Selly tersenyum miring. Untuk membuktikan dirinya bukan orang yang patut dikasihani. Dan bukan juga perebut seperti tuduhan Camelia barusan, dia memiliki Ide. Selly berdehem sembari me-load speaker ponselnya. Dia sengaja duduk membelakangi Camelia dan kedua temannya tadi. Lalu Selly menelpon Ibas. "Sayang, kamu pasti kelupaan sesuatu,kan?" Disebrang telepon Ibas yang sedang duduk, jadi menyeritkan alis. Rasa-rasanya semua sudah dia lakukan. Memeluk dan mengecup kening Selly sebelum berpamitan ke ruangannya. "Oh, apa aku belum bilang, nanti malam bakalan anterin kamu seperti biasa?" sahut Ibas mencoba mengingat. Jika dua orang lawan bicara Camelia tidak tahu suara siapa itu. Berbeda dengan Camelia yang menggeram kesal. Wajahnya berubah pias. Dia melirik berharap tidak ada yang sadar

