2. You Used Me

1530 Words
        Sarah fokus dengan ponselnya asik bermain game sambil menunggu kelas dimulai. Tak berapa lama muncul seorang pria, bukan Mr. Wright, dosen Macroeconomics yang biasa mengajar. Tapi seorang pria tampan yang baru saja kemarin berinteraksi dengannya. Ya, pria itu adalah Clark Anderson, ternyata kali ini ia menggantikan dosen yang tidak bisa hadir karna ada urusan keluar kota. Oh, gadis itu baru tau bahwa ternyata Clark juga sebagai Asisten Dosen di kampus ini. Bertambah lagi tingkat kesempurnaan pria itu. Clark memang kadang-kadang mendapat tugas tambahan sebagai Asisten Dosen, namun itupun tidak sering dilakukannya dikarenakan ia sekarang sudah semakin sibuk mengerjakan skripsinya.         Seluruh mahasiswi yang ada di dalam ruang kelas mulai berbisik-bisik berkomentar akan sosok dewa yang muncul di hadapan mereka. Sementara Sarah terdiam memandangi ketampanan pria itu, namun juga menyayangkan betapa mubadzirnya segala kesempurnaan yang melekat pada tubuh pria yang sedang berdiri di depan tersebut. Ia tak fokus dengan penjelasan yang diberikan oleh Clark, hanya memperhatikan ketampanan pria itu yang bak dewa yunani.         "Ms. Fernandez..!"         Sarah masih belum sadar dari lamunannya.         "Ms. Fernandez!!! Apa kau tak memperhatikan apa yang sudah kujelaskan?"         Sarah tersadar akibat colekan dari teman sebelahnya, ia merasa salting dengan tingkah bodohnya itu.         "Maafkan aku." ucap Sarah tertunduk malu.         "Setelah kelas ini selesai, temui aku di ruangan Mr. Wright." ucapnya tajam.         Clark yang sedang mengajar  saat ini terlihat berbeda jauh dengan yang dibilang orang terkenal akan keramahannya. Ia terlihat begitu tegas dan berwibawa. Ia pun berkata jika ada yang tidak memperhatikan kelasnya, maka mahasiswa tersebut akan diminta untuk segera meninggalkan kelas itu. Tidak ada yang menyanggah ucapan pria itu, entah memang karna auranya yang terlihat mendominasi atau karna mereka sudah terlanjur terpesona oleh kharisma pria itu, tak terkecuali mereka yang berjenis kelamin laki-laki sekalipun. Kelas pun berjalan kembali dengan cukup kondusif.         "Oui.." ucap Sarah melalui telpon dari seseorang setelah kelas bubar.         "..."         "Tu me manques aussi, Papa. (I miss you too, Papa)"         "Kau bisa Bahasa Prancis?" tanya Clark antusias, saat ia baru saja keluar dari kelasnya, memperhatikan Sarah yang sedang menelpon di depan kelas, menunggu hingga gadis itu selesai dengan pembicaraannya.         "Eee.. iya. Ayahku orang Prancis." jawab Sarah sedikit terkejut saat melihat Clark ada di belakangnya.         "Seriously? Jadi kau fasih berbahasa Prancis?" Sarah mengangguk pasti.         Clark lalu menjelaskan ketertarikannya akan segala sesuatu yang berbau Prancis. Salah satu pemicunya juga karna pasangannya yang sekarang ini merupakan orang Prancis asli, tapi tentunya ia tak menceritakan bagian itu. Sebenarnya ia dulu sempat kursus Bahasa Prancis namun karna kesibukannya, ia sering kali bolos. Mengetahui Sarah ternyata bisa berbahasa Prancis, ia pun memiliki ide.         "Bisakah kau membantuku? Mengajari Bahasa Prancis?" tanya Clark menunjukkan wajah semanis mungkin.         Sarah yang melihatnya hanya mengangguk tak berdaya. Aahh, siapa yang tak akan meleleh melihat tatapan memelas dari pria tertampan di kampus ini. Merekapun berjalan menuju ruangan Mr. Wright untuk membahas kelakuan Sarah tadi saat di kelas.         Setelah pembicaraan tersebut, hari-hari Sarah diisi dengan kebersamaan dengan Clark. Banyak gadis yang cemburu melihat kedekatan mereka berdua. Clark masih tetap ramah terhadap siapapun, namun ia merupakan tipe pria yang tidak suka membuang-buang waktu hanya untuk berbasa basi ataupun berbicara hal-hal yang tak penting. Maka dari itu, Sarah dianggap sebagai gadis yang sangat beruntung karna bisa menghabiskan hampir setiap sore bersama Clark di perpustakaan.         Jangan dikira Sarah mendapatkan upah dari mengajar private Clark. Ia membantu pria itu dengan sukarela, cukup hanya dengan menghabiskan waktu bersama tiap hari itu saja sudah melebihi ekspektasinya. Semakin lama Sarah semakin dekat dengan Clark, semakin dalam juga rasa ingin memiliki pria itu. Tapi ia sadar siapa dirinya, ia juga tak menampik kenyataan Clark yang seorang gay. Clark benar-benar pria yang sangat menyenangkan, tak aneh jika banyak gadis yang tergila-gila padanya namun ia hanya menganggap semua gadis itu teman belaka.         'Kalian tak tau saja kalau pria idaman kalian ini seorang gay.'  ucap Sarah dalam hati sambil menatap Clark.   ***           "Selamat atas kelulusanmu, Clark." ucap Sarah menyalami Clark.         "Thank you." jawabnya tersenyum lebar memeluk Sarah. Franco yang merupakan pasangan gay Clark memandang tajam melihat penampakan itu.         Setelah kelulusan Clark, interaksi diantara mereka berdua semakin berkurang, ia sudah jarang menghubungi Sarah untuk belajar Bahasa Prancis. Awalnya Sarah sempat bertanya tapi tak pernah digubris oleh Clark. Ia sebenarnya agak segan menghubungi Clark terlebih dahulu karna takut Clark merasa terganggu.         Dari akun social media milik Clark, Sarah mengetahui bahwa pria itu sepertinya pindah ke kota lain. Ia sempat mengirim pesan langsung maupun mengirim komentar lewat akun itu tapi tak pernah digubris oleh pria itu. Pernah sekali pesan whatsappnya dibalas namun Clark berkata sedang sibuk sehingga tak bisa belajar lagi. Memang sih kemampuan Bahasa Prancis Clark sudah jauh lebih baik dari pada pertama kali mereka memulainya. Tapi Sarah tak menyangka Clark akan menghilang begitu saja, bahkan pria itu tak pernah mengucapkan terima kasih atau memberikan reward apapun atas bantuan Sarah selama ini. Bukan Sarah orang yang gila akan pamrih, tapi ia hanya ingin dihargai sebagai seorang teman saja.         "Kau memang pria yang baik, Clark. Tapi apakah bantuanku selama ini tak ada artinya di matamu hingga kau pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih." ujar Sarah yang sedang melamun di apartment kecilnya.         "Aku merindukanmu. Sedang apa kau sekarang?"         Sarah sedang di kamarnya membaca kembali chat-chat mereka yang tak pernah dihapusnya sembari mengenang kedekatan mereka berdua saat itu. Ingin sekali ia mengirim pesan kepada Clark, tapi niat itu diurungkannya, ia takut malah menjadi sakit hati sendiri karna pria itu tak pernah meresponnya lagi. Akhirnya ia hanya bisa menahan rasa rindunya seorang diri.         'Aku tau aku bukan siapa-siapa, Clark. Kau sempurna, memiliki segalanya. I'm just nobody.' batin Sarah         "Biarlah kusimpan rasa cinta ini dalam hatiku saja. Biar tak ada yang tau. Lagipula percuma saja kau pun tak tertarik dengan wanita kan. Mungkin kau sudah bahagia di sana dengan pasanganmu."         Lantunan melodi saxophone milik Kenny G membelai Sarah memasuki ke alam mimpinya. Yaa, semoga saja ia dapat bertemu dengan pujaan hatinya meskipun itu hanya lewat mimpi semata. *** *Lima tahun kemudian*         "Pak, salah saya apa? Setau saya, saya sudah bekerja sebaik mungkin." tanya Sarah kepada Manager HRD di kantornya.         "Maaf, Sarah. Perusahaan sedang dalam masa krisis jadi kami harus mengcut beberapa karyawan, dan kau terpilih salah satunya.." ujar Manager tersebut.         "Tapi tenang saja, kau akan mendapatkan kompensasinya."         Sarah saat ini bekerja sebagai staf administrasi di salah satu perusahaan yang baru saja memecatnya. Sudah satu tahun ini ia bekerja di sana semenjak lulus kuliah. Ia tak pernah melakukan kesalahan apapun, selalu bekerja dengan baik, tapi kenapa namanya terpilih sebagai salah satu karyawan yang di PHK. Setelah ini ia akan menjadi pengangguran.         Nasib memang sedang tak berpihak baik padanya.         "Amy, please help me." pinta Sarah memelas pada sahabatnya.         "I'm so sorry, Sarah. Di toko sedang tidak ada lowongan, bahkan hanya sekedar bantu-bantu sekalipun." jawab Amy.         Sarah adalah tipe gadis yang yang tidak betah berdiam diri di rumah. Meskipun ia kini menjadi seorang pengangguran, tapi ia ingin mengisi waktunya dengan bekerja apapun sampai mendapatkan pekerjaan sebenarnya di perusahaan yang baru. Ia sudah mencoba mengirimkan lamaran ke beberapa perusahan tapi belum ada panggilan satupun. Uang kompensasi yang diterima Sarah juga tidak besar, ya karna ia hanya seorang staf biasa dan baru setahun bekerja. Ditambah lagi bulan depan sewa apartmentnya akan habis, sementara dari uang kompensasi tersebut masih kurang mencukupi. Ia harus mencari tambahan lagi agar bisa membayar sewa hingga satu tahun kedepan.         "Aku harus mencari kerja kemana lagi ya?" ucap Sarah seorang diri duduk melamun di halte bus.         "Sarah? Kau Sarah Fernandez kan?" tiba-tiba seorang wanita dengan penampilan cukup seksi menegurnya.         "Iya. Maaf, kau siapa ya?"         "Aku Evelyn. Teman kampusmu dulu."         Sarah terlihat mengingat-ingat, tapi sayangnya ia merasa tidak pernah mengenal wanita di hadapannya ini.         "Kita pernah satu kelas, kau mungkin tidak mengenalku. Tapi kurasa semua gadis di kampus saat itu mengenalmu. Well, karna kau dekat dengan Clark Anderson, pria tertampan di kampus kita." terangnya sambil terkekeh.         'Clark Anderson? Apa kabar dia?' batin Sarah teringat pria itu.         "Begitukah?" tanya Sarah tak percaya. Apa iya ia se-terkenal itu? Evelyn mengangguk pasti.         "Apa kabarmu? Lalu, sedang apa kau disini?"         "Aku habis mencari pekerjaan, tapi sayangnya belum ada yang mau menerimaku."         "Aku bisa membantumu. Kebetulan agent tempatku bekerja sedang butuh beberapa gadis untuk menjadi SPG acara AutoCar tiga hari lagi. Apa kau berminat? Pekerjaan ini bersifat freelance namun fee yang akan kau dapatkan sangat besar, karna ini acara pameran mobil-mobil mewah."         Sarah tak langsung menjawab, ia berpikir bukankah gadis-gadis SPG itu terlihat seperti gadis murahan karna penampilan mereka yang seronok. Tapi mendengar fee yang dikatakan Evelyn membuatnya tergoda, apalagi pameran itu hanya berlangsung selama satu minggu saja.         "Kemarikan ponselmu." Evelyn tiba-tiba saja mengambil ponsel yang sedang digenggam Sarah. Ia kemudian mengetik sesuatu lalu mengembalikannya lagi.         "Ini nomorku. Jika kau berminat, segera hubungi aku. Kutunggu sampai besok." Evelyn kemudian pamit pergi dari tempat itu meninggalkan Sarah seorang diri. ***         "Eve, is that really me?" tanya Sarah yang melihat hasil makeup pada dirinya, benar-benar terlihat berbeda jauh.         "Yeah, it's you, Sarah. Kau terlihat cantik sekali. Wow!!" jawab Eve, ia sendiripun tak percaya dengan hasil sentuhan tangannya.         Sarah sama sekali tak percaya diri dengan penampilannya saat ini. Menurutnya, wanita yang ada di cermin itu terlihat seperti wanita nakal, apalagi pakaian yang ia kenakan begitu terbuka dan sangat ketat sehingga menunjukkan lekuk tubuhnya yang kini sedikit berisi dan payudaranya yang terlihat padat.         Merekapun bersiap-siap menuju ke acara pameran AutoCar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD