***
“ Ibu, hari ini sudah siap kan?”
Tepat setelah satu minggu ibu Erlanda di rawat di rumah sakit, akhirnya hari yang telah ibu dan Erlanda tunggu sudah ada di depan mata. Hari ini ibu Erlanda akan melakukan operasi transplantasi hati.
“ Ibu sedikit takut Nak.”
“ Ibu banyakin doa aja biar tenang.” Ujar Erlanda menenangkan ibunya
“ Erlanda ibu tanya sekali lagi boleh?”
“ Ibu mau tanya apa, tanya aja”
Erlanda menggenggam tangan ibunya, menyalurkan segala kekuatan kepada ibunya, yang ia yakini saat ini sangat takut akan apa yang terjadi ke depannya. Tapi dengan segala kekuatan yang Erlanda berikan kepada ibunya, ibunya bisa lebih tenang.
“ Kamu dapat uang dari mana Nak?”
Pertanyaan itu lagi yang dilontarkan ibunya, sejak dua hari yang lalu semenjak Erlanda memberi tahu bahwa ibunya bisa di operasi, ibunya tidak pernah berhenti bertanya mengenai masalah biaya.
“ Ibu, percaya kan sama Erlanda, seperti yang Erlanda bilang kalau operasi ibu ditanggung oleh seorang dermawan yang baik hati yang tidak ingin di beritahukan namanya.”
“ Tapi, ibu tetap nggak percaya ada orang sebaik dia.”
“ Awalnya Erlanda juga tidak percaya Bu, tapi ternyata dia memang ada.”
Ibunya tersenyum mendengar jawaban Erlanda, ia tak menyangka akan ada sosok yang berbentuk manusia tapi berhati malaikat.
Tapi tidak ada yang tahu bahwa arti dari senyuman Erlanda yang ia tampilkan sekarang.
Erlanda teringat akan hari dimana ia bisa membayar uang operasi ibunya.
Flashback
“ Ini uangnya, sesuai perjanjian kita.” Suara berat terdengar dari seorang laki-laki yang memakai hoodie hitam.
“ Baik”
Erlanda melangkah menjauh dari laki-laki itu, Erlanda akhirnya mendapatkan secercah harapan untuk dapat menyembuhkan ibunya. Harapan yang selama ini ia kira harus ia relakan tapi akhirnya bisa terwujud.
***
Empat bulan kemudian
Hari ini adalah hari dimana final pertadingan basket antara SMA JIS dan SMA Nusa Buana, tentu saja semua siswa SMA JIS dan SMA Buana hadir untuk mendukung tim dari sekolah mereka.
“ Chok, gue balik aja ya” Erlanda yang merupakan salah satu siswa SMA Nusa Buana ikut hadir memberi dukungan.
Sebenarnya Erlanda tidak suka ikut dalam acara seperti ini, ia benci keramaian tapi dengan berat hati ia menginjakkan kakinya di lapangan basket yang menjadi saksi bisu pertandingan paling dinanti-nanti antara JIS dan SMA Erlanda.
Erlanda bisa sampai disini karena paksaan Choki, yang terus merengek kepadanya sejak 3 hari yang lalu. Di setiap ada kesempatan ia selalu merengek kepada Erlanda untuk menemaninya menonton pertandingan basket.
“ Er, temenin gue nonton yuk”
“ Tidak”
“ Gitu sih lu, temen macam apa lu, ikut yuk”
“ Tidak”
“ Ada banyak cewek cantik lo”
“ Tidak tertarik”
Percakapan mengenai hal itu selama berhar-hari membuat Erlanda muak mendengarnya dan pada akhirnya ia pun mengiyakan ajakan Choki.
Dan tibalah Erlanda disini, hari menunjukkan pukul 16.00 sebentar lagi pertandingan akan dimulai, semua siswa sudah memenuhi bangku penonton. Tentu saja masing-masing sekolah memiliki dress codenya masing masing, untuk anak JIS mereka memakai baju merah hitam menyesuaikan dengan tim mereka, sedangkan SMA Buana memakai dress code bewarna cokelat putih yang juga sama dengan baju tim dari SMA mereka.
Erlanda memilih tempat paling belakang karena ia tak mau berdesak-desakan hanya untuk menonton pertandingan basket yang sama sekali tak menarik baginya. Erlanda terus menerus melihat jam yang ada di pergelangan tangannya
“ Harus berapa lama lagi gue nungguin mereka main” batin Erlanda dalam hati.
Tiba-tiba dia mendapatkan sebuah pesan yang sudah sering ia terima sejak 3 bulan yang lalu,
“ Sabtu kita ke markas” itulah isi pesan dari si pengirim itu yang hanya Erlanda seorang yang tahu maksud dari pesan tersebut.
“ Oke” Erlanda membalas pesan si pengirim misterius itu.
Lalu ia menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Saat sedang menyimpan ponsel di saku celananya, tiba-tiba terdengar bisikan dari orang yang di sampingnya.
“ Ih lihat, kakak disebelah aku ganteng banget”
Mendengar hal itu Erlanda melihat ke arah asal suara, yang ternyata adalah siswi dari sekolah yang sama dengannya, karena melihat baju yang mereka pakai sesuai dengan dress code sekolahnya.
Erlanda melihat ke arah mereka bukan karena ingin tebar pesona atau lainnya, tapi Erlanda hanya heran bukankah dia sudah berdiri paling ujung barisan tapi mengapa masih ada orang di sebelahnya, hal ini membuat Erlanda merasa tidak nyaman dan memilih untuk keluar mencari udara segar yang tak ia dapatkan di gor ini.
“ Gue beli minum dulu ya” ucapnya kepada Choki yang tengah asyik mengobrol dengan siswi perempuan yang entah ia kenal dari mana.
“ Gue mau, titip ya” balas Choki
“ Oke” Erlanda melanjutkan langkahnya ke arah pintu keluar, dan tepat di depan pintu keluar ia bertemu dengan seseorang yang sangat ingin ia hindari.
“ Mampus gue”
***
Erlanda tengah duduk menikmati air mineral yang ia beli ke salah satu pedagang yang ada di sekitar gor. Erlanda tak mempedulikan gadis yang ada di sebelahnya yang terus berbicara tak jelas.
“ Aku nggak nyangka kak Erlanda ikut nonton juga” dari nada gadis itu terlihat ia sangat senang, gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Divandra.
Erlanda tak menanggapi perkataan Divandra.
“ Kak Er, kesini sama siapa?” Divandra kembali bertanya
Tetap tidak ada jawaban dari seorang Erlanda
“ Pasti sama kak Choki” Divandra menjawab pertanyaannya sendiri karena merasa Erlanda tak akan menjawab pertanyaannya. Tapi Divandra tak putus harapan ia kembali bertanya.
“ Pulang bareng aku mau nggak kak, aku bawa mobil daripada naik motor nanti masuk angin.” Kali ini Divandra mengajak Erlanda untuk pulang bersamanya, Divandra berharap Erlanda akan membalas ucapannya.
Tapi bukannya membalas Erlanda malah berdiri dari tempatnya dan melangkah ke arah pintu masuk gor.
“ Yah, kak Er kok pergi sih.” Divandra segera menyusul Erlanda tapi langkahnya terhenti oleh pedagang yang meneriakinya “ Eh mbaknya, belum bayar main kabur aja”
Divandra merengut kesal, dan memberikan selembar uang berjumlah 5000 ribu kepada pedagang itu “Ini Bu”
Segera Divandra mengikuti Erlanda sebelum kehilangan jejak lelaki itu.
“ Kak Erlanda tunggu!”
***
“ Seharusnya sekolah kita bisa menang, lemah banget sih semuanya.” Choki merasa kecewa karena sekolahnya harus kembali kalah melawan JIS. Selama hampir tiga tahun satu kalipun tim sekolah mereka tidak bisa mengalahkan tim dari JIS.
“ Emang dasarnya mereka hebat.” Ujar Erlanda datar, ia sama sekali tak ambil pusing dengan kekalahan sekolah mereka, karena bisa di lihat secara jelas bahwa kuantitas dan kualitas para pemain JIS memang benar benar bagus, tidak sebanding dengan tim dari sekolah mereka walaupun sekolah mereka juga tergolong hebat tapi belum ada apa apanya dibanding JIS.
“ Benar juga sih, apalagi yang namanya Shiden itu, gila shootnya.” Choki setuju dengan pendapat Erlanda, mereka harus mengakui kekalahan tim dari sekolah mereka.
Erlanda mengangguk mengiyakan perkataan Choki, selama pertandingan tadi Erlanda bisa melihat bahwa laki-laki yang bernama Shiden itu sangat menonol dibanding teman temannya, hampir setengah poin mereka di cetak oleh Shiden.
“ Gue lapar kita makan dulu yuk” Choki tak bisa menahan laparnya kali ini, tapi memang seorang Choki tidak pernah bisa menahan laparnya barang sedetik.
“ Iya ayo, gue ambil motor lu dulu ya, lu tunggu disini.” Ujar Erlanda kepada Choki, motor Choki di parkir di parkiran di samping gor yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka berdiri.
***