"Fani...," kataku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Tepat lima meter dari tempatku berdiri, aku melihat Fani keluar dari balik pohon dengan wajah yang sungguh mengenaskan hingga aku sendiri ragu apakah benar dia Fani atau bukan. Wajah Fani yang putih dan mulus kini berubah menjadi merah. Tidak, buka karena kulit wajah dia berubah, semua karena adanya darah merah segar mengalir dari pelipis dan keningnya hingga hampir memenuhi seluruh wajahnya. Tapi Fani sepertinya tidak merasakan sakit walau hanya sedikit saja. Perlahan Fani mulai melangkahkan kakinya ke arahku. Aku yang masih tak percaya dengan apa yang kulihat hanya mampu diam di tempat terpaku dengan keadaan Fani saat ini. "Untuk apa kamu di sini, Ra?" tanya Fani sambil terus melangkahkan kakinya ke arahku. Pertanyaan Fani me

