'Mi, aku tau mami kehilangan. Tapi Rian juga, mi. Rian bahkan merasa gak punya pegangan siapa pun karena mami memilih menjauhi aku.' Kepalanya semakin rapat ke daun pintu. Suara hembusan nafas mengalun di bibirnya. "Mi, Ian ke bawah bentar,ya!" Sesedih apa pun dia. Hanya dialah tuan rumah yang masih bisa menyambut para tamu dipulas senyum tipis demi menutupi kegetiran hati. Di bawah anak tangga, Ibas menunggu Rian. Saat Rian sampai dia langsung memeluk sahabatnya itu. Tidak perlu banyak bicara untuk mendeskripsikan rasa bela sungkawa. Dari sorot matanya, terlihat Ibas juga sangat sedih. Kedua pria dengan koko hitam itu menuju ruang tamu bersama. Rian sempat melirik sekitar, didapati Manda dan Selly di pojok ruangan. Itu membuat batinnya sedikit tenang. "Ian, ada yang mau ketemu Lo

