Di negeri Muria ini semua terasa aneh, dari tumbuhan dan hewan tidak sama dengan dunianya sendiri dan bentuk mereka juga lebih besar. Pohon-pohon memiliki ketinggian yang sangat, membuat dia terlihat seperti manusia kerdil. Saidon tidak bisa memperkirakan berapa usia pohon tersebut.
Setelah cukup lama melangkah, Saidon berbalik arah dan melihat ke belakang. Padang pasir yang gersang yang dilewati tadi kini berubah seperti hutan nan subur. Dia sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti ini. Padahal selama hidup di dunianya sendiri dia tidak memiliki kekuatan atau sihir apapun. Bahkan dia tergolong lemah dan sering sakit-sakitan.
"Apa Anda lapar, Kaisar Azura?" tanya Puca.
"Sudah aku bilang jangan panggil aku seperti itu, setelah ini aku tidak akan menjawab jika kamu menyebut aku Kaisar Azura lagi," protes Saidon.
Alula tersenyum manis, gadis itu merasa lucu jika Saidon sedang marah. Soal sifat dan karakter antara Kaisar Azura dan Saidon memang bertolak belakang.
"Kita hanya perlu naik ke bukit ini, aku sarankan sih sebaiknya kamu naik ke punggung Puca biar tidak kelelahan," saran Alula.
"Benar, aku memang sudah lelah," jawab Saidon langsung setuju.
Puca dengan bangga merubah dirinya menjadi sosok yang besar. Sedangkan Alula juga mulai mengeluarkan sayapnya yang putih dan indah.
Saidon segera naik ke punggung Puca, lalu mereka bertiga terbang melintasi awan sebab pegunungan yang dimaksud peri Alula sangat tinggi.
Akhirnya mereka sampai di puncak, dan ternyata di sana tanaman terlihat subur tidak seperti di daratan datar.
"Salam, Tuan Azura,"
Saidon terkejut saat dia melihat seorang kakek tua yang bagian bahu kirinya dihinggapi burung elang besar. Karena kakek tersebut tampak sudah tua sedangkan burung elang yang hinggap berukuran lebih besar dari kakek tersebut.
"Salam, Peramal Agung," sapa Alula dan Puca.
"Salam, jadi kamu adalah Peramal Agung?" tanya Saidon tanpa basa basi.
"Iya, mari silahkan masuk," ajak kakek tua itu berjalan sambil memegang tongkat.
"Berjalan saja sulit, kenapa harus menyangga burung elang?" batin Saidon.
Peramal Agung tertawa sebab mendengar isi hati Saidon.
"Anda sungguh lucu, Kaisar Azura. Bukankah burung ini juga pemberian dari Anda? Dulu burung ini sangat kecil, sekarang sudah sebesar ini. Mungkin karena terbiasa jadi dia tampak ringan,"
"Aku tidak ingat apapun, karena aku bukan Kaisar Azura," balas Saidon pada pendiriannya.
"Baiklah, silahkan duduk dulu. Akan saya tunjukkan kebenarannya nanti," pinta Peramal Agung sembari mengambil sebuah air dalam kendi.
"Coba Anda masukkan tangan Anda ke dalam air ini, setelah itu tutup mata Anda!" perintah Peramal Agung dengan sopan.
Saidon tanpa ragu-ragu memasukkan tangannya, setelah itu dari dalam kendi tersebut muncul awan yang berbentuk lingkaran. Semakin lama awan tersebut memperlihatkan gambar kejadian saat Saidon sedang terjepit oleh musuh di pinggir jurang dan kemudian memilih untuk terjun.
Saat kejadian itu berlangsung, dari langit juga muncul cahaya berwarna ungu dan biru yang bercampur seperti bintang, sinar itu masuk ke tubuh Saidon.
"Silahkan Anda lepaskan kembali!" pinta Peramal Agung.
"Tadi itu apa?" tanya Alula penasaran.
"Kaisar Azura memang masih hidup, hanya saja tubuhnya sudah hancur. Jadi ketika kebangkitannya itu terjadi, Kaisar Azura hanya berbentuk jiwa yang tidak memiliki raga. Karena tepat pada saat itu pemuda ini jatuh, mereka seperti kedua kutub magnet yang saling tarik menarik. Akhirnya jiwa Kaisar Azura masuk ke dalam tubuh pemuda ini. Jika tidak, mungkin raga pemuda ini sudah hancur lebur menjadi abu saat memasuki negeri Muria," jawab Peramal Agung.
"Kalau seperti lebih masuk akal, karena saat terjatuh aku merasa ada aliran listrik yang menyebar dalam tubuhku. Sengatan itu begitu kuat sampai aku pingsan," jawab Saidon.
"Kalau begitu nama Anda siapa?" tanya kakek tua tersebut.
"Saidon," jawab Saidon.
Alula tampak kecewa, gadis itu menangis sebab awalnya dia mengira jika Saidon adalah Kaisar Azura.
"Kenapa menangis?" tanya Puca khawatir.
"Kalau begitu sekarang dimana Kaisar Azura ku?" rengek Alula.
"Kaisar Azura berada di dalam jiwa Saidon," jawab Peramal Agung.
"Tapi Saidon saja tidak mengingatku," keluh Alula.
"Yang terpenting saat ini dalam diri Saidon ada kekuatan Kaisar Azura, dengan begini setidaknya kita bisa berjaga-jaga jika penguasa kegelapan muncul lagi," bujuk Peramal Agung.
"Jika Kaisar Azura saja rohnya bisa kembali, pasti Penguasa Kegelapan juga iya. Dan bisa juga munculnya itu dalam wujud lain," duga Puca.
"Apa yang kamu katakan bisa saja benar, apalagi naga raksasa sering muncul tapi Penguasa Kegelapan belum terlihat," jawab Peramal Agung.
"Peramal kegelapan, bagaimana caraku untuk kembali ke dunia asalku?" tanya Saidon.
Peramal Agung terdiam, dia merenungkan sesuatu dan melihat jidat Saidon dengan seksama.
"Karena kamu adalah orang pilihan Kaisar Azura, tentu saja kamu bertugas menyelesaikan misinya. Yaitu menjaga mengembalikan kehidupan yang damai dan sejahtera di negeri Muria ini," jawab Peramal Agung.
"Apa?" pekik Saidon.
"Saidon, maksudnya kamu bisa kembali jika negeri Muria bisa sejahtera seperti dahulu," balas Alula.
Saidon merasa sakit kepala, dia memikirkan Dev yang sedang menunggunya di celahan batu seorang diri.
"Saidon, ini adalah takdirmu. Dan kamu tidak akan bisa lari lagi!" bujuk Peramal Agung.
Saidon memang merasa aneh, sejak awal saat dia mau memasuki jurang gelap itu sedikitpun tidak ada rasa takut. Seolah ada bisikan dan juga kekuatan yang menariknya untuk terjun ke sana.
"Saidon, kamu kelak juga akan menjadi seorang pemimpin. Tidak peduli dimanapun kamu berada, kewajiban pemimpin adalah melindungi dan mensejahterakan rakyatnya," bujuk Peramal Agung lagi.
Saidon ingin tertawa sebab dia merupakan pemimpin mafia yang terkenal jahat dan kejam.
"Tapi aku tidak tahu harus bagaimana?" tanya
Saidon kebingungan.
"Kamu tidak perlu khawatir, karena akan ada Alula dan Puca yang akan menemanimu dan membimbingmu," jawab Peramal Agung meyakinkan.
"Baiklah, aku akan mencobanya," jawab Saidon setuju, dia berharap jika misinya sudah berhasil dia bisa kembali ke dunianya sendiri.
"Saidon, langkah awal kita adalah mencari pedang milik Kaisar Azura. Karena hanya dengan pedang itu bisa mengalahkan penguasa kegelapan. Jadi jangan sampai kedahuluan oleh musuh," ujar Alula tersenyum ceria.
"Dunia ini luas, kita akan mencari kemana?" tanya Saidon kesal.
"Aku pernah memimpikan pedang itu, terletak di sebuah pegunungan tandus yang ditumbuhi pohon kaktus. Hanya saja durinya itu memiliki racun yang bisa membuat mahluk hidup mati dalam sekejap," sela Peramal Agung.
"Itu hanya mimpi, belum bisa dijadikan petunjuk," sergah Saidon.
"Mimpi Peramal Agung bukan mimpi sembarangan, apa yang dia ucapkan pasti akan menjadi kenyataan," sela Alula tidak terima.
"Aku juga berfirasat kelak akan tumbuh benih-benih cinta di antara kalian berdua," timpal Peramal Agung.
"Kali ini Anda bercanda kan?" tanya Alula bersemu merah.
Peramal Agung hanya tertawa saja melihat Saidon dan Alula yang sama-sama salah tingkah.
Sedangkan Saidon semakin yakin jika ucapan kakek tua di hadapannya memang belum tentu akurat.