4. Nageri Muria

1172 Words
Peri Alula dan Puca sampai menangis mendengar cerita Saidon yang memilukan. Karena bagaimanapun juga Frons merupakan adik satu ayah dari Saidon. "Saidon, jika kamu bisa kembali apa yang akan kamu lakukan?" tanya Alula. "Tentu saja merebut tahta, aku tahu jika posisi pemimpin ada di tangan Frons maka akan terjadi kehancuran di mana - mana. Karena dia jika sudah berambisi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya," jawab Saidon penuh amarah. "Coba aku bertemu dengan Frons, sudah aku injak dia sampai seluruh tulangnya remuk," umpat Puca ikut marah. "Sudahlah, sementara ini fokus dulu bagaimana cara untuk keluar dari ink  Sebaiknya kamu makan dulu," sela Puca menyerahkan sesuatu yang berada di keranjang dari bambu. Saidon menikmati buah apel dan anggur yang tadi dipetik Alula, ternyata rasanya lebih enak dibanding dengan buah di dunianya sendiri. "Alula, ayo ceritakan mengenai Kaisar Azura!" pinta Saidon lagi, berharap ada celah untuk kembali ke dunianya sendiri. Dia menyesal, kenapa tadi membentak wanita yang kini dihadapannya. Jika dilihat-lihat memang Alula merupakan peri polos yang berbeda dengan wanita di dunianya, bahkan Alula itu juga tidak bisa membedakan antara lelaki dan wanita. Alula mengangkat wajahnya dan kembali ceria seperti semula. Dengan penuh semangat gadis itu mulai bercerita. "Kaisar Azura adalah pemilik seluruh dataran negeri Muria. Di bawah kepemimpinannya rakyat hidup dalam keadaan makmur. Suatu hari kitab suci berisi ilmu terlarang milik Kaisar hilang, beberapa saat kemudian muncul seseorang yang memiliki aura kegelapan datang mengacaukan negeri Muria. Kaisar Azura melawannya, akan tetapi kekuatan mereka seimbang. Hukum alam murka, kemudian ada bencana yang maha dahsyat. Pada saat itu Naga Penguasa Kegelapan memakan Kaisar Azura. Sedangkan Penguasa Kegelapan hilang entah kemana. Semenjak itu Negeri Muria yang subur menjadi tandus dan sungai mengering. Beberapa hari yang lalu ada kunang-kunang pemberi kabar, jika di daerah selatan ada Naga raksasa milik Penguasa Kegelapan. Padahal naga itu sudah lama tidak muncul. Dan Peramal Agung juga mengatakan kalau penguasa kegelapan dan juga Kaisar Azura sebentar lagi akan bangkit lagi. Makanya kemarin saat aku dan Puca jalan-jalan kemari tanpa sengaja melihat kamu yang terluka parah, dari wajah dan tanda lengan kamu sangat mirip dengan Kaisar kami. Terlebih lagi manusia biasa tidak bisa memasuki wilayah kami, jika memaksa maka akan berubah jadi abu," jelas Alula panjang lebar. Saidon sampai menganga, sebab apa yang barusan diceritakan oleh Alula seperti drama dalam televisi yang sering ditontonnya. Saidon menampar wajahnya sendiri, dan dia merasakan sakit. "Lalu, kalau penguasa kegelapan dan Kaisar Azura bangkit kenapa? Aku lihat di daerah sini semuanya hidup makmur, buah-buahan berlimpah bahkan hewan semuanya bisa berbicara," tanya Saidon sepele. "Hanya daerah ini saja yang makmur, sebab ini wilayah peri Alula. Kalau di daratan Muria tandus dan gersang. Mereka selama beratus-ratus tahun kelaparan dan saling membunuh untuk berebut makanan," sela Puca sedih. Saidon sama sekali tidak tertarik dengan urusan mereka, yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana cara untuk pulang. Dia sudah cemas dengan Dev yang sedang menunggu di bongkahan batu, sebab jika dia tidak kembali pasti Dev akan tetap menunggu di sana selamanya. Saidon membuka ponselnya, ingin melihat tanggal berapa. Namun, betapa terkejutnya jika waktu mati. Bahkan detik jam tangannya juga berhenti. "Pasti ponsel dan jam tanganku rusak saya terjatuh dari atas," batin Saidon. "Aku perjelas lagi ya, namaku Saidon dan aku bukan Kaisar Azura. Jadi aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan penguasa kegelapan itu, aku hanya manusia biasa yang lemah tidak memiliki sihir. Jadi tolong beritahu aku bagaimana cara untuk aku kembali ke dunia asalku," kata Saidon meyakinkan mereka. "Bagaimana kalau setelah ini kita menemui Peramal Agung? kamu bisa bertanya apa saja," saran Alula. "Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang," ajak Saidon. Beberapa detik kemudian Puca berubah menjadi besar melebihi kuda. "Ayo naik, selain Kaisar Azura hanya kamu yang aku izinkan naik ke punggungku!" ucap Saidon. Dan kali ini Saidon dibuat takjub lagi, bahkan Puca bisa terbang. Begitu juga dengan Alula, wanita tersebut bisa muncul cahaya berbentuk sayap putih dari punggungnya. "Apa aku bermimpi? Apa aku ini emang sudah mati?" batin Saidon heran. Ternyata tempat tinggal Alula berada di atas awan, dari kejauhan tampak seperti pegunungan terbang yang tertutup kabut putih. Setelah mulai dekat dengan daratan, Saidon melihat api dan tanah gersang. Cuaca sangat panas dan sama sekali tidak ada air. "Astaga, hancur sekali daerah ini," teriak Saidon. "Makanya apa aku bilang tadi? Semenjak tidak ada Kaisar Azura kehidupan di sana sangat mengenaskan," ujar Alula. "Kamu beruntung memiliki kehidupan yang baik di atas, kenapa kamu tidak memberikan buah-buahan yang melimpah di sana untuk mereka? Apa kamu orang yang pelit dan takut habis?" tanya Saidon. "Enak saja, aku juga ingin membantu mereka. Tapi aku tidak bisa, sebab jika mereka memakan sesuatu dari tempatku mereka akan mati. Karena buah dan makanan di tempatku hanya khusus untuk mahluk ajaib dan kaisar Azura," jawab Alula. "Nyatanya aku belum mati," sergah Saidon mengira Alula pelit. "Maka dari itu, karena kamu bisa bertahan hidup di sana pasti kamu tidak masalah memakan makanan di wilayahku," jawab Alula. Apa yang barusan dikatakan oleh Alula memang masuk akal, dan Saidon kini mencoba untuk mempercayainya. Puca mulai mendarat, dan ketika kaki Saidon menginjakkan ke tanah, seketika tanah yang gersah itu berubah menjadi basah, bahkan mulai tumbuh rumput dan juga bunga kecil-kecil. "Astaga, apa ini?" pekik Saidon. "Kaisar Azura… kaisar Azura… " teriak orang-orang yang berpakaian seperti manusia purba dan berlarian mendekati Saidon. Saidon sungguh tidak tahan dengan bau mereka, membayangkan untuk minum saja tidak ada air pasti mereka juga tidak mandi. Saidon segera berlari, tapi hentakan kakinya memancarkan air seperti mata air yang bening. "Terima kasih, Kaisar Azura," teriak mereka sambil berebut air untuk minum. Orang-orang semakin banyak yang datang, Saidon tidak ingin terjadi keributan. Diapun segera berlari sejauh mungkin agar ada sumber mata air. Entah kenapa Saidon ikut merasa senang melihat semua orang tampak bahagia. Kemudian Saidon melihat sungai besar yang mengering, diapun langsung loncat ke sana dan menghentakkan kaki dengan sekuat tenaga. Rencananya berhasil, sumber air yang besar mulai muncul membasai tandusnya tanah. "Hidup Kaisar Azura, hidup Kaisar Azura," teriak mereka. Setelah Saidon membuat mata air yang banyak, lama kelamaan sungai penuh. Mereka saling menceburkan diri dan mandi. Ternyata jika bersih mereka tampak tampan dan cantik. "Sudah aku bilang, jika kamu adalah Kaisar Azura," pekik Alula senang. Peri cantik itu berlari memeluk Saidon dari belakang, bahkan bukit kembarnya yang berisi sampai menyentuh punggung Saidon dan membuatnya merasa sensasi yang sulit dikatakan. "Aku Saidon, bukan Kaisar Azura!" teriak Saidon memerah wajahnya sambil menjauh dari Alula. "Iya, aku percaya. Lagi pula Kaisar Azura tidak pernah marah apalagi sampai membentakku seperti ini," gumam Alula. Saidon tidak ingin terjebak dengan wajah memelas Alula, sebab memang sudah bawaan dari lahir jika dia berwatak cuek dan tegas. "Apa rumah Peramal Agung masih jauh?" tanya Saidon pada Puca. "Iya," jawab Puca. "Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Kali ini aku ingin berjalan kaki saja," ajak Saidon. Saidon memang sekalian ingin membuat tanah yang tandus menjadi subur. Setiap langkahnya seperti sihir yang merubah daratan gersang tumbuh rumput dan bunga. Di sepanjang jalan Saidon menerima hormat dari semua mahluk hidup di sana, bahkan burung-burung juga ikut menunduk di tanah dan tidak berani terbang di atas kepala Saidon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD