bc

Happy reading

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
boss
sweet
no-couple
vampire
campus
city
civilian
like
intro-logo
Blurb

A vampire who is disguised in the human world, he serves as a coe in a large company.

chap-preview
Free preview
Chapter 1
Lampu temaram di lantai 42 gedung perkantoran itu selalu menyala paling lama di ruangan sudut milik Julian. Sebagai CEO sekaligus makhluk abadi yang telah hidup hampir tiga abad, rutinitas korporat hanyalah kamuflase membosankan untuk menyatu dengan peradaban modern—sampai Clara masuk sebagai anak magang divisi riset dua minggu lalu. ​Aroma Clara bukan sekadar darah segar, ada manisnya vanila, kertas baru, dan detak jantung yang selalu berdegup sedikit terlalu cepat setiap kali Julian lewat. Detak nadi di leher jenjang Clara adalah melodi yang mengikis kontrol diri Julian yang telah ia bangun ratusan tahun. ​Julian mulai mencari alasan tak masuk akal. menumpuk berkas arsip larut malam hanya agar Clara tetap di kantor, memesankan kopi premium yang sengaja diantar langsung ke mejanya, hingga berdiri diam di balik bayangan partisi kaca hanya untuk mengamati jemari Clara mengetik cepat. Ketika Clara tak sengaja menggores jarinya dengan tepi kertas dokumen, Julian refleks menahan pergelangan tangan gadis itu. Kulit Clara yang hangat membakar ujung jari Julian yang sedingin es. "Hati-hati, Clara," bisik Julian, suaranya parau menahan lapar dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya yaitu kepemilikan. "Kertas bukan satu-satunya hal tajam yang bisa melukaimu di sini." Clara menatap mata Julian yang berkilat merah di bawah temaram lampu meja, tanpa menyadari bahwa ia bukan sekadar anak magang di perusahaan itu, melainkan satu-satunya obsesi sang predator malam. Jam dinding di ruang rapat utama berdenting lembut menunjukkan pukul delapan malam. Seluruh staf telah pulang, menyisakan keheningan pekat yang hanya dipecahkan oleh gesekan pulpen Clara di atas kertas laporan. Julian melangkah mendekat tanpa suara sedikit pun. Sepatu pantofelnya tidak menimbulkan decit di lantai marmer, seolah ia mengapung di udara. Ia berhenti tepat di belakang kursi putar Clara, membungkuk perlahan hingga jarak di antara mereka menyusut drastis. Aroma parfum mawar bercampur manisnya vanila dari rambut Clara menyerbu inderanya, menuntut kendali diri Julian yang kian menipis. "Kau terlalu memaksakan diri untuk laporan yang baru kubutuhkan minggu depan, Clara," bisik Julian tepat di sisi telinga gadis itu. Suaranya berat dan bergetar rendah, mengirimkan hawa dingin yang kontras dengan suhu ruangan. Clara membeku. Napas Julian yang tanpa kehangatan menyentuh tengkuknya, membuat bulu kuduknya meremang bukan karena takut, melainkan sensasi aneh yang menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Ketika Clara menoleh, wajah Julian hanya berjarak beberapa senti. Manik mata pria itu menggelap pekat, terkunci tepat pada denyut nadi yang berdetak kencang di leher Clara. "S-saya hanya ingin menyelesaikannya tepat waktu, Pak Julian," jawab Clara terbata-bata, tangannya tanpa sadar meremas ujung map. Julian mencondongkan tubuhnya lebih dekat, meletakkan sebelah tangannya di sandaran tangan kursi Clara, mengurung gadis itu sepenuhnya di antara meja kerja dan dadanya. Jemari dingin Julian bergerak perlahan, menyentuh helai rambut Clara yang jatuh ke bahu dan menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan sedingin es itu membakar kulit Clara. Jantungmu berdetak sangat cepat," gumam Julian dengan seringai tipis yang berbahaya, menatap langsung ke bibir Clara sebelum kembali mengunci matanya. "Apakah keberadaan ku membuatmu begitu gugup... atau kau menyukai caraku mengawasi mu?" Ketegangan di antara mereka begitu pekat hingga Clara lupa cara menarik napas, terperangkap di bawah tatapan sang predator yang jelas menginginkan lebih dari sekadar kepatuhan profesional. Ruang arsip di lantai bawah tanah temaram, hanya diterangi satu lampu neon yang sesekali berkedip pelan. Clara sengaja memilih lembur di sana untuk menenangkan kepalanya yang terus terbayang tatapan Julian semalam. Namun, bunyi pintu besi yang menutup perlahan di belakangnya membuyarkan keheningan. Julian berdiri di sana, memblokir satu-satunya jalan keluar. Jas hitamnya telah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku. "Kau menghindari ku sepanjang hari, Clara," suara Julian meluncur halus, memecah kesunyian ruangan. "T-tidak, Pak," Clara berusaha memundurkan langkahnya, namun punggungnya langsung membentur jajaran rak besi. "Saya hanya... sedang merapikan berkas laporan kuartal." Dalam sekejap mata—begitu cepat hingga pandangan Clara tak sempat menangkap gerakannya—Julian sudah berada tepat di hadapannya. Kedua telapak tangan pria itu bertumpu di rak besi pada kedua sisi kepala Clara, menjebaknya sepenuhnya. Hawa dingin yang khas dari tubuh Julian langsung menyergap Clara, kontras dengan udara ruang bawah tanah yang pengap. Julian menundukkan wajahnya, memangkas jarak hingga Clara bisa merasakan hembusan udara tanpa kehangatan dari bibir pria itu tepat di garis rahangnya. Tatapan Julian turun perlahan dari mata Clara menuju bibir ranumnya, sebelum akhirnya terpaku pada denyut nadi di leher jenjang yang berdetak semakin liar. "Kau pembohong yang buruk," bisik Julian, suaranya parau dan bergetar menahan lapar sekaligus gejolak yang jauh lebih intim. "Aku bisa mendengar detak jantungmu dari ujung lorong. Cepat, kacau... dan memanggilku." Jari telunjuk Julian yang sedingin marmer menyentuh dagu Clara, mengangkatnya perlahan agar mata mereka saling mengunci. Clara tercekat; alih-alih melarikan diri, tubuhnya justru membeku dalam tarikan magnet yang tak masuk akal, terpikat oleh bahaya di depan matanya. "Katakan padaku untuk berhenti, Clara," geram Julian rendah, mencondongkan bibirnya hingga nyaris menyapu kulit leher gadis itu. "Katakan sekarang, sebelum aku lupa bagaimana caranya bersikap profesional padamu." Hening di ruang arsip itu mendadak begitu pekat hingga suara tarikan napas Clara terdengar seperti jeritan. Clara tidak bergerak. Kata-kata untuk menyuruh Julian berhenti tersangkut di tenggorokannya, digantikan oleh dorongan impulsif yang membuatnya tetap terpaku menatap manik mata pria itu yang kini berkilat merah samar dalam kegelapan. Julian menghela napas berat, sebuah gestur pura-pura manusia yang justru memperlihatkan betapa tipisnya kendali dirinya saat ini. Bibirnya yang dingin bergerak menyusuri garis rahang Clara, hanya berjarak satu milimeter tanpa benar-benar menempel, mengirimkan sengatan listrik ke sekujur tubuh gadis itu. "Kau tidak menyuruhku berhenti," bisik Julian, suaranya kini berubah menjadi geraman parau yang dipenuhi ancaman sekaligus kepasrahan. Tangan Julian yang semula mencengkeram rak besi kini berpindah, melingkari pinggang Clara dan menariknya maju hingga tubuh mungil gadis itu menempel erat pada dadanya yang kokoh dan tak berdetak. Clara tersentak kecil, tangannya secara naluriah mendarat di dada kemeja Julian, merasakan dinginnya tubuh sang atasan yang begitu kontras dengan darahnya sendiri yang kini berdesir panas. "Pak Julian..." suara Clara tercekat, terdengar lebih seperti bisikan permohonan daripada peringatan. Julian. Panggil aku Julian saat kita berdua," tuntutnya rendah. Jemari dingin Julian menyusup ke tengkuk Clara, menahan bagian belakang kepalanya dengan kelembutan yang mematikan. Ujung bibirnya menyentuh titik paling sensitif di samping leher Clara—tepat di atas pembuluh darah yang berdenyut cepat. Julian memejamkan mata rapat-rapat, taringnya memanjang tipis, nyaris menggores kulit lembut Clara. Aroma darah yang begitu dekat membuatnya gila, tetapi sensasi kepatuhan Clara, desah napas hangatnya yang menerpa lehernya, justru menyalakan hasrat lain yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar dahaga ratusan tahun.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Mate, You Are My Enemy

read
4.7K
bc

Mated To The Lycan King

read
2.2M
bc

The Alpha's Runaway Daughter

read
130.0K
bc

Abused and Broken

read
480.5K
bc

The Lycan King's Mate

read
6.4M
bc

Returning to my rejected mate

read
316.7K
bc

Bloodmon’s Fated Omega

read
5.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook