6. Perbedaan Dua Dunia

1065 Words
Saidon sudah tidak memiliki jalan lain selain mengikuti takdir kehidupannya, walaupun di dunia yang aneh ini dia merasa asing setidaknya Saidon mengenal Alula dan juga Puca yang baik dan setia. Hanya saja Saidon terkadang merindukan dunianya sendiri, ayahnya ibunya, sahabatnya dan juga makanan yang tentunya lebih enak. Di sini dia hanya bisa memakan buah-buahan, sebab semua hewan bisa berbicara dan dia menjadi tak tega untuk menyantapnya. Lebih tepatnya takut dan tidak berselera. Untung saja di dalam tasnya masih ada tenda dan juga selimut, sehingga setidaknya kalau malam hari dia tidak akan mati kedinginan. Cuaca di negeri Muria ini sangat aneh, jika siang terlalu panas tapi jika malam akan terlalu dingin. Bahkan api unggunnya saja tidak cukup memberikan kehangatan. Malam ini setelah meninggalkan rumah Peramal Agung, Saidon membuat tenda. Melihat Alula dan Puca yang menggigil kedinginan di luar dia tidak tega juga dan membiarkan mereka masuk. "Puca, kamu bisa berubah menjadi besar, apa kamu juga bisa mengubah diri menjadi kecil?" tanya Saidon penasaran. "Tentu saja bisa," jawab Puca bangga. "Kalau begitu rubahlah tubuhmu sekecil mungkin, biar tidak memenuhi tenda. Karena tenda ini hanya muat untuk dua orang saja," perintah Saidon. Puca langsung saja mengecilkan tubuhnya seperti anak kucing. "Nah, dengan begini tidak akan terlalu sempit," ujar Saidon merasa lega. Di dalam ransel juga ada jaket dan selimut, jiwa lelakinya tidak tega membiarkan kedua teman barunya itu kedinginan. "Ayo masuk ke selimut," ajak Saidon. "Wah, di sini hangat sekali," pekik Alula riang. "Memangnya di sini tidak ada selimut? Lalu semua orang di sini bagaimana cara untuk melewati malamnya?" tanya Saidon heran. "Mereka berada di dalam gua besar, dan di sana mereka menyalakan api. Tapi dulu semasa ada Kaisar Azura cuaca sangat normal," ujar Alula. "Loh, padahal saat aku datang tanah bisa subuh dan air mulai mengalir, tapi kenapa cuaca masih belum stabil?" tanya Saidon heran. "Mungkin karena yang kembali bukan Kaisar Azura seutuhnya," sela Puca. "Bisa saja," balas Saidon. Puca yang tidur di tengah langsung pulas, sedangkan Saidon masih banyak pikiran yang mengganggunya. "Kenapa belum tidur?" tanya Alula. "Aku belum tahu seberapa luasnya negeri Muria ini. Dari mana kita bisa mencari pegunungan yang ditumbuhi kaktus beracun itu?" tanya Saidon cemas. "Sebentar, sepertinya dulu aku pernah ke sana bersama Kaisar Azura. Tapi aku sudah lupa karena sudah sangat lama, dulu kami sama-sama masih kecil," gumam Alula. "Jadi kamu dan Kaisar Azura tumbuh dari kecil bersama?" tanya Saidon. "Iya, aku tercipta dari bunga mutiara. Setiap kelahiran bayi calon Kaisar akan menggenggam biji bunga mutiara, maka setelah di tanam akan tumbuh bunga dan jika sudah mekar akan muncul peri pelindung.Namun, jika Kaisar tersebut meninggal maka peri pelindung akan ikut musnah. Makanya Aku percaya jika Kaisar Azura masih hidup, karena keberadaan ku masih ada," jawab Alula panjang lebar. "Kalau kamu terluka apa Kaisar Azura ikut terluka?" tanya Saidon. "Aku seorang peri, jadi tidak ada yang bisa menyakitiku kecuali dengan kematian Kaisar Azura. Dan tidak semua orang bisa melihatku," "Tapi Peramal Agung bisa melihatmu," sergah Saidon. "Peramal Agung bukan orang sembarangan, dia manusia abadi yang usianya sejak dari nenek moyang Kaisar Azura," balas Alula menjelaskan. Saidon sungguh tidak mengerti, kehidupan yang ada di negeri Muria ini sungguh aneh. "Lalu, seorang Kaisar juga bisa mati ya? Kira-kira berapa masa umur hidup mereka?" tanya Saidon. "Yah sekitar ratusan tahun, dengar- dengar Kaisar sebelumnya bisa sampai ribuan tahun," jawab Alula. "Kalau ada kelahiran berarti di sini juga ada pernikahan kan?" tanya Saidon semakin penasaran. "Tentu saja ada," "Lalu peri sepertimu ini, apa tidak pernah ada pikiran untuk menikah? Lalu punya anak dan hidup bahagia," tanya Saidon. Alula tertawa, sebab pertanyaan Saidon semakin aneh. "Takdir peri pelindung hanya untuk melindungi Kaisar, dulu pernah ada sih cerita peri pelindung yang jatuh cinta dengan kaisar. Begitu mereka menikah dunia ini terjadi bencana yang sangat mengerikan, gempa bumi, gunung meletus, banjir, tanah longsor dan angin p****g beliung yang bisa menyapu semua yang ada di daratan. Pada akhirnya Kaisar dan peri pelindung tersebut di bakar hidup-hidup menjadi abu, barulah alam ini bisa tenang kembali," Saidon terdiam, betapa rumitnya kehidupan di negeri Muria ini. "Ayo kita tidur, besok pagi kita lanjutkan perjalanan kembali," ajak Alula. Entah karena lelahnya raga atau pikiran, akhirnya Saidon bisa terlelap juga. Pagi harinya di dalam tenda berubah menjadi sangat panas, Saidon tahu jika ini pasti sudah siang. Puca masih tertidur dengan nyenyaknya, sedangkan Alula sudah tidak ada. "Aku ingat jika beberapa langkah dari sini ada sungai yang mengalir, aku harus segera mandi," gumam Saidon. Saidon segera menuju ke arah sungai, dan betapa terkejutnya jika dia melihat Alula yang tengah berenang di sungai. Sungguh kemolekan yang tiada tanding, tubuh Alula begitu indah dan mulus. Postur tubuh yang langsing tinggi semampai dengan bukit kembar yang sangat padat dan berisi. Sebagai seorang lelaki normal tentu saja dia tidak tahan melihat godaan tersebut. Alula dengan bebasnya duduk di bebatuan tanpa sehelai benang yang menutupi badannya, biarpun tidak ada orang lain yang bisa melihat tapi Saidon tetap bisa. Akhirnya Saidon memilih untuk berjalan lagi dan mandi sungai bagian ujung biar tidak melihat Alula. Tapi betapa terkejutnya saat dia menceburkan diri Alula sudah berada di sampingnya. Hanya saja gadis itu sudah berpakaian memakai kaos dan celana pendeknya, akan tetapi karena basah tetap saja membuat tubuh Alula terlihat. Saking kagetnya Saidon sampai berteriak keras. "Ah.… Kamu gila, kenapa kamu bisa di sini, bukannya tadi di ujung sana?" tanya Saidon heran. "Selain terbang aku juga bisa seperti ikan yang berenang, tapi begitu aku mencium aroma tubuhmu aku langsung menyusulmu ke sini," jawab Alula tanpa merasa bersalah. "Kalau kamu memang tahu aku di sini kenapa kamu ke sini?" teriak Saidon. "Bukankah mengasyikkan jika mandi bersama?" sergah Alula. "Apa dulu kamu dan Kaisar Azura juga begini?" tanya Saidon serius. "Iya, bersama Puca juga," jawab Alula polos. "Lalu melihatmu seperti ini apa yang dia lakukan padamu?" tanya Saidon penasaran. "Kita saling menyerang dengan menyiramkan air," jawab Alula jujur. Saidon menarik napas berat, dia merasa jika Kaisar Azura pasti bukan lelaki normal. "Kamu sudah mandi dari tadi kan? Kalau begitu kamu segera pergi dan kini giliran aku!" usir Saidon. "Mau aku bantu menggosokkan punggungmu dengan bunga? Nanti tubuh kamu bisa segar loh," tawar Alula. "Apa kamu juga melakukan hal itu pada Kaisar Azura?" pekik Saidon. "Tentu saja tidak, karena Kaisar Azura bisa melakukannya sendiri. Sedangkan kamu di sini tidak tahu apa - apa, bahkan mandi saja tidak memakai bunga," balas Alula. Saidon akhirnya tertawa, ternyata di negeri Muria tidak ada sabun dan mandi masih memakai bahan alami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD