Pukul 23.00 aku tiba di depan rumah dengan selamat, setelah perjalanan panjang yang sangat menyenangkan.
“Terimakasih Den, Reza, Sadam, Wildan, dan Daffa” aku berterimakasih kepada mereka satu per satu yang kini sudah ku ketahui namanya.
“SAMA-SAMA TYLISIA” Jawab mereka serempak sambil membuka kaca jendela besar-besar
“Woilah, udah malam ini jangan keras-keras kalian kira kita di gua.” Ucap Shiden kesal karena kelakuan para teman-temannya.
Aku terkekeh melihat kejadian itu mereka memang ajaib ada saja kelakuan yang absurd yang mereka lakukan.
“Lah siapa bilang kita di gua, ini lagi di depan rumah calon masa depan gue.” Celetuk Daffa membalas perkataan Shiden
Pletak ….
“AWW Sakit” pekik Reza karena Daffa memukul kepalanya
“Eh itu masa depan gue, ya nggak Tyl” kali ini Daffa yang berbicara, hal ini membuatku kembali tertawa tapi tawaku semakin kencang karena jawaban dari Shiden
“ Diam nggak lu pada, masa depan lu burem semua”
“ YEEE syirik ae” kompak Daffa dan Rezza.
“ Yaudah Tyl aku pamit” Shiden pamit untuk mengantar para teman-temannya yang absurd itu.
“ Aku kamu pacaran nggak” kali ini Sadam yang berbicara
“ Turun nggak lu pada” ancam Shiden balik
“ Kagak ganteng”
“ Adek takut pulang sendiri babang”
“ Aw babang jangan gitu dong”
Shiden fikir teman-temannya itu akan berhenti setelah ia memberi ancaman pada teman-temannya itu, tapi ternyata ia salah, teman-temannya semakin menjadi dan pada akhirnya Shiden melajukan mobilnya kencang membuat teman-temannya terkejut bukan main.
Dan tentu saja hal itu sangat lucu untuk dilihat secara langsung.
Aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil Shiden hilang di perempatan . Pasti kalian bertanya mengapa Shiden tidak mengantar teman-temannya dulu baru mengantarku padahal rumahku dengan rumahnya searah. Baiklah akan kuceritakan kisah lucu ini
Flashback
Saat aku dan Shiden memutuskan untuk pulang, tiba-tiba semua temannya ingin ikut naik jumlah mereka ada empat orang Reza, Sadam, Wildan, dan Daffa. Tentu saja Shiden tidak terima bagaimana bisa mereka berempat naik ke mobil sportnya yang hanya berkapasitas 2 orang untuk bangku belakang.
“ Kagak” sebelum teman-temannya mengutarakan maksud mereka mendekat ke mobil Shiden, Shiden sudah tahu maksud dari teman-temannya itu.
“ Belum juga bilang Den” ujar Daffa
“ Gue udah tahu tampang tampang orang mau numpang”
“ Gitu banget ama teman sendiri, siapa tau kami nggak ada niatan kayak gitu” kali ini Wildan yang menyampaikan pendapatnya.
Dan aku membenarkan perkataan Wildan, mungkin saja Shiden yang terlalu sensitif seharusnya ia mendengarkan apa perkataan temannya, maka dari itu aku ikut menambahkan “Iya Den, kamu nggak boleh gitu, siapa tahu mereka emang nggak niat numpang”
“ Tyl, kamu nggak tahu gimana mereka” ucap Shiden
“ Noh Den, denger apa yang dibilang Tylisia, siapa tau kami ada maksud lain”
“ Iya Den, makanya denger dulu”
“ Yaudah yaudah gue dengerin, emang lu pada mau ngapain” akhirnya Shiden mengalah karena lelah mendengar ocehan teman-temannya itu.
“Jadi gini Den, bukan maksud gue mau numpang tapi gue dengan sangat tolong ke lu untuk mengantarkan kita kembali ke rumah demi menjaga keselamatan para cowok ganteng di depan lu”
Shiden mengusap wajahnya gusar, ia benar-benar lelah dengan teman-temannya itu
“ APA BEDANYA DENGAN NUMPANG ” kesal Shiden dengan nada yang cukup keras
“ YOK, naik gais ” ajak Sadam kepada teman-temannya tanpa menghiraukan perkataan Shiden.
Aku ternganga dengan kelakuan ajaib mereka, aku tidak sedikitpun mendengar bahwa Shiden mengizinkan mereka untuk naik tapi lihat apa yang mereka lakukan dengan cepat mereka naik ke bangk belakang.
“ Siapa yang nyuruh lu pada naik sih, Ya Allah ” Shiden semakin tak mengerti dengan apa yang dilakukan teman-temannya.
“ Yaudah kali Den, Naik aja anggap aja mobil sendiri ” ujar Daffa
“INI EMANG MOBIL GUE g****k” Shiden semakin kesal kepada teman-temannya, sebenarnya ia ingin tertawa sekaligus juga kesal.
“Ya udah Den, biarin aja sekaligus cari pahala.” Ucap ku kepada Shiden untuk menenangkannya.
“Bener tuh kata Tylisia, sekalian cari pahala.”
“Bukannya cari pahala yang ada cari dosa kalau gue sama kalian.” Shiden berucap sambil berjalan ke arah tempat duduknya, akhirnya ia mengalah demi keselamatan mereka pulang.
Setelah Shiden siap untuk menjalankan mobilnya denganku di bangku sampingnya. Shiden melirik ke kaca yang ada di depannya untuk melihat keadaan teman-temannya
“ Mampus lu pada ” ucap Shiden sambil tertawa melihat keadaan teman-temannya yang ada di bangku belakang.
Sebenarnya keadaan mereka saat ini sangat mengenaskan dengan Sadam yang duduk di atas pangkuan Daffa sedangkan Wildan yang terjepit antara Daffa dan Reza yang berbadan cukup besar dibandingkan dengan Wildan yang berbadan kecil.
“Geser dikit napa Daf” ujar Wildan kepada Daffa karena badannya benar-benar sudah tidak kelihatan
Daffa mencoba bergeser walaupun hanya sedikit karena memang tidak ada space untuk mereka bergeser.
Shiden hanya tertawa terbahak-bahak lalu bertanya kepada mereka “ Siapa yang mau gue antar duluan ?”
Dengan kompak mereka menjawab “ Tylisia ”
Aku dan Shiden terkejut bukan kah seharusnya mereka yang kami antar pulang duluan, karena aku dan Shiden kan rumahnya searah.
"Lah kalian dikasih hati mintak jantung" Geram Shiden
"Yaudah antar aja kami balik duluan" ucap Daffa
Tumben mereka langsung mengerti fikirku heran.
"Berarti kita main nanti tanpa Shiden kan yah" celetuk Reza
"Iya empat ronde bisa kan" kini giliran Sadam yang menambahkan
"Gue pakai karakter yang dipakai Shiden ya"
"Boleh boleh kan Shidennya nggak ikut main, iyakan Den?" tanya Daffa
Ketika Shiden hendak menjawab tiba tiba ucapannya terpotong oleh Wildan "Kan udah dibilang Shiden nggak mau"
"Kapan gue bilang nggak mau g****k" ujar Shiden tak mau kalah
"Lah tadi katanya mau nganterin kami pulang duluan"
"Kan lu nggak bilang kalau mau ngegame, kalau ngegame mah gue ikut" ujar Shiden pada mereka berempat yang membuat mereka kompak mengatakan "Yee dasar bahlul"
*
Aku merebahkan diriku di atas kasurku untuk menghilangkan rasa penat dan lelah setelah hampir 12 jam beraktivitas di luar.
Aku membuka ponselku untuk mengecek adakah pesan atau panggilan masuk ke ponselku, dan ternyata ada beberapa dari mama dan papa, mungkin mereka ingin menanyakan kabarku pikirku, karena mereka sekarang sedang berada di Dubai untuk menyelesaikan urusan mengenai perusahaan yang ingin bekerjasama dengan perusahaan milik keluargaku.
Tak terasa aku terlelap tidur hanya kurang dari 5 menit, tubuhku benar benar tidak bisa berbohong.
***
Hari ini hari minggu, akhirnya setelah 6 hari berkutat dengan kegiatan sekolah pada hari ini aku bisa bersantai santai ria sambil menonton netflix, menghabiskan 24 jam dengan berbagai kegiatan yang anak zaman sekarang sebut dengan Healing.
Ting
Saat sedang asyik menonton, tiba-tiba ponselku berbunyi sebuah pesan masuk.
Reza:
Gue sama anak-anak mau ke puncak Tyl, ikut nggak?
Aku segera membalasnya
"Kapan ?" *Send
Tak beberapa detik masuk lagi pesan balasan dari Reza
Reza:
Sekarang
Aku:
Eh, berapa hari?
Reza:
Senin sore balik
Aku:
Terus besok nggak masuk sekolah?
Reza:
Voice Note
Aku memutar Voice note yang dikirimkan Reza kepadaku dengan mendekatkan ponsel ke telingaku tapi setelah mendengar suara dari Reza aku menyesal mendekatkan ponselku ke telinga karena suaranya bahkan bisa terdengar dari jarak 5 meter
Isi pesan suara itu adalah
"Tyl, gue tahu lu kaya tapi jangan bilang lu nggak punya kalender dirumah"
Aku segera turun dari tempat tidur untuk menuju meja yang di atasnya ada kalender, aku memang jarang melihat kalender bahkan hampir tidak pernah. Terkadang aku juga sering lupa tanggal hari ini.
Aku menelusuri setiap bulan untuk mencari bulan april "Ketemu" bisikku
Kulihat di ponsel sekarang tanggal 15 berarti besok tanggal 16, ku lihat lagi tanggal 16 bulan april, dan benar tanggal 16 adalah tanggal merah yang berarti besok adalah hari libur.
Setelah segera mengetahui bahwa besok libur aku mengirimkan pesan kepada Reza
Aku:
Gue ikut. Send
Kemudian aku beralih ke ruang obrolanku dengan Sari
Aku:
Sar, ikut ke puncak yuk
Sari:
Kapan?
Aku:
Hari ini
Sari:
Oke ikut.
Kembali lagi aku beralih ke ruang obrolan Reza
Aku:
Ja, gue ajak temen ya.
Reza:
Oke siap, berapa orang?
Aku:
Satu doang
Reza:
Lah, kan kita berlima, kurang deh cari lagi Tyl.
Aku:
Lah gila lu.
Reza:
Bercanda, nanti lu dijemput sama Shiden jam 12.
Aku:
Oke, gue siap-siap.
Aku segera melangkah masuk ke kamar mandi tapi sebelumnya aku memanggil pembantuku yang ada di bawah.
"Mbak" panggilku
"Iya Non" sahutnya kemudian ku dengar langkah kakinya mendekat ke arahku. "Mbak, aku mau ke puncak tolong siapkan bajuku ya"
"Baik Non, oh ya untuk berapa hari? "
"Sampai besok sore kok mbak"
"Oke Non"
"Jangan lupa baju hangatnya ya mbak, puncak dingin" pesanku kepada mbak yang telah bekerja lama di rumahku, ia yang paling mengerti mengenai baju ku yang biasa aku pakai.
Aku melangkah ke kamar mandi untuk bersiap siap karena jam sekarang sudah menunjukkan pukul 10.00 hanya tersisa 2 jam untuk bersiap-siap.