Bab 7

1085 Words
Entah jam berapa semalam aku terlelap dalam dekapan dinginnya malam. Yang jelas pagi ini saat aku terbangun dari tidurku, aku merasa tubuhku remuk dan sepertinya tulang belulangku hancur. Aku sangat enggan untuk beranjak dari tempat tidur karena rasa nyeri di seluruh tubuhku. Kulihat sisi sebelah kiriku, Via masih terlelap dalam mimpinya. Kuambil ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur, kulihat jam yang telah menunjukkan pukul setengah lima yang artinya hanya tinggal sepuluh menit lagi maka adzan subuh akan berkumandang. Aku beranjak dari tempat tidurku sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhku. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi yang lampunya dibiarkan menyala. Dinginnya air mulai membasuh mukaku hingga rasa kantuk yang bergelayut di matuku pergi bersama aliran air. Kutatap wajahku pada cermin yang ada di kamar mandi, ada beberapa lebam di dekat pelipis kiriku. "Ini...," kataku sambil mengusap pelipisku. Aku sangat ingat betul bahwa kemarin aku tidak kejedot dengan apapun jadi tak mungkin pelipisku bisa lebam seperti ini. Seingatku, aku hanya kejedot di dalam mimpi saat aku di tarik dan beberapa kali membentur benda keras. Aku segera memegang kepalaku yang dalam ingatanku, terbentur dengan benda keras hingga mengeluarkan darah segar. "Aaahhh...," lirihku saat aku merasakan di bagian kepalaku juga sedikit benjol dan rasanya sangat sakit jika di pegang, tapi tidak sampai ada darah. Aku segera sedikit mengangkat bajuku di bagian pinggangku. Kembali aku melihat pinggangku memar seperti di pelipis dan kepalaku. "Ya Tuhan, ada apa ini sesungguhnya?" tanyaku dalam hati. Aku tak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Setiap aku mimpi terluka, tidak pernah mempengaruhi kondisi tubuhku. Tapi sekarang, seolah semua mimpi itu adalah sebuah kejadian nyata hingga membuat tubuhku terluka seperti ini. Dengan wajah yang masih dipenuhi tanya aku keluar dari kamar mandi dan mengambil mukena yang tersimpan di dalam lemari. Kugelar sejadahku di dekat tempat tidur dan menunggu adzan subuh berkumandang. Setitik air mata jatuh kepipiku yang masih basah oleh air wudhu. Aku memang tak pernah melap air wudhu dan membiarkannya kering dengan sendirinya. Tidak, aku menangis bukan karena semua luka yang ada di tubuhku atau karena mimpi yang aku alami semalam. Aku menangis karena teringat kepada Ayah dan Bundaku. Kami terbiasa sholat subuh berjamaah di rumah. Tapi sekarang, sekarang aku harus sholat subuh seorang diri. Tak berapa lama aku mendengar suara adzan subuh berkumandang dikejauhan. Ku hapus air mata yang telah membasahi pipiku dan bersiap untuk melaksanakan sholat subuh. Selesai adzan aku melaksanakan sholat subuh dan berusaha untuk khusyuk. Entah kenapa subuh kali ini aku tidak dapat sekhusyuk seperti saat aku di rumah. Entah karena aku berpikir mengenai mimpiku, atau karena aku begitu merindukan sholat berjamaah bersama Ayah dan Bunda. "Vi... bangun Vi sudah subuh," kataku membangunkan Via setelah aku selesai melaksanakan sholat subuh. "Hhhhmmm... lima menit lagi Ra," kata Via dengan mata yang masih terpejam. Huft... aku hanya dapat menarik napas panjang saat mendengar jawaban dari Via. Ya, membangunkan orang lain akan selalu sulit karena tak ada kesadaran dari dalam dirinya. Aku membuka pintu kamarku dan berniat untuk lari pagi. Ini biasa aku lakukan bersama Ayah dan kedua kakakku jika mereka sedang ada di rumah. Sedang Bunda, Bunda jarang lari pagi karena harus menyiapkan sarapan. Aku melangkahkan kakiku menyusuri koridor rumah yang masih gelap dan sepi dengan menenteng sepatu olahragaku. Sepatu ini merupakan salah satu barang wajib yang harus aku bawa ke tempatku KKN. Suara langkah kakiku terdengar menggema diseluruh ruangan yang memang masih sangat sepi. Tak ada satu orang-pun yang kulihat telah keluar kamarnya. Entah mereka masih berselimut dan terbuai dalam mimpinya atau kembali berselimut setelah selesai sholat. Dengan langkah pelan aku menuruni tangga. Suasana rumah yang masih gelap membuatku harus berhati-hati untuk menuruninya agar tidak tergelincir. Sepertinya benar-benar belum ada yang keluar dari kamarnya, bahkan Pak Parjo pun belum terlihat membuka tirai yang menutup semua jendela di rumah ini. Aku terus berjalan menuju pintu depan rumah. Aku melihat ke kiri dan ke kanan memastikan apakah ada yang sudah bangun atau belum. Saat aku melihat ke sebelah kanan, tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan hitam lewat. Aku sedikit bergidig saat melihatnya, aku masih takut dengan apa yang aku alami di mimpiku. Takut jika sosok perempuan dan tangan itu ada. "Siapa di sana?" teriakku berharap akan ada yang menjawab pertanyaanku. Semenit dua menit aku menunggu dia menjawab jawabanku tapi tak ada seorangpun yang menjawabnya. Kulangkahkan kakiku ke sebelah kanan untuk memastikan bayangan siapa yang aku lihat tadi. Bruk… aku mendengar sebuah barang jatuh dan seketika memeluk sepatu yang sedari tadi aku tenteng. Ada sedikit rasa takut di dalam hatiku. "Siapa di sana?" tanyaku lagi sambil harap-harap cemas. Meong Huft... ternyata hanya kucing dan aku-pun bernapas dengan lega. Kembali aku berjalan menuju pintu depan sambil mengatur degup jantung yang tadi sempat berdetak kencang karena rasa takut yang aku rasakan. Aku membuka pintu depan rumah dan lagi, aku melihat semuanya masih gelap bagai tak ada orang yang menghuni desa ini. Bagai rumah-rumah di sekitar hanya rumah kosong tak berpenghuni. Aku sedikit mengernyitkan dahiku menatap bingung dengan keadaan desa ini. Pada beberapa desa yang pernah aku tinggali ketika Ayah berdinas di pelosok, tidak pernah kutemukan suasana subuh sesepi dan segelap ini. Mereka terbiasa beraktivitas sejak subuh. Tapi di sini, sungguh kenyataan lain yang sangat bertolak belakang dengan apa yang pernah aku lihat. Aku mulai mengenakan sepatuku dan tak menghiraukan suasana yang sedikit aneh bagiku. Kuhirup udara pagi yang masih segar dan belum tercampur dengan polusi apa pun. Sebelum berlari, aku melakukan pemanasan terlebih dahulu agar aku tak mengalami kram saat lari nanti. Aku hanya menggerakkan tangan, kaki dan kepala dengan gerakan-gerakan ringan. Kurasakan sebuah tangan memegang pundakku. Dan rasanya seketika itu jantungku berhenti berdetak karena rasa takut yang aku rasakan. Aku memberanikan diri untuk menoleh ke belekang dan mencari tahu siapa yang sedang berdiri di belakangku. "Aaaahhhh...," teriakku saat melihat wajah seseorang yang terkena sinar dari sebuah senter yang dipegangnya hingga menjadi seperti sosok yang sangat menakutkan. "Ini Bapak, Nak," kata orang tersebut yang kukenali sebagai suara Pak Parjo. "Oh Bapak, saya kira siapa," kataku sambil mengatur napasku yang tadi sempat tersengal. "Mau ke mana Nak subuh-subuh sudah di luar?" "Saya mau lari pagi, Pak." "Tapi masih gelap, Nak." "Tak apa Pak, nanti juga terang kalau matahari sudah terbit," "Baiklah, hati-hati Nak, kabut tebal di saat subuh seperti ini," "Baik Pak. Saya lari dulu Pak." Kulangkahkan kakiku dan mulai berlari. Memang betul apa yang dikatakan Pak Parjo, kondisi jalanan masih gelap dan di selimuti dengan kabut yang cukup tepal. Krrreeess… Kudengar ranting pohon terinjak oleh seseorang dan bersamaan dengan itu aku melihat sebuah sosok hitam melintas di antara pohon-pohon yang berada di kebun warga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD