Setelah Saidon dan kedua temannya berjalan agak jauh, mereka mulai menemukan tanda-tanda kehidupan.
"Apa ada orang yang bisa tinggal di daerah ini? Sebab ada jejak langkah kaki yang seukuran kaki kita," tanya Saidon pada Alula.
"Sejujurnya aku baru pertama kali ini masuk ke sini, tapi pernah mendengar rumor ada sejenis mahkluk es yang tinggal," jawab Alula.
" Bukannya kamu pernah bilang kalau kamu dan Kaisar Azura dulu pernah ke pegunungan kaktus itu?" tanya Saidon menyelidik.
"Memang, tapi kami tidak melewati daerah ini. Karena Kaisar Azura memiliki kekuatan untuk teleportasi dan bisa menyambungkan ke aku," jawab Alula.
"Kamu kan juga seorang peri, pasti bisa melakukan hal semacam itu kan kan?" sela Saidon mulai tak sabar.
"Sudah aku bilang jika aku ini hanya peri pelindung," jawab Alula kesal merasa diremehkan.
Diam - diam Saidon tersenyum, sebab ketika Alula cemberut tampak semakin cantik.
"Kenapa mata ini sulit sekali berpaling dari wajahnya? Tapi harus aku akui kecantikannya seperti sihir yang memperdayaiku," batin Saidon.
"Kalau Kaisar kalian memiliki kekuatan teleportasi kenapa waktu itu tidak pindah ke tempat lain saja saat diserang penguasa kegelapan?" tanya Saidon.
Padahal Saidon menggunakan nada datar, tetapi Alula merasa emosi sebab pertanyaan itu seperti merendahkan. Belum sempat Alula membantah, Puca yang sejak tadi berada di jalan paling depan berlari kembali ke kebelakang.
"Pasukan es… Pasukan es…" teriak Puca.
"Apa?" pekik Alula.
"Kita harus bagaimana?" tanya Saidon.
"Bersembunyi saja," balas Alula langsung menarik lengan Saidon diikuti oleh Puca. Mereka berdua menunduk dibalik semak - semak yang juga sangat dingin jika disentuh.
Pasukan es yang dibilang Puca ternyata seperti prajurit kerdil tapi berjumlah banyak, mereka semua memakai baju perang dan juga membawa pedang yang terbuat dari es.
"Semua orang mengira jika aku ini Kaisar Azura, pasti ketika melihatku mereka akan tunduk," bisik Saidon.
"Ini bukan di wilayah Muria, Jadi penguasanya juga sudah berbeda," jawab Alula.
Tiba-tiba dari arah belakang seperti suara ledakan bom, Saidon baru terkena percikan dari rempahan batu es saja sudah kedinginan setengah mati.
"Di tempat ini tidak ada yang bisa bersembunyi dariku ha… ha … ha…"
Wanita cantik yang memiliki kulit sebening es tiba-tiba sudah ada di belakang Saidon. Walaupun cantik tetapi tampak menyeramkan sebab tubuhnya itu tembus pandang dan pemandangan di belakang bisa terlihat.
"Mahkluk apa lagi ini? Tubuhnya seperti cermin tapi tidak terlihat ada organ dalam. Jika berada di tempat ini lebih lama lagi aku bisa menjadi orang gila," keluh Saidon dalam hati.
"Siapa namamu pria tampan? Sepertinya kamu adalah takdirku," ucap wanita tersebut.
"Saidon, apa maksud perkataan dari takdirmu?" pekik Saidon panik.
"Jika kamu menjadi suamiku, maka kamu bisa menjadi raja di sini. Tetapi jika kamu menolak itu sama saja kamu memilih untuk mati," ancam wanita tersebut dengan tawa yang menyeramkan.
"Tidak! Aku sudah menikah, yang sedang bersamaku adalah istriku," teriak Saidon.
Wanita es itu kemudian melirik ke samping Saidon, dan yang dilihatnya hanyalah seekor rusa kecil yang tampak lucu. Kemudian Wanita es itu tertawa lagi lebih keras.
"Kamu sungguh pria yang humoris, apa aku percaya jika mahluk setampan kamu menyukai hewan kecil itu,"
Saidon menoleh ke arah Alula, dan peri pelindung itu hanya geleng-geleng kepala saja. Yah, Saidon lupa jika Alula tidak terlihat oleh orang lain selain dia, Puca dan Peramal Agung.
"Bagaimana ini?" bisik Saidon.
"Aku juga tidak tahu," jawab Alula sama bingungnya.
"Prajurit, cepat tangkap lelaki itu dan siapkan pernikahan segera!" Teriak wanita tersebut.
"Tidak!" Teriak Saidon frustrasi.
Saidon menarik tangan Alula dan berlari, sedangkan Puca dengan mudah bisa menyusul sebab larinya begitu cepat.
"Puca, apa kamu bisa berubah besar dan terbang?" tanya Saidon.
"Kamu bilang apa?" tanya Puca yang kurang paham jika berbicara sambil berlari.
"Ah sialan…. Jangan sampai tertangkap. Aku tidak mau menikah dengan manusia es itu, biarpun cantik tapi tubuhnya pasti dingin sekali. Dan malam pertama akan menjadi malam petaka bagiku," gumam Saidon yang sudah mulai kelelahan.
"Sepertinya mereka tidak mengejar," ujar Alula menoleh ke belakang.
Mereka berhenti, baru saja menghembuskan napas berat dari arah belakang muncul suara wanita es.
"Sudah aku bilang, kalian tidak akan pernah bisa kabur dariku,"
Saidon, Puca dan Alula langsung menoleh, akan tetapi tidak ada siapa - siapa. Kemudian dari tanah yang seperti laut es mulai muncul pancuran air yang kemudian membentuk wanita cantik.
"Astaga…" Pekik Saidon kaget sambil melangkah ke belakang.
"Aku sudah memutuskan kamulah calon suamiku, jika kamu menolak maka kamu tidak akan pernah bisa meninggalkan tempat ini!" Ucap wanita itu melangkah maju mendekati Saidon. Dalam jarak dua meter saja Saidon sudah menggigil kedinginan.
"Aku harus memiliki cara, jika tidak aku akan terjebak di sini," batin Saidon.
Kemudian Saidon merogoh sakunya, dia bersyukur korek api masih ada. Dengan langkah berani dia melangkah maju.
"Baiklah, aku bisa menerima tawaranmu asal kamu juga memenuhi permintaanku," pinta Saidon serius.
"Baiklah, sebutkan saja!" jawab wanita es itu bahagia.
"Lepaskan rusa kesayanganku, dan antarkan dia sampai meninggalkan tempat ini!" balas Saidon tegas.
"Baiklah."
Hanya dalam pandangan mata saja sudah membuat para prajurit menggiring Puca.
"Lalu kamu bagaimana?" bisik Alula cemas.
"Ikuti dan pastikan Puca selamat. Jangan lupa kamu hafalkan arah jalan keluar. Setelah itu kamu kemari dan jemput aku ya," bisik Saidon.
Alula mengangguk, tetapi mata gadis tersebut memerah seakan tidak rela meninggalkan Saidon seorang diri.
"Ayo ikut aku," ajak Wanita es itu.
"Iya," jawab Saidon.
Tiba-tiba tubuh Saidon terhisap ke bawah, dia merasakan dingin sekali. Saking tidak tahannya Saidon pingsan.
Dalam mimpinya Saidon bertemu dengan Alula.
"Saidon," panggi Alula lembut.
"Alula, bukannya kamu sedang mengantar Puca?" tanya Saidon terkejut. Dia hanya bisa mendengar saja. Dan anehnya ucapannya tidak keluar dari mulut tetapi Alula bisa mendengar.
"Tubuhku iya, tapi separuh jiwaku berada di sini karena terpanggil oleh jiwa Kaisar Azura. Dan sekarang kamu sedang tidak sadar, makanya kita bisa bertemu dalam ruang mimpi," jawab Alula.
"Tubuhku kaku dan sulit untuk digerakkan, bahkan untuk membuka mata saja tidak bisa," keluh Saidon.
"Tenang saja, sebentar lagi kamu akan baik-baik saja," jawab Alula.
Tak lama kemudian Saidon merasa ada bibir lembut yang menyentuh mulutnya. Kemudian ada dorongan udara yang membuat tubuhnya mulai hangat seperti es yang mencair.
"Pengobatanmu selalu membuat aku terkejut, apa setiap saat kamu melakukan ini dengan Kaisarmu?"
"Sudah aku bilang, Kaisar aku sangat cerdas. Makanya tidak pernah terluka sebelum kedatangan Penguasa kegelapan. Sehingga tidak pernah sampai merepotkan aku," jawab Alula sewot kemudian tidak terdengar lagi suaranya.
Saidon mulai bisa membuka mata, dan yang pertama dilihat adalah sebuah istana yang terbuat dari es. Dia masih merasa dingin seperti tadi, hanya saja tubuhnya masih bisa bergerak.
"Saidon, kamu sudah bangun?" tanya Wanita es itu lembut dan begitu mesra. Bukannya Saidon terpana tapi dia malah bergidik ngeri.
"Eh, siapa namamu? Bukankah kamu belum memberitahuku?" tanya Saidon untuk mengulur waktu.
"Namaku... Aku tidak tahu. Hanya saja aku pernah jatuh cinta pada lelaki yang tidak seharusnya aku cintai. Dan akhirnya kami mendapat karma, aku menjadi putri es sedangkan lelaki itu menjadi raja api. Karena api dan es tidak akan bisa hidup bersama."
"Kalau kamu mencintai orang lain, kenapa kamu meminta untuk menikah denganku?" tanya Saidon heran.
"Karena aku harus mendapat cinta sejati agar bisa terlepas dari kutukan ini. Jika kutukan tidak hilang maka selamanya aku harus tinggal di sini, sebab menjadi es tidak tidak akan tahan hidup di dunia luar yang terkena sinar matahari."
Saidon mulai merasa kasihan, sebab dirinya juga seperti itu yang terjebak di dunia lain.
"Andai kita menikah, kamu juga tidak akan lepas dari kutukan. Karena cinta sejati itu hadis secara alami, bukan paksaan," bujuk Saidon.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Wanita itu pilu.
Saidon terkejut, bahkan air mata itu juga berupa butiran salju.
"Apa kamu masih mencintai lelaki yang kamu maksud? Tadi sebelum masuk ke sini aku lihat ada dua jalan. Yang satu lagi sangat panas, sepertinya di juga terjebak di sana. Sepertinya kalian selama ini hidup berdampingan, hanya saja tidak bisa saling melihat," kata Saidon.
Wanita es itu kaget dan seolah tidak percaya.
"Jadi, dia juga berada di sampingku? Aku kira selama ini aku hidup sendiri."
"Bukannya kamu ditemani prajurit tadi yang sangat banyak?" tanya Saidon heran.
"Mereka adalah boneka buatan aku, tapi tetap saja aku merasa kesepian,"
Saidon semakin merasa kasihan, tetapi dia juga tidak bisa menolong apapun.