Bunga dari Negeri Muria memang istimewa, wanginya membuat tubuh Saidon terasa sejuk dan bugar. Pantas saja Alula memiliki aroma yang begitu harum dan memikat, ternyata berasal dari bunga yang tidak pernah ditemukan di dunianya sendiri.
Andai di dunianya ada bunga semacam itu Saidon ada pikiran untuk berhenti menjadi Mafia dan memilih mendirikan perusahaan sabun dan parfum dengan bunga tersebut. Dia yakin jika dari kalangan wanita dan lelaki akan menyukai aroma itu.
"Kita mau berjalan ke arah mana?" tanya Saidon.
"Lurus saja, kita hanya perlu mengikut arah angin ini," balas Alula dengan senyuman yang manis.
Tiba-tiba saja datang burung elang besar yang menghampiri mereka, dengan sekejap saja sudah menjatuhkan daun lebar mirip daun talas. Hanya saja warnanya keperakan.
"Bukannya yang barusan itu burung milik peramal Agung?" tanya Saidon.
"Iya, ini adalah pesan," jawab Alula.
"Pesan apa? Aku tidak menemukan apapun?" tanya Saidon membolak balikkan daun perak tersebut.
"Bukan begitu caranya, Puca sebaiknya kamu tunjukkan padanya!" sela Alula.
Puca langsung mengusap daun tersebut dengan lidahnya, tak berapa lama kemudian muncul cahaya yang bertuliskan huruf. Saidon sama sekali tidak tahu pesan apa, sebab memang baru kali ini melihat huruf yang aneh seperti itu.
"Oh, ini adalah pemberitahuan dari Peramal Agung. Katanya kita lurus saja, nanti di depan ada dua jalan, kita pilih yang hawanya paling dingin. Setelah itu kita melewati lautan dan setelah menyeberang kita sampai di pengunungan yang terletak di pulau kecil," ucap Alula.
Saidon hanya manggut-manggut saja, walaupun hatinya tidak sepenuhnya percaya dengan Peramal Agung tapi apa salahnya mencoba.
Mereka melanjutkan perjalanan lagi, semakin siang teriknya panas matahari sangat menyengat. Seolah matahari hanya beberapa inci di atas kepala.
Puca sudah sangat lemas, membuat Saidon khawatir.
"Puca, jadikan tubuhmu yang paling kecil!" perintah Saidon.
Puca langsung merubah dirinya sendiri seperti anak kucing.
Saidon segera mengangkat tubuh Puca dan menyelipkan ke ranselnya.
"Ah… Nyaman sekali. Ternyata begini naik ke tubuh seseorang," gumam Puca.
"Berbahagialah kamu, Puca," balas Alula.
"Saidon, apa kamu tidak kelelahan?" tanya Alula heran.
"Lelah, tapi jika kita berhenti juga maka kita tidak akan cepat sampai," jawab Saidon tegas.
Alula mengamati wajah Saidon dari samping, sangat tampan dan juga memiliki tubuh kekar. Padahal sekilas mirip dengan Kaisar Azura, tapi entah kenapa perasaannya berbeda. Semacam ada magnet yang menarik hatinya peri pelindung tersebut.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka bertiga sampai di persimpangan jalan yang disebut Peramal Agung lewat pesan tadi. Saidon terpana, sebab dunia ini aneh sekali. Bisa - bisanya ada dua jalan yang satunya berkabut kebiruan sedangkan yang satunya kemerahan. Sudah jelas jika yang warna merah itu seperti cahaya akibat kobaran api yang membara. Sedangkan yang satunya dalam jarak sepuluh meter saja hawa dingin sudah menyeruak masuk ke tulang mereka.
"Ya ampun, ini sama saja masuk ke kulkas," keluh Saidon.
"Apa itu kulkas?" tanya Alula penasaran.
Saidon menghembuskan napas berat, percuma saja dijelaskan panjang lebar sebab peri pelindung yang cantik jelita tersebut tidak akan mudeng juga.
"Yakin kita mau masuk?" tanya Saidon ragu.
"Kamu ini, belum menjawab pertanyaan aku malah balik tanya," keluh Alula.
"Karena aku jelaskan kamu juga tidak akan mengerti, sebaiknya jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting. Lebih baik fokus menjalani misi ini," jawab Saidon Ketus.
"Dingin sekali… " sela Puca.
"Tidak adakah jalan yang lain? Aku tidak mau menjadi es batu," sergah Saidon.
"Kenapa? Takut?" tantang Alula.
"Tentu saja, aku manusia biasa tidak sama sepertimu," sergah Saidon kesal.
"Kamu ini pemarah sekali, sekarang aku percaya jika kamu memang bukan Kaisar Azura," balas Alula.
"Memangnya sejak awal yang mengaku jadi dia itu siapa?" sindir Saidon.
"Huft," keluh Alula merasa semakin sebal.
"Kalian jangan berantem! Aku pernah dengar katanya jika masuk ke sana tanpa bernapas kita akan merasa biasa saja tidak kedinginan," sela Puca.
"Mati dong kalau tidak bernapas," sergah Saidon karena dianggap tidak masuk akal.
"Aku punya ide, Puca kamu kan bisa buat gelembung. Setelah itu kita masukkan kepala kita ke dalam gelembung itu nanti biarpun kita bernapas tapi tidak akan keluar," Alula Puca.
"Oke," jawab Puca riang.
Puca mengeluarkan sesuatu dari mulitnya seperti orang yang sedang membuat balon gelembung. Saidon langsung mendelikkan kedua matanya sebab gelembung tersebut terbuat dari air liur.
"Tidak, aku tidak mau. Jorok sekali!" umpat Saidon.
"Tidak bau kok, Lagian Puca juga makan buah - buahan ajaib dari tempatku," sela Alula.
"Tetap saja ini menjijikkan, kalian saja deh yang pakai itu. Aku lebih memilih seperti ini saja," Segah Saidon kekeh.
Akhirnya Puca dan Alula memasukkan kepala mereka ke gelembung tersebut dan bisa bernapas dengan biasa. Sedangkan Saidon mengikuti dari belakang sambi bergidik merinding.
Baru saja dua langkah, Saidon langsung merasa sekujur tubuhnya nyilu seperti membeku. Rasa dingin yang menyerang menusuk ke tulang membuat Saidon terkapar kembali ke tempat semula.
Saidon tidak bisa bergerak, seakan tubuhnya membeku. Rasa dingin yang begitu kuat membuat dirinya menggigil dan tidak berdaya.
Alula dan Puca yang melihat Saidon seperti itu langsung ikut kembali. Mereka begitu panik.
"Astaga, dinginnya sungguh tidak tertahankan. Aku tidak sanggup, tubuhku sampai kram semua," keluh Saidon meringkuk kedinginan.
"Bagaimana ini?" tanya Puca cemas.
"Saidon tubuhnya menggigil semua, sebaiknya kita buat tenda di sini dan tunggu dia sembuh," jawab Alula.
"Aku tidak bisa," keluh Puca semakin gelisah.
"Biar aku coba dulu, kamu ambil selimut itu dan pakaikan pada Saidon!"
Tanpa menunggu lama Puca langsung mengerjakan perintah Alula. Sedangkan Peri Pelindung itu segera memasang tenda. Sebenarnya bisa saja dia memakai sihir, akan tetapi dia ingin menghemat tenaga karena jika nanti ke depan ada bahaya bisa menyembuhkan Saidon.
Alula sedikit paham bagaimana cara membuat tenda, di bantu Puca tenda segera selesai.
Saidon dipapah ke dalam dan diselimuti, tapi tetap saja merasa kedinginan.
Alula sebagai peri pelindung memiliki kekuatan alami dari tubuhnya sebagai penyembuh, diapun segera memeluk Saidon erat sekali seperti seorang ibu yang hendak ngeloni bayinya tidur.
"Hey, apa yang kamu lakukan?" tanya Saidon lemas.
"Diam, tubuhku ini memiliki semacam obat penyembuh," jawab Alula.
"Apa kamu sering begini saya mengobati Kaisar Azura?" tanya Saidon penasaran.
"Tidak, dalam seumur hidup aku malah belum pernah menyembuhkan dia, karena Kaisar Azura cerdas dan penurut. Tidak seperti kamu yang rewel dan ceroboh," balas Alula marah.
Alula heran, sebab apa - apa Saidon selalu mempertanyakan perilakunya dengan Kaisar Azura.
Saidon terdiam, memang salahnya sendiri tadi tidak menurut. Namun, jika dia harus memasukkan kepalanya ke gelembung rasanya sangat menjijikkan.
Malam ini Saidon tertidur dihimpit oleh Alula dan Puca, sehingga rasa dingin yang menikam itu mulai hilang. Namun, Saidon baru tersadar ketika kepalanya bersandar di buah d**a Alula yang sangat kenyal. Terasa lembut dan nyaman. Akan tetapi Saidon juga tidak bisa menggerakkan tubuhnya ke belakang, sebab Puca tidak merubah bentuk tubuhnya menjadi yang terkecil.
Dalam dekapan Alula dan menyandarkan kepalanya ke d**a peri pelindung tersebut membuat tubuh Saidon terasa hangat, saking hangatnya bagian tubuhnya yang paling sensitif ikut tegang.
"Sial, bagaimana mungkin aku bernafsu pada wanita bodoh ini. Biarpun cantik tapi payah," batin Saidon.
Walaupun terus mengumpat tubuhnya juga tidak menolak merasa sensasi seperti itu.
Pagi harinya tubuh Saidon sudah pulih total, wajahnya memerah sebab mengingat peristiwa semalam. Sedangkan Alula bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa - apa. Hal itulah yang membuat Saidon kesal setengah mati.
"Kamu sudah baikan. Apa aku bilang, tubuhku ini memiliki obat penyembuh," ucap Alula bangga.
Saidon ingin tertawa, sebab jika di dunianya cara pengobatan seperti ini pasti kebanyakan pasien yang datang adalah para lelaki hidung belang.
"Saidon, sebaiknya di coba dulu!" saran Puca memberikan gelembung lagi.
Saidon menatap gelembung balon yang besar dengan pandangan jijik, tetapi membayangkan rasanya terserang dingin dari tempat itu membuat dia trauma.
Saidon mau tak mau memasukkan kepalanya ke dalam gelembung tersebut, dan anehnya tidak bau atau apapun. Justru seperti tidak merasa apa - apa.
"Kalau tau begini kenapa aku tidak memakai dari kemarin? Mungkin benar aku ini keras kepala," batin Saidon menyesal.
Akhirnya mereka bertiga mulai memasuki jalanan yang dingin tanpa merasakan apapun. Saidon melirik ke arah Alula, peri tersebut tampak semakin hari semakin cantik.
Ser…..
Ketika Alula menoleh padanya dan memberikan senyuman mengejek yang begitu indah membuat hatinya berdesir.
Saidon mengalihkan pandangan ke arah Puca yang berloncat-loncat riang. Memiliki teman seperi mereka berdua Saidon mulai merasa senang juga.