsanya saat itu juga. "ITU APINYA MAKIN BESAR" teriakku kepada mereka yang sibuk melihat kejadian tak disengaja yang dilakukan oleh Daffa kepada Shiden. *BYURR* Dan kali ini siramannya tepat ke api. Benar kata orang bijak dibalik masalah akan ada masalah lagi, dan sekarang buktinya Syukurlah satu masalah bisa terselesaikan, tapi satu masalah yang datang menghantui hidup Daffa belum terselesaikam, dari jarak yang cukup jauh ini ia bisa merasakan hawa panas dari bara bara emosi seorang Shiden. "Mampus gue" batinnya berkali kali. " Daffa sini lu " ujar Shiden datar dan tenang. " Nggak " Daffa masih kukuh dengan pendiriannya. " Kesini sebentar, nggak gue apa apain" " Nggak Den, gue disini aja lebih nyaman " " Daffa " " Janji ya lu nggak bakal ngehabisin gue " " Iya, mangkanya sini dulu " " Janjinya mana? " " Iya Janji " Akhirnya Daffa berani melangkah mendekat kepada Shiden, karena ia yakin Shiden adalah lelaki sejati yang memegang janjinya. Tapi dugaannya salah "SHIDEN LU BAWAK GUE KEMANA" Teriak Daffa saat Shiden mengangkat tubuhnya. Dan aku, Sari, Reza, Wildan, dan Shadam hanya bisa melihat kejadian itu tanpa bisa melakukan apapun, karena untuk menenangkan Shiden yang sudah seperti singa kelaparan adalah sesuatu yang tidak mungkin. " Mari kita nikmati daging BBQ -an kita malam ini " ujar Reza pada akhirnya. Tapi percuma tak ada yang bisa dinikmati, daging yang awalnya tampak menggiurkan sekarang bewarna hitam leggam seperti arang bahkan mungkin sudah menjadi arang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD