0.16

1352 Words
Terdengar suara musik dentuman musik yang mampu membuat telinga orang yang tak terbiasa dengan suara ini seperti diriku akan merasakan sakit, cahaya lampu warna warni bagaikan lampu disko membuat mataku sedikit berkunang-kunang, malam ini aku dan teman-temanku sedang merayakan kemenangan tim basket sekolah kami yang telah memenangkan pertandingan final, akhirnya piala juara bertahan selama 3 tahun berturut-turut dapat dipertahankan. Aku sebenarnya ikut ke perayaan ini bukan karena keinginanku sendiri tapi di ajak paksa oleh Shiden.  Shiden yang merupakan ketua tim basket sekolahku ingin aku ikut merayakan keberhasilan dirinya dan tim. Perayaan ini atau mereka sebut dengan JIS party diadakan di kolam renang sebuah hotel bintang 5 yang di sewa khusus untuk party malam ini. Menyewa kolam renang di hotel ini pasti memakan biaya yang besar apalagi fasilitas dan makanan yang di sajikan bukanlah makanan yang bisa di temukan di resto atau café-café yang ada di luar sana. Tapi, jika tidak seperti itu bukan anak JIS namanya, uang untuk menyewa tempat ini belum seberapa dibandingkan dengan uang jajan mereka. Sebenarnya aku bukanlah tipe orang yang suka berpesta baik itu di hotel maupun tempat-tempat yang menyediakan hiburan semacam ini. Aku lebih suka duduk di rumah menggambar sambil menikmati musik atau melahap segala jenis makanan yang ada di rumah atau sesekali memesannya melalui aplikasi ojek online. Padahal mama dan papa tidak pernah melarangku untuk ikut party party semacam ini bahkan mereka malah menyuruhku, tapi memang dasarnya aku adalah anak baik baik jadi tidak ingin pergi ke tempat yang tidak baik menurutku. “Hai Tyl” sapa salah satu anggota tim basket yang melihatku berdiri di tepi kolam renang yang cukup jauh dari keramaian. “Hai” balasku singkat, aku benar benar tidak tahu harus menjawab apa. “Sendirian aja yuk gabung” ajaknya setelah melihatk sendirian sambil memegang segelas minuman  yang baru kuminum seperempat. “Iya nanti gue kesana.” “Okey, gue duluan ya” pamit pemuda itu dan melangkah pergi menjauhi Tylisia Tiba-tiba perutku berbunyi mengeluarkan alarm peringatan bahwa sudah waktunya untuk makan-makanan berat, tapi aku terlalu malu karena teman-teman yang lain belum ada yang makan. Tidak mungkin aku makan duluan apa kata mereka. Ah rasanya aku mau pulang, bisikku dalam hati. Aku melihat ke arah mereka yang sedang asyik menari mengikuti alunan musik, tidak peduli laki laki perempuan mereka saling berdekatan bahkan ada yang tak segan segan untuk melakukan skinship dan hal lainnya. Inilah salah satu alasan mengapa aku tak ikut bergabung di sana, bagaimana tiba-tiba jika tubuhku di sentuh sentuh  bagaikan barang murah. Apakah dengan menari membuat mereka merasa kenyang Berkali kali aku terus berbisik di dalam hati tanpa bisa diungkapkan secara nyata. Ting Sebuah notifikasi pesan berbunyi Aku segera melihat siapa yang mengirim pesan kepadaku Shiden: Kamu dimana? Ternyata dari Shiden, ia menanyai keberadaanku karena sudah 15 menit aku tak kunjung menemuinya. Shiden tidak ikut menari-nari seperti teman-teman yang lain, ia lebih memilih untuk mengobrol dengan teman-teman laki-lakinya yang lain di ruangan bilyard. Karena merasa kurang nyaman dengan suasana seperti itu maka aku mencari alasan untuk dapat keluar dari sana dengan alasan mencari udara segar. Karena tidak ingin membuat Shiden khawatir, aku langsung kembali menuju tempat  terakhir aku menemui Shiden yaitu ruangan bilyard. Aku tersenyum melihat Shiden sudah ada di pintu masuk ruangan itu, aku yakin dia sedang mencari keberadaanku. “Shiden” panggilku dengan sedikit keras, agar Shiden bisa melihat keberadaanku. Dan benar, Shiden melihatku dan langsung menghampiriku yang sedang menuju ke arahnya. “Katanya nyari udara segar, tapi kok lama.” Cerca Shiden kepadaku, dan aku hanya bisa membalas dengan sebuah cengiran. “Lapar?” Oh tuhan, lihatlah semengerti apa Shiden kepadaku bahkan tanpa aku mengatakannya dia sudah tahu bahwa aku sedang lapar. Sekali lagi aku hanya bisa mengeluarkan cengiranku sambil mengangguk patuh  bagaikan hewan peliharaan kepada tuannya. “Ya udah skuy.” Shiden menarik tanganku untuk mengikutinya ke tempat hidangan telah di sediakan. Sesampainya disana, aku berdecak kagum melihat makanan-makanan yang tersedia, walaupun aku sering mencoba makanan seperti ini tapi tetap saja kekagumanku terhadap makanan tidak pernah berubah. *** Saat aku dan Shiden sedang menikmati makanan kami, tiba-tiba teman-teman Shiden yang sama sekali tidak ku kenal menghampiri kami, jadi party ini bukan hanya untuk anak JIS, pantas aku tidak familiar dengan wajah wajah mereka. “Ini pasti Tylisia.” Ucap salah satu teman Shiden yang sudah berada di sampingku. Aku mengangguk mengiyakan. “Manusia?” tanyanya sekali lagi Aku mengernyit tidak mengerti apa yang dikatakannya, jika bukan manusia lalu aku apa hantu mana mungkin ada hantu yang menginjak tanah. Dia tertawa melihat respon yang kuberikan kepadanya  lalu kembali melanjutkan perkataannya “Kirain bidadari.” Mendengar perkataannya membuatku terkejut, mana ada seseorang yang baru kenal langsung menggombali dirinya seperti itu. “Eh Saprul, ingat muka” celetuk temannya yang lain “Main pepet aja lu.” Tambah yang lain “Tylisia takut tuh” semakin banyak celetukan dari teman-teman Shiden yang mendengar perkataan laki-laki yang ku ketahui bernama Saprul itu. Tapi untuk menghargainya aku mengucapkan terimakasih kepadanya “Terimakasih Saprul” ucapku. Dan seketika suasana yang awalnya hening karena ingin mendengar perkataanku tiba-tiba kembali riuh karena tawa mereka yang keras. Aku bingung kenapa mereka tertawa. “Saprul HAHAHA” “Muka lo nggak bisa bohong”                                                                                                                “Malu gue jadi temen lu”                                                                                                       “Potong kambing deh lu Za” “Gila lu pada emang serong otak lo”  ujar teman Shiden yang bernama Saprul itu. Aku semakin tidak mengerti dengan celetukan celetukan para pemuda yang ada di depanku, aku juga bisa melihat Shiden sedang menepuk nepuk pundak temannya yang bernama Saprul itu seperti seorang yang sedang menyuruhnya untuk sabar. Aku memberanikan diri bertanya “A.. apa ada yang lucu?” ucapku terbatah Kemudian Shiden mendekatiku dan berkata “Namanya Reza Ya bukan Saprul” diakhiri dengan tawa tertahan dari Shiden. Aku mencerna perkataan Shiden, jadi nama laki-laki itu bukan Saprul tetapi Reza. Ada perasaan malu dan merasa bersalah bercampur menjadi satu. “Saprul itu lucu-lucuan aja Tyl” “Iya nggak pernah dengar ya Lu?” Aku menggeleng aku benar-benar tidak tahu kalau nama Saprul itu adalah nama lucu-lucuan saja, aku kira memang namanya Saprul. Aku melihat ke arah Saprul eh ralat Reza “Maaf Reza” ucapku merasa bersalah “Gue maafin asalkan lu mau kasih nomor lu ke gue” ucap Reza kepadaku yang langsung mendapat toyoran dari Shiden. “Itu namanya mencari kesempitan dalam kesempatan Jak” Ujar temannya yang lain “Kebalik b**o, kesempatan dalam kesempitan” ujar yang lain mengomentari ucapan temannya yang salah “Eh iya, maaf lidah gue keseleo dikit” “Gila lu, berani mintak nomor Tylisia lu kira lu secakep Zayn Malik” “Ye,, lu Zayn Malik mah jauh banget, masih gantengan gue lah” “Eh Kucrut” Aku tertawa mendengar pembicaraan Shiden dan teman-temannya itu. Aku tak menyangka mereka bisa selucu ini. Aku membuka ponselku dan mencari nomorku untuk kuberikan kepada Reza “Ini  ucapku kepada Reza sambil menyodorkan ponselku ke arahnya. Tetapi langsung dirampas oleh Shiden “Shiden, kenapa diambil?” tanyaku kepada Shiden “Untuk menyelamatkan kamu dari buaya kampung” ujar Shiden yang mampu membuat suasana kembali riuh akan gelak tawa mereka, tapi tidak dengan Reza dia merengut kesal, aku tahu dia pura-pura seperti itu. “Rejeki orang jangan dicuri Den” ujar Reza tak terima “Shiden kasih aja nggak apa-apa” ucapku kepada Shiden karena kasihan melihat Reza, aku memberikan nomorku bukan tanpa pertimbangan, aku bukanlah tipe orang yang akan sembarangan memberikan nomorku, tapi aku bisa melihat kalau Reza adalah orang yang baik dan humoris apalagi aku tahu bahwa Shiden tidak akan bermain dengan oran orang yang tidak baik. Shiden memberikan ponselku kepada Reza “Ini Jak” Tapi diluar dugaanku tiba-tiba mereka semua kembali riuh memperebutkan nomor ponselku. “Jak, nanti gue lihat” “Send via line pribadi ya” “Line grup aja Jak” “Awas nggak lu kirim, kalau nggak malam ini lu pulang marathon” Aku kembali tertawa mendengarnya, tadi mereka terus-terusan menertawakan Reza tapi lihatlah sekarang apa yang mereka lakukan. “Capek gue, sama para Alien b**o ini” ujar Shiden pada akhirnya, karena tidak mengerti dengan jalan pikiran teman-temannya. ***      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD