4. New Job

1467 Words
        "Joshua!" teriak sebuah suara yang menghentikan ciuman pria itu.         "Clark..??"         Josh menoleh dan terkejut bukan main melihat  siapa yang menyebut namanya. Kekasihnya, Clark, memergokinya sedang mencium seorang wanita. Dengan wajah yang memerah penuh amarah, Clark menghampiri Josh dan meninju wajah pria itu. Ia merasa ditusuk dari belakang.         'Clark? Jadi benar dugaanku kemarin, pria ini adalah kekasihmu?' batin Sarah sedih terdiam melihat Clark memukul Josh.         "Dengarkan penjelasanku dulu, Baby. Ini tak seperti yang kau lihat." kata Josh pelan.         "F*ck!! Kau mengkhianatiku. Kau ini sebenarnya apa? Apa kau juga menyukai wanita?" tanya Clark berapi-api, namun masih meredam suaranya tak ingin terdengar orang lain.         "Lebih baik kita bicarakan di apartment saja. Ini tempat umum." Josh menarik Clark masuk ke dalam mobil lalu pergi begitu saja meninggalkan Sarah seorang diri berdiri di depan Club.         'Apa-apaan ini, mereka pergi begitu saja meninggalkanku?! Dan, pria b******k itu yang mencuri ciumanku, tak meminta maaf atau apapun itu!' kata Sarah dalam hatinya.         "The f*ck!! Mereka benar-benar menjijikan!" umpat Sarah berbicara sendiri.         "Clark, kau benar-benar menyebalkan! Aku menyukaimu, tapi kenapa kau harus menjadi seorang gay?" ucap Sarah setengah merengek seperti anak kecil.         Sarah kembali lagi masuk ke dalam Klub untuk melanjutkan pekerjaannya.         "Sarah.." panggil Evelyn. Sarah hanya menengok tanpa semangat.         "Kau kemana tadi? Kau diapakan oleh pria itu? Apa dia benar tidak menyentuhmu?" tanya Evelyn memberondongi Sarah dengan berbagai pertanyaan.         "Aku sedang malas berbicara, Eve." jawab Sarah tak bersemangat sambil mengambil pesanan minuman yang diberikan Olga.         "Aahh, kau membuatku penasaran, Sarah." kata Evelyn menahan tangan Sarah agar tak pergi.         "Ayo katakan padaku. Dari yang kudengar, pria itu gay. Makanya aku penasaran apa benar dia tak menganggumu?"         "Nanti saja di apartment kuceritakan. Sorry, Eve, aku harus mengantarkan pesanan ini." Sarah lalu melenggang pergi meninggalkan Evelyn yang masih dihantui penasaran.         'Masa pria tampan seperti itu gay? Aku tak percaya!' batin Evelyn. *         "Kau selingkuh di belakangku! And... its a girl? How come?" tanya Clark begitu tiba di apartment yang mereka tinggali.         "Baby, dengarkan penjelasanku dulu baru kau boleh marah-marah." jawab Josh memelas. Clark hanya diam saja duduk di sofa enggan menatap kekasihnya yang sedang menatapnya penuh pengharapan.         "Jadi, tadi gadis itu digoda oleh Brad tapi ia tak terima perlakuan Brad, lalu menampar Brad. Brad mencoba membalasnya, aku hanya menolong gadis itu dan membawanya keluar. Saat di luar, aku sedang memberi sedikit nasehat padanya, lalu tiba-tiba ada yang mendorongku sehingga aku menubruk gadis itu dan tak sengaja menciumnya." jelas Josh panjang lebar, ia memang menceritakan yang sebenarnya, kecuali dibagian akhir.         Penjelasan Josh memang sedikit masuk akal bagi Clark karna ia tadi memang tidak melihat kejadian secara keseluruhan. Clark terlihat berpikir.         "Tapi ciuman tadi itu tidak seperti sebuah kecelakaan." kata Clark mencoba mematahkan penjelasan Josh.         "Baby, kau pikir saja sendiri. Aku ini kan seorang gay, mana mungkin tertarik pada wanita." ujar Josh berkelit sambil terkekeh.         Josh berusaha sekuat tenaga meyakinkan Clark agar ia jangan sampai curiga padanya. Memang tak ada yang tau kalau Josh sebenarnya Bisex. Ia sendiripun baru enam bulan ini menyadarinya, tadinya malah ia mengira bahwa ia kembali normal. Tapi ternyata ia pun masih sangat berhasrat pada pria.         "Aku hanya mencintaimu, sayang. Percayalah padaku." Josh mendekatkan tubuhnya pada kekasihnya.         Clark menatap Josh tajam, ia masih kesal dengan kejadian tadi. Namun, ketika bibir Josh menempel pada bibirnya, semua rasa amarah tadi seolah-olah lenyap seketika. Mereka kini sudah sibuk bercengkrama saling menyalurkan hasrat di sofa ruang tamu hingga pagi menjelang.         Clark tidur sangat nyenyak setelah pergulatan panasnya dengan Josh tadi malam, namun ia merasa terganggu dengan sentuhan-sentuhan nakal yang berada di bibirnya.         "Morning, babe." ujar Josh tersenyum manis.         "Jam berapa ini? Kau sudah rapi?" tanya Clark menyeripitkan matanya.         "Jam tujuh lewat tiga puluh. Aku ada meeting jam sembilan nanti dengan Miss Gomez, jadi aku akan berangkat duluan.."         "Aku sudah siapkan sarapan untukmu. Aku duluan ya, babe." ujar Josh mengecup bibir Clark, lalu pergi menghilang dari pandangannya.         Clark dan Josh bekerja dalam satu perusahaan yang sama, di perusahaan milik orang tua Clark. Ayah Clark sudah meninggal lima tahun lalu, terkena serangan jantung saat tak sengaja melihat anaknya sedang bermesraan dengan seorang pria, untung saja Ibu Clark tidak mengetahui karna beliau sedang tidak berada di rumah. Clark beralibi tak mengetahui penyebab serangan jantung yang menimpa Ayahnya, ia berkata melihat Ayahnya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Kala itu Clark baru saja lulus dari gelar sarjananya. Ia sempat terpuruk dan merasa bersalah lalu pergi menghindar sementara ke kota lain untuk menenangkan diri dan mengabaikan orang-orang yang mencarinya. Ia juga mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya yang orang Prancis dulu.         Dua bulan setelahnya, ia kembali ke rumah setelah dicecar oleh adik sepupunya, Alana, dan juga berita yang dikabarkan bahwa ibunya sakit karna perubahan sikap yang terjadi pada anaknya. Setelah itu, Clark memimpin perusahaan yang dibangun oleh Ayahnya sebagai CEO, bekerja semaksimal mungkin untuk perusahaan demi membalas rasa bersalahnya kepada Ayahnya. Dua tahun kemudian ia bertemu dengan Josh yang kini menjabat sebagai CFO di perusahaan Clark hingga kini hubungan mereka terjalin dengan amat sangat rapat dan tak ada seorangpun yang tau.         Kecuali, Sarah.         Anehnya, dihubungannya dengan kekasihnya yang kini, kembali Sarah lagi yang mengetahuinya. Tapi Clark masih belum menyadari siapa Sarah, karna memang penampilan Sarah sangat berbeda jauh dengan dulu pada saat masih kuliah ia begitu polos tanpa makeup.         "Hey, bangun pemalas!" Sarah melempar bantal ke arah Evelyn, lalu membuka tirai kamar.         "Hhhmmm.. kau ini apa-apaan sih? Aku masih mengantuk." Evelyn kembali menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut.         "Ini sudah siang, Nona."         "Aku baru pulang jam lima pagi. Berikan aku waktu sedikit lagi."         "Habis bertempurkah semalam?" tanya Sarah penasaran dan duduk di tepi ranjang kamar Evelyn.         "Yeahh begitulah kira-kira. Kau ingat Brad, pria yang bertengkar denganmu semalam?" Evelyn menyengir kuda saat mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut.         "Haa.. kau make out dengannya? Pria kurang ajar itu?"         "By the way.. eemm.. seperti apa rasanya?" tanya Sarah malu-malu.         Evelyn yang mendengarnya sontak terduduk dan melotot tak percaya kepada Sarah.         "Whoaa whoaa whoaa.. apa maksudmu..?"         "Apa kau.. belum.."         "Belum pernah..??"         Sarah menunduk malu seraya menggeleng ragu.         "Seriously? Man, ini tahun berapa and you're still virgin?!" Evelyn membelalakkan matanya menahan tawa.         Sarah mendengus kesal, kembali melempar bantal ke arah Evelyn.         "Hey, kau sudah dua puluh empat tahun dan kau masih virgin? Luar biasa." Evelyn bertepuk tangan salut.         "Stop it! Menyesal aku bertanya padamu." Sarah memutar kedua bola matanya. Evelyn hanya bisa tertawa mengejek.         "Jadi kau penasaran?" kata Evelyn menaikturunkan kedua alisnya secara bergantian.         "Rasanya itu bagaikan berada di surga dunia. Kau melayang tinggi merasakan kenikmatan yang luar biasa." Evelyn mengangkat kedua tangannya setinggi-tingginya.         "Hhh.. hiperbola sekali." Sarah meninggalkan kamar Evelyn, membuat gadis itu berteriak kesal setelah diganggu tidurnya lalu ditinggalkan begitu saja. Kringg.         Ponsel Sarah berbunyi. Ternyata telpon tersebut merupakan panggilan kerja dari sebuah perusahaan. Setelah sebulan lebih tak ada perusahaan yang memanggilnya, akhirnya kesempatan itu datang juga padanya. Sarah diminta datang untuk interview esok hari jam sepuluh pagi. *         "Dear God, please bless my day today." ujar Sarah menatap menengadah ke arah gedung pencakar langit di hadapannya yang tinggi menjulang.         Gadis itupun lalu masuk, setelah melapor di resepsionis lobby ia diminta untuk naik ke lantai dua puluh satu bagian HRD.         "Gadis yang baru saja dari sini, untuk keperluan apa? Dan, siapa namanya?" tanya seorang pria tampan yang mampu mempesona wanita manapun.         "Mr. O'bryan?" sang resepsionis tertegun melihat tatapan pria itu.         "Ah, maaf. Anda menanyakan gadis yang tadi? Dia salah satu kandidat untuk staf GA. Namanya Sarah Fernandez."         "Interview dengan siapa?"         "Dengan Ms. Hathaway, Sir."         "Ok. Thank you."         Pria itu kemudian melangkah menuju lift sambil menelpon seseorang.         "Ms. Hathaway, kandidatmu yang bernama Sarah Fernandez, nanti suruh dia menghadap ke ruanganku. Aku membutuhkan tenaga tambahan untuk membantu Maria."         "..."         "Jangan banyak tanya. Lakukan saja perintahku." pria itu menutup telponnya dan memencet tombol lift lantai dua puluh delapan.         Sementara di ruangan HRD, setelah menunggu hampir empat puluh lima menit akhirnya giliran nama Sarah dipanggil. Sarah menjalani proses interview dengan cukup lancar. Ms. Hathaway memberitahu bahwa setelah ini ia diminta untuk menghadap Mr. O'bryan di lantai dua puluh delapan.         Sarahpun melangkah menuju lantai yang dimaksud. Begitu pintu lift terbuka di lantai itu, ia merasa seperti salah lantai karna di lantai itu ruangan terlihat lapang dimana hanya ada dua pintu besar di sisi kanan berwarna coklat kayu dan kiri berwarna hitam, lalu di tengahnya terdapat meja seperti resepsionis, atau mungkin meja sekretaris.         "Nona Fernandez? Silakan anda sudah ditunggu di ruangan Mr. O'bryan." sapa seorang wanita cantik dengan ramah, lalu menunjukkan ruangan yang dituju.         "Terima kasih."         Sarah lalu mengetuk pintu berwarna coklat tersebut. Perlahan ia membuka pintunya dan takjub melihat design ruangan yang begitu elegan bernuansa coklat kayu dan beige.         Terlihat sebuah kursi yang sedang menghadap ke arah jendela dan membelakangi posisi Sarah berdiri yang sedang berdiri di tengah ruangan. Sarah terlihat bingung apakah ini ruangan calon bosnya? Tapi ruangan ini lebih terlihat seperti ruangan seorang Big Boss.         "Permisi Mr. O'bryan?"         Kursi lalu berputar dan menunjukkan sesosok pria tampan yang tersenyum lalu berdiri dari kursinya. Sarah menganga dan melotot.         "Kau...!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD