Krrreeess… Kudengar ranting pohon terinjak oleh seseorang dan bersamaan dengan itu aku melihat sebuah sosok hitam melintas di antara pohon-pohon yang berada di kebun warga.
Aku memicingkan mataku untuk melihat sosok itu dengan lebih jelas. Namun sayang, aku tak dapat melihat sosok itu karena suasana yang masih gelap dan kabut yang sangat tebal. Kulangkahkan kakiku menuju ke arah di mana bayangan itu berada. Aku sangat berharap jika aku dapat melihat sosok itu dengan jelas dan mengetahui apa maksud dia berlari di antara pepohonan seperti itu.
Sayang, saat aku mulai mendekat, dia berlari menjauh dari arahku. Aku tak mau kalah dan mulai berlari mengejar sosok tersebut. Satu hal yang aku tahu bahwa sosok itu adalah manusia, bukan makhluk halus. Hanya aku tak tahu siapa dan untuk apa dia melakukan hal seperti itu?
Aku memang seorang perempuan, tapi aku tak kalah cepat kalau dalam urusan lari. Sejak kecil aku menargetkan waktu dalam berlari, dan tak jarang aku berlatih lari dengan kedua kakakku yang berlatih untuk mengikuti tes AKMIL dulu.
Karena kecepatan lariku, banyak yang menyangka bahwa aku akan menjadi atlet atau mengikuti jejak Ayahku menjadi seorang tentara. Tapi mereka salah saat aku memutuskan masuk ke sebuah Universitas Negeri dengan mengambil jurusan manajemen, seperti Bundaku.
"Berhenti!" teriakku saat jarakku dan jarak orang itu hanya beberapa meter saja.
Tapi dia seolah tak mendengar perkataanku. Dia terus saja berlari menjauh dariku. Aku sadar bahwa aku tak akan dapat mengejarnya. Beruntung, ada sebuah ranting yang cukup besar teronggok di dekat kakiku. Aku mengambilnya dan melempar pada orang itu dalam kabut yang sudah mulai menipis karena hari beranjak siang.
Bruk… orang itu terjatuh saat ranting yang aku lempar tepat mengenai kakinya. Aku segera berlari menghampiri dia yang sedang berusaha untuk bangkit. Aku mengunci lehernya hingga dia tak mampu berkutik lagi. Aku memang seorang perempuan, tapi aku juga mampu beladiri. Aku belajar Yongmodo sedari usiaku lima tahun, aku di ajarkan oleh Ayah setiap kali dia ada waktu senggang. Memang itu adalah ilmu beladiri bagi para tentara, tapi jangan lupa bahwa aku adalah anak kolong.
Aku segera menarik penutup kepala orang tersebut. Dan betapa terperangahnya aku saat aku menyadari siapa dia.
"Om Rifky?" kataku kaget karena aku mengenali sosok itu.
Dia adalah Om Rifky, salah satu bawahan Ayah. Aku tak paham bagaimana dia ada di sini, tapi perkiraanku bahwa semua ini adalah ulah Ayah. Aku segera melepaskan kuncianku pada tubuhnya dan membiarkan dia berdiri.
"Maaf Mbak," kata Om Rifky.
"Ayah yang menyuruh Om mengikutiku?"
"Beliau khawatir jika Mbak kenapa-napa, apalagi tempat ini...?"
"Tempat ini apa?"
"Tempat ini terpencil Mbak."
Tidak, aku sangat tahu bahwa Om Rifky tengah berbohong. Ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku, tapi akan percuma jika aku memaksanya bicara karena dia terikat sumpah prajurit. Aku juga tahu seterpencil apapun daerah ini, Ayah tak akan sampai menyuruh orang untuk mengikutiku. Dia tak akan menyalah gunakan kekuasaannya hanya untuk menjagaku.
"Dari kapan Om di sini?" tanyaku setelah terdiam cukup lama.
"Dari kemarin setelah Jajang memberi informasi kepada Bapak kalau Mbak KKN di sini,"
"Ayah sudah pulang?"
"Sudah Mbak, Bang Arfin juga sudah pulang."
Ah... rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Kak Arfin. Selama setahun ini dia bertugas di tanah Papua dan sangat jarang berkomunikasi karena sulitnya signal di sana. Masih mending Kak Arfan yang berdinas di perbatasan Kalimantan dan masih ada signal hingga dapat menelponku atau menelpon rumah.
"Kapan Kak Arfin kembali ke kesatuan?" tanyaku.
"Saya kurang tahu Mbak."
"Temani saya jogging."
"Siap, Mbak."
Aku mulai melangkahkan kakiku untuk berlari ditemani oleh Om Rifky. Walau aku kesal karena harus di jaga sampai seperti ini, tapi setidaknya aku ada teman untuk jogging di pagi yang sepi ini. Kami menyusuri jalanan desa yang perlahan mulai di sinari mentari dan mulai terlihat beberapa penduduk keluar dari rumahnya untuk beraktivitas.
Beberapa orang penduduk melihatku dengan tatapan curiga. Aku dan teman-temanku memang belum memperkenalkan diri pada warga karena kemarin kami terlalu capai untuk melakukannya. Kusunggingkan senyuman dan sapaan pada setiap warga yang berpapasan denganku. Ada yang membalas senyumku dan ada yang bersikap cuek.
"Kalau ingin mengikuti saya jarak dua puluh meter, tapi lebih baik kalau tidak mengikuti saya," kataku saat sudah hampir sampai di posko.
"Maaf Mbak kalau untuk tidak mengikuti saya tidak bisa karena itu sudah perintah."
"Baiklah, jaga jarak saja kalau begitu."
"Siap Mbak."
"Bagus."
Aku mulai berlari menjauh dari Om Rifky dan dia berhenti berlari untuk memberikan jarak denganku. Aku mulai memasuki halaman posko KKN.
"Dari mana Ra?" tanya Fandy saat kakiku memasuki halaman depan posko.
"Habis jogging Fan."
"Yakin?"
"Lho kenapa gak yakin?"
"Tadi aku melihatmu bersama seorang pria,"
"Oh dia Om Rifky, salah satu bawahan Ayah yang diminta untuk melihat kondisiku di sini."
Setelah mendengar jawabanku, entah kenapa Fandy tiba-tiba diam seribu bahasa. Aku sendiri tak paham apa yang membuat dia terdiam seperti itu.
"Kenapa?" tanyaku pada Fandy sambil mengangkat sebelah alisku.
"Apa...apa kamu gak malu temenan sama aku?" tanya Fandy dengan terbata.
Aku terhenyak mendengar pertanyaan dari Fandy. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga dia berpikir sedangkal itu. Aku duduk di samping Fandy yang sedang duduk di sebuah kursi yang ada di taman. Kugenggam tangannya dengan erat, mencoba meyakinkan apa yang akan aku katakan padanya.
"Yang punya jabatan itu Ayah, bukan aku. Aku dari dulu di ajarkan mereka untuk tidak sombong dengan jabatan yang Ayah miliki. Sama seperti Ayah yang selalu merendah, bahkan untuk mendapatkan cintanya dia tak menggunakan pekerjaannya," kataku menjelaskan.
"Lalu penjagaan itu?"
"Itu hanya sebuah sikap kekhawatiran Ayah kepada anaknya saja."
Fandy kembali terdiam mendengar semua penjelasanku. Dia mulai mencerna setiap kata yang aku katakan. Ok lah, mungkin karena setahu dia banyak orang yang menggunakan jabatan Ayahnya untuk sombong.
"Terima kasih ya Ra," kata Fandy.
"Sama-sama, aku masuk dulu," kataku sambil berlalu dari hadapannya.
Kubuka sepatu olahragaku dan melangkahkan kaki telanjangku di atas lantai yang dingin. Aku melihat beberapa orang temanku yang sedang mengobrol dengan teman yang lainnya. Tapi entah kenapa aku tak melihat 'mak lampir' itu di mana pun. Mungkin dia masih bergelung di balik selimut dan terbuai dalam mimpi-mimpinya. Aku terus berjalan memasuki kamarku untuk beraiap menjalani hari ini.