3. Gayshit

1709 Words
        Sarah kini sedang berjalan ke arah mobil supercar dimana ia harus berdiri, setelah beberapa menit sebelumnya seluruh SPG dibriefing. Ia tampak begitu takjub dengan pemandang di dalam hall yang sangat besar ini, dimana  begitu banyak mobil-mobil mewah berjejer dengan cantik. Acara akan dibuka dalam tiga puluh menit lagi, para panitia semakin sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.         's**t! Pasti mereka semua sangat mahal. Bahkan gajiku bekerja seumur hidup saja mungkin takkan mampu untuk membeli salah satunya.' batin Sarah.         "Oh my God. You are very beautiful, baby." ucap Sarah menganga menatap supercar yang ada di hadapannya.         Sebuah Lamborghini Centenario berwarna hitam dengan sedikit nuansa kuning, bertengger dengan anggunnya. Sarah merasa jatuh cinta pada pandangan pertama melihat benda tersebut.         "Indah sekali ya." kata Evelyn yang berdiri di sebelahnya. Sarah hanya mengangguk pasti, masih terus mengagumi mobil tersebut.         "Kau tau berapa harganya? Satu juta sembilan ratus ribu dollar, dan kudengar hanya diproduksi dua puluh buah. Meski jual diri sekalipun, aku tak akan sanggup untuk memilikinya." lanjutnya.         "Yeah. Hanya orang-orang super kaya yang dapat memiliki mobil-mobil yang ada di sini." Sarah mengiyakan, masih tak bisa melepaskan pandangannya dari mobil tersebut.         "Baiklah, aku harus ke tempatku. Aku akan berdiri di sana. Semoga saja ada pria kaya yang melirikku lalu menjadikanku istrinya." ucap Evelyn sambil terkekeh, lalu berjalan ke arah mobil dimana ia harus berdiri.         Sarah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah teman barunya ini. Acara sudah dimulai dan para pengunjung mulai berdatangan ke event mobil terbesar yang diadakan setahun sekali ini.         Dengan penampilan Sarah yang sangat seksi, membuat banyak pasang mata p****************g menghampirinya. Sarah yang tak terbiasa merasa risih dengan pandangan lapar para pria itu, namun ia mencoba profesional dengan pekerjaannya. Meskipun rasanya ingin sekali menghajar pria-pria itu tapi ia tetap mencoba tersenyum manis dan menolak dengan sangat halus kepada setiap pria yang berusaha menggodanya. *         Acara pameran sudah berlangsung selama tiga hari. Ini hari keempat, Sarah dan Eve sedang bersiap-siap di ruang makeup.         "Kudengar mobil itu sudah laku setengahnya." ujar Eve.         "Benarkah? Wajar sekali memang, pasti banyak yang jatuh cinta padanya." jawab Sarah sambil membubuhkan lipstick di bibirnya.         "Yeah. Yang kudengar diantaranya dibeli oleh para pangeran Arab. Well, tak bisa dipungkiri memang kekayaan keluarga kerajaan itu."         Selesai berdandan, Sarah dan Evelyn menuju ke tempat mereka masing-masing. Masih sama seperti beberapa hari sebelumnya, ia hanya berdiri, tersenyum, dan melayani pria-pria yang meminta berfoto bersama. Sebenarnya terasa membosankan dan tentunya pegal.         Masih sibuk meladeni pria-p****************g yang minta foto, Sarah tak menyadari ada seorang pria yang terlihat mengagumi mobil tersebut. Saat ia menoleh ke belakang betapa terkejutnya ketika yang dilihat adalah sesosok pria yang pernah singgah di hidupnya meskipun hanya sementara.         'Clark?' batin Sarah. 'Dia semakin tampan saja. Sudah lama sekali aku tak melihatnya.'         Clark Anderson, semenjak kuliah saja ketampanannya sudah berada di tingkat Dewa. Hampir seluruh gadis di kampus tergila-gila kepadanya. Apalagi sekarang, ia terlihat semakin matang. Jas mahal yang dikenakannya, rambut yang ditata rapi namun terkesan sedikit acak-acakan, sedikit kumis dan janggut yang baru tumbuh di daerah dagu dan rahangnya, membuatnya terlihat bukan hanya tampan, tapi seksi dan menggiurkan.         'Ohhh, aku merasa kakiku seperti jelly.'         Pria itu terlihat serius memperhatikan Lamborghini tersebut dan berbicara dengan seseorang di sebelahnya yang juga sama tampannya dengannya.         'Mereka berdua terlihat akrab sekali. Siapa pria yang di sebelahnya itu? Apa jangan-jangan pria itu pacarnya yang sekarang? Apa dia masih seperti dulu? Gay.' Sarah berbicara dengan hatinya.         Sarah masih terus memperhatikan Clark. Saat pria itu melihat kearahnya, Sarah mencoba tersenyum segaris namun pria itu hanya melirik sekilas dan tak menghampiri gadis itu, malah kembali berbicara dengan pria di sebelahnya.         'Kenapa dia hanya melihatku seperti itu? Apa dia tak mengingatku?'         'b******k kau, Clark! Dasar orang kaya arogan! Apa kau sudah lupa jasa-jasaku dulu.'         Bukannya Sarah mau mengungkit-ungkit kebaikannya dahulu. Ia hanya merasa kesal dengan pria itu. Setelah dengan cuma-cuma menerima ilmu dari Sarah, pria itu malah pergi tanpa memberikan tanda terima kasih sedikitpun. Dan kini, ia malah berpura-pura seolah tak mengenal Sarah. Sarah membalikkan badannya kembali.         "Dasar gay b******k!" umpat gadis itu.         "Maaf kau bicara dengan siapa, Nona?" tanya seseorang di belakangnya.         Sarah memutar kembali posisinya berdiri, menegang seluruh tubuhnya melihat pria yang ada di hadapannya. Clark Anderson dengan tatapan tajam bertanya kepada gadis itu.         "Emm.. Aa..aku tak berbicara pada siapa-siapa." jawabnya canggung.         "Watch your mouth, Miss!" ujar pria itu pelan dengan penuh penekanan, lalu melenggang pergi meninggalkannya dan menghampiri sekumpulan pria-pria berjas lainnya.         'b******k! b******k! b******k! Apa dia benar-benar tak mengingatku?!' umpatnya dalam hati.         Mood Sarah sukses berubah seratus delapan puluh derajat karna pria itu, hingga beberapa kali ia mendapat teguran dari pengunjung karna mimik wajahnya yang menunjukkan seperti singa yang akan menggigit siapapun dihadapannya.         "Kau kenapa Sarah?" tanya Eve sambil menyetir, mereka kini dalam perjalanan pulang.         Sarah tak menjawab pertanyaan Eve. Rupanya ia masih memendam rasa kesal yang teramat sangat pada Clark.         "Oh ya. Apa kau masih mengingat Clark Anderson? Tadi aku melihatnya." ucap Eve antusias.         "Oh God. Please jangan bahas dia, Eve. Aku muak dengan pria menyebalkan itu."         "Menyebalkan? You are so wrong, baby. Tadi aku sempat meminta foto bersama dengannya, dia terlihat ramah masih sama seperti dulu." ujar Eve tersenyum simpul lalu menunjukkan foto dengan Clark.         'What!!'         "By the way, kau bilang Clark menyebalkan? Menyebalkan seperti apa?" tanya Eve penasaran.         "Yeah, tadi dia melihatku biasa saja seperti tak mengenaliku." jawab Sarah memutar kedua bola matanya.         "Hahahahhaaa.." Eve hanya tertawa terbahak-bahak.         "Kenapa kau malah tertawa?"         "Tentu saja dia tak mengenalimu, Sayang. Kau terlihat berbeda jauh dengan penampilanmu seperti ini. Akupun juga pasti akan begitu."         'Benarkah begitu?' batin Sarah.         "Kenapa tidak kau sapa saja dia lebih dulu?"         "Aku? Huh, no way!" padahal dalam hatinya Sarah sangat ingin bertegur sapa dengan pria itu, tapi hatinya sudah terlanjur kesal akibat tingkah laku Clark.         "Eemm.. Sar, bolehkah aku meminta bantuanmu?"         "Apa itu, Eve?"         "Sejujurnya aku sekarang sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi. Kau tau biaya sewa apartmentku itu sangat mahal. Kau lihat sendiri kan di belakang penuh dengan barang-barangku."         I see. Pantas saja mobilnya terlihat begitu sesak di belakang.         "Jadi, bisakah aku menumpang di tempatmu?" tanya Eve dengan ragu.         "Tapi jika tak bisa juga tak apa. Aku akan mencari temanku yang lain yang mungkin bisa menampungku."         "Oh, Evely, kau ini bicara apa. Kau sudah membantuku mendapatkan pekerjaan. Tentu saja kau bisa tinggal di tempatku, tapi apartmentku kecil." kata Sarah mengelus bahu Evelyn.         "Thank you so much, baby. Its okay yang penting aku ada tempat berteduh." Eve mengecup pipi Sarah.         "Aku justru senang ada teman jadi tak akan merasa kesepian lagi." kata Sarah.         Kini hari-hari Sarah semakin menyenangkan, semenjak berteman dengan Evelyn, gadis yang periang dan apa adanya dan tinggal satu atap dengannya, ia merasa hidupnya lebih berwarna. Evelyn mengajarkan banyak hal pada Sarah. Sarah yang dulu merupakan pribadi yang tertutup dan cuek terhadap sekitar kini sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi pribadi yang lebih terbuka.         Fee yang ia dapatkan dari pameran tersebut lumayan besar sehingga ia langsung bisa membayar biaya sewa apartment untuk setahun kedepan, Evelyn juga ikut menambahkan meskipun awalnya Sarah tak menerima, tapi Evelyn tak ingin tinggal secara gratis begitu saja.         Selepas dari pekerjaannya sebagai SPG, Sarah kini bekerja di tempat Evelyn bekerja, di sebuah Klub mewah kalangan atas. Sarah baru tau bahwa ternyata Evelyn selain sebagai waitress di sana, juga merangkap sebagai Ladies Escort. Awalnya Sarah sempat mengutarakan ingin mengundurkan diri dari pekerjaan itu, meskipun ia benar-benar bekerja hanya sebagai pure waitress. Namun, kebutuhan hidup terus berjalan sementara ia belum juga mendapatkan pekerjaan di kantor manapun. Eve meyakinkannya bahwa jika ada yang macam-macam dengannya, gadis itu akan siap maju dan menendang kemaluan pria manapun yang berusaha melecehkan Sarah.         "Sarah, antarkan minuman ini pada meja di ujung sana." tunjuk Olga, sang bartender.         Sarah lalu meluncur mengantarkan beberapa minuman beralkohol menuju meja yang disebutkan Olga tadi. Ketika tangannya meletakkan satu persatu gelas dan botol minuman, tiba-tiba saja ada sebuah tangan nakal yang meremas bokongnya. Tatapan pria itu terlihat sangat m***m menatap p******a Sarah.         Bagaimana tidak m***m, tanktop putih ketat dan rok mini yang dikenakan Sarah, membuat tubuhnya yang bagaikan gitar spanyol membuat pria manapun meneteskan liurnya.         "Maaf, anda sangat tidak sopan, Tuan!" kata Sarah tajam.         "Jangan sok suci, sexy. Kemarilah temani aku." pria itu lalu menarik Sarah sehingga ia jatuh diatas pangkuannya.         "b******k. Aku bukan w************n!" Sarah kembali menarik dirinya lalu menampar pria itu.         Ketika pria itu mencoba menampar Sarah, tangannya dihadang oleh tangan lain. Adalah pria yang berada satu meja dengannya, yang hanya memperhatikan temannya sedari tadi berbuat tak senonoh. Sarah hanya menutup matanya pasrah menunggu sambaran kasar dari tangan pria yang sedang memuncak amarahnya.         "Apa yang kau lakukan, Josh? Kenapa kau malah membela jalang ini?" bentak pria itu kepada pria yang melindungi Sarah.         "Gadis ini tidak mau melayanimu, Brad. Lebih baik kau cari yang lain saja." ujar pria yang bernama Josh itu.         "Ada apa ini? Sarah, apa yang terjadi?" Evelyn tiba-tiba menghampiri keributan itu.         "Baby, gadis kurang ajar ini temanmu? Tolong ajarkan dia bagaimana cara melayani tamu disini." ujar Brad sembari menggoda Evelyn.         "Jangan kau samakan temanku dengan pekerja lainnya di sini, Brad. Dia wanita baik-baik." bela Eve.         "Lebih baik kau ikut denganku." Josh tiba-tiba menarik Sarah keluar dari Klub.         Evelyn yang kaget melihat temannya dibawa kabur mencoba mengejar Sarah, tapi ditahan oleh Brad.         "Kau tenang saja. Josh tak akan macam-macam dengan temanmu itu. Dia seorang gay. Sekarang lebih baik kau temani aku."         Evelyn menganga mendengar penjelasan Brad. Brad dan Josh adalah teman sejak kecil, meskipun Brad mengetahui Josh memiliki orientasi seks yang menyimpang tapi hal itu tak menghancurkan persahabatannya.         "Lepaskan aku!" bentak Sarah saat sudah berada di luar Club. "Kau! Bukankah kau pria yang waktu itu bersama dengan Clark di pameran mobil?" tanya Sarah. Ia kini ingat pernah melihat pria itu sebelumnya.         "Kau kenal dengan Clark?" tanya Josh penasaran. Sarah diam saja, ia merasa tak perlu berkata apapun tentang pria menyebalkan itu.         Melihat Sarah yang diam saja, Josh tiba-tiba menempelkan bibirnya ke bibir Sarah, mencoba melumat bibir manis gadis itu. Sejujurnya sejak pertama melihat gadis itu, ia merasa penasaran dengannya. Josh memang gay, lebih tepatnya bisex. Ia sudah menjalin hubungan percintaan dengan Clark selama tiga tahun. Namun, daya tarik Sarah yang begitu kuat bagaikan magnet mampu membuat hasrat Josh meningkat.         Josh masih saja terus melumat bibir Sarah. Sarah yang mencoba melepaskan tubuhnya dari kungkungan pria itu tak berhasil sama sekali mengingat tenaga pria itu begitu besar.         "Joshua!" teriak sebuah suara yang menghentikan ciuman pria itu.         "Clark..??"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD