
SeAbad NU Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan ke Hadlirat Allah SWT Jalajalluhu warahmatuhu atas terselesaikannya bunga rampai kumpulan tulisan mengenai sejarah peradaban Islam Nusantara yang dimuat di berbagai media baik cetak maupun online.Dan tidak lupa seiring salam dan shalawat penulis haturkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang telah membawa kita dari dunia yang penuh kegelapan menunju kehidupan yang terang benderang.
Naskah-naskah buku ini sebelumnya tercerai berai, namun setelah mendapat respon positif dari teman-teman sesama penulis, penulis terpacu untuk mengumpulkan kembali bahan-bahan tulisan tentang keislaman, sejarah dan tantangan keberagamaan di bumi Nusantara ini.
Dengan diterbitkannya buku ini, penulis mengajak pembaca agar bisa memotret sejarah awal masuknya Islam ke Nusantara, sejarah NU, sejarah tasawuf, peran strategis ulama dan lain sebagainya.
Dengan membaca buku yang berjudul Jejak Peradaban Nusantara harapannya semoga pembaca dapat mengambil nilsi sejarah penting di masa lampau dan memaknai serta mengisi bahkan menjadi aktor dari sejarah pada masa-masa sekarang dan mendatang.
Akhirul kalam, akhirnya, semoga buku ini dapat bermanfaat untuk kita semua kaum muslimin pada saat ini dan umat yang akan datang hingga datang ketetapan Allah. Dan semoga Allah SWT berkenan membuka pintu Hidayah sehingga semakin banyak orang bisa mengambil manfaat bagi umat Islam dan kaum muslimin. Amin Ya Robal Alamin.
Aji Setiawan
BAB 1 SEABAD MABADI KHAIRU UMMAH NAHDLATUL ULAMA
A. Latar Belakang Kelahiran Nahdlatul Ulama
Berbagai buku telah membahas latar belakang lahirnya NU. Pada umumnya para penulis Barat maupun Indonesia dalam menulis sejarah NU, diwarnai d******i kajian modernis. Deliar Noer misalnya, menyebut NU sebagai benteng perlawanan terhadap golongan pembaru Islam. NU adalah perluasan dari Komite Hijaz yang merupakan tandingan Komite Khilafat yang didominasi kaum modernis. Hanya sedikit buku yang mewakili kalangan tradionalis. Meski demikian, tulisan berikut berupaya menampilkan dua kecenderungan kajian mengenai sejarah lahirnya NU.
Semenjak perang Dunia I berakhir, Daulat Turki Usmani guncang, sementara kekuasaan Sultan yang dipandang sebagai Khalifah, termasuk oleh kaum Muslimin Indonesia diperebutkan oleh kaum nasionalis Turki yang dipimpin Mustafa Kemal Pasha. Tahun 1922 Majelis Raya Turki menghapuskan kekuasaan Sultan dengan menjadikan negeri itu sebagai Republik, dan menjadikan Khalifah Abdul Majid tidak memiliki kekuasaan duniawi. Dua tahun kemudian Majelis itu menghapuskan sama sekali khilafat. (Noer: 1996:242.)
Perkembangan ini menimbulkan kebingungan pada dunia Islam pada umumnya, yang mulai berpikir untuk membentuk suatu khilafat baru. Masyarakat Islam Indoensia juga merasa ikut bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut. Secara kebetulan Mesir ingin mengadakan kongres tentang khilafat pada bulan Maret 1924. Sabagai sambutan atas acara tersebut, umat Islam Indonesia yang diwakili organisasi Islam membentuk Komite Khilafat di Surabaya tanggal 4 Oktober 1924 dengan ketua Wondoamiseno (Sarekat Islam), dan wakilnya KH A. Wahab Chasbullah. Kongres Al-Islam ketiga pada bulan Desember 1924 antara lain memutuskan untuk mengirim delegasi ke Kongres Khilafat di Kairo, Mesir dengan anggota yang terdiri dari Suryopranoto (Sarekat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah), serta KH. Wahab Chasbullah dari kalangan tradisionalis. (Noer,1996: 242)
Tetapi Kongres Khilafat di Mesir ditunda, karena perhatian umat Islam tertuju kepada perkembangan di Hijaz di mana Ibnu Saud berhasil mengusir Syarif Husein dari Mekah tahun 1924. Segera setelah itu pemimpin Wahabi itu mulai melakukan pembersihan praktek-praktek beragama sesuai dengan faham mereka. Tindakan ini mendapat sambutan baik dari Islam modernis di Indonesia dan mendapat penolakan kalangan tradisonalis. (Noer, 1996;242-243).
Suatu undangan dari Raja Ibnu Saud kepada umat Islam Indonesia untuk menghadiri Kongres di Mekah dibahas pada Kongres Al-Islam keempat di Yogyakarta (21-27 Agustus 1925) dan kongres Al-Islam kelima di Bandung (5 Februari 1926). Kedua kongres itu sangat didominasi oleh kalangan Islam modernis. Bahkan sebelum kongres di Bandung itu kalangan modernis sudah mengadakan pertemuan terlebih dahulu (8-10 Januari 1926) yang salah satu keputusannya menetapkan H.O.S. Tjokroaminoto dari Sarekat Islam dan K.H. Mas Mansur dari Muhammadiyah sebagai utusan untuk menghadiri kongres di Mekah.
