Bab 32

1050 Words

"Mbak... Mbak Aira..." terdengar suara Om Rifky yang berusaha untuk membangunkanku. Om Rifky? Bagaimana mungkin dia bisa membangunkanku? Dia tak memiliki akses ke dalam poskoku, kecuali jika aku memanggilnya untuk datang. "Mbak... Mbak Aira...," lagi, aku mendengar Om Rifky memanggilku. Perlahan aku membuka mataku. Merah, itu yang aku lihat saat mataku benar-benar telah terbuka dengan sempurna. Tidak! Warna merah itu bukan berasal dari warna pakaian Om Rifky, melainkan warna langit yang menandakan bahwa waktu maghrib sudah hampir tiba. "Saya di mana Om?" tanyaku pada Om Rifky dengan sedikit bingung. "Mbak ada di pinggir hutan," jawab Om Rifky sambil membantuku untuk bangun. "Di pinggir hutan? Bagaimana bisa saya ada di pinggir hutan, bukankah tadi setelah mengantar Kak Arfan, saya ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD