Prolog
Pembelajaran di sekolah terasa bosan begitu banyak para siswa-siswi kehilangan kesadaran alias mengantuk. Sebuah monitor kecil dari jam tangan terlihat jelas di jamku. Waktunya untuk beraksi. Aku langsung berlari keluar kelas dan tidak sengaja membuat semua orang di dalam kelas panik sebab tiba-tiba datang angin kencang, entah datang darimana.
Aku tertawa terbahak-bahak sudah hal biasa ku lakukan jika ada panggilan masuk dari Negeri Fantasi. Berlari kecepatan tinggi menggunakan angin lumayan melelahkan jadi aku melompat di atas papan dan terbang ke udara menuju ke markas tersembunyi.
Sebuah bangunan berukuran besar yang sudah terbengkalai. Aura sedikit mistis terasa jika aku melangkahkan kaki ke sini. Pintu dengan sendirinya terbuka lebar dan aku berlari kecil menuju ke perpustakaan rumah itu. Kemudian, masuk ke dalam ruangan rahasia dimana ruangan tersebut isinya banyak sekali sihir.
Siapa sangka diriku bertemu dengan Dia dan juga Yulia, mereka berdua tersenyum sumringah saat aku sudah sampai. Di hadapan kami adalah pemimpin yang memberikanku sebuah tugas penting, beliau bernama Putih. Seorang pria berumur 42 tahun, namun, wajahnya masih terlihat awet muda dan tampan. Tubuhnya juga tinggi serta kekar, di bahu Putih terdapat ular putih.
Terkadang ular itu suka menghampiri ku malam-malam saat diriku tertidur dan hampir mati. Menyeramkan bukan, itu awal-awal bertemu dengan Putih yang membawaku ke dunia mimpi aneh. Mimpi itu susah buat dijelaskan, begitu banyak kejadian aneh, menyeramkan. Aku dulu sempat di pandang orang aneh dan diduga aku memiliki kemampuan indigo padahal tidak.
Kedua temanku ini sebenarnya adalah tokoh fiksi yang ku buat tidak sengaja menjadi nyata yang aku sendiri, terkejut. Tetapi tidak apa-apa, mereka berdua membantuku menjalankan misi menyelamatkan orang-orang.
"Ada misi untuk kalian berempat—" kata Putih dan langsung disela oleh Dia berniat untuk membenarkan.
"Maaf, Putih. Kami bertiga bukan berempat." kata Dia.
"Aku menghitung bersama Jin di dalam saku mu, Dia." kata Putih membuat ku dan juga Yulia tidak kuasa menahan tawa.
Dia, ia memiliki jin yang seperti di film kartun Aladin. Kalau biasanya jin ada di dalam botol tetapi ini sangat unik menurutku. Jin yang Dia punya adalah jin di dalam saku dan sangat lucu kejadian pertemuan antara mereka berdua. Aku bisa-bisanya tertawa saat Dia menceritakan hal itu padaku. Dalam misi yang diberikan oleh Putih, sering kali menyuruh Jin milik Dia ikutan beraksi terutama hal menakutkan.
Sayangnya sering kali tidak sesuai dugaanku, dia adalah jenis jin yang lucu dan bodoh. Namun, ada sesuatu yang lain—diriku tidak bisa nilai Jin milik Dia seratus persen, bodoh. Bisa dibilang Jin licik bermuka polos dan gendut.
"Hehe, maaf kan aku, Putih." kata Dia tersenyum meminta maaf ke Putih.
Putih menghela nafas kasar selalu saja Dia menyela pembicaraan penting. "Baiklah. Langsung to the poin. Kalian harus pergi ke kota besar untuk membeli batu akik sakti!" titahnya membuat kami bertiga melotot.
"Maksudnya Putih? Mau kita ke pasar gelap bersama om-om pakai dasi begitu?" tanyaku kaget. Ini misi yang tidak terduga, melirik ke arah dua temanku.
"Batu akik yang di jual di sana adalah batu akik milik museum yang telah lama hilang. Dan aku minta kalian! Mencuri dan menyamar." kata Putih sepihak lalu beliau memasukkan kami bertiga ke lubang hitam tepat di bawah kaki kami.
***
Setelah berdiskusi lama bersama Putih. Kehidupan kami bertiga berubah untuk menjalankan misi. Kehidupan kami penuh dengan kepura-puraan dan menjadi orang lain demi kebaikan. Saat malam hari tiba, waktu yang tepat untuk beraksi, Yulia menjadi pria berjas juga berdasi.
Karena postur tubuh Yulia sangat pantas menjadi sosok laki-laki, handsome. Yulia juga memiliki beberapa pita suara karena ia adalah memiliki cita-cita menjadi dubbing suara tetapi nasib tidak mendukung, Yulia menjadi seorang dubbing.
Sedangkan aku dan Dia menyelinap masuk sebagai penyusup di pasar gelap. Baru pertama kalinya, aku tahu kalau ada beberapa titik kota sudah menjadi sarang orang-orang serakah dan sangat suka membeli barang curian dengan membeli barang itu, mahal.
Yulia memerhatikan situasi dan beberapa pria mengucapkan basa-basi ke Yulia.
"Saya disini buat mengincar lukisan paling indah, Mona Lisa dengan harga fantastis."
"Benarkah begitu, tuan. Saya harap, saya bisa membelinya juga, kita bertarung." kata Yulia dengan suara ala daddy sugar.
Aku dan Dia yang mendengar suara Yulia lewat kekuatan anginku sangatlah terpanah. Mencoba berpikir kalau aku punya pasangan dengan suara seksi seperti itu. Membayangkan saja sudah membuat ingin pingsan, apalagi mendapatkannya sungguhan.
Acaranya pun di mulai, kami berdua masih mengawasi dari atas. Jika batu akik itu di keluarkan maka saat itulah kami beraksi. Sepertinya batu akik tersebut dikeluarkan, terakhir saat para holkay tidak tau diri itu kehabisan harta dan mencari utang di luar sana. Bisa dikatakan cara berpikirku terlalu naif dan bar-bar di muka polos sok nggak tau apa-apa.
"Gila! Mereka menawar harga dengan jumlah fantastis." komentar Dia sedangkan aku menghela nafas pelan, bosan.
"Ah lama." keluhku dan ingin rasanya tidur saat menjalankan tugas.
Belum lama kemudian, benda yang kami incar pada akhirnya keluar juga. Si pembaca acara membuka batu akik dengan harga delapan ratus juta. Semua orang yang berkumpul setidaknya sebanyak 30 orang, belum ada yang menawarkan harga itu lebih tinggi.
"Jika tidak ada yang nawar harga lebih dari 800 juta maka batu akik ini akan gugur." kata si pembaca acara.
"Apa kamu siap, Dia?" tanyaku dibalas anggukkan mantap darinya.
Lalu ada salah satu orang yang menawarkan harga diatas delapan ratus juta menjadi satu milliyar. Dengan cepat Yulia menaikkan harga lebih tinggi menjadi sepuluh miliyar seketika sorotan mata tertuju ke Yulia bahwa ia adalah pria terkaya di Kota.
"Batu Akik terjual seharga 10 miliyar!" katanya.
Dia melemparkan tiga bola asap ke dalam ruangan dengan cepat kami bertiga mulai beraksi dan aku membawa bola akik tersebut. Siapa sangka kalau ada orang yang menyadari keberadaan kami bertiga dan memanggil orang-orang tertentu.
"Lidya! Kita ketahuan!" kata Dia sedikit panik.
Aku menyunggingkan senyuman, berkata,"tenang aja. Aku memiliki salah satu alat yang paling manjur."
Ya, salah satu bom paling manjur adalah bom kentut buatan yang sengaja aku buat untuk berjaga-jaga. Ini sebenarnya dari sihir milik Dunia Fantasi, penyihir usil. Aku melemparkan bom kentut tersebut dan membawa teman-teman ku menggunakan kekuatan angin beserta batu akiknya.
Kami melihat kebelakang begitu banyak orang-orang payah itu mulai tumbang dan berhasil mencuri kembali, batu akik sakti. Dari pertengahan jalan tiba-tiba ada benda asing yang membuat fokus ku berkurang pada akhirnya kami bertiga pun terjatuh.
Batu akik yang ku genggam tersebut terlepas dari genggamanku dan menggelinding jauh dariku.
"Ah, sakit." keluhku.
Lalu aku melihat seekor kucing yang mencuri batu akik tersebut dan berlari ke arah tuannya.
"Hahaha, anak Buah Putih sangatlah payah." ucap seseorang meremehkan kemampuan kami bertiga.
Aku mengangkat kepalaku melihat Kemal, Darna dan juga Zen yang seenaknya mencuri batu akik. Mereka bertiga adalah saingan kami dan selalu saja setiap kami selesai beraksi. Pasti Kemal dan teman-temannya menghadang kami bertiga merampas dan diantarkan ke tempat yang sesungguhnya.
"Keterlaluan kalian!" kata Yulia membuat tersenyum Zen.
Zen tertawa melihat Yulia kemudian menyunggingkan senyum miring, melihat penampilan Yulia seperti laki-laki. "Tumben, penampilan mu sekarang berbeda jadi laki-laki?"
"Memangnya kenapa? Aku lebih baik menyamar menjadi laki-laki daripada menyamar menjadi perempuan seperti mu." kata Yulia mengejek Zen.
Bisa dikatakan kalau Zen dan Yulia memiliki profesi sama sebagai penyamaran misi. Mereka bisa menjadi laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, Zen selalu menyamar sebagai perempuan di dalam misinya sedangkan Yulia, bisa berperan dua gender sekalipun.
"Bagus, Satria Oren. Kamu memang ahli dalam bidang mencuri tidak seperti Dia yang memiliki Jin payah. Udah payah, jelek, gemuk lagi." kata Darna memuji kucingnya dan mengambil batu akik tersebut menatap Dia mengejek.
"Seenaknya aja kalau bilang Jin-ku jelek! Jin ku itu tampan tau!" ucap Dia tidak terima menunjuk Darna tatapan membunuh.
Samar-samar aku mendengar kalau ada suara Jin yang sangat senang kalau di puji oleh tuannya, tampan. Selama aku menjalankan misi bersama Dia dan juga Jin nya, aku sama sekali tidak pernah melihat Jin bermuka tampan. Ia wajahnya polos, lucu dan gemuk.
'Apa Jin pernah berubah wujud di depan Dia jadi tampan? Kok, aku nggak pernah lihat?'—batinku bertanya-tanya.
Kemal, Darna dan juga Zen meninggalkan kami bertiga. Aku yang ingin mengejar mereka bertiga menggunakan kekuatan angin menjadi terkurung akibat Black Hole milik Putih menghisap kami bertiga, keluar dari misi yang bisa ku katakan gagal total akibat ulah murid wanita menjengkelkan, Greyna.