EPISODE 1
Vanya Aqilla, gadis cantik yang baru saja lulus kuliah hendak mencari pekerjaan di berbagai bidang. Dia sama sekali tidak berfokus pada gelarnya yang lulusan perawat, yang saat ini ia inginkan hanyalah mendapatkan pekerjaan.
Di suatu momen Vanya tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang berpakaian rapi layaknya seperti pekerja kantoran di depan sebuah pusat perbelanjaan. Dia melihat wanita itu sangat kesusahan dengan membawa beberapa barang belanjaan dan harus menggendong seorang bayi. Tanpa rasa ragu karena memiliki hati iba, gadis itu menghampiri wanita tersebut guna untuk memberikan bantuan.
"Permisi, Tante." Ucap Vanya Aqilla setelah ia menghampiri wanita paruh baya itu.
"Iya," balas wanita itu kebingungan karena dia sama sekali tidak mengenali perempuan yang ada di depannya sekarang. "Ada apa ya?" tanyanya.
"Sepertinya Tante sedang kesusahan. Saya bisa membantu."
"Oh, terima kasih tawarannya. Kamu bisa gendong bayi ini." Perempuan itu pun memberikan cucunya kepada Vanya.
"Boleh, Tante."
Vanya mengambil alih untuk menggendong balita yang ia taksir berusia sekitar satu tahunan. Perlahan bayi tersebut sudah berpindah tempat. Vanya dengan senang hati membantu wanita itu dikarenakan dia juga menyukai anak kecil.
"Ikut saya," ajak wanita itu.
Vanya melangkahkan kakinya mengikuti wanita tersebut hingga mereka berhenti di depan mobil mewah milik wanita itu.
Terlebih dahulu wanita itu memasukkan barang-barangnya di dalam mobil. Sedangkan Vanya Aqilla sibuk untuk membuat bayi kecil itu tertawa bersamanya.
Setelah itu, wanita tadi kembali menghampiri Vanya dan menggendong bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu. "Terima kasih ya sudah membantu saya."
"Sama-sama, Tante."
"Kamu mau kemana?" tanya wanita itu penasaran.
Dia melihat perawakan dari Vanya yang berpakaian rapi dan membawa map ditangannya seperti seseorang yang sedang mencari pekerjaan.
"Eummm ... Saya mau cari kerja, tapi sampai sekarang belum dapat."
"Pegang dulu." Kembali wanita itu memberikan anak bayi kepada Vanya, dengan cepat Vanya menggendong bayi itu. "Kamu masuk mobil sekarang."
"Mau ngapain, Tante?" tanyanya kebingungan. Vanya masih ragu untuk mengikuti perintah dari wanita itu. Dia malah takut sendirian.
"Ikut saya."
[] [] []
Beberapa menit sudah berlalu, Vanya dan wanita itu sama sekali tidak mengobrol di dalam mobil. Hingga mereka pun sampai di rumah yang mewah.
"Ayo," ajak wanita itu.
Mereka turun dari benda yang bisa bergerak tersebut. Masih sama, Vanya mengikuti langkah wanita itu dari belakang. Dia tidak berani harus berjalan bersama dengan wanita tersebut.
"Silakan masuk, anggap aja rumah sendiri."
Vanya pun duduk di salah satu sofa berukuran besar. Sedangkan wanita paruh baya tadi malah meninggalkan dirinya yang masih menggendong bayi laki-laki itu.
Tidak butuh waktu lama, wanita tadi kembali menghampiri Vanya. Bahkan pakaian yang ia kenakan sudah berbeda dari sebelumnya.
Tidak lupa juga perempuan itu membawakan minuman untuk gadis cantik yang sedang bertamu di rumahnya.
"Tidur," lirih wanita itu.
"Iya."
Setelah meletakkan minuman tersebut, wanita tadi mengambil anak bayi itu dari pangkuan Vanya. "Kamu tunggu di sini ya. Saya mau ke kamar."
Vanya membalas dengan tersenyum kecil.
Air yang ditawarkan tidak baik untuk di anggurin, apalagi saat ini ia sedang haus. Tanpa rasa segan Vanya langsung meneguk air tersebut.
"Haus ya?" tanya seorang wanita.
"Eh, Tante."
"Nama saya, Fatma ," ucap wanita itu setelah duduk di sofa. "Nama kamu?" tanyanya.
"Saya Vanya Aqilla."
"Nama yang cantik. Jangan panggil Tante, panggil Mami aja." Ucapnya dan dibalas oleh Vanya dengan anggukan kecil.
"Saya memang seperti ini ... Setelah pulang kerja saya mengurus bayi. Terlebih lagi seperti tadi, barang-barang di dapur sudah habis. Jadi saya sangat sibuk."
"Bayi tadi anak Tante? Eh Mami!"
Mendengar pertanyaan dari gadis itu, Fatma malah tertawa kecil. "Kamu ini ada-ada saja, mana mungkin itu anak saya."
Vanya merasa malu dengan pertanyaan-pertanyaan tadi, ia pun terkekeh geli sambil menundukkan pandangan. "Hehehe ..."
"Memangnya tampilan saya masih muda ya?" tanyanya.
Vanya merasa malu setelah bertanya tentang hal itu, sekilas dia tersenyum pada wanita yang ada disampingnya.
"Itu bukan bayi saya."
"Terus itu anak siapa?" tanya Vanya.
"Bayi itu cucu saya ... Anak saya lagi bekerja, setiap hari bayi itu sama saya."
"Tapi bukannya Mami kerja juga?"
"Iya ... Berhubung kamu bilang mau cari kerja. Saya mau memberikan pekerjaan untuk kamu."
"Mami beneran?"
Mata Vanya terbuka lebar mendapatkan tawaran tersebut. Dengan cepat dia pun menganggukkan kepalanya.
"Tapi pekerjaan kamu jadi babysitter, ngurusin cucu saya itu."
"Nggak apa-apa, Anya seneng kok ... Apa pun itu yang penting Anya dapat kerja."
"Baguslah ... Jadi nanti kamu harus ngurusin cucu saya. Setiap pagi hari kamu harus datang ke sini untuk menjaga cucu saya," ungkap Fatma. "Sorenya kamu boleh pulang. Itupun kalau saya dan Ayah dari cucu saya sudah pulang kantor."
"Untuk upah, nanti kita bicarakan lebih lanjut lagi setelah saya melihat cara kamu bekerja."
"Baik ... Mami jangan khawatir, Mami nggak akan kecewa sama pekerjaan Anya." Ucapnya mencoba meyakinkan Fatma.
"Bagus ... Saya pegang janji kamu."
"Eummm ... Kalau boleh tau, kapan Anya bisa mulai kerja?" tanyanya memastikan.
"Besok! Jam tujuh kamu sudah datang dan harus tepat waktu."
"Oke, Mami." Ucap Vanya memperlihatkan jari jempolnya.
"Kalau lewat sedikit tidak apa-apa, asalkan jangan terlalu telat." Ucap wanita itu. "Kalau kamu telat datang, sudah pasti saya atau anak saya akan telat ke kantor juga 'kan."
"Iya, Anya ngerti kok."
Mereka pun berbincang tentang apa yang harus Vanya lakukan di rumah itu. Berbagai aturan di rumah juga di peringatkan oleh Fatma kepadanya. Bahkan ada sesuatu juga yang tidak dikatakan oleh Fatma agar mereka bisa memantau bagaimana pekerjaan Vanya yang sebenarnya.
Dalam dirinya pun Fatma belum bisa terlalu percaya kepada gadis itu. Dia juga takut akan terjadi sesuatu kepada cucunya.
"Saya harap kamu akan melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Karena kalau tidak, kamu akan berurusan dengan kepolisian."
"Baik ... Seperti janji Anya, Irsyad akan aman. Sedikit saja Anya nggak akan biarin Irsyad lecet."
Fatma tersenyum simpul mendengar pengakuan gadis itu. Dia berharap semua yang diucapkan oleh Vanya akan benar-benar terjadi dengan sangat baik.
Betapa bahagianya Vanya, akhirnya ia memiliki pekerjaan. Walaupun tidak di rumah sakit seperti yang ia inginkan, setidaknya gadis itu sudah memiliki penghasilan untuk sekarang.
"Berapa pun gajinya nggak apa-apa deh, dari pasa aku berdiam diri di rumah." Batin wanita itu. "Mengandalkan harta Papa, mending aku gunain untuk kebaikan aja biar Papa dan Papa seneng di alam sana."